Merekam Pengakuan Pelaku dan Korban Bully Semasa Sekolah
Ilustrasi bullying oleh Faradella Meilindasari.
Bullying

Merekam Pengakuan Pelaku dan Korban Bully Semasa Sekolah

"Rasanya kaya dikejar-kejar dosa," ujar salah satu pelaku. Kami menemui beberapa pelaku (dan korban) untuk mencari tahu alasan perundungan terjadi di kalangan pelajar Indonesia.
21 Juli 2017, 10:18am

Kala itu hari pertama masuk sekolah dasar. Teman sekelasku, Ali, tiba-tiba muntah di mejanya. Saat itu aku dan teman-temanku tak tahan melihat muntahan itu. Seketika seorang kawanku berteriak, "Muntaber!!!"

Kami pun seketika berlarian keluar kelas, takut tertular muntaber. Sejak saat itu kami selalu berpikir Ali adalah biang penyakit. Seorang teman lain mengompori, "itu nular penyakitnya." Sejak saat itu, hingga naik kelas dua SD, tidak ada satupun dari kami yang mau duduk semeja dengan Ali. Kami ogah makan bersama Ali, menyentuh kulitnya, dan barang-barangnya. Selanjutnya Ali kerap jadi sasaran bercandaan. Dia tidak pernah melawan. Aku membiarkan perilaku kawan-kawan, bahkan ikut merisaknya.

Sekilas tidak banyak orang yang bisa dengan mudah membedakan candaan dan perundungan. Kalimat, "kan cuma bercanda" masih terdengar sampai sekarang, seperti yang diucapkan para pelaku bullying di Universitas Gunadarma saat diinterogasi rektorat. Kasus ini, bersama dengan perisakan pelajar SMP di Thamrin City, menjadi tajuk berita media massa Indonesia sepekan terakhir. Semua orang menjadi moralis, bertanya-tanya kenapa anak muda sekarang senang merisak teman sepermainan.

Padahal, mungkin persoalannya sederhana. Saya mengira tindakan jahat itu lucu. Saya dulu punya pikiran seperti pelaku bullying gunadarma. Semua itu kan cuma bercanda. Nyatanya perlakuan jahat kami terus berlanjut, menciptakan "candaan-candaan" berikutnya yang terkesan intimidatif, dilakukan secara terus menerus, dan hanya menyasar satu orang spesifik. Dalam pengalamanku, orang itu adalah Ali.

Psikolog Tika Bisono menjelaskan perbedaan mendasar antara bercanda (teasing) antar teman dengan bullying. Perbedaan mendasar keduanya menurut Tika tak banyak dipahami anak-anak di usia sekolah.

"Kalau teasing itu enggak menetap dan bisa terjadi sama siapapun bukan orang yang khusus. Sementara bullying ada tujuan dan orangnya yang menjadi sasaran selalu sama dan konsisten." kata Tika Bisono ketika dihubungi VICE Indonesia. "Kalau teasing kan setara. Karena yang di-teased itu bisa balas balik. Kalau bullying itu posisinya tidak horizontal, tapi vertikal, ada yang posisinya di bawah dan di atas."

Dalam berbagai kasus bullying, kuasa yang dimiliki salah satu pihak bisa dalam bentuk status sosial, kondisi ekonomi, hingga fisik. Sialnya, menurut Tika tidak semua orang sadar bahwa dirinya sedang di-bully atau justru aktif sebagai pelaku perundungan.

"Setiap kelompok usia punya fenomena perkembangan tertentu, di mana yang satu butuh pengakuan dan satu lagi butuh respect dari orang lain. Jadi si bullies si bullied masing-masing punya kebutuhan," kata Tika. "Misalnya yang si bullied butuh sense of belonging, dengan cara itu dia bisa diterima di suatu lingkungan. Nah ini yang kemudian berkembang menjadi liar. Satu lagi [si bullies], dia berkembang dari tempat dimana dia neggak pernah dihormati, berarti dia lepas bebas dari penindasan yang dia rasakan selama ini."

Kami ingin tahu lebih mendalam alasan seseorang tega menyasar kawan sepantarannya secara terus menerus dengan tindakan jahat. Tak ada cara lain lebih efektif selain mewawancarai langsung pelaku bullying serta korban mereka. Berikut rekaman pengakuan yang kami peroleh:

Para Pembully

Windriyanti Hawadis

VICE: Kamu dulu benar pernah mem-bully teman sekelas?
Windriyanti: Gue dulu pernah bully orang, karena ikut-ikutan sama klik gue zaman SD. Jadi ceritanya, gue anak baru di sekolah itu pas kelas 5. Kebetulan gue duduk sama sekelompok geng cewek yang saat itu jadi pentolan di SD. Ada seorang cewek namanya Lily yang biasa kami panggil Butet. Dia ini memang sering diolok-olok sama geng cewek kami ini, bahkan sebelum gue pindah ke sekolah ini. Karena gue duduk sama mereka, gue jadi ikutan deh ngolok-ngolok Lily.

Kenapa Lily jadi sasaran?
Dia tuh sering dibully banget kan di kelas, padahal gak ada apa-apa. Misalnya, dengan kami manggil-manggil dia dengan julukan "butet". Gue juga engga paham awal mula dia dipanggil "Butet", padahal Batak juga bukan. Kalau dia dipanggil "Butet" tapi dengan nada niat manggil, dia nengok. Sebaliknya, kalau manggil "Butet" dengan nada olok-olok dia marah.

Masih ingat bully paling parah yang kamu lakukan ke Lily apa?
Pas kelas enam SD, Lily ternyata menstruasi lebih awal dari kami semua. Yang gue ingat, dan paling parah sih kami nge-bully dia "Butet udah mens. Ih Butet udah mens, hih udah dapat mens aja padahal masih kecil."Padahal kalau dipikir-pikir kami semua (yang membully) juga perempuan. Niatnya kami berempat cuma bercanda. Alhasil, waktu di sela-sela pelajaran dia ke kamar mandi dan enggak balik-balik. Eh ternyata dia lagi bersihin pembalut, dan enggak ada pembalut ganti. Pada saat itu, makin lah kami berempat ngecengin dia. Sampai puncaknya, dia enggak masuk seminggu gara-gara malu.

Apa perasaanmu sekarang setelah momen bullying itu lama berlalu?
Konyol. Gue minta maaf banget sama dia, karena dulu waktu masih anak-anak gue berpendapat itu becanda doang. Kalau ditanya sekarang, bahkan sejak SMP juga gue sudah ngerasa tolol aja. Sampai bisa bikin anak orang engga masuk seminggu karena malu. Oiya dia jd makin engga percaya diri. Gue ingat waktu tes olahraga ujian akhir kelas 6, dia tiba-tiba engga mau maju sedikit pun. Entah penyebabnya apa. Ternyata ada yang bilang dia lagi dapet. Untungnya saat itu engga ada yang bully dia. Gue dapet hikmahnya sih, hikmah bahwa engga semua orang psikis dan mentalnya sama kaya diri kita (bullies) a.k.a kuat. Terlebih mental dan perasaan, kita gak pernah tahu apa yang mereka (bullied) rasain walau kita (bullies) bilang cuma bercanda.

Gita

Pas sekolah kamu pernah bully teman?
Iya, dulu pas SMP. Ada anak, kayaknya berkebutuhan khusus gitu. Awalnya gue kasihan ama dia karena enggak punya teman, anaknya juga pendiem.

Terus kenapa kamu malah bully dia?
Maaf banget maaf ya Tuhan, karena mungkin IQ dia kurang (hal ini dilihat dari jawaban dia pas pelajaran dan dia juga terlihat susah menyerap pelajaran, dan seringkali enggak ngerti kalau diajak ngomong), jadi dia di mata anak-anak lain terlihat konyol. Cara dia ngobrol, cara dia jalan, yang awalnya gue kasihan, gue malah jadi ikut-ikutan ketawa kayak anak-anak lain.

Ilustrasi oleh Bambang Noer Ramadan

Masih ingat bully dari kamu yang paling parah ke dia?
Ternyata anaknya rada galak dan membela diri karena dia merasa kalau dirinya suka diganggu. Nah tibalah saatnya tiba-tiba gue digalakin, meskipun sebetulnya anaknya pendiem gitu. Gue pun jadi ikut kesel, sejak saat itu, gue bully dia. Karena pas SMP gue termasuk center of attention, jadilah anak-anak ikutan bully juga, sahabat gue yang anak kelas lain juga ikutan neriakin karena dia anak berkebutuhan khusus. Terus gue ingat pernah bikin dia nangis cuma gara-gara rebutan pulpen, karena dia anaknya relative lebih cengeng daripada anak lain seumurannya. Pada saat itu, makin aja gue bikin dia nangis. Parahnya guru enggak marahin gue, dan cenderung membiarkan. Makin aja gue galakin dia. Tapi gue enggak pernah main fisik. Gue tahu dia pasti benci banget sama gue tapi dia enggak bisa ngapa-ngapain.

Apa perasaanmu sekarang sama tindakanmu di masa lalu?
Terakhir gue ketemu dia pas SMA, ternyata dia enggak ngelanjutin SMA. Gue mau nyapa enggak enak, mau minta maaf malu, karena gue tahu dia pasti marah banget sama gue. Itu rasa bersalahnya sampai sekarang, sampai gue mau umur 25 tahun gue enggak bisa lupa. Rasanya kaya dikejar-kejar dosa. Rasa bersalah gue ke dia kadang-kadang muncul gitu. Apalagi pas gue pernah di-bully di suatu kelompok pertemanan, walaupun itu tujuannya buat syarat senioritas dan menempa mental, gue malah makin inget "oh jadi gini jadi orang yang pernah gue bully dulu". Di situ rasa bersalah gue makin muncul. Kalau udah kaya begitu, gue pasrah mau dikatain apa juga, gue anggap buat hukuman diri gue sendiri. Gue ngerasa, ketika gue di-bully, itu karma buat gue. Karma does exist ternyata.

Ocky Kusumawardhani

Kamu pernah nge-bully teman sekolah ya?
Iya, dulu pas kelas 3 SD gue pernah ngeledek teman yang ke sekolah bawa bekal pete. Namanya Dita. Gara-gara itu dia sempat dipanggil 'Dita Pete'.

Kenapa kamu nge-bully orang cuma gara-gara makanan doang?
Buat anak kecil kelas 3 SD yang belum mengerti dan selalu dilarang makan pete sama orangtua kami, gue dan teman-teman gue merasa tabu banget melihat teman seusia kami saat itu makan pete. Terus jadinya kami bully dia.

Masih ingat perlakuan buruk macam apa yang kamu lakukan ke Dita?
Dulu sebetulnya Dita termasuk orang yang cenderung melawan dan membela diri. Tapi justru karena itu dia jadi dijauh dan disebelin sama anak-anak yang lain. Bahkan setelahnya dia jadi sering dijailin sama teman sekelas, dan gue pun malah ikut-ikutan. Bahkan gue pernah nyubit tangannya pakai kuku. Ibunya pernah datang ke sekolah, mengadu ke wali kelas gue. Dan banyak yang kena sidang juga dari guru termasuk gue. Pada saat itu gue lupa gimana ceritanya, pas akhir kelas 3 gue sudah ngobrol dekat sama dia. Gue lupa gimana proses minta maaf dan memaafkannya. Entah masih membekas atau engga, semoga Dita memaafkan.

Apa perasaanmu sekarang sesudah sadar tindakanmu dulu masuk kategori bullying?
Punya circle pertemanan dimana ada geng pas SD-SMP itu berat loh… Lo masalah cuma gegara ciki aja bisa dimusuhin segeng. Kayanya sampai lulus dia diciriin 'Dita pete'.Karena bully itu, dia jadi enggak punya teman dekat sih, bahkan sampai lulus. Untungnya dia enggak jadi pendiam dan terlihat frustasi juga. Asumsi dan sotoynya gue, dia berusaha enggak peduli sekitarnya entah mau jauhin dia atau enggak, karena mau enggak mau dia harus stay di sekolah itu. Kalau ditanya nyesel mah, pas dulu gue tau dia dijauhin gue jadi kasihan dan merasa bersalah. Makanya, seinget gue dulu, gue approached dia sesekali, entah buat basa-basi, atau ngobrol. Mungkin yang paling gue sesali sekarang, gue belum officially minta maaf. Kalau ada kesempatan minta maaf, gue pengen minta maaf.

Para Korban Bully

Muhammad Olga

Kapan kamu dirundung?
Gue waktu SMP jadi sasaran tendangan dan pukulan dalam setahun.

Kenapa?
Alasannya adalah karena secara fisik gue punya tanda lahir dan ketidakinginan gue buat melawan. Jadi mereka melihat gue seperti orang penurut, mungkin di mata mereka gue cupu dan enggak punya keberanian.

Masih ingat hal paling membekas dari bullying yang pernah kamu terima?
Ada, temen gue namanya Jati waktu itu, dia bilang "woy tompel", karena tanda lahir gue. Gue nengok sambil nahan emosi, terus dia bilang, tompel lu ngeselin sambil nendang pake lutut. Gue menghindar malah makin jadi, geng dia dateng dan mojokin gue sambil terus nendang pake lutut, dan nampar. Itu pas kelas 7. Hal lain yang gue ingat saat kampanye jadi ketua OSIS dapat ejekan dari anak-anak yang bully gue, mereka ngerampas flyer kampanye gue dan injek-injek itu depan mata gue.

Masih pas SMP, juga pernah ada LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) gitu dan harus menginap. Pas gue tidur, alat kelamin gue diolesin balsem sama si Jati itu dan jumlahnya banyak banget. Untung pas SMA, gue enggak terima bullying, seenggaknya enggak parah. Tapi ya tetap itu namanya bullying mau parah atau enggak pun. Pas kuliah gue dapat lagi. Itu bikin gue down. Kalau SMA sampe kuliah yang gue dapat seperti hinaan dan dianggap bodoh akibat kecerobohan gue dan kebodohan dalam melakukan sesuatu yang jadi bahan tertawaan dan cap "Olga mah goblok" oleh teman-teman kuliah di lingkaran yang seharusnya paling dekat sama gue.

Dampak bullying seperti apa yang sampai sekarang mempengaruhi hidupmu?
Tekanan ini ngelekat sama gue sampe bulan puasa. Gue sempat niat bunuh diri, udah kena ke mental. Untung ada beberapa teman yang gue percaya bisa bantu dan menyemangati, kalau gue boleh sebut nama mereka, gue berterima kasih banyak untuk Che, Fajar Shohibu, dan Ganda.

Apa yang kamu rasain sekarang? Terutama ke orang-orang ya pernah membully?
Ke beberapa aja masih dendam, tapi gue coba meredam kalau di depan mereka. Enggak ada tuh satupun dari mereka yang minta maaf, tapi akhirnya jadi malas berkomunikasi dan cenderung menghindar.

Apa yang kamu lakukan sekarang untuk mengatasi trauma?
Salah satu cara ngobatin pikiran negatif gue ya kalau lagi enggak ada temen gue buka kamera video dan cerita ke situ. Selain itu ketika masuk lingkungan baru gue lebih hati-hati dan berusaha bentuk image baru. Oh iya sekarang gue aktif di tim suporter sepakbola Ultras Persita, North Legion.

Di situ gue mencoba mencari sesuatu yang bisa buat gue seneng, salah satunya Persita, mungkin banyak orang bilang gue lebay soal Persita, tapi itu yang bikin gue seneng. Gue di stadion cuek, mau teriak atau ngapain ya terserah gue, disana gue sering luapin lewat teriakan yang kenceng, ngatain pemain orang walaupun enggak ada maksud menghina, tapi sebagai pelampiasan gue ke orang yang jahat sama gue.

Debi Astari

Gimana cerita awalnya kamu dulu sampai di-bully?
Awalnya dalam bentuk verbal lama-lama fisik. Waktu SMA beberapa di antara mereka satu ekskul sama gue

Kamu tahu alasan mereka merundung?
Masalah personal sebenarnya engga ada, cuma mereka emang engga suka aja sama gue. Alasannya karena gue dianggap engga menghormati senior, engga nyapa, dianggap engga friendly, padahal karena gue pendiem bukan tipikal yang supel ngajak ngobrol.

Bully semacam apa yang paling membekas?
Dulu gue diserang sendirian. Mereka ngelilingin gue ngomong kasar, nyerang fisik apalagi badan gue dulu cenderung kecil dan kurus, mereka lebih mudah nyerang gue secara fisik. Bahkan mereka sampai bawa-bawa nama orangtua segala, katanya orangtua gue engga ngajarin sopan santun. Pernah juga secara fisik dipojokkin, dijambak, diludahin. Nah itu sama senior, sedangkan kalau sama teman seangkatan suka menusuk di belakang karena saingan. Sampai akhirnya gue juga pernah difitnah, dikeluarin dari suatu forum, dan akhirnya dibawa lagi ke senior buat ditai-taiin lagi.

