Persepsi Mental

Apa Hal Paling Menjijikkan Buatmu? Berikut Hasil Voting Ribuan Orang Sedunia

Ada enam kategori benda atau hal paling menjijikkan bagi kebanyakan orang di planet bumi. Salah satunya, tentu saja kecoak yang bisa menularkan penyakit.
3.7.18
Joseph McDermott/Getty Images

Kita semua setuju kalau mengupil dan buang air besar di tempat umum itu menjijikkan. Selain itu, kita biasanya juga merasa jijik dengan makanan tengik, luka basah dan kecoak.

Tapi, kenapa kita bisa merasa jijik seperti itu? Entah kenapa, kita otomatis bereaksi seperti mengernyitkan hidung atau mual saat melihat hal menjijikkan.

Selama ini, para peneliti beranggapan kalau rasa jijik sudah ada sejak dulu sekali. Ini adalah respons positif untuk menghindarkan nenek moyang kita dari penyakit. Penelitian terbaru dengan gagasan ini menunjukkan bahwa rasa jijik dapat melindungi seseorang dari orang, perilaku, atau hal-hal yang dapat menimbulkan penyakit. Selain itu, penelitian tersebut juga mengkategorikan rasa jijik menjadi enam macam dan masing-masing mempunyai keterkaitan dengan risiko penyakit.

Iklan

Kita menganggap perilaku jorok seperti mengupil atau tidak mandi menjijikkan karena dapat meningkatkan risiko terserang penyakit. Kita bisa saja tertular penyakit dari orang jorok tadi. Responsnya sama dengan saat kita menghindari makanan basi, serangga pembawa penyakit (kecoak atau kutu), dan luka infeksi. Sedangkan rasa jijik terhadap orang biasanya terjadi pada mereka yang berpakaian aneh atau perilaku seks tak aman.

“Ini menunjukkan kalau rasa jijik dapat membuat kita terhindar dari penyakit,” ujar Val Curtis, penulis sekaligus dosen di London School of Hygiene & Tropical Medicine. “Komposisi otak lebih mengkategorikan hal-hal yang sebaiknya dihindari.”

Surveinya dilaksanakan secara online dan diikuti lebih dari 2.500 orang. Dalam survei ini, para peneliti memasukkan daftar 75 situasi yang berpotensi menjijikkan, mulai dari mendengar orang bersin sampai luka bernanah. Para peserta diwajibkan mengukur tingkat rasa jijik mereka dari “tidak jijik” sampai “sangat jijik.” (Sebagian besar orang menganggap luka bernanah sangat menjijikkan. Mereka juga jijik dengan orang jorok.)

Menurut Curtis, penelitian ini menemukan bahwa pria tidak mudah jijik seperti perempuan, perbandingannya mencapai 12 persen. “Pria cenderung melakukan tindakan yang berisiko tinggi,” ujar Curtis, “karena dulu pria yang sering mengambil risiko memiliki banyak keturunan, sedangkan perempuan yang lebih berhati-hati mampu mengurus anak dengan baik.” Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pria yang tidak jijik dengan gejala penyakit menular seksual cenderung menyukai perilaku seks yang berisiko tinggi.


Tonton dokumenter VICE tentang gereja yang mempromosikan solusi hidup abadi:


Curtis mengingatkan kalau penelitiannya hanyalah survei online—gambaran dari pendapat peserta mengenai hal yang membuat mereka jijik. “Tidak mudah melakukan penelitian yang menguji respons peserta secara empiris. Biayanya pun mahal,” tutur Curtis.

Meskipun begitu, hasilnya masih cukup valid. Penelitiannya bisa digunakan sebagai acuan untuk mengadakan penyuluhan kesehatan yang lebih baik, misalnya seperti gerakan cuci tangan pakai sabun atau meruntuhkan stigma penyakit tertentu. Selain itu, penelitian ini membantu kita untuk memahami bagaimana rasa jijik bisa berdampak positif terhadap kesehatan. Menurut Curtis, kalau rasa jijik bisa menjauhkan kita dari penyakit, itu artinya perasaan lain bisa membantu kita bertahan hidup. Ia dan rekannya berencana untuk meneliti hal ini di kemudian hari.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic