Budaya

Begini Pengalamanku Datang ke Kondangan Batu Kawin Demi Menjaga Kelestarian Alam

Warga desa Girimukti di Majalengka mengumpulkan batu dari berbagai area Ciayumajakuning. Peristiwa batu-batu dijodohkan dan dikawinkan ini punya misi mulia, sekalipun sekilas nyeleneh.

oleh Titah AW; foto oleh Umar Wicaksono
08 Januari 2020, 10:34am

Warga Majalengka berkumpul di sekitar pelaminan batu yang dikawinkan di Desa Girimukti. Semua foto oleh Umar Wicaksono.

Konon musim hujan adalah musim kawin. Hewan-hewan sibuk menemukan pasangan sementara manusia saling mengirim undangan pesta pernikahan. Pemeo itu terbukti benar di Indonesia. Selain rutin kondangan ke acara kawinan teman, saya mendatangi sebuah acara kawinan yang mempelainya adalah batu. Iya, batu yang keras itu. Lengkap dengan undangan yang juga terbuat dari batu yang dipahat. Di acara Festival Budaya Kawin Batu pada 11-12 Desember 2019 lalu, batu-batu dijodohkan dan dikawinkan.

Tajuk acara yang nyeleneh membuat saya berekpektasi menyaksikan sebuah ritual sakral yang melibatkan batu sebagai medium mistis. Ternyata tajuknya mengecoh. Festival Budaya Kawin Batu sesungguhnya acara tahunan yang lebih menonjolkan suguhan kesenian lintas disiplin dari Majalengka, serta edukasi dengan tujuan konservasi lingkungan. Panitianya adalah Padepokan Kirik Nguyuh didukung warga desa Girimukti, yang melangsungkan acara ini secara swadaya.

Padepokan Kirik Nguyuh adalah ruang kreatif didirikan Baron Famousa di desa Girimukti sejak 2012. Hingga kini padepokan ini mendampingi anak muda Majalengka mengembangkan bakat di bidang apapun. Festival ini salah satu acara mereka bersama warga.

Setelah menyusuri jalan beton berkelok dan sesekali menjumpai dedek-dedek pacaran di pojokan semak, tempat acara kawin batu nampak. Di balik tebing batu raksasa di puncak Gunung Tilu yang berada di ketinggian 1.076 mdpl, puluhan orang berkumpul di sepetak tanah lapang terlihat sibuk mempersiapkan acara. Sebuah panggung berdiri beralaskan batu-batu disusun rapi, di sebelahnya sebuah meja kayu diapit jejeran bambu berbalut kain putih didapuk jadi pelaminan mempelai batu.

1578479176136-Hiasan-batu-terpajang-di-banyak-sisi-lokasi-Kawin-batu
Hiasan batu terpajang di berbagai sudut lokasi acara ini.

Kontras dengan kesahajaan itu, tebing batu Gunung Tilu di belakangnya menjulang setinggi kurang lebih 50 meter terlihat atos dan bijaksana. Tebing yang mengingatkan pada adegan film Midsommar ini adalah salah satu dari tiga puncak Gunung Tilu yang berada di desa Girimukti, Kabupaten Majalengka.

Namun ternyata, prosesi kawin batu benar-benar dilangsungkan di hari pertama. Dalam iringan karinding, musik bambu, dan MC berbahasa sunda kental, panitia memanggil perwakilan dari anggota Persekirikan—sebutan jejaring yang dibangun oleh Padepokan Kirik Nguyuh—mencakup kawasan Ciayumajakuning (Cirebon-Indramayu-Majalengka-Kuningan) yang terdiri dari berbagai komunitas, sanggar, hingga pemerintah daerah.

Seremoni perkawinan dilakukan dengan cara masing-masing orang maju dan menyerahkan sebongkah batu dari wilayah mereka untuk ditaruh di pelaminan. Iringan tari dari Sanggar Gulam menandai sahnya batu-batu tersebut jadi sebuah keluarga batu baru.

