Bencana Alam

Alasan Tragedi Tanah Longsor Semakin Sering Terjadi di Indonesia

Longsor di berbagai daerah sepanjang 2016 merupakan yang tertinggi dalam satu dekade terakhir. Tragedi Ponorogo pekan lalu mengingatkan kita semua, pasti ada faktor pemicunya.
5.4.17
Foto oleh SyamsiUncle via Twitter.

Pekan lalu tragedi longsor terjadi di Desa Banaran, Ponorogo, Jawa Timur. Insiden itu menewaskan tiga warga, sementara 25 lainnya sampai sekarang masih hilang. Longsor yang terjadi di Ponorogo hanya satu dari sekian peristiwa sejenis yang terjadi sekian bulan belakangan.

Data menunjukkan intensitas tanah longsor di Indonesia sedang meningkat. Sepanjang 2016, longsor yang terjadi di berbagai daerah merupakan yang tertinggi satu dekade terakhir. Persisnya, merujuk data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada 612 insiden longsor selama tahun lalu.

Tanah Indonesia yang subur memikat masyarakat menjamahnya lewat kegiatan pertanian. Persoalannya, terkadang masyarakat tidak memerhatikan risiko bencana yang dapat muncul dari pembukaan lahan di lereng bukit atau gunung. Merujuk data Kementerian Pertanian, sebenarnya sudah terdapat data jika 45 persen lahan pertanian, terutama di dataran tinggi, yang rawan bencana longsor

"Tanah di Indonesia sangat subur karena dikelilingi cincin api, tapi rawan bencana geologis," kata Ngadisih, peneliti dari Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada, saat dihubungi VICE Indonesia. "Tanah yang subur akhirnya memicu kepadatan penduduk. Sementara tanah tersebut rentan terhadap pergeseran massa."

Menurut Ngadisih karakteristik geologi Indonesia ditambah iklim tropis dan curah hujan tinggi memicu peluang longsor ringan maupun berat. "Saat musim kemarau panjang terjadi evaporasi air tanah dan menimbulkan retakan. Ketika terjadi hujan, terjadi penjenuhan tanah oleh air dan retakan tersebut dapat memicu sliding," kata Ngadisih.

Sifat alami tanah tersebut masih diperparah oleh intervensi manusia entah lewat kegiatan pertanian atau pun pembangunan infrastruktur dan pendirian bangunan  tak terkendali. Ngadisih mencontohkan bagaimana pembangunan jalan yang kerap memotong lereng pegunungan. Adanya jalan raya sebetulnya turut berpotensi menimbulkan longsor yang disebabkan oleh getaran kendaraan yang lewat.

"Bencana longsor adalah sesuatu yang alami karena alam butuh keseimbangan, namun perlu ada aturan tata ruang agar korban jiwa bisa ditekan," katanya.

Pemerintah sebenarnya memiliki aturan yang melarang penduduk membangun sistem pertanian terasering di daerah dengan kemiringan lebih dari 50 derajat. Namun peraturan tersebut seringkali tidak diindahkan. Hal itulah yang kemungkinan menjadi pemicu longsor di Ponorogo.

Bagus Bestari Kamarullah selaku Juru bicara tim kaji cepat dari UGM yang meneliti longsor di Banaran Ponorogo, mengatakan tanah desa tersebut memiliki struktur batuan lapuk dari gunung berapi, selain memiliki kemiringan tebing yang cukup curam.

"Kondisi tata guna lahan cukup memprihatinkan karena ada beberapa tanaman yang tidak cocok ditanam di daerah lereng. Ditambah lagi curah hujan cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir," ujar Bagus.

Di masa mendatang, yang bisa dilakukan warga bersama pemerintah daerah menghadapi kerawanan bencana seperti longsor, adalah meningkatkan kewaspadaan dan kapasitas penduduk agar siap menghadapi bencana. Berbeda dari tsunami atau gempa, sistem peringatan dini untuk wilayah rawan tanah longsor belum sepenuhnya diterapkan oleh berbagai wilayah.

"Banyak daerah rawan longsor yang ditempati penduduk. Meningkatkan kapasitas di sini juga termasuk kesiapan warga saat terjadi bencana dan proses evakuasi. Bisa juga dengan melatih mereka agar bersikap peduli terhadap sekeliling dan mengenali gejala-gejala bencana," ujar Ngadisih.