Alasan Teroris Abu Sayyaf Sering Menculik Nelayan Indonesia di Malaysia
Foto Subandi saat memulihkan diri dari trauma penculikan Abu Sayyaf oleh tim dokumenter VICE Indonesia.
Terorisme

Pengakuan Nelayan Indonesia Setelah Nyaris Dua Tahun Diculik Abu Sayyaf

Sejak 2016, kelompok teror terafiliasi dengan ISIS itu rajin menculik WNI di perairan Malaysia. Subandi, asal Bulukumba, salah satu korbannya. Ini ceritanya keluar masuk hutan, menghindari bom, dan akhirnya bebas.
12 April 2020, 9:24am

Artikel ini adalah bagian pertama dari liputan khusus VICE saat memetakan pola operasi kelompok teror Abu Sayyaf saat menculik nelayan Indonesia. Bagian kedua membahas penyebab nelayan dari Tanah Air terus mempertaruhkan keselamatan dengan migrasi ke perairan Malaysia. Dokumenter kami tentang tema ini sudah tayang dan bisa kalian saksikan di YouTube.


Ada yang lebih seram dari badai mengadang sebuah kapal berpukat harimau di perairan sebelah timur laut Sabah, Malaysia, pada dini hari 18 Januari 2017. Nakhoda kapal itu, bernama Subandi, semalaman sekuat tenaga berusaha menerjang ombak lima meter agar perahu sepanjang 21 meter dan lebar 5 meter yang ia kemudian tak tergulung.

Dua rekannya, Hamdan dan Sudarling, bersiaga di anjungan. Sesekali Subandi melirik ke arah layar radar yang berpendar di kegelapan, memastikan kapal tak melintasi tapal batas Filipina. Pukul 2 dini hari, cuaca berangsur membaik. Subandi menyerahkan kemudi kepada Hamdan sebelum berpamitan untuk beristirahat di kamar ABK, yang terletak tepat di belakang anjungan. Ancaman di laut sebenarnya baru datang setelah dia terlelap tiga jam: para perompak kesohor Laut Sulu.

Subandi terbangun mendengar derap kaki dan kegaduhan di geladak. Meski hari masih gelap Subandi bisa melihat jelas apa yang ada di depannya, tiga orang berbaju hitam dan bertelanjang kaki, menodongkan senapan serbu hitam mengkilat ke arahnya. Hamdan dan Sudarling hanya melongo. Subandi merasakan lututnya lemas.

Hari itu, kendati dihajar badai, sebenarnya bisa berakhir sebagai momen perburuan ikan yang sukses bagi mereka. Dalam satu bulan, Subandi empat kali berlayar mencari ikan. Sekali jalan makan waktu enam hari. Awak kapal sepertinya cuma memiliki jatah libur empat hari dalam sebulan. Subandi tak pernah mengeluh.

Sekali perjalanan, Subandi dan kawan-kawannya bisa menangkap 4-5 ton ikan. Dia kadang meraup 2.000 ringgit sebulan di perairan Sandakan, Malaysia. Itu 10 kali lipat penghasilannya di kampung halaman saat musim sedang bagus. Di Indonesia, ember penampung ikan lebih sering kosong berminggu-minggu saat cuaca tak mendukung. Sementara di Sabah, menurutnya, ikan terus melimpah tak peduli musim atau cuaca.

Tapi peruntungannya di negeri jiran berakhir di hadapan speedboat besar berwarna hitam bermesin ganda, yang mampu menghasilkan kekuatan 80 tenaga kuda. Subandi dan awak lain sama sekali tak melihat kedatangan speedboat itu di radar GPS.

"Kami polisi dari pulau Taganak," kata salah seorang bersenjata dalam aksen Melayu. Nadanya sedikit mengancam. Rambutnya tergerai menyentuh bahu. Subandi menaksir usianya baru menginjak 20-an. Subandi tahu di mana letak pulau itu. Dia kerap melintasinya dalam perjalanan mengais ikan.

"Mari ikut kami sekarang!"

