Iklan
Sepakbola

Florentino Perez: Politikus Gagal Beralih Jadi Penguasa Mutlak Real Madrid

Dialah presiden Real Madrid yang paling terkenal sepanjang sejarah klub. Pria 71 tahun itu dikenal kejam, rela melakukan apapun demi melanggengkan kekuasaan. Termasuk saat menciptakan Galácticos dan mendepak Mourinho.

oleh Fran Alameda
12 April 2018, 12:17pm

Foto oleh Sergio Perez/Reuters

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports Spanyol

Florentino Pérez adalah seorang penjudi akut yang haus kekuasaan. Dia sosok yang mudah dibenci penggemar sepakbola. Terutama jika kalian bukan suporter Real Madrid. Masalahnya, dia tak bisa dipahami pukul rata tanpa melihat sejarah Spanyol tiga dekade terakhir. Sebaliknya, Spanyol modern juga sulit dipahami tanpa kalian mengenal orang-orang macam Florentino Pérez. Presiden Real Madrid itu berhasil menapaki level paling atas industri sepakbola global lantaran kemampuannya sebagai pebisnis yang susah ditandingi, ditambah sikap hati-hati ala diplomat, serta yang paling penting: koneksi yang menggurita.

“Bangsa Spanyol bekerja lewat telepon,” demikian pemeo yang populer di Negeri Matador tersebut. Merujuk pada kalimat ini, tak berlebihan bila kita mendaulat Florentino sebagai salah satu sosok paling penting dalam kancah sepakbola Spanyol—bahkan masyarakat spanyol itu sendiri.

Persoalannya, dari mana datangnya pria bernama Florentino Pérez ini? Kenapa dia bisa menduduki kursi Presiden Klub berjuluk Los Blancos tersebut? Sekarang memang dia tokoh masyarakat yang begitu dikenal. Uniknya, tak banyak yang tahu asal-usul Florentino. Semasa muda, dari arsip yang terlacak, dia sempat belajar di Jurusan Teknik Sipil Polytechnic University of Madrid. Selepas kuliah, dia bekerja di pemerintahan. Dia juga pernah berkecimpung di dunia politik sebentar, sebelum akhirnya banting setir jadi pebisnis ulung.

Florentino awalnya bekerja di Dewan Kota Madrid, memegang sebuah jabatan administratif kecil. Tugasnya kala itu adalah mengawasi proyek-proyek pembangunan jalanan Madrid, yang jujuru saja kurang bergengsi. Tak lama kemudian, dia mendapat tawaran untuk menduduki sebuah jabatan di Kementerian Pekerjaan Umum dan Transportasi. Bisa dibilang saat itu karir Florentino sedang moncer meski belum sampai di tingkat tertingginya.

Florentino Perez semasa muda // Foto via Wikimedia

Kendati sempat dipromosikan saat masih berkarir di birokrasi, Florentino jauh dari kata bahagia. Insinyur muda itu memutuskan terjun ke kancah politik Negeri Matador. Dia diangkat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Reformis Demokratik Spanyol (DRP) yang baru saja didirikan. Karirnya di partai ini tak berlangsung lama. Hanya beberapa hari setelah pemilu 1986, partai debutan itu bubar. Alasannya klise. DRP gagal memperoleh cukup kursi di parlemen. Florentino terpaksa melanjutkan ambisinya di kancah lain, bukan lagi sebagai politikus.

Florentino mengambil keputusan berani sesudah pemilu. Karir politiknya mendadak ditutup selama-lamanya. Dia lantas menggeluti dunia bisnis, lengkap dengan segala tantangan baru yang harus dia hadapi. Bersama beberapa sahabat karibnya, Florentino membeli Padrós, perusahaan kontruksi kecil yang nyaris bangkrut. Keduanya mengubah Padrós menjadi unit usaha yang menguntungkan. Florentino mungkin tak sepenuhnya sadar, menjelang dekade 90'an, sesungguhnya dia sedang merintis sebuah imperium korporasi internasional.

Florentino lantas sibuk membangun kerajaan bisnisnya, sebisa mungkin menunggangi ledakan industri konstruksi di Spanyol yang sembuh total dari resesi menjelang akhir Abad 20. Kerja kerasnya tak sia-sia, Florentino sukses memeroleh banyak kontrak penting untuk perusahaannya. Bisa dibilang, perusahaan yang dirintis Florentino memainkan peranan penting dalam perekonomian Spanyol selama dua dekade belakangan.


Baca curahan hati mantan pemain yunior Real Madrid yang karirnya berantakan:

Pada 1993, setelah melebur Padrós dengan sebuah perusahaan lain yang lebih besar, Florentino menjelma menjadi salah satu pemain besar kancah bisnis infrastruktur global. Di momen ini lah, Florentino mendirikan ACS—salah satu perusahan konstruksi terbesar sejagat.

Berada di atas angin, Florentino mengambil risiko. Kali ini pertaruhannya terjadi lapangan sepakbola. Florentino mengincar kursi presiden Real Madrid.

Pada 1995, presiden Los Blancos saat itu dijabat Ramón Mendoza. Sang presiden tengah dicecar pendukung maupun dewan direksi lainnya, lantaran tumpukan utang yang menggunung dan menjerat Real Madrid. Citra Mendoza sedang buruk-buruknya. Florentino mencium peluang untuk merebut tahta.

Sayang, untuk kali pertama pertaruhannya gagal. Dalam gelaran pemilihan presiden, Mendoza meraih 699 suara. Kalah total, Florentino kembali memusatkan pikirannya pada ACS. Kekalahan itu membuat rasa hausnya akan kekuasaan makin menjadi-jadi.

Intinya, Florentino mengawali karir di sektor publik, banting setir ke ranah politik dan gagal, sebelum akhirnya di berjaya di ranah bisnis. Karir Florentino sebagai birokrat rendahan kurang moncer. Ironisnya, Florentino kelak terkenal dan kaya raya memanfaatkan dana publik masyarakat Spanyol.

Bahkan saat percobaan pertamanya menguasai Real Madrid gagal, Florentino masih berhasrat terhadap kekuasaan, baik di ranah bisnis maupun dari lapangan hijau. Awal 2000, ketika masih jadi orang nomor satu di ACS, Florentino memutuskan kembali mencoba merebut kursi presiden Los Blancos. Saat itulah, Florentino lagi menjalani perjudian terbesar dalam hidupnya sekaligus langkah bakal membuatnya makin tenar dan memenuhi mimpi-mimpi besarnya. Demi menjadi Presiden Real Madrid, Florentino melakukan perjudian besar.

Perjudian tersebut adalah proses transfer Luis Figo.

Momen Figo direkrut proyek Los Galáctico Real Madrid, memicu kecaman pendukung Barcelona. Foto oleh Desmond Boylan/Reuters.

Euro 2000 adalah puncak karir Luis Figo. Dia dipercaya memakai ban kapten tim Matador dan jadi ikon Camp Nou. tanpa memerdulikan semua ini, Florentino mengumumkan bahwa seandainya dirinya terpilih menjadi presiden Los Blancos, dia mencanangkan niat membajak playmaker asal Portugal itu dari seteru abadi Madrid: Barcelona FC.

Diam-diam, melalui komunikasi intensif berbulan-bulan, Florentino akhirnya mencapai kesepakatan dengan agen Figo. Dia mengantongi kepastian Figo siap membelot, sementara detail transfernya dibiarkan mengambang di media massa. Inti perjanjian keduanya seperti ini: andai Florentino gagal lagi jadi presiden Madrid, Figo tetap bakal dapat kompensasi yang besar. Percaya Florentino bakal kalah dalam pemilihan internal klub, agen Figo setuju saja mendengar usulan Florentino.

Begitu Florentino mengumumkan niatnya menggaet Figo, penggemar Madrid—antara senang dan nyaris tak percaya—beramai-ramai memilih Florentino. Bos konstruksi itu akhrinya keluar sebagai pemenang, menyisihkan pesaingnya Lorenzo Sanz dan di malah terpilihnya, segera membereskan tetek benget transfer Figo. Barca tak bisa berbuat apa. Madrid menebus banderol Figo sebesar €50 juta (setara Rp871 miliar dalam kurs saat ini) yang mereka kira akan membuat gentar klub manapun yang punya minat membajaknya. Jimat Barcelona itu berlabuh di Santiago Bernabéu.

