Thailand

Barbershop di Bangkok Melawan Aturan Kuno Cowok Wajib Potong Pendek 5 Cm

Di Thailand, edaran pemerintah sejak dekade 70-an mewajibkan pelajar cowok potong 'rapi' dan konservatif masih berlaku. Belasan tukang cukur muda mendobrak kejumudan ini, menawarkan gaya slick backs hingga undercut bagi remaja.
16.8.17
Semua foto oleh penulis.

Ada suasana Amerika Serikat era 50'an dalam ruangan Craftsman Barber Shop. Di luar kios, barber pole berwarna merah putih berputar lamban. Dari perangkat stereo di dalam tempat pangkas rambut itu, terdengar lagu James Brown "Papa Got A Brand New Bag." Beberapa tukang cukur bertato yang bekerja di tempat ini piawai memangkas rambut dengan model slick backs, high and tights, dan undercut yang kini populer. Playlist yang diputar saat saya datang berisi campuran lagu punk klasik dan soul. Satu botol Jameson ditaruh begitu saja di belakang tempat kasir.

Iklan

Tak semuanya serba Amerika. Cita rasa Thailand tetap kental di tempat ini. Ada semerbak serai di ruangan pangkas rambut. Foto Raja Rama IX ukuran besar terpasang di dinding. Percakapan yang saya dengan sore itu berkutat pasar malam yang menjajakan Singha dingin dan Bir Chang, bir paling lezat di Negeri Gajah Putih.

"Semalam elo ngapain?" tanya Danupat Lavanapipat, pemilik tempat pangkas rambut itu, pada seorang barber yang pelan-pelan menggerakan pisau cukur di pipi seorang pelanggan.

"Gue ke pasar malam Huay Kwang," jawabnya. "Nonton band sambil ngebir."

Danupat Lavanapipat

Craftsman adalah bagian dari tempat cukur kekinan yang muncul dan mendobrak standar "ke-Thailand-an" rambut di Bangkok. Beberapa tempat pangkas rambut sejenis misalnya adalah Three Brothers di Mo Chit, Black Amber di Thong Lor, Five Prows di Silom, Sxissors adi Huay Kwang Train Market. Semua barbershop ini menjadi simbol bagi generasi baru Thailand yang mulai menyisihkan nilai-nilai konservatif yang masih kental dalam kehidupan masyarakat modern.

Penampilan seseorang berarti segalanya di negeri ini. Thailand adalah negara yang masih menyertakan syarat tinggi, umur, dan gender dalam pengumuman lowongan kerja. Tahun 1972, pemerintah Thailand mengeluarkan sebuah aturan tentang aturan panjang rambut pelajar yang wajib ditaati. Siswa cowok diwajibkan berambut pendek, tak lebih dari 5 cm. Sementara, pelajar perempuan boleh memanjangkan rambut sampai sebahu. Sampai hari ini, aturan kuno ini masih dipatuhi di banyak sekolah di Thailand.

Iklan

Aturan ini pada akhir mendikte cara kerja tempat pangkas rambut di Thailand. Ada masanya ketika para Barber di Thailand hanya bisa memotong rambut dengan gaya yang amat terbatas. Aturan yang sama mau tak mau berimbas pada gaya rambut orang dewasa. Lucunya, ketika para pelajar menuntut peremintah mengendurkan aturan soal standar potong rambut, para barber malah khawatir bakal ditinggalkan pelanggan. Alasan mereka, jika pelajar diperkenankan gondrong, mereka bakal jarang datang ke tempat pangkas rambut. Lagi pula, rambut gondrong menurut tukang potong rambut tua di Thailand, bakal cepat kotor, apalagi kalau pemiliknya masih remaja.

