Kekerasan Seksual

PNS di India Ditangkap Karena Memerkosa 50 Anak untuk Materi Pornografi

Pegawai Dinas PU di Uttar Pradesh itu sudah melecehkan dan membuat ponografi anak selama 10 tahun, lalu menjual videonya ke dark web.
Pallavi Pundir
Delhi, IN
18.11.20
PNS di India Ditangkap Karena Memerkosa 50 Anak untuk materi pornografi
Foto ilustrasi via Unsplash 

Kepolisian Federal India (CBI) menangkap seorang pegawai bidang teknik sipil Dinas Pekerjaan Umum Negara Bagian Uttar Pradesh pada 17 November 2020. Sang pegawai, oleh kepolisian diungkap identitasnya bernama Rambhawan, diduga kuat terlibat pelecehan, pemerkosaan, serta produksi pornografi anak. Konten pornografi terlarang itu lantas dia jual ke dark web.

Korban sang PNS itu mencakup anak dari usia lima tahun hingga 16. CBI meyakini Rambhawan tidak bekerja sendirian untuk memperdaya anak-anak di lebih dari tiga kota berbeda terlibat dalam konten pornografi yang dia buat. Pelaku lain kini masih diburu oleh polisi.

Polisi India menyita laptop, delapan ponsel yang dipakai merekam adegan seks, alat bantu seks, serta hard disk dengan materi pornografi anak “yang amat berlimpah” saat menggeledah rumah tersangka. “Dia sudah terlibat produksi dan pemaksaan pembuatan video seksual terhadap anak selama 10 tahun terakhir,” kata keterangan tertulis dari CBI.

Merujuk data pemerintah setempat, setidaknya 100 anak mengalami pelecehan dan kekerasan seksual di seluruh India saban hari. Memproduksi materi pornografi anak melanggar hukum pidana di India, dengan hukuman maksimalnya adalah lima tahun penjara serta denda 1 Juta Rupee.

Iklan

CBI menemukan bukti kuat Rambhawan rutin berkomunikasi dengan sosok-sosok dari India maupun luar negeri untuk mendistribusikan materi pornografi anak tersebut. Kasus ini terungkap setelah perusahaan di balik server mega-nz, yang dipakai tersangka menyimpan materi pornografi anak, membagikan data pengguna kepada kepolisian Selandia Baru. Dari temuan tersebut, polisi berbagai negara berhasil meringkus pedofil serta predator yang rajin membuat materi pornografi anak.

Mega-nz menjadi sorotan utama, karena sejak bertahun-tahun sudah disebut oleh banyak pihak membantu serta melindungi praktik penyebaran pornografi anak. Sistem di server mereka memakai enkripsi tertutup, tidak dibatasi kapasitas data maksimal, sehingga kerap dipakai jaringan kriminal dan pedofil menyimpan materi pornografis.

Sayang, kasus ini hanya puncak gunung es dari problem kekerasan seksual dan eksploitasi seksual pada anak di Negeri Sungai Gangga. Menurut data dari Komisi Perlindungan Anak India, angka produksi pornografi melibatkan anak di bawah umur meningkat 95 persen selama momen lockdown. Artinya, ada banyak pelaku seperti Rambhawan yang masih berkeliaran di luar sana tanpa tersentuh hukum.

Rambhawan memotret dan merekam anak-anak yang dia paksa terlibat adegan seksual. Untuk memaksa dua dari korbannya tutup mulut, tersangka menurut polisi memberikan hadiah piranti elektronik.

Follow Pallavi Pundir di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE India