Sepasang Fotografer Mengabadikan Lanskap Bernuansa Death Metal di Seluruh Penjuru Dunia
Foto

Sepasang Fotografer Mengabadikan Lanskap Bernuansa Death Metal di Seluruh Penjuru Dunia

Berbekal satu kamera, satu lampu flash, satu lensa, pasangan ini berhasil menangkap panorama khas death metal di Bumi.
12.1.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Swedia.

Kalau keduanya hidup di abad pertengahan, Inka dan Niclas Lindergård sangat mungkin dibakar di hadapan khalayak. Keduanya rentan disangka sepasang penyihir.  Mereka seperti dikaruniai kemampuan memanipulasi bentang alam Bumi dengan cara-cara yang tak pernah kita pikirkan. Misalnya membuat cahaya langit utara muncul di mulut gua. Percayalah, tak ada sihir-sihiran di sini. Trik photoshop pun nihil. Inka dan Niclas berjanji bahwa satu-satunya trik yang mereka miliki adalah kesabaran tanpa tanding. Jika hasil kerja mereka harus diklasifikasikan, mungkin genre yang pas adalah "fotografi lanskap." Lagipula,memang hal-hal semacam itu yang mereka potret. Sayangnya, label itu tak cukup sebanding dengan hasil karya mereka. Sebab karya pasangan ini berada di luar tradisi fotografi standar.

Iklan

Anda pasti setuju dengan kalimat barusan, segera setelah melongok buku kedua mereka, The Belt of Venus and the Shadow of the Earth. Judul buku ini merujuk salah satu objek yang paling sering difoto oleh umat manusia: senja. "Belt of Venus" adalah semburat merah jambu yang muncul di langit ketika matahari mulai tenggelam sementara  "Shadow of the Earth" tentu saja adalah bayangan matahari. Keduanya adalah alasan gradien merah abu dan biru yang lazimnya kita sebut sunset.

Inka dan Niclas bukan sekadar fotografer yang keren. Mereka pendongeng yang jago. Mereka mendongeng tentang bagaimana mereka bertemu, bernostalgia tentang ladang kopi indah di Tanzania, dan bagaimana pantai-pantai ajaib bisa kamu temukan di Selandia baru.

Buku The Belt of Venus and the Shadow of the Earth tersedia di sini .

VICE: Bagaimana kalian awalnya bisa bertemu?
Inka dan Niclas: Kami ketemu di utara Swedia. Waktu itu, kami sedang belajar fotografi di tahun 2005. Niclas anak Swedia bagian utara dan pernah bekerja di pabrik baja. Dia doyan banget musik metal 80-an dan rambutnya gondrong. Inka sebaliknya ngefans proses pembuatan foto kuno. Dari lahir, dia sudah vegetarian dan sering menjahit sendiri bajunya, mirip seperti nenek-nenek hippies. Paduan karakteristik kami aneh tapi menarik. Kebetulan apartemen kami dekat. Tak lama, kami mulai nongkrong bareng.

Kapan kalian mulai kolaborasi kreatif?
Kami mulai ngobrol untuk membikin proyek bareng setelah lulus. Waktu itu kami juga mulai pacaran. Kami saling bantu ketika kuliah. Jadi, kami akrab dengan karya satu sama lain. Lalu, beberapa tahun lalu, kami pergi ke Tanzania, mengunjungi seorang teman yang punya sebuah rumah mungil di sana. Aku ingat penerangan rumah itu menggunakan tenaga baterai mobil. Yang seru, kalau salah satu dari kami mandi, yang lain harus mengisi air dengan menginjak sebuah mesin. Dari beranda rumah teman kami itu, pemandangan Kilimanjaro selalu bisa kami nikmati.

Iklan

Kami tinggal di sana selama tiga bulan. Tiap hari kami bekerja. Kami mengerjakan semua ide yang pernah melintas di otak kami, agar tahu kolaborasi macam yang pas buat kami. Akhirnya, kami cuma memilih empat atau lima foto dari ratusan foto yang kami buat di sana. Kami sudah melakukan ini selama sembilan tahun. Kami enggak kepikiran bekerja dengan cara yang berbeda.

