The Road

10 Pertanyaan Penting yang Ingin Kalian Ajukan Pada Pendiri Startup

Apakah mereka cuma anak orang kaya mengandalkan trust fund? Terus benarkah kantor startup itu tak teratur dan harus ada playstation-nya? Untuk menjawabnya, kami ngobrol bersama co-founder Bookabuku.
Foto dari arsip pribadi Rani Soebijantoro.

Kadang karena terlalu banyak alasan atau kekhawatiran, kita susah melangkah. Misalnya, pernah terlintas ide berbisnis, tapi hasilnya ya enggak mulai-mulai juga. Berkat media sosial dan internet, kita rupanya enggak sendirian. Kayaknya semua orang juga gitu deh. Tapi, banyak juga lho anak muda yang berani menghadapi berbagai hambatan dan akhirnya beneran terjun ke dunia bisnis. Sarananya adalah perusahaan rintisan, alias startup, mengandalkan internet yang emang sedang nge-hits banget delapan tahun terakhir. Pertumbuhan bisnis startup yang mengandalkan internet sangat pesat di Tanah Air. Berdasar data terbaru jumlah startup di Indonesia terbanyak keempat di dunia, mencapai 1.705 perusahaan, serta terbanyak di Asia Tenggara.

Iklan

Jumlah tersebut tentu saja naik turun, tapi intinya, semangat berwirausaha dengan memakai jalan perusahaan rintisan sedang marak. Kita semua penasaran gimana sih orang-orang memulai bisnis rintisan mereka.

Apa mereka juga sempat ragu kayak orang kebanyakan saat memulai bisnis? Benarkah asumsi kalau mereka cuma anak orang kaya yang memakai modal orang tua buat bikin startup? Apakah startup wajib memakai metode bisnis bakar uang? Terus kenapa kantor startup kesannya selalu ada playstation dan tak terorganisir, memangnya harus kayak gitu?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sekilas "sepele" tapi penting itu, VICE ngobrol bersama Rani Soebijantoro, Chief Business Development Officer (CBDO) sekaligus salah satu pendiri Bookabuku. Di wawancara ini, dia cerita-cerita soal awal mula bisnisnya dan bagaimana semangat “mulai aja dulu” membantu menjalani bisnis sehari-hari.

VICE: Bisa diceritakan masa-masa awal merintis startup—apa istilah “dimulai dari kamar tidur atau garasi sendiri” juga berlaku bagi bisnisnya Bookabuku?
Rani Soebijantoro: Kami mulainya dari kosan. Waktu itu memang harus bikin bisnis supaya bisa lulus kuliah—kami kuliah di Prasetiya Mulya. Terus kami bosan sama bisnis makanan. Kebetulan aku peduli soal equality, dan mikirin bisnis apa yang gak perlu inventory, dan berdampak bagi orang lain. Tokopedia dan Gojek udah melakukan itu, dalam bidang e-commerce dan transportasi. Terus kami kepikiran soal education—apa ya, yang bisa digali? Langsung deh flashback pas awal masa kuliah kami enggak boleh fotokopi buku. Jadilah setiap semester ada keluar satu setengah juta buat textbook doang. Dulu ngakalinnya dengan minjem kakak kelas. Dari kultur pinjam meminjam itu kami kepikiran bikin online library, lumayan bisa dijalanin sambil skripsi. Setelah lulus kami ngelanjutin bisnis ini secara serius.

Iklan

Biasanya di kantor-kantor startup ada banyak mainan—PlayStation, meja ping-pong, dll—itu gunanya apa, sih?
Kalau di kantor kami emang ada Wii, ada PlayStation, karena founders kami senang main gituan. Kami juga ada mesin karaoke. Jadi gini, biasanya habis makan siang kan ngantuk. Nah, kami main-main gitu biar melek dan bisa lupa sejenak sama kerjaan. Di luar kantor bahkan ada lapangan basket, jadi kadang kami keluar aja main basket bareng-bareng. Selain itu, kegiatan kayak gitu bisa buat bonding juga sih. Kadang kalau udah kerja kelamaan, kegiatan yang ngeluarin endorfin berguna banget, abis itu mandi dan lanjut kerja lagi.

Seberapa sering ngadain office party dan biasanya buat ngerayain apa?
Kalau party enggak pernah sih, paling outing aja. Ke seminar yang gak berhubungan sama startup atau justru ke tempat-tempat lain.

