Film

Sutradara ‘Logan’ Membahas Kendala Utama Membuat Film Adaptasi Komik

Kami berbincang dengan sutradara veteran James Mangold, membahas alegori politik dalam film, topik fasisme di cerita superhero, hingga penyebab film terbaru Wolverine garapannya keren banget.
06 Maret 2017, 6:20am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.

Penyataan ini terlampau klise, tapi bodo amat lah: Logan bukan film Marvel biasa. Karya James Mangold terbaru ini penuh cipratan darah serta bermacam sadisme lainnya. Uniknya, pipi setiap penonton pelan-pelan dibasahi air mata berkat akting Hugh Jackman sebagai Wolverine yang paling ikonik sejauh ini. Logan—meski berdarah-darah—pada dasarnya cerita drama menyentuh. Logan merupakan film serius tentang keluarga dan pencarian jawaban-jawaban personal karakter utamanya. Tentu saja, selain drama yang kuat, sang sutradara bermain-main dengan variasi adegan adamantium Wolverine memutilasi musuh-musuhnya. Dalam 137 menit, Mangold berhasil menyusupkan jauh lebih banyak adegan leher digorok daripada film horror cult MacGruber.

Namun, Logan bukan melulu tentang darah dan isi perut yang terburai. Kisah Wolverine dalam film ini sengaja dipisahkan dari struktur episodik yang jadi ciri utama film-film Marvel belakangan. Keterpisahanan ini secara sadar dimasukkan dalam plot Logan. Dikisahkan Wolverine dan Professor X (diperankan oleh Patrick Stewart) bersama-sama menyelamatkan Laura (diperankan oleh Dafne Keen), seorang mutan belia berusia 11 tahun. Alih-alih terinspirasi film X-Men terdahulu arahan sutradara Brian Singer, Logan banyak mengambil inspirasi dari genre film lain mulai dari Westerns hingga drama distopian futuristik. Logan benar-benar terasa seperti sebuah film mandiri—sensasi yang lama tidak kita rasakan ketika menyaksikan film adaptasi komik belakangan yang didominasi Marvel dan DC.

Saya menemui James Mangold membahas banyak hal. Misalnya kendala yang kerap dihadapi para sineas saat menggarap film adaptasi komik, topik-topik politis dalam Logan yang muncul secara konstan, dan bagaimana Mangold menampilkan sosok Wolverine yang berbeda dalam Logan.

VICE: Logan jelas adalah cerita milik Marvel. Namun tak seperti film superhero Marvel lainnya, Logan terasa seperti film yang berdiri sendiri.
James Mangold: Saya memang sengaja mempertanyakan penggunaan konsep  Marvel cinematic universe (MCU) secara umum. Dua hal yang jadi perhatian orang ketika menonton film MCU adalah kreativitas dan kualitasnya—kalau begitu, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengkaji kenapa beberapa film Marvel tidak menarik dan menggugah untuk ditonton. Dalam banyak hal, pangkal masalahnya berhubungan dengan kebebasan seorang sineas. Fans Marvel belakangan terlalu menekankan kontinuitas cerita. Mereka juga mengharapkan sineas membuat semua film ini nyambung dengan durasi 9 jam mirip serial Berlin Alexanderplatz. Memang tak ada yang salah dengan kontinuitas cerita. Tapi menurut hemat saya, ketika gagasan itu dipaksakan malah menghancurkan mutu film-film Marvel.

Kalau anda duduk di kursi sutradara film-film Marvel, anda akan langsung merasa seperti pesulap Houdini yang harus meloloskan diri dari jebakan berbahaya—anda berada dalam sebuah sistem yang mengekang dan yang anda pikiran cuma bagaimana bisa selamat. Setelah bikin satu film Marvel, saya jadi tahu kalau cara untuk keluar itu adalah dengan membuat film yang bisa ditonton semua orang, tak cuma mereka yang sudah melihat film Marvel sebelumnya. Anda harus bisa melepaskan apapun yang sudah seharusnya dilepaskan. Ini mirip dengan apa yang dilakukan tiap komikus yang harus melepas pengaruh atau ciri khas yang telah dilakukan para pendahulu.

