Iklan
Gunung Agung

Kumpulan Foto Pengungsi Gunung Agung yang Tak Tahu Pasti Kapan Bisa Pulang

Sekitar 70 ribu penduduk Bali masih tinggal di pusat evakuasi hingga kini. Sebagian ketar-ketir memikirkan hari esok. Mereka tak bisa bekerja sementara harta berupa ternak sudah keburu dijual.

oleh Laurel Chor
18 Desember 2017, 6:39am

Suasana di pengungsian Gunung Agung. Semua foto oleh penulis.

Wayan Kasih, seorang petani, dan para tetangganya harus pindah setidaknya lima kali sejak proses evakuasi dimulai september lalu, ketika pertama kali Gunung Agung menunjukkan gelagat akan meletus.

“Kami sudah tak punya apa-apa lagi, kami harus menjual ternak kami,” katanya. Keputusan menjual ternak diambil perempuan itu dengan buru-buru. Pasalnya, Wayan Kasih, sudah kadung takut Gunung Agung akan segera meletus. Dalam ketergesaan, Wayan Kasih melego hewan peliharaannya—serta aset keluarganya—seperlima dari harga pasaran. Akibatnya, meski Pemerintah sudah turun tangan memberikan pasokan beras dan minyak bagi pengungsi Gunung Agung, perkara makan esok hari masih kerap bikin Wayan Kasih ketar-ketir.

“Kami dapat sekotak telur ayam untuk 18 keluarga untuk tiga hari,” tuturnya.

Sekitar 70.000 penduduk Bali tinggal di pusat evakuasi setelah Gunung Agung benar-benar meletus 21 November lalu. Sebagian besar pengungsi memutuskan kembali ke rumah mereka saat aktivitas Gunung Agung menurun bulan Oktober. Namun, mereka terpaksa meninggalkan rumah meraka kembali ketika pemerintah menaikkan status kewaspadaan bulan lalu.


salah satu dari sedikit pusat pengungsian yang berada di dalam sebuah bangunan. Di beberapa pusat pengungsian lain, penduduk harus tinggal di tenda-tenda darurat. Laurel Chor untuk Vice News

Lantaran tak tahu kapan Gunung Agung bakal meletus, para petani yang diungsikan hanya menghabiskan hari dengan menunggu. Anak-anak mereka harus berkali-kali pindah sekolah sementara pemerintah setempat kewalahan mengakomodasi segala kebutuhan para pengungsi.

Namun, tetap saja ada yang memerdulikan perintah evakuasi dan memilih nekat menengok tanaman dan ternak mereka. Baru pada malah hari, merekaa kembali pulang pusat pengungsian yang didirikan pemerintah.

Ni Ketut Purnama, salah satu petani yang saya jumpai, mengaku tak kerasan meninggalkan sawahnya. Pasalnya, saat Gunung Agung mulai menunjukkan aktivitasnya, musim panen baru saja tiba. “Kami nekat berada di zona merah karena kami masih punya banyak urusan di sini,” katanya pada VICE News. “Kayaknya rugi kalau kami meninggalkan tanaman kami.”

Seorang perempuan tengah berbaring sembari mengipasi anaknya di pusat pengungsian sementara dalam sebuah GOE di Klungkung, Bali. Laurel Chor untuk Vice News

Sayangnya, ada alasan kuat mengikuti anjuran pemerintah untuk mengungsi. Saat terakhir kali meletus pada 1963, Gunung Agung memakan korban lebih dari 1.000 penduduk. Alhasil, begitu aktivitas gunung melonjak pada September lalu, para vulkanolog khawatir ledakan tahun 1963 bakal berulang. Pada Oktober lalu, dalam sehari 1.200 gempa Bumi terekam di wilayah sekitar Gunung Agung. Normalnya, gempa Bumi hanya terjadi beberapa tahun sekali di Pulau Dewata.

“Pemerintah sudah mengambil keputusan tepat melakukan evakuasi jauh sebelum letusan terjadi,” ujar Dr. Janine Krippner, seorang vulkanolog. “Dari pengalaman yang terjadi sebelumnya, ledakan Gunung Agung bisa sangat ganas. Skenario terbaik yang bisa diterapkan adalah mengungsikan penduduk sebelum letusan terjadi. Masalah letusan gunung sangat susah diprediksi.”

Vice News menemui dan mengabadikan penduduk yang dipaksa meninggalkan rumahnya karena aktivitas Gunung Agung, menghabiskan waktunya di pusat pengungsian dan bertanya kapan mereka bisa kembali ke rumah.

Wayan Putu Saba, seorang petani di desa Amertha Buana, tengah ngangon bebek di sawahnya yang terletak di zone evakuasi di bawah kaki Gunung Agung. Laurel Chor untuk Vice News

Komang Wati, bersama suaminya dan dua putri mereka, mengungsi ke pusat pengungsian di daerah Rendang seminggu lalu. Kampung yang didiami Komang Wati dihuni oleh 70 penduduk. Mereka telah berpindah dari satu pusat pengungsian ke pusat pengungsian lainnya setelah proses evakuasi dimulai. Laurel Chor untuk VICE News