Apa benar yang namanya startup itu lekat dengan mentalitas “bakar duit”?
Di Bookabuku enggak sih. Soalnya kami mikirnya, apa yang kami keluarin itu harus yang kami dapatkan nantinya. Jadi bakar duit gak efesien buat bisnis kami. Bakar duit kan pada dasarnya buat promo dan naikin user, sedangkan kami perlu bayar server, dan lain-lain. Jadi gak ada benefitnya dalam jangka panjang. Kalau kami caranya beda, yaitu dengan ngajak ngobrol user. Nanya, mau nuker buku gak, mau baca buku apa bulan depan. Kalau bisnis gak ngerti management, gak ngerti klien mereka dan cara manage market, ya kasihan. Kami gak bakar duit soalnya mikirin opportunity cost-nya. Aku, misalnya, punya kesempatan kerja di perusahaan multinasional yang gajinya dua digit, tapi aku milih ngebangun startup. Jadi setiap rupiah yang kami keluarin kami hargai banget.

Iklan

Apa pendapatmu soal anggapan bahwa orang-orang yang merintis startup adalah “trustfund babies”?
Enggak sepakat. Dari kami berdelapan, enggak ada yang punya safety net finansial. CEO kami nih, kalau berhasil, bakal jadi pengusaha pertama di keluarga dia. Keluarga kami memang mendukung, tapi dukungannya dalam bentuk psikologis. Mereka enggak nanya-nanya kapan S2, kapan ini-itu, tapi nanyanya soal progres bisnis kami.

Idola perintis startup tuh udah pasti Steve Jobs emangnya?
Givari dan Rayhan [founders lainnya-red] suka banget sama Steve Jobs, tapi kalau aku sukanya Sheryl Sandberg yang lebih peduli soal equality. Mungkin kita kekurangan idola ya, atau kalaupun ada mereka kurang diangkat. Padahal banyak kan perempuan [keren]. Di Bookabuku kami sering ngadain diskusi soal buku dan perempuan, dan tokoh-tokoh seperti Sheryl Sandberg, Tina Fey, dan Sophie Amarusso yang nulis GirlBoss.

Ada tips buat dapetin investor besar?
Harus realistis. Berkaca dulu aja, pasarnya sebenarnya ada apa enggak. Bisa gak berdampak buat orang lain. Apakah bisa menghasilkan profit buat perusahaan dan calon investornya? Banyak banget yang ngikutin tren, tapi harusnya dipastiin dulu value propositions-nya sesuai gak dengan yang dibutuhin pasar.

Apa benar anak startup enggak punya work-life balance?
Kalau itu bener. Jam kerja kami ngikutin stakeholders, jadi mereka kerja jam 9–5, kami juga. Tapi setelah itu, kami ngurus startup kami. Jadi susah banget nemuin balance-nya. Alhamdulillah sih saya masih sempat pacaran, meski itupun cuma 10 persen dari total waktu seminggu. Sabtu biasanya saya pakai buat diri sendiri, untuk yoga kek, apa kek. Minggu baru deh ketemu keluarga atau pacar.

Iklan

Apa tantangan terbesar menurutmu saat menjalankan startup?
Energi [gampang habis]. Semua orang ngomong, ngajak kerja sama, nah kita harus bisa bilang ‘gak’. Semua orang punya pendapat, tapi kita harus bisa fokus.

Ada rencana cadangan kalau-kalau startup kalian ini gagal?
Gak ada, sih, kalau saya. Saya percaya produk apapun yang kami punya, bisa disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Asalkan kami mau, kami bakal go for it.

Udah berapa kali gagal berbisnis?
Aku udah bisnis dari SD. Gagal udah empat kali. Definisi gagal saya adalah, menjual sesuatu yang gak dibutuhkan pasar. Dua bisnis pertama saya adalah makanan. Startup, kan, intinya bisnis yang berjalan di bawah lima tahun. Nah, susah gak ngejalanin bisnis kalau kita gak passionate soal produknya, gak ngerti produknya, ya bakal susah. Saya aja gak bisa bedain nasi goreng gila di tempat A sama di tempat B, jadi ya susah masukin soul ke dalam bisnis itu. Dan ternyata pasar gak butuh—gak cuan, kalau kata orang Tionghoa—jadi enggak bisa hidup dari situ. Itu gagal. Kalau Bookabuku, Insya Allah sih sustainable dan sesuai passion.

Emang benar startup sering membenarkan struktur kerja atau organisasi yang berantakan pakai alasan “namanya juga startup”?
Sebenarnya bukan berantakan, tapi overloaded aja. Sebenarnya strukturnya ada dan oke-oke aja. Tapi satu orang cenderung menangani terlalu banyak hal. Jadi kadang ribet sendiri dan suka ada miscommunication. Jadi itu sih yang justru perlu dibenahi—komunikasinya.


Seri 'The Road' adalah hasil kolaborasi VICE X Tokopedia menghadirkan profil orang-orang yang sekilas biasa, tapi berani mengejar mimpi, melawan keraguan, dan berbagai hambatan sampai akhirnya sukses memulai, berproses, hingga menjadi hebat di bidang masing-masing. #MulaiAjaDulu