Saya yakin penggemar komik Marvel bakal lebih bahagia jika mereka memperlakukan komik layaknya kita memperlakukan karya Shakespeare. Maksudnya, kita beri saja para sineas kebebasan memilih materi mana yang mereka mau setelah itu kita tinggal nilai hasilnya nanti.

Ada sebuah adegan Logan saat Professor X dan Laura menonton Shane di TV hotel. Jelas sekali, ada nuansa film Western yang kuat dalam karya anda. Kamu sepertinya kerap bermain-main dengan tema Western sepenjang karirmu, mulai dari Cop Land sempai 3:10 to Yuma
Film Western adalah sinema dalam bentuknya yang paling murni. Kalau kamu sedang bikin film dan kamu kebingungan, rehat saja dulu dan nonton film Western—film-film Western itu seperti bintang di langit timur, bisa jadi kompas anda. Saya tak pernah menganggap Western sebagai genre film yang spesisik. Mayoritas orang menganggap Star Wars sebuah film fiksi sains. Tapi bagi saya, Star Wars lebih dekat dengan film Western daripada katakanlah sains fiksi Saya kerap bertanya kenapa 2001: A Space Odyssey dah Star Wars masuk dalam kategori yang sama? Film-film Western tak harus berisi pistol, kuda dan debu—ada arsitekturnya. Miriplah seperti bangunan.

Kesalahan dalam film adaptasi komik yang mati-matian kita hindari adalah ketergantungan kita terhadap adegan para aktor dalam sebuah ruangan, lalu kita paksa karakter itu berdebat tentang apa yang sedang terjadi. Adegan semacam itu fungsi utamanya kan cuma menjelaskan apa yang hendak terjadi. Ketika penonton protes tentang lemahnya pengembangan karakter dalam film-film adaptasi komik, anda tinggal mengajukan pertanyaan "siapa suruh film adaptasi komik punya terlalu banyak karakter?" ini kan hitung-hitungan yang gampang banget. Durasi film cuma 120 menit, beberapa menit di antaranya harus diisi adegan baku hantam—dalam beberapa kasus malah hampir setengah durasi diisi pertarungan dan ledakan. Nah kalau sisa waktunya cuma 60 menit sementara kamu punya 10 karakter yang harus dikembangkan, tiap karakter bakal cuma nongol di layar selama enam menit. Ini kan lebih singkat dari durasi Wile E. Coyote beraksi di kartun Roadrunner. Jadi jangan kaget kalau karakter-karakter film adaptasi komik—terutama yang jumlah jagoannya bejibun—ya datar-datar saja.

James Mangold (kiri) mengarahkan Hugh Jackman di set. Foto oleh Fox

Logan dikisahkan terjadi masa depan, tapi kenapa kamu cuma memperlihatkan sedikit sekali teknologi yang berbau 'futuristik'?
Ada alasan praktis dan estetisnya. Alasan praktisnya karena kami sadar kami bakal menggarap film berating R (dewasa-red), jadi Hugh Jackman dan saya harus puas dengan budget kecil. Di saat yang sama, kami justru lebih bebas karena tak harus membuat dunia yang benar-benar beda. Tapi seperti saya bilang tadi, sedikitnya penampilan teknologi futuristik juga punya alasan estetis. Saya tak mau membuat film yang isinya efek visual doang dari awal sampai akhirnya, lalu aktornya terus-terusan berdiri di layar hijau. Saya sudah lumayan lama hidup dan dunia kok kayaknya tak banyak berubah. Bentuk iPhone cuma gitu-gitu saja seperti sepuluh tahun lalu. Kalau beda, perbedaannya tak signifikan. Semua orang memang memiliki prediksi apa yang akan terjadi sepuluh tahun mendatang—saya tak tahu apa yang tengah terjadi di masa kini, tapi menurut saya dunia tak berubah secepat seperti banyak orang bayangkan.

