Opini

Sudah Saatnya Kita Mengakhiri Perseteruan Basi 'Cebong Vs Kampret'

Anak muda berbagi rasa lelah melihat debat online (dan kerusuhan) tak bermutu pendukung capres terus terjadi usai pemilu. Mereka usul julukan baru buat tukang onar politik di masa mendatang.

oleh Adi Renaldi
24 Mei 2019, 12:18pm

Ilustrasi oleh Farraz Tandjoeng/VICE

Sekuel Pilpres 2014 resmi berakhir. Sayang, perseteruan 'cebong dan kampret' masih saja mengemuka. Cebong dan kampret adalah julukan merendahkan dipakai pendukung dua calon yang mendominasi pembicaraan politik kita lebih dari lima tahun terakhir: Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Suporter Jokowi, politikus yang dikenal gemar memelihara kodok ketika masih menjabat Wali Kota Solo ataupun Gubernur DKI Jakarta, kebagian julukan mesra cebong. Pendukungnya dianggap laiknya anak-anak kodok 'peliharaan' Jokowi. Selalu ngintil dan hanya bisa patuh. Variasinya menjadi 'bong' atau 'cebongers'. Sementara fans Prabowo rutin dipanggil kampret. Asal mula munculnya sebutan ini agak sulit dilacak. Selama ribut Pilpres 2014, pendukung Prabowo masih sering dipanggil pasukan nasi bungkus. Mendadak panasbung berubah jadi kampret, yang konsisten mengemuka hingga 2019.

Lompatan luar biasa ya, dari makanan jadi fauna. Kemungkinan supaya mengimbangi sebutan pendukung Jokowi yang berbasis hewani juga. Maknanya kira-kira begini: kelelawar pemakan buah itu tidurnya terbalik. Maka, pendukung Prabowo "kemampuan nalarnya pun terbalik".

Intinya, dua sebutan itu sama-sama tidak enak didengar ataupun diucapkan di dunia nyata. Tapi, di kolom komentar medsos, orang yang aslinya mungkin baik hati, jadi tega menyebut satu sama lain sebagai utusan dunia binatang.

Tapi, kalau melihat kelakuan mereka di dunia maya, simpati pasti cepat hilang. Dua tim hore Jokowi ataupun Prabowo itu didukung buzzer gigih. Siang malam konsisten ribut dan sama-sama punya banyak pengikut. Saling serang menggunakan politik identitas dan sentimen populisme agama sama-sama mereka lakukan. Ketika akhirnya kericuhan pecah di beberapa titik Jakarta, menewaskan delapan orang serta melukai 700-an lainnya hanya karena hasil pilpres 2019, tak sedikit orang betul-betul lelah. Perseteruan ini basi, punya konsekuensi serius, dan merusak persaudaraan sesama anak bangsa.

"Mungkin karena nama-nama binatang udah dipakai, baiknya besok ganti nama buah-buahan aja kali ya biar lebih child friendly."

Kabar baiknya: saga cebong vs kampret pasti ada ujungnya. Pada pemilu 2024 kelak, Joko Widodo tak bisa lagi mencalonkan diri. Maka sebutan ‘cebong’ otomatis enggak relevan lagi.

Kabar buruknya: tradisi saling olok berbasis fauna sudah terlanjur mendarah daging bagi sebagian pengguna Internet selama era Jokowi. Patut diduga lima tahun ke depan, saling mengejek di media sosial masih menjadi tradisi, apalagi jika sentimen identitas masih dimainkan elit politik.

Pengamat menyatakan mengelompokkan dua kubu dengan sebutan merendahkan merupakan ekspresi yang kebablasan dalam suatu kontestasi politik. Sikap nista ini menjamur gara-gara mudahnya persebaran informasi lewat media sosial. Pemicunya, tentu karena rendahnya tingkat literasi politik di Tanah Air.