Subandi dan dua kawannya itu tak punya pilihan selain menuruti permintaan tiga orang bersenjata itu. Mereka semua meninggalkan perahu dan turun ke speedboat. Ada dua orang lain yang berjaga di atasnya.

Speedboat meluncur cepat menembus kegelapan, menimbulkan riak deras di kiri kanan lambung. Kapal pukat tua itu tak mungkin lolos dari kejaran speedboat macam ini, batin Subandi. Dari kejauhan, Subandi menengok ke belakang, melihat kapal pukat harimau yang menjadi rumah baginya dan kawan-kawan dalam satu dekade terakhir terombang-ambing terseret gelombang tanpa awak ditelan cakrawala.

Sekilas dia teringat perkataan petugas patroli air Malaysia yang sebelumnya kerap didengarnya, yang memperingatkan semua nelayan agar menghindari speedboat besar seperti yang ditumpanginya. Sebab itu adalah milik gerombolan Abu Sayyaf yang kerap menculik nelayan. Subandi bergidik, tapi segera mengenyahkan pikiran itu. Dalam hati dia terus berharap, orang-orang asing ini memang hanya polisi air.

Speedboat itu justru semakin menjauh dari pulau Taganak di Laut Sulu, Provinsi Tawi-Tawi, Filipina selatan yang cuma berjarak sekian jam dari Sandakan.

"Kami mau dibawa ke mana?" Subandi memberanikan diri bertanya.

"Kamu tenang saja," jawab si melayu. "Kita akan pergi jauh dari sini."

Subandi sadar tengah berhadapan dengan takdir buruk. Hidupnya sudah pasti berada di tangan gerombolan Abu Sayyaf.

Pengemudi speedboat hitam itu perlahan mengurangi kecepatannya, sebelum berhenti sempurna di bibir hutan bakau. Matahari telah meninggi, tapi Subandi tak tahu dia berada di pulau apa. Kecurigaannya terbukti. Selama dua hari berikutnya, Subandi ditawan di sekitar hutan bakau itu sebelum berjalan kaki dua jam menembus jantung kegelapan hutan. Dia dikawal lusinan anggota Abu Sayyaf yang memiliki persenjataan lengkap, dari pelontar granat hingga pistol semi-otomatis.

"Kalian turuti saja perkataan kami, dan kalian akan cepat bebas," kata si orang melayu. Dari hutan bakau itu Subandi menyeberang ke Pulau Jolo—sebuah pulau vulkanik di barat daya Filipina—menggunakan kapal nelayan. Kemudian dia berjalan kaki lagi menuju hutan.

Tak seperti Kapten Haddock, atau semua gambaran pelaut rusuh di film bajak laut, Subandi yang diculik Abu Sayyaf adalah sosok nakhoda dengan pembawaan tenang. Dia tak banyak bicara. Badannya tegap dengan dada bidang. Tingginya mungkin sekira 180 cm. Berkulit coklat akibat terpaan matahari dan berkumis baplang, dia cukup disegani oleh kawan-kawannya.Subandi lahir pada 1976 di Liukang Loe, sebuah pulau kecil di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Pulau ini dihuni para pelaut tangguh. Sejak kecil, Subandi bersama teman-teman sepermainannya sudah menempa diri untuk jadi pelaut. Tapi tak ada yang mempersiapkan mereka menghadapi ancaman perompak seperti Abu Sayyaf.

Beberapa hari setelah disekap, Subandi diizinkan menelepon sanak familinya di Sandakan. Pembicaraan itu tak lama, cuma dua menit. Dia dilarang menelepon keluarganya di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Dalam percakapan telepon, Subandi menyampaikan pesan dari Abu Sayyaf bila selama enam bulan tak ada uang tebusan dari pemerintah Indonesia, dia akan dibunuh.

Selama di hutan, Subandi dan dua kawannya tinggal di tenda beralaskan tikar dan beratapkan terpal. Mereka makan seadanya, kadang nasi, kadang ubi-ubian, dengan lauk pauk seadanya. Mereka tak pernah lama menetap di suatu tempat, demi menghindari kejaran aparat militer Filipina.

