Kejahatan

Rumitnya Persidangan Perempuan Didakwa Membunuh Lewat SMS

Michelle Carter terancam hukuman penjara 20 tahun akibat mengirim pesan pendek menyuruh pacarnya bunuh diri, dan akhirnya benar-benar dilakukan.
17.6.17
(Glenn C.Silva/Fairhaven Neighborhood News, Pool)

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.

Suasana ruang sidang Pengadilan Tinggi Negara Bagian Massachusetts yang dipadati manusia segera gaduh. Hakim Lawrence Moniz memvonis Michelle Carter bersalah atas pasal pembunuhan berencana terhadap kekasihnya, lelaki 18 tahun bernama Conrad Roy III. Bukti yang ada adalah pesan pendek dan rekaman telepon dari Carter yang menyuruh pacarnya bunuh diri secara intensif.

Iklan

"Majelis memperoleh bukti meyakinkan, bahwa tindakan Nona Carter sepanjang periode 30 Juni hingga 21 Juli tahun lalu dilakukan secara sengaja, dilatari niat sembrono, dan berpengaruh terhadap hidup mendiang Roy," kata Moniz saat membacakan vonis.

Carter, mengenakan baju krem bermotif bunga-bunga saat mendengar vonis, sempat menatap wajah pengacaranya Joseph Cataldo. Dia berbisik ke telinga Carter, lalu perempuan 18 tahun itu menangis sesenggukan.

Hakim membacakan alasan vonis selama 15 menit, dalam kasus pidana yang oleh media massa Amerika Serikat dianggap kontroversial dan sulit dibuktikan. Bisakah pesan pendek dan kata-kata seorang remaja (yang belum dianggap dewasa saat insiden itu terjadi) membujuk seseorang bunuh diri dianggap sebagai upaya pembunuhan berencana? Suasana bertambah panas, mengingat ruang sidang penuhi keluarga mendiang Roy maupun keluarga besar Carter, belum termasuk puluhan wartawan dan warga biasa ingin menyaksikan jalannya pengadilan yang hanya dijaga tujuh personel kepolisian.

Pengacara Carter sempat berdalih bahwa Roy secara klinis menderita depresi, sehingga dia sangat mungkin bunuh diri, dengan atau tanpa bujukan dari sang kekasih. Namun Hakim Moniz menyatakan pembelaan itu terlalu lemah, karena kesehatan mental Roy, berdasarkan bukti yang tersedia, menurun drastis selama rutin di-sms dan ditelepon Carter lalu dibujuk untuk mengakhiri hidupnya.

Dari bukti persidangan, Roy mulai aktif "mempersiapkan aksi bunuh diri", melakukan riset cara mengakhiri hidup, "serta aktif membahasnya" pada pariode komunikasi intensif dengan Carter. Di mata hakim, Carter sengaja tidak menelepon keluarga Roy, walaupun tahu dengan detail bahwa kekasihnya itu sudah membeli generator dan pompa untuk bunuh diri di dalam mobil memakai metode penyumbatan knalpot, serta sudah mempersiapkan lokasi parkir mobil yang aman agar proses bunuh dirinya berjalan lancar. Carter menurut hakim bisa menelpon keluarga Roy atau setidaknya menelepon ambulans supaya kekasihnya selamat, namun dia tidak melakukan apa-apa.

Iklan

Carter juga memiliki nomor telepon ibu dan kakak perempuan Roy, dan sama sekali tidak mengabari mereka. Inilah sederet alasan hakim menganggap Carter secara sengaja dan sadar mendorong kekasihnya bunuh diri.

Lebih dari itu, Carter memantau secara presisi momen-momen Roy mengakhiri nyawanya. Pada saat asap karbon monoksida memenuhi mobil, dan Roy mulai kesulitan bernapas, telepon mendiang masih tersambung ke Carter. Dalam pesan pendek kepada sahabat terdekatnya, Carter mengaku mendengar suara generator di belakang mobil.