"Indonesia belum sampai level ide gagasan sebagai komoditas utama dalam pertarungan elektoral," kata Wawan Masudi, pengamat politik Universitas Gadjah Mada, saat dihubungi VICE. "Komoditas utamanya masih identitas bahkan diperparah dengan labelisasi yang diproduksi tidak begitu jelas."

Maka VICE pun bertanya ke sejumlah anak muda Indonesia soal olok-olok macam apa yang sebaiknya kita pakai dalam Pemilu 2024 kelak. Binatang malang apa lagi yang hendak kita sematkan ke kubu lawan? Tak lupa, kami bertanya tentang pendapat mereka seputar sepak terjang cebong-kampret yang memanaskan media sosial selama ini.

Bogiva Mardiyanto, 26 tahun, Pekerja Kreatif

VICE: Menurutmu, lima tahun lagi apakah olok-olok masih mewarnai pemilu kita?
Bogiva: Berubah sih kayaknya. Yang jelas karena 2024 nanti udah enggak ada petahana, mungkin bakal jadi lebih dinamis peta persaingannya. Kalau dibandingin sekarang yang terkesan persaingan kubu nasionalis-konservatif vs progresif-kapitalis sih, kayaknya bakal cukup banyak berubah.

Yang beda dan perlu diperhatiin mungkin sekarang orang-orang udah makin sensitif sama isu rasial, keagamaan, golongan, dan semacamnya. Jadi kalau nanti calon-calon presiden pada 2024 mau goreng isu kayak gitu, ya bisa jadi lebih panas dari sekarang. Atau mungkin karena nanti calonnya sama-sama baru dan tipe populis justru malah adem ayem aja? Yang pasti gue sih berharap ada calon presiden baru bukan dari kalangan elit lagi. Biar budaya kroniisme di negara kita bisa makin hilang.

Situasi sesudah hasil pilpres 2019 sesuai perkiraanmu?
Sesuai perkiraan lah. Gue udah mengira dari awal siapa yang bakal menang, dan gue juga udah mengira reaksi oposisinya gimana. Cuma ya tetep masih agak enggak abis pikir aja sih bisa sampai jadi kerusuhan begitu. Gue jadi mempertanyakan, sebenernya yang rusuh-rusuh itu lagi memperjuangin apa? Kok kelakuannya enggak mencerminkan nilai-nilai ideal yang katanya mereka junjung tinggi.

Elo sendiri nyaman enggak kalau dilabeli pake sebutan cebong-kampret?
Gue pribadi sih enggak terlalu peduli ya sama sebutan kayak gitu. Tapi gue bisa paham juga kalau ada orang yang enggak suka disebut-sebut begitu.

Enaknya kalau lima tahun mendatang ada suporter capres demen kelahi online, kita sebut apa ya?
Apa ya? Mungkin karena nama-nama binatang udah, baiknya besok ganti nama buah-buahan aja kali ya biar lebih child friendly. Atau kalau mau nama binatang lagi, yang kerenan dikit lah.

Reza Akbar Felayati, 24 tahun, Akademisi

VICE: Pemilu 2024 kelak kayak gimana menurutmu? Suporter norak suka debat bakal masih ada atau enggak?
Reza: Tentu masih belum bisa dijawab sekarang, karena kita tidak tahu bagaimana konstalasi politik nasional ke depan. Siapa calon-calonnya, partai yang terlibat di dalamnya. Tetapi yang menurut saya mengkhawatirkan adalah potensi munculnya politik identitas serupa, seperti yang ada di pemilu tahun ini yang menurut saya cukup tinggi. Kenapa? karena di pemilu tahun ini, sudah dibuktikan bila politik identitas merupakan senjata ampuh yang bisa memicu "morat-maritnya" stabilitas nasional. Mulai isu agama, komunisme, asing dan aseng, semua digoreng secara bergantian dan sistematis untuk menjaring dukungan. Tidak menutup kemungkinan bentuk politik identitas serupa, atau bahkan mungkin nanti lebih advanced lagi, tetap muncul pada 2024.