Florentino bukan lagi lelaki yang naif saat dipecundangi Mendoza. Kini dia adalah sosok kalkulatif, yang hanya butuh satu langkah untuk menjungkalkan kawan maupun lawan, serta mengubah peruntungan Real Madrid. Membajak Luis Figo, harus diingat, baru gebrakannya yang pertama.

Setelah Florentino terpilih menjadi presiden Madrid, dia mewarisi beban finansial yang tak bisa dianggap enteng. Klub besar kesukaan mendiang Diktator Jenderal Franco ini berutang €300 juta (setara Rp5,1 triliun dalam kurs sekarang). Florentino harus segera menemukan solusinya dalam waktu sesingkat-singkatnya. Pada akhirnya, Florentino berhasil mengatasi masalah ini meski harus mengambil keputusan drastis, yang sampai sekarang masih sering dipertanyakan suporter.

Dia menjual tanah milik Real Madrid di La Castellana Avenue, cuma sepelemparan batu dari jantung kota Madrid. Florentino menjual lahan itu seharga €500 juta (sekitar Rp8,5 triliun), setelah Los Blancos susah payah mendapatkannya dari Dewan Kota Madrid. Utang terlunasi dan mendadak klub ibu kota Spanyol itu berlebih uang. Lahan di La Castellana sejatinya hendak dipakai untuk mengembangkan fasilitas Real Madrid. Tapi kita sedang membicarakan sosok seperti Florentino, yang lebih suka berjudi dengan penuh perhitungan dibanding bekerja keras.

Dibekali dana hasil menjual tanah, ditambah gagasan monetisasi klub seperti akuisi hak atas imej pemain oleh kesebelasan yang akhirnya membuahkan pendapatan yang tak sedikit bagi Madrid, Florentino berhasil mendapat semakin banyak uang. Tumpukan uang itu, yang kemudian menyadarkan banyak orang, jika Florentino hendak melakukan revolusi. Perubahan radikal itu berupa upaya membentuk tim 'Galácticos' sepanjang kurun 2000 hingga 2006.

David Beckham turut bergabung dalam proyek Galácticos pada 2003. Foto via Reuters

Tim 'Galácticos', adalah ambisi Florentino mengumpulkan bintang-bintang sepakbola pada masanya sehingga bisa bertanding di kancah antar galaksi sekalipun. Tim impian itu terdiri dari Ronaldo (yang asli, bukan KW-nya versi Portugal), Zinedine Zidane, Roberto Carlos, Luis Figo, David Beckham dan beberapa pemain bintang lainnya—berhasil menorehkan banyak prestasi, di antaranya dua trofi La Liga serta dua trofi Piala Champions. Selain itu, selagi Los Blancos sedang jaya-jayanya di berbagai kompetisi, Florentino mengkomersilkan klub dan memasarkan sepakbola sampai titik ekstrem.

Untuk dapat memahami sepenuhnya sosok Florentino, kita perlu lebih dulu masuk ke alam pikirannya. Dia sempat ikut mendirikan DRP, walau gagal. Saat masih menjadi birokrat, Florentino juga menjalin kontak dengan satu partai berhaluan tengah di Spanyol, yakni UCD. Baik UCD dan DRP sudah bubar sekarang. Tak banyak orang tahu, Florentino sebetulnya selalu punya kedekatan ideologis pada partai Krsiten konservatif Partido Popular (PP). Sebagai sebuah partai politik, PP dekat dengan kelompok sayap kanan dan kaum elit di Negeri Matador. Artinya, ideologi yang diyakini Florentino pada dasarnya bisa disimpulkan dalam tiga kata saja: bisnis, uang, serta kekuasaan.

Kedekatan Florentino dengan PP tak selalu berbuah manis. Malah beberapa kali dirinya tersandung masalah karena menjalin kontak dengan PP. Mujur, Florentino selalu lolos dari jerat hukum, lantaran dia tak pernah terbukti kongkalikong bersama petinggi PP atau menyalahi aturan yang berlaku di Spanyol. Kendati demikian, hubungannya dengan PP bisa dijelaskan dengan sangat gamblang menggunakan pernyatan hakim pada kasus yang erat hubungannya dengan Operación Púnica, salah satu kasus korupsi terbesar dalam sejarah Negeri Matador.

