Game

Menjajal Sensasi Jadi Sutradara Sekelas Spielberg dan Tarantino lewat Game PC

Dalam game PC "Director’s Chair", kalian bisa mengatur tingkat kelebayan Quentin Tarantino sesuka hati.
12 Agustus 2020, 8:57am
Quentin Tarantino
Tangkapan layar via molleindustria.org

Bagaimana ya rasanya menyutradarai film yang dibintangi Jennifer Aniston? Kira-kira apa yang mesti dilakukan supaya Quentin Tarantino bisa lebih kalem dan enggak lebay lagi? Daripada cuma bisa berandai-andai, mending kalian main Steven Spielberg’s Director’s Chair saja. Dengan video game ini, kalian bisa merasakan keseruan menjadi sutradara sekelas Steven Spielberg.

Director’s Chair sebenarnya dirilis pada 1997 lalu, tapi baru diperbaiki kualitasnya oleh pembuat game sekaligus dosen Carnegie Mellon University Paolo Pedercini. Game interaktifnya kini bisa dimainkan dengan mudah dari browser.

Kehadiran CD-ROM membuat produksi video game di era 90-an semakin menggila. Developer pada masa itu akhirnya bisa memasukkan video full motion ke dalam game, sehingga tak sedikit dari mereka yang berkreasi dengan menempelkan cuplikan bintang film beresolusi rendah pada latar belakang buatan komputer. Sutradara kawakan macam Spielberg bahkan sampai tertarik menjajalnya. Dengan Director’s Chair, Hollywood ingin melihat apakah video game juga bisa dijadikan mode ekspresi untuk mereka.

Konsep gamenya cukup gampang. Pemain belajar menjadi sutradara dengan dibimbing oleh Spielberg. Selama syuting, mereka akan menghadapi serangkaian masalah yang harus diselesaikan. Pemain nantinya menghasilkan cerita dari cuplikan-cuplikan adegan yang direkam sendiri oleh Spielberg.

Sayang sekali, Director’s Chair kurang mendapat apresiasi. “Game ini cuma buat penggemar berat Spielberg,” bunyi ulasan Computer Gaming World pada tahun perilisan awal. “[Director’s Chair] terlalu terbatas dan linier, jadi kurang pantas disebut sebagai game atau multimedia.”

Paolo memotong semua unsur game dalam Director’s Chair, lalu menciptakan “Director’s Choices” dengan gaya Pilih Sendiri Petualanganmu dari rekaman mentah.

“Koleksi rekaman yang ada di dalam CD-ROM sudah cukup untuk membuat film ala Bandersnatch,” Paolo berkicau di Twitter. “Berhubung masih mentahan, saya harus mengedit semua videonya, lalu menambahkan suara dan musik. Resolusinya kemudian diperbaiki menggunakan AI. Ribet pokoknya.”

Paolo mengikutsertakan Director’s Choices dalam acara yang diadakan oleh galeri seni LIKELIKE. Para penonton memainkan video game interaktif dan memberikan suara pada pilihan yang tersedia.

“Saya lebih tertarik pada gagasan film bercabang ketimbang FMV, jenis teknologi yang digunakan oleh semua jenis game,” Paolo memberi tahu Motherboard lewat email. “Konsep ini terus muncul, tapi selalu gagal mengejar ketertinggalan. Menariknya lagi, strategi meta narasi, pilihan ‘illusory’ dan tema tentang kehendak bebas dan perasaan bersalah yang diangkat dalam Black Mirror: Bandersnatch sudah pernah dieksplor oleh film interaktif pertama Kinoautomat pada 1967.”

Kalian bisa memilih sendiri adegan yang diinginkan. Apakah kalian lebih suka Tarantino yang sabar menunggu hukuman eksekusinya di penjara, atau justru bertingkah seperti orang gila? Akankah dia menghabiskan hari-harinya dengan bermuram durja atau bercanda seperti enggak ada masalah apa-apa? Lalu bagaimana sikap pesulap Penn Jillette ketika beraksi? Akankah dia sopan atau malah menakutkan?

“Entah kenapa Quentin Tarantino dipilih menjadi ‘aktor’ dalam game ini...sebagai penulis dan sutradara hebat, gaya unik Tarantino jarang dieksekusi dengan baik dalam aktingnya—sama seperti yang ditampilkan dalam Director’s Choices,” Computer Gaming World mengulas. “Terkadang suka kesal sendiri menonton Quentin.”

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.