1586583939155-RC04_ABU_SAYAF_STILLS00_00_18_11Still007

Abu Sayyaf saat membuat video menuntut tebusan atas orang-orang yang mereka culik.

Ada intel di kelompok Abu Sayyaf yang memonitor pergerakan tentara Filipina. Dalam sebulan, mereka bisa berpindah lokasi tiga hingga empat kali. Mereka bergerak saat malam untuk menghindari sergapan. Perjalanan berpindah tempat itu kadang makan waktu hingga 24 jam penuh, mendaki gunung melewati lembah.

Taktik gerilya malam hari tak selalu berhasil. Rombongan Subandi pernah terjebak dalam baku tembak antara militer dan Abu Sayyaf di malam hari saat mereka tertidur. Suara ledakan bom dan rentetan senjata yang membangunkan mereka. Subandi dan kawan-kawannya hanya disuruh bersembunyi di batang pohon sambil menunggu perintah lebih lanjut. Dia menyaksikan dua anggota Abu Sayyaf tumbang berkalang tanah. Tubuh itu dibiarkan tergeletak dan sengaja ditinggalkan rekan kelompoknya.

Kendati spanduk hitam berlafaz Laillahaillah—sering menjadi simbol jihadisme modern—selalu terbentang di kamp, dari pengamatan Subandi, orang-orang Abu Sayyaf bukanlah sosok alim soal agama. Mereka hanya salat dua rakaat. Tak pernah ada suara mengaji ataupun zikir.



Tiga sandera tersebut mengaku tak pernah mendapat perlakuan kasar, selain ancaman verbal. Mereka bahkan kerap mengobrol dengan si orang melayu, membicarakan perjuangan Abu Sayyaf dan alasan kenapa mereka melakukan penculikan. Tentu tak semua terlihat baik-baik saja. Sesekali beberapa anggota Abu Sayyaf menunjukkan sederet video pemenggalan yang telah mereka lakukan, semata demi menunjukkan bila Subandi dan kawan-kawannya bisa bernasib sama. Subandi tak pernah bisa menerka apakah itu sekedar gertak sambal atau ancaman nyata.

"Kami butuh uang buat makan dan membeli peluru," kata si melayu. "Makanya biar kamu cepat bebas, kamu perlu mengontak bosmu dan pemerintah Malaysia serta Indonesia."

Abu Sayyaf, kelompok yang berafiliasi dengan ISIS di Timur Tengah,telah aktif sejak 1989 dengan misi mendirikan negara Islam di kawasan selatan Filipina. Untuk mendanai operasinya, anggota Abu Sayyaf kerap menculik wisatawan asing dan anak buah kapal bernasib nahas, demi mengincar uang tebusan. Pada 2000, diduga kelompok Abu Sayyaf mendapat total uang tebusan antara US$10-US$25 juta, menjadikannya kelompok teroris paling kaya di Asia Pasifik.

Struktur organisasi Abu Sayyaf disatukan hubungan darah antar klan dari suku Tausug dan Yakan. Ada banyak fraksi dalam tubuh Abu Sayyaf, dan tak semuanya terlibat penculikan, kata Sidney Jones, direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) di Jakarta.

"Abu Sayyaf adalah kelompok yang rumit," kata Sidney kepada VICE. "Mereka adalah teroris, bandit, dan pemberontak sekaligus."

Selain penculikan, kelompok itu juga kerap terlibat dalam perdagangan narkoba, pemerkosaan, pemerasan, dan aktivitas kriminal lainnya. Mereka juga dalang di balik serangkaian serangan bom mematikan di seantero Filipina, termasuk pemboman kapal SuperFerry 14 yang menewaskan 116 orang pada 2004.

Sejak awal 2000'an, penculikan menjadi cara ampuh bagi Abu Sayyaf mendapatkan dana secara cepat. Namun baru pada 2016 Abu Sayyaf mulai fokus mengincar nelayan atau anak buah kapal asal Indonesia. Awalnya, nelayan Indonesia dan Malaysia yang berbasis di sekitaran Kalimantan bagian utara tak pernah menjadi target penculikan karena dianggap memiliki kesamaan budaya, ras dan agama. Namun itu semua berubah di awal 2016, ketika 14 anak buah kapal asal Indonesia secara tak sengaja diculik antara kurun Maret-April.