Kamu menduga perseteruan cebong-kampret bisa merembet ke dunia nyata seperti 22 Mei lalu?
Saya sedikit banyak sudah memprediksi bahwa gesekan-gesekan horizontal semacam ini akan terjadi, melihat dari bentuk-bentuk kampanye dan provokasi yang selama ini ramai dilakukan selama masa kampanye. Hanya saja tidak menyangka kalau skalanya bakal semassif ini

Sebutan cebong-kampret tampaknya sudah jadi label yang diterima kedua belah pendukung garis keras. Kamu sendiri memandangnya gimana?
Saya tidak mengafiliasi diri sebagai cebong maupun kampret, karena saya sendiri bukan pendukung berat dari kedua calon. Jujur saja, bagi saya pemilu tahun ini benar-benar saya lakukan dengan prinsip "Lesser of Two Evils." Tetapi beberapa orang yang saya kenal ada yang nyaman dengan sebutan-sebutan tersebut. Mereka inilah yang sense of belonging-nya tinggi sekali ke salah satu kubu calon.

Apakah kamu optimis pendukung capres di Tanah Air kelak bisa semakin dewasa?
Berharap dikit boleh lah ya, siapa tahu nanti lima tahun kedepan cebong sama kampretnya sudah lebih dewasa dan bisa berpikir lebih kritis.

Dimas Agung, 25 tahun, Pegawai Honorer

VICE: Menurutmu apakah kualitas debat pendukung capres lima tahun lagi bakal berubah?
Dimas: Pesimis sih. Pendukung dan elit politiknya sama-sama belum dewasa. Setelah pemilu 2019, dua kubu enggak mencerminkan sikap damai. Malah bikin tambah ricuh. Kalau terus begitu, pemilu 2024 bakal sama aja. Calonnya doang yang beda.

Pernah diserang gara-gara beda pilihan capres?
Pernah. Tapi ya udahlah, udah selesai. Enggak perlu diungkit-ungkit lagi.

Kamu punya sebutan pengganti cebong-kampret kelak?
Bangsat vs kutu kupret mungkin ya, hehe. Enggak tahu deh, itu kan sebutan spontan dan dinamis mengikuti situasi di elit politik. Enggak bisa diprediksi lah.

Greta Maria, 22 tahun, mahasiswi

VICE: Menurutmu apakah lima tahun lagi suasana pemilu bakal berubah?
Greta: Kalau dua calonnya memang bener-bener mewakili rakyat, kayaknya bisa berubah. Tapi kadang media sosial menurut gue suka bikin kericuhan yang enggak perlu. Isu agama menurut gue tetap bisa bertahan lima tahun lagi. Jadi bisa ditebak, ujung-ujungnya perpecahan lagi.

Gimana dengan pilpres tahun ini? Sesuai harapanmu?
Hasilnya sih sesuai pilihan gue hehe. Tapi malesnya jadi agak rusuh sama isu people power. Yang bikin gue bete lagian ini bulan Ramadan, gila aja suasananya malah mencekam.

Kamu sendiri nyaman ketika dilabeli sebutan cebong-kampret hanya karena mendukung satu paslon?
Gue enggak pernah ikut debat di medsos, pilihan gue ya buat disimpan pribadi aja. Emang suka kesel sih kalau baca-baca komentar di medsos, kayak ‘cebongers ke laut aje!” Tapi ya gue telen sendiri aja.

Kalau nanti ada kubu-kubuan lagi pada 2024, suporter garis kerasnya bakal kamu juluki apa?
Apa ya, gue berharapnya enggak usah pakai sebutan. Kayak pilpres jaman SBY atau sebelumnya. Gue tahu kondisi ini enggak bisa dibandingin. Dulu enggak ada medsos. Dulu kampanye cuma di TV sama spanduk. Tapi at least dulu enggak rusuh. Jadi gue harap [pemilu 2024] udah enggak pakai istilah-istilah aneh-aneh.