Florentino hadir di pengadilan setelah Real Madrid terbukti melalukan misterius pada sebuah perusahaan yang menyediakan jasa pengelolaan media sosial. Yang jadi perkara adalah perusahaan tersebut dimiliki oleh seorang pria yang punya hubungan erat dengan PP dan kelak terbukti terlibat dalam sebuah kasus korupsi.

Florentino mengakui dirinya tahu perkara pembayaran itu. Walaupun begitu, dalam sidang pengadilan, dia menegaskan bahwa itu tak ada hubungannya dengan PP. tak lama setelah itu, Real Madrid memutuskan hubungannya dengan perusahaan kecil tersebut dan meneken kontrak dengan perusahaan lain. Yang menarik, nilai kontraknya ratusan kali lebih besar dari yang pertama.

“Ada sesuatu yang tak bisa saja jelaskan di sini,” konon demikian apa yang dikatanan hakim pada Florentino. Kalimat itulah yang poling tepat menggambarkan perasaan banyak orang terhadap kasak-kusuk politik yang dijabani Florentino.

Jaringan yang menghubungkan dengan kaum elit Spanyol tak bisa dijabarkan dengan mudah, namun tak berarti tak kasat mata juga. Kita tinggal melihat komposisi presidium Real Madrid. Kita bisa menemukan banker, politikus hingga pebinis. Orang-orang ini tiap beberapa pekan sekali menghadiri laga Real Madrid. Nyata betul jika Florentino senang dikerubuti orang-orang penting.

Florentino menyalami mantan Presiden Spanyol José María Aznar // Foto via YouTube

Perlu dicatat, yang menonton laga Los Blancos dari bangku VIP di Santiago Bernabéu tak selalu sosok-sosok terhormat. Selain jurnalis yang berani buka mulut seperti Eduardo Inda, hakim ternama José Manuel Siera Míguez, hingga mantan presiden José María Aznar, bangku elit di Stadion Real Madrid ini pernah disinggahi sosok dengan catatan kriminal mentereng macam Goo Ping. Nama yang disebut terakhir adalah pemain penting jaringan mafia keturunan Cina di Spanyol.

Kunci sukses Florentino adalah kedekatannya dengan pers. Para wartawan umummnya senang bila diundang duduk di presidential box di Bernabéu; Di sana, Florentino kerap menghabiskan waktunya ngobrol dengan para wartawan dan tak tanggung-tanggung membeberkan informasi sensitif agar sang wartawan merasa berada dalam lingkaran dalam Florentino. Sebagai imbalan, Florentino diam-diam bisa menyensor berita miring tentang klubnya. Tak ayal, selama dirinya berkuasa, berita tentang Madrid cenderung bernama positif.

Florentino sendiri sadar bahwa kekuatannya sudah sangat besar hingga beran menyombongkan diri—di kalangan teman-temannya—tenang perubahan yang dia usulkan pada rancangan Ley Mordaza, salah satu undang-undang paling kontroversial saat ini di Spanyol. Lebih dari itu, Florentino bisa mengklaim bahwa namanya bakal diabadikan jadi nama undang-undang.

Presiden Real Madrid ini tak sepenuhnya berbohong. Pada 2011, sebuah amandemen dalam undang-undang tata kelola perusahaan yang jelas-jelas menguntungkan Florentino disahkan. Imbasnya, Florentini dalam Dewan Pimpinan Iberdola, sebuah perusahan energi paling kuat di Spanyol.

Di Real Madrid sendiri, kekuasaan Florentino kini bersifat absolut. Pria yang kini berusia 71 tahun itu memegang kendali semua outlet media klub dan menerapkan strategi propangada yang mulus. Berkat jaringannya yang kuat di kalangan jurnalis, Florentino bisa memastikan bahwa mereka ada di bawah pengaruhnya. Dia membentengi dirinya dengan kumpulam pemuja dan menyingkirkan siapapun yang berani melontarkan kritik apalago mempertanyakan metodenya mengelola klub.

Florentino tak suka ada orang berani mempertanyakan kekuasaannya. Makanya Jose Mourinho didepak. Sumber foto Reuters.