"Terdakwa menyuruh kekasihnya untuk kembali ke dalam mobil," kata hakim, menjelaskan bahwa Roy sebetulnya sempat berubah pikiran dan hendak membatalkan niat bunuh diri. Roy pernah mencoba bunuh diri sebelumnya pada usia awal belasan, dan langsung menghubungi keluarga, serta segera diselamatkan.

"Dengan semua bukti tersebut, bisa disimpulkan bahwa Nona Carter secara sadar mengarahkan Roy untuk menjalankan instruksinya," kata Hakim Moniz. "Terdakwa memahami bahwa mendiang rentan bunuh diri, mudah dipengaruhi, tapi tetap mendorongnya mengakhiri hidup. Karena itu, hakim memutuskan terdakwa melakukan perbuatan yang menyebabkan seseorang kehilangan nyawa."

Kasus ini menjadi perhatian publik karena sangat bisa diperdebatkan. ACLU, kelompok pembela kebebasan berekspresi, menyatakan Carter tidak bersalah karena hanya membantu Roy yang sejak awal sudah punya kecenderungan ingin mengakhiri hidup. Namun upaya pembelaan kelompok advokasi ini, beserta tim pengacara, tidak ditanggapi majelis hakim.



Implikasi dari putusan hakim, menurut Matthew Segal, Direktur Hukum ACLU, tidak hanya terkait mendiang Roy. Ke depannya, individu yang membantu seseorang bunuh diri akan selalu dijerat pasal pidana. "Motivasi seseorang bunuh diri berbeda-beda dan akan terdampak atas keputusan hakim," ujarnya. ACLU adalah kelompok advokat yang membela euthanasia. Para pengacara menyoroti cacat putusan hakim, lantaran Negara Bagian Massachusetts sebetulnya tidak punya dasar hukum mempidanakan orang yang membantu aksi bunuh diri.

Hakim Moniz berpendapat berbeda. Dalam putusannya, dia menyitir kasus di Massachusetts 200 tahun lalu, ketika seorang tahanan dijerat pasal pidana setelah memprovokasi penghuni sel sebelah untuk membunuh sesama narapidana. "Hukum yang berlaku di Amerika Serikat saat itu tentu berbeda dengan pasal-pasal pidana modern, namun prinsip yang berlaku tetap sama."

Iklan

Putusan Hakim Moniz juga berdasarkan yurisprudensi kasus Commonwealth v. Levesque yang terjadi pada 1999. Pasangan di Worchester membakar rumah mereka sendiri, tapi tidak menghubungi polisi atau 911. Akhirnya, enam petugas pemadam yang berusaha menyelamatkan keduanya justru meninggal dalam kebakaran tersebut. Keduanya kemudian didakwa atas kelalaian menyebabkan orang lain meninggal.

"Kasus ini membuktikan bahwa setiap individu dalam hukum AS harus bertanggung jawab atas pengetahuan yang bisa mengancam nyawa seseorang. Jika mereka tidak melakukannya, mereka dapat dijerat pasal pembunuhan," kata Moniz.

Ed Ryan, salah satu pengacara Carter, merasa alasan hakim sangat lemah. Dalam kasus 1999 yang jadi bahan rujukan, pasangan pembakar rumah dibebaskan dari semua dakwaan. Kendati begitu, Ryan mengakui kliennya dalam posisi berbeda karena sejak awal memantau proses bunuh diri kekasihnya, dan sesekali memberi instruksi.

Setelah pembacaan putusan hakim, Carter terduduk diam dan meneteskan air mata di kursi pesakitan. Keluarga Roy segera keluar dari sidang, sebagian tersenyum, sebagian lainnya menangis. Keluarga Carter, di lain pihak, ikut duduk lama dalam ruang sidang. Setelah kegaduhan vonis berakhir, belasan orang yang bertahan dalam ruang sidang terdiam.

Carter berhasil melewati puluhan wartawan yang menunggunya di luar gedung pengadilan. Dia terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara, yang kemungkinan akan dijatuhkan pada sidang akhir pada 3 Agustus mendatang. Tim pengacara memastikan mereka bakal mengajukan banding.

Follow Susan Zalkind di Twitter.