Deka Anwar, peneliti IPAC, mengatakan awal mula penculikan WNI adalah sebuah ketidaksengajaan. Anak buah kapal yang diculik itu tengah berada di kapal berbendera Malaysia yang dipercaya milik pengusaha Indonesia berdarah Tionghoa. Pemerintah Indonesia panik, dan segera mengirim uang tebusan. Sikap tersebut pada akhirnya membuat kelompok Abu Sayyaf ketagihan menculik WNI. Bagi mereka, pemerintah Indonesia tidak ribet dalam hal negosiasi, berbeda dengan pemerintah negara-negara Barat.

"Kelompok Abu Sayyaf menganggap orang Indonesia sebagai sesama Muslim," tulis Deka dalam laporannya. "Mereka dianggap miskin. Tapi apapun alasannya, respons pemerintah Indonesia atas penculikan itu justru memicu serangkaian penculikan lain ke depannya."

Tak berapa lama, tepatnya pada akhir Juni 2016, 13 ABK lain dari sebuah kapal tongkang yang tengah menuju Samarinda, Kalimantan Timur diculik lagi oleh militan Abu Sayyaf. Demikian seterusnya. Konsulat RI di Tawau, Malaysia mencatat sebanyak 39 WNI diculik kelompok Abu Sayyaf selama kurun 2016 hingga 2019. Terakhir, delapan WNI diculik di Pantai Tambisan, Lahad Datu, Sabah, sepanjang kurun September 2019-Januari 2020. Tiga orang telah dibebaskan pada Desember tahun lalu, sementara lima WNI lain sedang dalam tahap negosiasi.

Sejak 2016, perairan Sulu menjadi kawasan paling berbahaya buat perdagangan menurut Biro Maritim Internasional (IMB). Predikat yang awalnya dipegang oleh perairan timur Afrika.

Merespons maraknya penculikan nelayan sejak awal 2016, otoritas keamanan Indonesia, Filipina dan Malaysia mengadakan patroli gabungan di bawah komando Trilateral Maritime Patrol (TMP). IPAC berpendapat patroli gabungan tersebut tak cukup untuk menghentikan aksi militan Abu Sayyaf. Perahu cepat bertenaga besar yang digunakan para militan dapat dengan mudah lolos dari penyergapan. Persenjataan yang cukup lengkap juga tak bisa dianggap remeh. Selain itu, pulau-pulau kecil di Laut Sulu kerap dimanfaatkan Abu Sayyaf sebagai tempat persembunyian sementara.

"Kerjasama militer tiga negara tidak memiliki efek jera yang signifikan," kata Deka. "Jika dilihat lagi, diperlukan langkah nonmiliter."

1586584243019-RC04_ABU_SAYAF_STILLS00_09_13_05Still004

Subandi mengenang lagi pengalamannya diculik Abu Sayyaf.

Abu Sayyaf turut menjadi target Operation Enduring Freedom sejak 2002 hingga 2015 sebagai bagian dari kebijakan "Global War on Terror" yang diinisiasi Presiden Amerika George W. Bush pasca serangan 9/11. Operasi gabungan antara militer Filipina dan AS tersebut tak berhasil membasmi Abu Sayyaf, sebab semangat perjuangan mereka diturunkan dari generasi ke generasi. Selalu ada regenerasi dan balas dendam di belakang ideologi Salafi garis keras yang dianut mereka.

"Perlu dipahami pula bahwa Abu Sayyaf disatukan oleh klan dan budaya," tukas Deka. "Jadi ketika panglima mereka tewas; anak, saudara, atau siapapun bakal angkat senjata, dengan motivasi balas dendam dan profit."

Pada 12 September 2018, Subandi, yang telah disandera selama 20 bulan, mendengar selentingan kabar menggembirakan: mereka akan dibebaskan. Kabar itu menjadi kenyataan. Pada 15 September, seorang anggota Abu Sayyaf mendatangi Subandi dan mengatakan mereka bakal dijemput menggunakan sepeda motor keluar hutan.

