Views My Own

Timur Tengah Kembali Memanas Tahun Ini, Seperti Biasa Semua Salah Minyak

Ketegangan politik Qatar dan Arab Saudi ketika ditelisik lebih jauh sebetulnya tak jauh-jauh dari rebutan ladang minyak dan gas alam.
1.8.17
Lapangan gas alam milik Qatar. Foto oleh Olivier Polet/Corbis via Getty Images

Tujuh tahun lalu, saya mengikuti pertemuan International Energy Forum (IEF) di Riyadh, Arab Saudi bersama diplomat paling senior dari wilayah itu.

Beberapa topik pembicaraan dibahas dalam pertemuan tersebut, namun ada satu yang menarik perhatian saya. Dalam pembahasan tersebut, sebuah grafik sederhana yang ditampilkan penyaji menunjukkan prediksi IEF bahwa gas alam akan jadi "bahan bakar penyambung" paling dominan di dunia menuju penemuan sumber energi terbarukan dalam 50 tahun ke depan. Ini jelas berita yang menggembirakan bagi Qatar dan Iran—yang memiliki persediaan gas alam melimpah di Teluk Persia. Sebaliknya, bagi Arab Saudi ini jelas kabar tentang masa depan yang suram. Okaylah, Arab Saudi memang punya cadangan gas alam, tapi sampai saat ini 90 persen ekonomi ekspor Negara Petro Dollar ini bergantung pada penjualan satu komoditas: minyak!

Iklan

Infrastruktur Arab Saudi dibangun di atas hasil ekspor minyak. Begitu pula kekuatan Arab Saudi di dunia internasional, termasuk kekuatannya untuk melakukan embargo di masa lalu, bergantung pada minyak sebagai salah satu sumber energi paling dominan di muka Bumi. Dari sudut pandang ini, kita bisa menemukan alasan mengapa tergesernya Arab Saudi sebagai negara paling berpengaruh di Timur Tengah oleh Iran dan Qatar menjadi bensin bagi peningkatan ketegangan di wilayah itu.

Ketika negara Arab Saudi modern berdiri pada tahun 1932, gas alam belum digunakan sebagai bahan bakar dan presentasinya dalam pasokan bahan bakar dunia hanya secuil, selama beberapa dekade lamanya, saat mengeskstrak gas alam dalam pengeboran minyak, Arab Saudi selalu membakarnya alih-alih menjualnya. Namun, kini, gas alam mencakup 24 persen pasokan bahan bakar dunia.

Persaingan antara minyak dan gas alam adalah alasan utama di balik tindakan Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatis dengan Qatar. Kaum konservatif Arab Saudi berharap dengan menekan Qatar serta mengancam rute pengiriman gas alam Iran Qatar di telk Bab Al Mandeb (BAM) dan Laut Merah, Arab Saudi bisa mempertahankan dominasi minyak di atas gas alam di pasaran dunia.

Dengan kata lain, konflik sentral yang berkembang di kawasan Timur Tengah. belakangan bukan sama sekali diakibatkan perseteruan antara Sunni dan Syiah. Dari dulu, pertikaian di kawasan ini selalu tentang uang dan masa depan energi.

Iklan

Gas alam bukanlah sumber energi yang terhitung seksi. Karena terbuat dari fosil, gas alam masih menyebabkan polusi, meski jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan batu bara dan minyak. Pembakaran gas alam menghasilan 25 persen lebih sedikit karbon dioksida dari minyak dan 50 persen lebih sedikit dari batu bara. Lebih dari dalam hal polutan yang dihasilkan, gas alam menghasilkan sepuluh sampai 2.000 kali lebih sedikit polutan dibandingkan minyak dan batubara. Kendati ada kekhawatiran kebocoran methana yang terkandung dalam gas alam, permintaan akan gas alam diperkirakan akan terus naik. Terutama di benua Eropa, di mana beberapa fasilitas LNG telah rampung dibangun.