Florentino belakangan berhasil mengakali prosedur pemilihan presiden Los Blancos guna melanggengkan kekuasaanya. Siapapun yang berniat mencalonkan diri kini menghadapi persyaratan yang tak masuk akal seperti harus memiliki jaminan finansial yang besar, sudah menjadi anggota klub Real Madrid selama lebih dari 20 tahun serta wajib punya kekayaan pribadi yang tak sedikitnya. Lewat akal-akalan, Florentino bisa selalu menang pemilihan presiden Los Blancos dalam proses yang kesannya demokratis.

Satu-satunya grup fan yang berani merongrong rezim Florentino adalah Ultrasur, sebuah grup penggemar Madrid yang radikal dan kadang tak mengharamkan kekerasan. Ultrasur jelas-jelas menempatkan diri sebagai penentang cara Florentino mengelola Real Madrid dan kerap berselisih pandangan tentang keputusan Florentino yang menyangkut Real Madrid. Kebencian mereka pada Florentino paling nyata terlihat di lapagan hijau. Ultrasur tak pernah absen mengolok-olok presiden Real Madrid dalam laga Los Blanchos, sesuatu yang sebenarnya lazaim terjadi di Real Madrid.

Mudah diduga, Florentino tak bisa santai menghadapi kritik yang ditujukan pada dirinya. Dia menggunakan beberapa insiden kekerasan sebagai dalih melarang Ultrasur menonton pertandingan kandang Real madrid. Padahal, insiden kekacauan serupa tak pernah bikin Florentino keki sebelumnya. Tiba-tiba saja, Florentino sangat peduli tentang perkara ini dan Ultrasur pun langsung jadi musuh nomor satu Real Madrid. Tak puas melarang mereka masuk, Florentino juga melucuti kekuatan Ultrasur dengan menjauhkannya dari klub, sebuah keputusan yang mendapat banyak dukungan di kancah persepakbolaan Spanyol.

Florentino, sekali lagi, memamerkan kekuasaannya di Santiago Bernabéu.

Pérez adalah arsitek yang membuat Christiano Ronaldo haus gelar. Foto oleh Reuters/Sergio Perez

Dengan segala cara, Florentino Pérez telah menjelma sebagai pemimpin tanpa tanding salah satu klub paling besar di muka bumi. Pun, jika pesona dirinya tak membantunya mendapat apa yang dia inginkan, uang akan selalu bisa bicara. Pada akhirnya, semua seteru Florentino harus memilih salah satu opsi: bergabung dengannya atau hancur dilumat.

Dan tak ada orang yang bisa dengan singkat mengggambarkan sebesar apa kuasa Florentino, kecuali dia sendiri: “Saya berkuasa karena saya adalah presiden Real Madrid."

April 2018, Madrid mencetak rekor dengan keberhasilan lolos ke semifinal Liga Champions untuk kali ketujuh berturut-turut. Sebelumnya, Florentino juga menyaksikan klubnya berhasil mencatatkan La Decima, artinya rekor 10 kali menjuarai kompetisi antar klub paling elit Eropa. Rekor yang jauh meninggalkan tim-tim top Benua Biru lain macam Barcelona, Bayern Munich, Liverpool, AC Milan, ataupun Juventus.

Kalian barangkali membenci Madrid, karena klub ini menjadi simbol komersialisasi sepakbola, citra kemapanan, gerombolan orang kaya, kumpulan pemburu trofi, antek diktator, dan macam-macam alasan lainnya. Tapi, ambisi Madrid akan sulit dibendung, selama Florentino masih berkuasa.

Mau bagaimana lagi. Itulah faktanya. Madrid dominan di kancah domestik maupun Eropa, karena sang presidennya juga sosok yang sangat berkuasa. Dari semua nama yang pernah duduk di kursi paling bergengsi Santiago Bernabéu, manusia yang berkuasa paling mutlak adalah Florentino Pérez.


Follow penulis artikel ini di akun Twitter @Fran_Alameda

Tagged:
VICE Sports
Florentino Pérez
juventus
profil
real madrid
La Liga
Liga Champions
spanyol
Politikus
AS Roma
Barcelona FC
Christiano Ronaldo
Sejarah Sepakbola
los galácticos
Rivalitas Madrid-Barcelona
Diktator Franco