Iklan
Kecelakaan Pesawat

Boeing Mengaku Sudah Tahu Seri 737 Max Punya Masalah Sensor, Setahun Sebelum Lion Air Jatuh

Hanya 20 persen seri Boeing 737 Max yang dilengkapi lampu indikator untuk mengabari pilot bila terjadi malfungsi sensor ketinggian.

oleh Tim Marcin
08 Mei 2019, 7:58am

Maskapai menggunakan pesawat Boeing 737 Max foto oleh Scott McIntyre/Getty Images

Pekan lalu, manajemen Boeing akhirnya mengakui kalau mereka sebenarnya sudah lama mengetahui ada masalah dengan sistem peringatan pesawat 737 Max, jauh sebelum terjadinya insiden Lion Air yang menewaskan 189 penumpang akhir 2018. Akan tetapi, mereka baru memberikan informasi adanya malfungsi tersebut setelah kecelakaan nahas terjadi.

Teknisi perusahaan sejak 2017 ternyata mendapati malfungsi sistem peringatan pilot, yang seharusnya menjadi fitur standar semua jenis 727 MAX, ternyata hanya berfungsi dalam pesawat yang dilengkapi indikator tambahan (fitur ini disediakan terpisah, dan tidak semua maskapai yang memesan 727 MAX membelinya). Lampu peringatan tersebut akan menyala jika arah laju pesawatnya bertentangan dengan sensor. Ini membuktikan kabar adanya malfungsi dalam sensor Angle of Attack (AOA) pesawat anyar Boeing tersebut memang akurat.

Dalam kedua kecelakaan pesawat Boeing 737 Max baru-baru ini — Lion Air JT 610 dan Ethiopian Airlines 302, yang menewaskan 157 korban jiwa pada Maret tahun ini— penyelidikan awal tampaknya menunjukkan sensor AOA seri baru Boeing tidak berfungsi dengan baik.

Malfungsi perangkat lunak itu—mengira pesawat terlalu ke atas moncongnya dan berisiko memicu mesin mati (stall)—otomatis mendorong hidung pesawat berbalik mengarah ke permukaan bumi. Gerak otomatis itulah yang membingungkan pilot dan diduga membuat pesawat jatuh tak lama setelah mengudara.

Dalam pernyataan tertulis, Boeing membantah kekeliruan sensor AOA membahayakan. Manajemen pabrik pesawat terbesar dunia itu mengklaim pilot tidak perlu mengaktifkan sistem peringatan tersebut untuk menerbangkan pesawat dengan aman.

"Ketika ada ketidaksesuaian antara persyaratan dan perangkat lunak, Boeing mengikuti proses standarnya untuk memutuskan langkah yang tepat saat menangani masalah tersebut. Peninjauannya, yang melibatkan banyak pakar, menyimpulkan bila tidak adanya sistem peringatan AOA Disagree tak berdampak buruk terhadap keselamatan atau pengoperasian pesawat. Dengan demikian, peninjauan menyimpulkan fungsi yang ada dapat diterima sampai peringatan dan indikatornya diputus, dalam pembaruan perangkat lunak sistem yang direncanakan selanjutnya."

Boeing Tidak Menginformasikan Masalah Ini Pada Maskapai

Boeing menyatakan petinggi perusahaan dan pejabat Otoritas Penerbangan Amerika Serikat (FAA) baru menyadari masalah itu setelah terjadi kecelakaan Lion Air pada 29 Oktober 2018. Surat kabar the New York Times mengungkapkan hanya ada 20 persen pesawat 737 Max di pasaran yang memiliki indikator tambahan, sehingga memungkinkan sistem peringatan soal anomali AOA berfungsi dengan baik. Itu berarti mayoritas pesawat Max terbang tanpa sistem ideal.

Masalah malfungsi sistem peringatan ini baru diinformasikan kepada maskapai dan pilot pengguna Boeing sedunia setelah jatuhnya Lion Air. FAA mengatakan persoalan ini awalnya tidak dibagi kepada konsumen pesawat Boeing karena dianggap berisiko rendah. Tetapi pejabat keamanan penerbangan buru-buru menambahkan: "Kebingungan di khalayak bisa dikurangi atau dihindari, apabila Boeing mengomunikasikan adanya masalah teknis ini dengan operator sejak awal atau tepat waktu."

Boeing juga mengaku sudah membentuk Dewan Peninjau Keselamatan Internal pada Desember 2018. Dari penyelidikan internal tersebut, minimnya sistem peringatan soal sensor AOA dinilai tak berdampak negatif terhadap keselamatan.

Pilot Tetap Takut Walau Boeing Mengaku Tak Ada Masalah Serius

Banyak penumpang dan pilot yang semakin waspada mengendarai pesawat ini, setelah terjadinya kecelakaan Ethiopian Airlines 302 Maret lalu. Tak seperti sejumlah negara lain, khuusnya di Asia dan Afrika, yang langsung memboikot Boeing, Presiden Donald Trump butuh tiga hari mengeluarkan perintah darurat penghentian operasional seluruh unit Boeing 737 Max.

Seri pesawat Max, yang sangat laris tiga tahun terakhir, dilarang terbang di seluruh dunia sejak lebih dari sebulan lalu. Boeing berusaha keras agar citra 727 Max tidak hancur lebur karena persoalan teknis ini. Kongres Amerika Serikat berencana menggelar rapat dengar pendapat terbuka tentang status keamanan 737 Max pada 15 Mei mendatang. Perwakilan Boeing sepertinya akan diwajibkan menghadirinya.

Sejauh ini, Boeing berjanji akan memperbarui perangkat lunak seri Max agar peringatan buat pilot jika ada keanehan sensor membaca gerak. Sensor otomatis yang akan menurunkan ketinggian pesawat juga segera dinonaktifkan. Perusahaan berharap 737 Max bisa beroperasi kembali pada akhir musim panas 2019.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News