Pukul 10 pagi, pengendara sepeda motor itu datang. Mereka menempuh perjalanan 20 menit sampai tiba di pinggir jalan raya. Di sana, ketiga sandera tersebut disambut sebuah mobil yang akan membawa mereka ke Jolo. Subandi mendengar bahwa orang yang menjemput mereka adalah petinggi Moro National Liberation Front (MNLF) yang berkoordinasi dengan Gubernur Sulu. Baik MNLF dan pemerintah Sulu punya andil dalam pembebasan sandera sejak 2016, menurut IPAC.

Dari Jolo, Subandi dan kawannya terbang ke pangkalan militer di Zamboanga dan dirawat di trauma healing center. Mereka tiba di sana pada pukul 2 siang. Pada 19 September, mereka tiba di Indonesia dan diserahkan secara resmi oleh Kementerian Luar Negeri kepada keluarga masing-masing.

Pembebasan Subandi mengundang tanya. Kementerian Luar Negeri menyangkal adanya uang tebusan dalam pembebasan itu. Pemerintah Filipina juga tutup mulut. Sidney Jones dari IPAC berpendapat lain. Setidaknya ada dua hal kenapa pemerintah masing-masing negara terkesan menutupi proses negosiasi saat terjadi pembebasan sandera. Pertama, ini berkaitan dengan citra suatu negara, kata Sidney.

"Saya kira di satu sisi pemerintah Indonesia ingin terlihat sebagai negara yang tidak bernegosiasi dengan penjahat," kata Sidney. "Citra Indonesia akan hancur sedikit, kalau mereka langsung membayar tebusan."

Kedua, Sidney berpendapat bahwa uang tebusan bisa saja bersumber dari donatur atau pihak ketiga. Sidney percaya, tidak mungkin sandera dibebaskan cuma-cuma.

Soal pembayaran uang tebusan yang bersumber dari pihak lain memang pernah terjadi. Pada saat WNI pertama kali diculik pada 2016, pemerintah Indonesia kala itu juga menyangkal adanya pembayaran tebusan untuk membebaskan nelayan. Dari catatan IPAC ada dua kelompok yang bergerak sendiri untuk membebaskan sandera. Satu tim adalah Yayasan Sukma milik Surya Paloh dan satu lagi tim bentukan perusahaan logistik atas desakan Panglima TNI kala itu Jenderal Gatot Nurmantyo, dipimpin oleh Kivlan Zein.

Kivlan punya sejarah tersendiri dalam konflik di Filipina. Dia pernah menjadi mediator saat Indonesia menengahi konflik antara MNLF dan pemerintah Filipina. Kivlan mengenal pemimpin MNLF Nur Misuari dengan baik. Koneksi antara dua orang itu dipercaya menjadi penyebab mulusnya negosiasi sandera. Ada dugaan bahwa MNLF juga mendapat bagian dari uang tebusan yang dibayar Indonesia.

VICE mencoba menghubungi Yayasan Sukma untuk mengkonfirmasi hal tersebut, namun tidak mendapat respons.

Suatu hari di bulan Oktober, VICE mengunjungi Subandi di rumahnya. Satu bulan setelah dibebaskan, Subandi masih enggan melaut. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah bersama keluarga. Subandi tak punya rencana untuk kembali ke Sandakan. Trauma masih membayanginya.

"Masih macam ada ketakutan gitu," kata Subandi. "Selama di sana itu di [tahanan] Abu Sayyaf enggak pernah kita tidur enak, sebab selalu ada bunyi senjata, bom jadi kita kaget terus di situ."

Trauma itu hanya sementara buat Subandi. Beberapa bulan setelah beristirahat, VICE mendapat kabar Subandi mengangkat sauh lagi, kembali menjelajah laut. Kali ini dia memilih melaut di Bulukumba, kampung halamannya—kampung yang mayoritas nelayannya seperti Subandi, terus memilih bertaruh nasib dengan berangkat ke perairan Malaysia sekalipun dibayangi ancaman penculikan teroris.