Simak video dokumenter kami mengenai kebiasaan orang kaya Timur Tengah memelihara kucing besar ilegal:

Uni Eropa adalah pengimpor gas alam terbesar di dunia, dan permintaan akan gas alam akan meningkat lantaran ada ketakutan di antara negara-negara Eropa akan ekspansi militer Rusia, dan penurunan drastis volume produksi beberapa kilang gas alam dan minyak di Eropa.

Gas alam yang didatangkan dari Iran dan Qatar makin memiliki tempat yang penting di Eropa sejak dua tahun lalu. Pada 2015, ekspor gas alam ke Eropa naik sebesar 20 persen. Februari lalu, Iran mengumumkan telah meningkatkan kiriman gas alam ke Eropa sebanyak dua kali lipat. Kini, Negeri Para Mulah ini mengirim 2,8 juta barrel gas alam ke Eropa dalam sehari. Angka ini sebenarnya masih dibatasi sanksi yang diterima Iran. Fasilitas LNG baru bersama proyek energi terbarukan besar-besaran yang didukung oleh dana subsidi besar untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga angin dan solar, telah mengurangi ketergantungan atas minyak dari Arab Saudi. Tren ini, ditambah maraknya penggunaan teknik fracking di Amerika Serikat serta proyek energi terbarukan raksasa di Cina, makin menekan nilai ekspor minyak Arab Saudi.

Iklan

Jadi, apa yang bisa dilakukan Arab Saudi? Untuk menghalangi perkembangan energi terbarukan, tidak banyak, selain menyakinkan AS untuk menarik diri dari Kesepakatan Paris, keputusan yang diambil Trump pasca melawat ke Negera Petrol Dollar itu.

Penggunaan metode Fracking di AS di sisi lain hampir mustahil dihentikan oleh kaum konservatif. Namun, kalau mau jujur-jujuran, baik fracker asal AS dan Arab Saudi sama-sama diuntungkan atas tingginya harga minyak dunia dan tersingkirnya dua kompetitor mereka (Qatar dan Iran) di pasar energi Eropa.

Dampaknya, dari sudut pandang kaum konservatif, strategi paling jitu untuk mendongkrak nilai minyak Arab Saudi dalah dengan terus mengurangi aliran gas alam dari Iran dan Qatarr ke Eropa, atau kalau perlu ke seluruh dunia.

Untuk mengurangi eskpor gas alam ke Eropa, berikut tiga langkah yang bisa ambil Arab Saudi:

  • Memperluas pangkalan angkatan laut mereka dan terus mengobarkan perang di Yaman guna merongrong kontrol atas BAM dan/atau menciptakan titik sumbat di Laut Merah yang dilalui oleh hampir semua kapal yang membawa gas alam dari Qatar dan Iran ke Eropa.
  • Melancarkan atau mengancam akan menyerang Qatar sampai gas alam yang diekstrak dari teluk Persia menurun atau dialihkan dan dijual ke Arab Saudi dengan disertai diskon;
  • Meningkatkan biaya pengiriman biaya pengiriman gas alam dari Qatar ke Eropa dengan menyakinkan Uni Emirat Arab untuk menerapkan embargo pelabuhan pada kapal pembawa gas alam dari Qatar. Cara lainnya adalah dengan menyakinkan Mesir untuk memblok dan mematok harga tinggi bagi kapal-kapal Qatar yang lewat terusan Suez.

Iklan

Saat ini, kaum konservatif di Arab Saudi condong pada opsi ketiga dengan memberlakukan embargo pelabuhan oleh Uni Emirat Arab. Namun, cara ini tak akan serta merta meningkatkan ongkos pengiriman gas alam dan membuat minyak kembali membanjiri Eropa kalau Mesir tidak menutup akses menuju terusan Suez. Opsi ini bakal makin tumpul saja, terutama setelah Qatar mengumumkan rencana (dilakukan sebulan sebelum Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatis) untuk menggenjot produksi gas alamnya dengan menghapus semua aturan yang menghambat proses pengeboran.