Adakah dampak bully di masa lalu yang masih membekas?
Dampaknya ya lebih ke dendam sih. Dalam artian gue engga terima, tapi karena satu banding banyak jadi gue enggak bisa se-tough itu ngadepinnya, mental gue kena duluan. Itu bikin gue udah pendiem jd makin diem dan takut lihat 'senior'. Bahkan sampai sekarang dimanapun, gue kadang masih nembokin diri aja dari orang-orang yang levelnya senior bahkan seangkatan, karena kalau gue speak up, jatuhnya gue takut dibenci dan takutnya dijauhin. Jadi gue enggak jadi diri sendiri, bahkan sampai sekarang di tempat kerja. Gue merasa gue sejelek itu, se-loser itu... sampai susah naikin self esteem. Like that was my main issue.

Ketika kamu ingat momen perundungan, apa yang kamu rasakan?
Sekarang gue sama sekali engga judgemental jadi orang. Kayak, gue engga terpengaruh gosip tentang ini itu. Dan dendamnya, gue buktiin gue bisa sukses jadi orang yang jauh di atas apa yang mereka yang dulu menyerang gue.

Vina Bestari

Kapan kamu pertama kali di-bully?
Gue pernah di-bully waktu SD. Gue dituduh punya penyakit menular sama anak-anak cowok di sekolah gue. Gue lupa nama penyakitnya. Akhirnya, karena gue enggak ngomong sama guru, gue dijauhin dan jadi bahan ejekan dan berlanjut terus, mungkin sekitar lebih dari setahun. Akhirnya bully itu dilaporin seorang anak cewek ke wali kelas gue. Enggak ada maaf-maafan dari anak-anak yang bully gue itu. Mereka dihukum sama wali kelas gue. Di rumah juga gue pernah dikata-katain sama kakak gue dan teman-temannya. Mereka bilanv muka gue lebih tua (dari kakak gue). Sehabis kejadian di sekolah awalnya gue masih diam aja, selanjutnya gue engga berani kalau ada di hadapan teman-teman kakak gue. Terakhir, gue ngamuk sampai nangis di depan kakak gue dan ibu. Terus gue baru bilang ibu, bahwa gue pernah di-bully pas SD.

Tahu alasan mereka nge-bully kamu?
Kalau nanya langsung enggak pernah. Soalnya enggak pernah diomongin, dan enggak pernah ketemu lagi. Gue sih menduga karena penampilan gue. Gue terlihat enggak menarik di mata mereka, bau, baju gue lusuh, gitu-gitu deh.

Apa dampak dari bullying yang berbekas sampai sekarang dan mempengaruhi hidupmu?
Sebelumnya atau sampe sekarang bahkan gue jarang banget ngomongin ini.
Gue cerita kayak begini saja deg-degan gitu. Membekas sampe sekarang gue agak kurang bisa sosialisasi sama orang. Sulit untuk ngajak orang temenan karena takut mereka nge-judge gue. Gue takut banget masuk ke lingkungan baru, ketemu orang baru. Kejadian SD itu kan beberapa tahun setelah gue pindah dari Bekasi ke Bandung.

Apa yang kamu rasakan sekarang?
Gue sudah maafin mereka sih. Udah lama malah. Ngelupainnya yang belum. Gue pernah ketemu kok salah satu cowok yang dulu bully gue itu. Dia yang negur gue duluan, gue engga inget dia awalnya. Tapi pas inget yah inget bully-an dia aja hahaha. Tapi dia biasa aja sih. Ga ada yang boleh membenarkan bully-an cuma karena seseorang terlihat "bully-able" (dia berbeda baik secara fisik, mental, ataupun status sosial).

Itu kan jadinya karena seseorang merasa superior dan si bullied dianggap enggak bisa ngapa-ngapain. Mau dianggap "parah" atau "ringannya" sebuah bully, itu tetap bully. Orang kadang menyalahartikan bully sebagai bercanda. Padahal, bercanda itu kan harus dua pihak ketawa, seimbang relasinya. Kalau cuman salah satu, berarti ada yang salah sama candaan itu.