Iklan
Opini

Sederet Alasan Supaya Aku (dan Mungkin Kalian) Yakin Tidak Asal Menikah Muda

Ketika banyak narasi mendorong anak muda cepat menikah di awal usia 20-an, aku melihat ada tiga faktor penting yang membuat siapapun perlu mematangkan diri dulu sebelum menyesal kemudian.

oleh Elisabeth Glory Victory
25 Oktober 2019, 11:49am

Ilustrasi oleh Bobby Satya Ramadhan.

Kita sering mendengar pemeo ini: "jomblo itu nasib, sedangkan single itu pilihan." Tapi untuk kasus Indonesia, seharusnya ada lagi pemeo tambahan: "jadi single memang pilihan, tapi ketika akhirnya menikah itu kadang akibat tekanan."

Aku selama 21 tahun hidup di bumi ini memutuskan selalu single. Sejak beranjak dewasa aku sudah punya keyakinan bahwa hubungan romantis itu tidak perlu diburu-buru, apalagi dipaksakan. Kalau memang kelak bertemu jodoh, pasti ya aku juga kepengin sendiri melakoninya. Masalahnya, di usia sekarang, aku mulai merasakan tekanan sosial soal menikah. Beberapa kenalanku sudah menikah atau merencanakan segera merasakan ikatan perkawinan.

Kadang mulai ada kerabat yang tanya-tanya soal jodoh. Di media sosial, aku makin sering melihat promosi perlunya nikah muda. Salah satu alasan utama pendukung gagasan nikah muda, katanya pernikahan akan mendatangkan stabilitas hidup dan kebahagiaan.

Buat perempuan, tekanan ini terasa dua kali lebih kuat. Ada berbagai stigma kultural yang membuat perempuan didorong segera menikah ketika usianya cukup dewasa. Satu yang pernah kudengar, adalah asumsi bahwa lelaki itu lambat menjadi dewasa, sementara perempuan matang lebih cepat (dan menopause lebih cepat). Jadi, lelaki akan oke kalau mendapat pasangan berusia lebih muda. Ewww, artinya, aku adalah masuk rentang usia jodoh ideal buat laki-laki yang percaya asumsi macam itu.

Aku berasal dari latar keluarga Tionghoa. Perempuan kerap diarahkan untuk mencari pasangan lebih tua, kalau bisa sih yang selisihnya empat tahun. Dalam keluarga Chinese, selisih empat tahun itu dianggap hoki. Filosofi ini diadopsi dari kokohnya kursi yang bisa menampung berat orang yang mendudukinya, dan kursi itu dapat kokoh berdiri karena kakinya empat. Hmmm.... padahal kursi juga ada yang kaki tiga dan juga kaki satu yang lebar ke bawah.

Jujur, aku sulit sepakat sama asumsi-asumsi di atas. Apalagi yang mengatakan nikah otomatis mendatangkan kebahagiaan. Bayangkan, kalau kita menganut anggapan “nikah aja biar lo happy” bukankah aritnya kita sebetulnya belum puas sama diri sendiri?!

Untunglah, walau tekanan menikah muda menguat, aku mendapat sekian alasan kuat untuk bersiasat menolaknya. Setidaknya, aku bisa bilang, alasan-alasan ini membantuku menegaskan sikap kalau menikah muda itu rasanya bukan pilihan ideal buatku. Tiga yang paling utama adalah perkara faktor finansial, kedewasaan, dan juga komitmen.

Mari masuk ke alasan pertama: soal duit.

"Duit kok dipikirin terus sih? Rezeki udah ada yang ngatur sis..." mungkin ada yang beranggapan demikian. Tapi gimana dong, sampai sekarang pohon uang masih belum diciptakan dan juga makanan masih harus dibeli pakai uang. Belum lagi kalau bener-bener nikah, pasti kan juga ngurus tempat tinggal pasti butuh ongkos gede. Aku yang tidak punya muka untuk masih minta duit ke orang tua, padahal statusku sudah menikah dan keuanganku hancur.

Sebab, saat kita masih minta orang tua membantu secara finansial, itu tandanya kita belum terbiasa mandiri, apalagi membina keluarga sendiri. Salah satu kisah yang membuatku merasa miris adalah adalah cerita temannya teman, cewek yang nikah di usia 19, cowoknya lebih tua. Pernikahannya konsensual, bukan karena paksaan. Tapi karena mereka berdua belum punya karir yang stabil, akhirnya orang tuanya harus kerja keras banget dan anak jadinya malah dititipin ke orang tua.