Kini, tempat pangkas rambut sejenis Craftsman menunjukkan ada banyak gaya rambut alternatif di luar gaya anak sekolah. Di Craftsman, pengunjung bisa memilih beragam gaya, mulai dari pompadours, under-cuts, high and tights, hingga slick-backs. Para barber di sana punya pengetahuan mendalam tentang gaya-gaya ini. Mereka bakal ngoceh panjang lebar tentang James Dean dan Elvis, tentang bagaimana membuat garis untuk membuat apa yang mereka sebut "hard part" dan bagaimana membuat pompadour lebih menonjol. Mereka pun dengan piawai bercerita tentang pilihan gaya rambut pria Thailand saat ini.

"Kebanyakan pria Thailand memilih gaya slick backs," tutur Danupat. "Mereka mengincar yang rada stylish gitu."

Danupat berperawakan tinggi dan langsing. Tubuhnya ditutupi rajah klasik—salah satunya tato barbershop pole yang berputar lamban di tempat pangkas rambutnya. Sore itu, Danupat mengenakan polo shirt dan menyisir rambutnya ke salah satu sisi. Danupat lantas menambahkan bahwa slick-back lebih populer dibanding undercuts lantaran bagian pendek undercut mirip dengan potongan cepak ala anak sekolah.

Iklan

Pilihan gaya rambut juga dibikin lebih runyam oleh beberapa norma budaya yang berlaku di sana. Di Thailand, menyentuh kepala seseorang yang lebih tua atau lebih tinggi posisinya dianggap kurang sopan. Tukang cukur bisa melewati batasan ini tanpa masalah. Meski demikian, Danupat mengatakan untuk sementara pelanggan Craftsman masih homogen dan terbatas.

"Kebanyakan pekerja muda," ujarnya. "Biasanya berumur 20 tahunan, menjelang 30-an lah. Pelanggan tempat cukurku campuran antara Farang (semaca bule dalam bahasa Indonesia) dan orang Thailand. Orang-orang ini butuh memangkas rambutnya sebulah sekali. Jadi, pelanggan ya itu-itu saja."

Semua gaya rambut kekinian ini bermula di Never Say Cutz—tempat ini memicu tren pangkas rambut hip di Thailand. Never Say Cutz suasananya hip-hop banget. Ini tak mengherankan sebab tempat pangkas rambut ini kerap diasosiasikan dengan kolektif rap Thailand yang kondang hingga mancanegara: Thaitaninum. Belakangan, Never Say Cutz jadi barometer pangkas rambut di Negeri Gajah Putih.

Danupat pertama kali mengasah kemampuan cukur rambutnya di Never Say Cutz. Dia masuk sekolah kejuruan dekat Lumpinee Park. selang setahun kemudian, berbekal ijazah sekolah kejuruan, Danupat bekerja di Never Say Cutz. Beberapa tahun kemudian, Danupat pindah ke Black Amber, tempat pangkas rambut bergaya Victoria di kawaan Hi-So Thong, Bangkok. Lalu, setelah merasa cukup punya modal dan kepercayaan diri, Danupat mendirikan tempat cukurnya sendiri.

Keputusan itu berbuah manis. Danupat kini hidup lumayan makmur. Tempat pangkas rambut adalah jenis bisnis yang lumayan kebal krisis ekonomi di Thailand. Dalam waktu singkat, tempat cukur yang didirikan Danupat mencukur 15-20 kepala pelanggan saban hari. Lantaran makin populer, Danupat harus membuka satu cabang baru. Mengelola tempat pangkas rambut juga menguntungkan. Mayoritas tukang cukur di Craftsman membawa pulang 25.000-30.000 Baht (setara Rp10-12 juta) per bulan, sepuluh kali lebih tinggi dari UMR nasional Thailand.

"Tukang cukur hidupnya woles banget," ujar Danupat. "Kami bisa minum-minum, olahraga dan ikut jalan-jalan dengan sepeda motor. Ini namanya sabai jai—alias hidup yang tenang dan enak. Aku bakal jadi tukang cukur seumur hidup."