Baca juga laporan VICE tentang peta politik rumit Timur Tengah:

Jika harga minyak merosot dan perekonomian Arab Saudi makin lesu, ada kemungkinan kaum konservatif di sana bakal mengambil langkah yang lebih drastis. Saat sini saja, kita sudah menyaksikan pemberitaan tendensius tentang Qatar dalam media Arab Saudi yang mengakibatkan ketegangan antara kedua negara. Semua media Qatar, termasuk Al Jazeera telah diblok di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (pemblokan dilakukan karena Arab Saudi mengklaim bahwa pemimpin Qatar mengeluarkan komentar bernada positif tentang Iran, meski klaim ini bisa aja bodong.)

Segera setelah semua situs pemberitaan Qatar diblok, Al Arabiya, kanal berita yang dikontrol oleh pemerintah Arab Saudi, segera mengunggah serangkaian artikel anti-Qatar dengan judul-judul mencolok seperti "Hizbollah dan Qatar—sebuah kisah cinta terlarang." Tak lama kemudian, Arab Saudi dan negara produsen minyak lainnya memutuskan hubungan diplomatis dengan Qatar, semua warga Qatar diperintahkan angkat kaki dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Bahkan, membuat status yang bernada simpatis terhadap Qatar di sosial media dianggap sebagai tindakan kriminal. Melihat pemilihan waktu, koordinasi, besarnya pemberitaan dan serangan diplomatis anti Qatar, semua ini, seperti yang dikatakan David Hearst (wartawan spesial Timur Tengah dari Guardian) , telah direncanakan dengan matang oleh kaum konservatif jauh-jauh hari.

Iklan

Sementara itu, dampak blokade yang dilakukan Arab Saudi mulai terasa di Qatar. Kekhawatiran akan ketersediaan bahan pangan meningkat. Toko bahan makan dipadati oleh pelanggan yang panik. Selain meningkatkan kerisauan akan pasokan bahan makanan, kemungkinan terjadinya eskalasi militer juga ikut meningkat. Terutama setelah Qatar baru-baru ini mengumumkan niatnya untuk meningkatkan produksi gas alamnya sebanyak 30 persen.

Jika terjadi konflik di wilayah ini, Turki kemungkinan besar akan berada di pihak Qatar karena negara itu punya kepentingan guna memasang pipa gas dari lokasi persedian agas alam Qatar di masa depan selain karena keduanya punya ikatan sejarah yang kuat.

Ketika kekisruhan ini dimulai. Saudi Arabia dan sekutunya mengeluarkan 13 butir tuntutan pada Qatar (di antaranya menutup Al Jazeera, membongkar markas militer Turki dan membayar sejumlah ongkos reparasi, dan lain-lain). Semua tuntutan hampir mustahil dituruti Qatar. Lalu, tak beberapa lama setelah Turki mulai mengirim pasukannya ke Qatar dan Presiden Recep Tayyip Erdogan bersiap melakukan kunjungan diplomatis ke wilayah yang tengah panas tersebut, Arab Saudi dan sekutunya langsung mengurangi tuntutannya menjadi "enam prinsip besar." Ini bisa ditafsirkan sebagai keengganan Arab Saudi untuk melancarkan konflik langsung dengan Turki. Menteri Luar Negeri Rex Tillerson juga menyeru Arab Saudi untuk menghentikan blokade terhadap Qatar.

Akhir pekan lalu, Arab Saudi kembali menegaskan bahwa semua tuntutannya harus dipatuhi dan menuding Qatar telah "mendeklarasikan perang" dengan menuntut penyelenggaraan ibadah Haji dikelola konsorsium internasional (lagi-lagi, yang membingungkan adala sampai saat ini tak bukti Qatar mengeluarkan pernyataan macam itu.)

Jika perekonomian Arab Saudi makin terpuruk, kita tak akan pernah apa yang akan terjadi. Kerap kali, keterpurukan ekonomi bisa jadi sumbu penyulut gerakan reformasi. Di kesempatan lain, hal yang sama jadi awal sebuah perang.

Mari berharap, skenario pertama saja yang terjadi di kawasan Teluk.

Ryan Riegg adalah seorang pengacara dan konsultan Aion Associates , serta pendiri klub menulis Lawyerence of Arabia