Aku sendiri pernah menjadi anak yang dititipkan ke nenek, dan sebenernya emang enggak salah. Tapi agak defeating the purpose menurutku kalau memutuskan menikah, sementara aku merasa belum yakin punya penghasilan tetap. Kasihan aja kalau sampai anakku jelak susah punya quality time sama orang tuanya. Belum lagi kalau masih posisi struggling economy pasti tekanan dari mana-mana makin tinggi kan. Tambah kurang yakin aja kalau lingkungan kayak gitu kondusif buat gedein anak.

Aku makin yakin setelah mendengar Konsultan keuangan, Andreas Hartono menjabarkan kalau uang memang sering jadi pemicu pertikaian rumah tangga. Dari hasil survei yang dilakukan WeCan, 47 persen konflik rumah tangga di negara ini didominasi oleh masalah finansial dalam keluarga. Andreas mengatakan perkara duit adalah alasan dari setengah kasus perceraian yang ada. "Bahkan 56 persen hasil survei dari Gallup Poll mengatakan jika uang menjadi penyebab perceraian utama," kata Andreas.

Isu kedua yang membuatku yakin tidak menikah muda terkait kedewasaan. Tanda kamu sudah dewasa itu sederhana. Di antaranya bisa buat keputusan sendiri, menyelesaikan masalah dengan baik-baik, dan ini nih yang paling penting: mengontrol emosi. Kata siapa nikah itu modal cinta? Istilahnya kalau dalam bisnis, cinta itu cuman uang muka. Emang awalnya kudu ada cinta, tapi kalau misalnya kedewasaan itu belum ada ya takutnya bakal terjadi kekerasan dalam rumah tangga alias KDRT. Belum lagi riset menunjukkan kalau pernikahan usia 13-18 dan 19-24 itu paling banyak mengalami kasus KDRT.

Staf Komnas Perempuan Mia Olivia mengatakan banyak orang masih enggan melaporkan tindakan kasar pasangannya. Mia mengatakan perempuan muda sering kali tidak tahu kalau mereka sudah mengalami KDRT. Dalam persepsi mereka KDRT hanyalah sebatas kekerasan fisik, padahal ada berbagai macam kekerasan dalam wilayah domestik, mulai dari fisik, psikis, ekonomi dan seksual.

Isu ketiga adalah tentang komitmen. Yah mungkin ini adalah hal yang debatable apa usia bener-bener penyebab orang enggak bisa komitmen. Ada yang berargumen, "loh kalau cowok gue sejak kecil udah belajar komitmen kok, didikan ortunya bagus." Ada juga yang bilang “yah kalau masih kecil sih pasti kalah start dong sama yang lebih tua.” Menurut psikolog Kristi Poerwandari, wajar banget pemuda-pemudi jadi “obyek” kekerasan karena anak muda cenderung belum memahami dirinya sendiri.

Kristi mengatakan di usia muda, orang cenderung belum paham apa yang membuat dia tidak nyaman dan nyaman secara komprehensif. Jadi ya menurut aku bisa banget mereka membuat janji-janji manis yang enggak sesuai ama trueself mereka. Orang yang karakternya trueself aja kadang kagak ngerti apalagi kemauan dan tujuan hidup. Takutnya malah jadi salah satu kasus ala perceraian selebriti. Yang pisah hanya karena alasan klasik “sudah tidak menemukan kesesuaian” lagi.

Yah pada intinya, saya tetap percaya sama institusi pernikahan. Apakah aku akan menikah selepas 25 tahun seperti target yang dulu pernah kucanangkan sendiir? Enggak tahu juga, aku bukan cenayang. Tapi yang pasti, kapan pun nikahnya (dan kalau emang bakal nikah) aku bakal pastiin keputusanku menikah bukan karena tekanan sosial, apalagi karena takut kadaluarsa. Apa gunanya nikah tapi kalau cuman karena terpaksa?

Aku sih sekarang memantabkan diri, daripada mikirin cari yang terbaik buat nikah, mendingan aku menyiapkan diri jadi pribadi yang menyenangkan dan percaya diri. Aku yakin pasti nanti ada yang nyangkut dan bisa jadi partner menghadapi kehidupan yang ruwet ini, hehehe....


Elisabeth Glory Victory adalah vlogger sekaligus penulis lepas. Dia bermukim di Surabaya. Follow dia di Instagram.

Tagged:
indonesia
Views My Own
Budaya
Psikologi
Hubungan
Percintaan
Tekanan Sosial
Anak Muda
perkawinan
KDRT
Komitme
Menikah Muda