10 Pertanyaan Penting

10 Pertanyaan yang Selalu Ingin Kamu Tanyakan Pada Ahli Wine

“Saya pernah menyaksikan rekan kerja begitu mabuk akibat mencicipi terlalu banyak wine sampai mereka tidak ingat nama diri sendiri.”
Foto milik Matteo Bernardi

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Italia

Pada saat sedang mencicipi dan menilai wine, kebanyakan dari kita biasanya tidak dapat mengenali mana yang Chateau Latour 2009 dan red wine Tesco. Namun, kita pura-pura paham tentang wine saat seorang pelayan di restoran mewah menawarkan untuk mencicipi wine yang baru saja dibuka. Nyatanya, yang kita pikirkan sebenarnya saat sedang mencicipi yaitu, ‘oke, in ada alkoholnya. Ya pasti lah, namanya juga wine.’

Iklan

Karena penasaran ingin mengetahui bagaimana menjadi pakar wine tanpa perlu repot-repot mempelajari segala hal tentangnya, saya pun menghubungi Matteo Bernardi, seorang sommelier yang bekerja di Le Calandre, restoran bintang tiga Michelin di Padua, Italia bagian utara.

VICE: Hai, Matteo. Bagaimana kamu bisa bekerja sebagai Juru cicip anggur (sommelier)?
Matteo Bernardi: Ada banyak kursus atau pelatihan menjadi juru anggur yang bisa kamu ambil. Saya melakukan pelatihan selama sekitar satu setengah tahun untuk mendapatkan ijazah dari Italian Sommelier Association (AIS). Kursus ini terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, kamu akan mempelajari cara mengamati, mencicipi dan mengenali karakter rasa wine yang berbeda-beda. Setelah itu, kamu akan diajarkan mengenali jenis anggur dari berbagai negara di dunia. Yang terakhir, kamu akan belajar bagaimana memadukan wine dengan makanan.

Mengapa juru anggur selalu melepeh wine setelah mencicipi?
Kalau kamu meminum semua wine yang kamu cicipi, kamu bisa menjadi sangat mabuk. Kamu bisa saja mencicipi ratusan wine pada saat pencicipan. Tapi, kalau kamu hanya mencicipi tujuh atau delapan wine, sayang sekali kalau tidak diminum. Ditambah lagi, orang yang membuatnya ada bersamamu saat itu. Saya rasa tidak sopan kalau kita melepeh di depannya.

Apa saranmu bagi orang yang ingin terlihat seperti pakar wine?
Kamu harus tahu cara memegang gelas wine. Itu yang terpenting. Cara yang benar yaitu dengan memegang tangkai gelas, bukan wadah atau kakinya. Setelah itu, kamu bisa memutar-mutar gelas sebentar, menghirup dan membicarakan aromanya. Kamu bisa menyebut intensitas, kompleksitas atau keseimbangan rasanya, meskipun sebenarnya kamu tidak tahu sama sekali apa yang kamu bicarakan.

Iklan

Jika kamu menemukan red wine vintage, mungkin Barbaresco berusia 20 tahun, kamu bisa menghirup aromanya dan menyebutkan “goudron” – yang berarti “tar” dalam bahasa Perancis.

Kenapa juru anggur sering terlihat mengalungkan medali?
Oh, itu namanya tastevin. Kalau sekarang sudah jarang digunakan, tetapi dulu para sommelier menggunakannya sebagai pengukur warna dan intensitas wine. Alat ini sangat membantu menjelaskan wine yang dicicipi.

Pada saat seperti apa sebaiknya kita mengembalikan sebotol wine di restoran?
Ada banyak alasan bagi pelanggan untuk mengembalikan wine, tetapi orang biasanya mengatakan wine yang mereka dapat kualitasnya buruk ( corked). Padahal, sebenarnya mereka tidak menyukai rasanya. Pernah ada seorang pelanggan yang ingin pamer di depan kekasihnya. Dia mengeluh karena mendapatkan corked wine. Saya meminta maaf dan memuji “pengetahuannya” waktu itu, padahal seharusnya saya kasih tahu saja kalau wine itu tidak mungkin terkontaminasi karena tutup botolnya berulir.

Apakah kamu pernah mencicipi wine yang tidak enak?
Ya, tentu saja – meskipun sekarang sudah jarang ditemukan wine yang kualitasnya buruk. Setiap kali saya makan malam bersama di rumah teman, saya tidak pernah mengeluh walaupun rasanya tidak begitu enak.

Bagi saya pribadi, wine yang kualitasnya jelek adalah wine yang memang benar-benar terkontaminasi ( corked). Baunya sangat tidak enak karena sudah teroksidasi atau warnanya tidak begitu cerah. Wine seperti makhluk hidup – bisa “bernapas” dan menua. Apabila saya mengamatinya dan warnanya aneh atau baunya busuk, berarti ada yang salah dengan wine itu.

Iklan

Apa wine termahal yang pernah kamu minum?
Leroy Corton-Charlemagne. Harganya sekitar Rp50 juta per botol.


Baca juga artikel lain VICE:

Gaji juru anggur besar atau tidak?
Besar gaji yang didapat tergantung posisi pekerjaanmu. Kamu bisa saja bekerja secara khusus sebagai sommelier, atau kamu mungkin hanya seorang pelayan yang juga bertugas menyajikan wine ke pelanggan. Kamu bisa mengelola gudang wine seperti saya. Gaji saya cukup besar, tetapi pekerjaan ini tidak begitu menghasilkan banyak uang seperti pada saat tahun 90-an.

Apa reaksi teman-temanmu terkait pekerjaanmu? Apakah mereka tertarik atau penasaran?
Ya, setiap kali saya berpesta dengan teman, mereka selalu meminta saya untuk mencicipi wine mereka karena ingin tahu pendapat saya. Tapi, yang paling sering mereka tanyakan apakah saya butuh tumpangan pulang, karena biasanya saya mabuk setelah mencicipi terlalu banyak wine.

Wah, itu berarti kamu sering mendapat minuman gratis karena pekerjaan ini?
Saya bebas mengakses gudang dan mencicipi wine apa pun yang saya inginkan, tetapi saya tidak pernah memanfaatkan kesempatan itu. Saya pernah menyaksikan rekan kerja begitu mabuk akibat mencicipi terlalu banyak wine sampai mereka tidak ingat nama diri sendiri. Saya selalu berkata – “Saya tidak minum, hanya mencicipi saja.” Pria yang pertama kali mengatakan itu kepada saya sedang mabuk, tetapi untuk alasan berbeda.