Di film-film Hollywood masa kini, gambaran masa depan makin tak wah seperti 20 atau 30 tahun lalu.
Salah satu film yang selalu teringat ketika ngobrol tentang penggambaran masa depan adalah Blade Runner. Bayangan masa depan dalam film itu tak cuma mewah, imajinatif sekaligus buram, namun juga sangat mempengaruhi bermacam desain yang akhirnya digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Penggambaran seperti itu bukan tujuan yang ingin saya capai saat membuat Logan. Sebisa mungkin, saya ingin hasil akhirnya bersifat non-epik. Ketika pertama kali saya mengajukan ide Logan ke produser FOX, saya bilang saya mau menggarap film Little Miss Sunshine yang penuh darah—konsepnya saya bikin berseberangan dengan apa yang sedang lazim terjadi sekarang. Motif sinematis terkuat yang senantiasa saya temukan dalam fim adaptasi komik selama sepuluh tahun ke belakang adalah menangnya kehendak (Triumph Of Will)— film-film yang muncul adalah film yang epik, gelap dan berisi gambaran fasis yang saya nikmati sebagai tontonan namun kurang pas digunakan dalam Logan. Akibatnya, film-film adaptasi komik belakangan selalu lebay saat ditonton. Muncul kesan filmnya yang yang memaksa jadi bintang, bukan membiarkan pemainnya yang jadi bintang.

Ada adegan sekelompok anak mutan berlari menuju perbatasan Amerika Serikat dan Kanada. Adegan ini kok rasanya seperti menyindir kebijakan Trump. Apalagi Logan memakai setting di Meksiko
Saya dan [Penulis skenario] Scott Frank menuntaskan draft pertama Logan ketika kampanye pilpres AS dan Brexit sedang hangat-hangatnya. Otomatis, kedua peristiwa itu masuk dalam kepala kami. Film-film kan sebenarnya tak harus tentang apa yang terjadi di tahun 1885 karena masa-masa itu sejatinya tidak ada—tak ada yang namanya penjahat, begundal, jagoan, koboi, atau perampok kereta api. Inti film western yang utama selalu tentang datangnya era industri dan akhir era sebelumnya. Hal yang sama bisa dijumpai di film samurai karena, para samurai sesungguhnya gambaran indah tentang sejarah Jepang. Bagi saya, film western dan samurai yang berhasil adalah yang memuat alegori tentang tempat dan waktu ketika film itu dibuat, bukan tentang tempat dan waktu filmnya dalam setting skenario.

Di film 3:10 to Yuma, [Karakter Christian Bale] kehilangan salah satu kakinya dalam perang saudara AS, meski dia tak pernah menjadi sukarelawan—dia dipanggil masuk satuan Massachusetts National Guard. Film itu saya garap di puncak krisis konflik Timur Tengah. Saya memang selalu ingin membuat film yang ceritanya sebenarnya menyinggung dunia yang kita tinggali. Film-film X-Men awalnya memuat problema tentang fanatisme dan ketakutan pada semua yang liyan—entah itu yang bersifat rasial atau seksual. Film-film itu juga menyinggung praktek genosida dalam sejarah manusia.  Ini yang bikin film-film X-Men menarik dan saya ingin menampilkan cerita penuh alegori politik seperti itu.

Kamu dikenal produktif dan menghasilkan film yang sangat variatif. Sutradara** Brian DePalma mengatakan dia tak punya banyak waktu mengurusi review-review negatif karena sibuk bikin proyek selanjutnya. Bagaimana denganmu?** Saya suka membuat film. Saya paling bahagia ketika sedang mengerjakan proyek film dan kerap bingung jika sedang cuti atau rehat dari semua kegiatan syuting. Apa yang dikatakan Brian adalah cara terbaik merespons seandainya film kita memperoleh review negatif. Membaca atau menerima kritik itu sah-sah saja. Tapi, anda harus tetap bergerak, terus mencipta karena kadang yang paling indah dari film tak langsung dihargai ketika filmnya diputar pertama kali—ada bagian film yang butuh waktu untuk bisa dicintai.

Follow Larry Fitzmaurice di Twitter.