Sebagian besar karya kalian di  The Belt of Venus and the Shadow of the Earth sepertinya tak umum ditemui di alam liar. Bisa cerita lebih jauh tentang pendekatan teknis kalian untuk mendapatkan foto-foto ini?
Kalau masalah peralatan, kami sih sederhana saja. Kami punya kamera DSLR reguler, satu lampu flash, dan satu buah lensa. Ini bukan produksi foto rumit yang perlu enam lensa dan satu mesin kipas angin. Prinsip kami: melakukan banyak hal dengan sedikit perkakas. Terus, kesabaran untuk menunggu momen yang tepat adalah modal besar dalam pembuatan karya kami. Rasanya keren banget kalau semuanya muncul sempurna dan hasil lebih dari yang kami bayangkan.

Kebanyakan karya di buku ini berkisar tentang adegan performatif yang hanya bisa dirasakan lewat fotografi. Apa yang kamu lihat adalah apa yang terjadi saat kami mengambil itu. Kami menganggap apa yang lakukan—entah itu melempar bubuk saat angin berhembus, membuat ukiran dari cabang pohon dan mengarah sinar ke batu beberapa detik saja—sebagai sebuah bagian pertunjukan yang disesuaikan dengan lanskap, elemen dan kamera.  Kami mencoba mengeksplorasi fungsi kamera sebagai jembatan antara dunia fisik dan dunia fotografis.

Alam adalah objek karya kalian. Menurut kalian, tempat-tempat paling indah ada di mana saja?
Islandia hampir seluruhnya indah, khusunya Jökulsárlón dan salah satu pantai hitam yang memiliki satu buat bongkahan es. Kami sudah ke sana empat kali. Dan tiap kali kami ke sana, pantai itu masih terasa ajaib.

Pantai Koekohe di Selandia Baru juga indah. Pertama kali kami sampai di sana, langitnya berwarna merah mudah emas, sedikit berkabut. Ajaib sekali rasanya. Kami langsung panik, berlari ke sana ke mari, menyiapkan perkakas kami. Kami takut pemandangan indah ini cuma bertahan 10 menit saja. Ternyata, setelah satu jam di sana, langitnya tak brubah. Kami berhenti sejenak, menenangkan diri dan mulai mengatur strategi. Kami mencoba berbagai ide selama sejam dan langitnya tetap seindah itu seperti sunrise yang membeku. Akhirnya, kami bekerja seharian sampai lelah. Perlahan-lahan Sunset itu berubah menjadi sunrise yang sama-sama ajaibnya. Sebuah pengalaman yang sureal.

Iklan

Yang ketiga Glacier Point di Yosimite saat matahari terbit. Karena kawasan ini lumayan terkenal, banyak orang yang kami temui di sana. sepertinya kami juga harus memasukkan Lofoten di Norwegia dan Tre Cime di Lavaredo.

Kalian memotret obyek di alam liar, tapi hasilnya seperti dari dunia antah berantah. Kalian tertarik dengan okultisme?
Kami selalu tertarik dengan sisi mistik dari alam bebas. Kami mencari bukti keberadaan dunia mistis di mana pun itu dari mitologi norse, agama-agama pagan atau bahkan kartu pos spiritual di toko loak. Jelas sekali kami tertarik dengan estetika dan sisi ritualistik kaum okultis. Kami sering menyebut sebuah foto atau lanskap sebagai "Death Metal" tapi dengan maksud yang amat positif ya.

Proyek kalian di tahun 2017 apa?
Kami akan menggelar pameran di Rotterdam Februari tahun ini. Kami juga akan hunting gambar di  Meksiko Januari ini.  Selain itu, kami baru saja merilis buku kedua kami, The Belt of Venus and the Shadow of The Earth.  Intinya, kami bebas sekarang. Semua karya kami sudah dipublikasikan. Kami akan mencoba cara baru yang menarik sekaligus menakutkan bagi kami. Kami sedang mengejarkan ukiran fotografis: kami membengkokan foto menjadi sebentuk plaster tiga dimensi, membuat gambar kami meleleh di atas obyek di alam liar. Ini pendekatan baru bagi kami.