"Kita itu mengangkat ‘Bhineka Watu Tunggal Ika’, berbeda batu tapi tetap satu jua," ujar Baron, pendiri Padepokan Kirik Nguyuh menjelaskan posisi batu sebagai simbol di acara mereka. Kawin batu merupakan ajakan agar warga kembali guyub meski masing-masing punya ideologi yang berbeda. Ia juga menjelaskan bahwa citra batu jangan hanya dilihat sebagai benda keras saja, tapi juga pada bagaimana material ini bersabar dan mengalami banyak hal dulu sebelum memadat dan kokoh jadi batu. Dalam sambutannya, Hendra Wahid ketua pelaksana juga menuturkan, "Hati-hati terhadap hati yang membatu."

Batu yang jadi pusat acara juga dirayakan sebagai atraksi hasil dari berbagai eksplorasi manusia terhadap alam. Di poster acara, disebutkan akan ada penampilan Asmara Batu, Tarian Batu, Topeng Batu, Musik Batu, Souvenir Batu, Instalasi Batu, Manusia Batu, dan Gamelan Batu. Selain menggelar berbagai pentas seni, penyelenggara berniat mengadakan konservasi dengan menanam bibit pohon di Gunung Tilu Januari 2020.

"Ketika Tuhan menciptakan Bandung, Tuhan lagi tersenyum. Tapi ketika menciptakan Majalengka, Tuhan mungkin sedang buru-buru. Kekayaan alam material apa aja kami punya, tapi raw—mentah semua," Baron terkekeh menunjuk tebing gunung Tilu. "Makanya harus diolah dulu nih."

1578478980186-Lokasi-Kawin-Batu-tapat-di-bawah-gunung-Tilu-yang-menjulang-kokoh
Lokasi kawin batu di bawah Gunung Tilu yang menjulang kokoh.

Salah satu atraksi utama yang mencuri perhatian adalah dirilisnya Gamelan Kyai Sorawatu, sebuah set gamelan yang dibuat dari pipihan batu di Girimukti. Gamelan ini telah dikembangkan Padepokan Kirik Nguyuh sejak 2017 silam dengan bantuan etnomusikolog Abah Asep Nata.

Para nayaga (penabuh) adalah remaja anggota padepokan. Sekilas mengingatkan saya ke marimba batu buatan Sigur Ros di film Heima. Ketika dimainkan dan duet dengan karinding serta musik bambu, suara yang dihasilkan terdengar begitu organik dan baru. Rencananya, Padepokan Kirik Nguyuh akan terus mempopulerkan gamelan batu ini ke berbagai acara.

Kyai Sorawatu bukan satu-satunya instrumen batu yang dimainkan di Festival Budaya Kawin Batu. Simon Berz, musisi eksperimental asal Swiss, menampilkan set musik tektonik menggunakan instrumen lempeng batu vulkanik serta alat elektronik untuk menghasilkan looping dan efek-efek menggema yang renyah dan solid. "Batu yang kumainkan ini adalah batu vulkanik dari Islandia, jadi semoga ada relasi geologis antara batu Islandia dan batu di Gunung Tilu Indonesia ini," ujarnya.

Simon menjelaskan bahwa batu punya potensi musikal yang patut dieksplorasi, bahkan tanpa perlu memanipulasi apapun. "Saya pikir kita harus kerjasama juga dengan geolog, karena batu itu sangat kompleks. Selama ini yang kulakukan hanya mendengar melodi batu, benar-benar asli found object tanpa manipulasi apapun," ungkapnya sumringah.

1578479059772-Simon-memainkan-batu-tektonik-yang-dipadu-dengan-musik-elektronik
Simon memainkan batu tektonik yang dipadukan musik elektronik.

Lantaran diadakan secara swadaya dengan konsep acara yang fleksibel, suasana di acara ini terasa intim. Orang-orang begitu saja duduk lalu ngobrol akrab. Daniel (34), kawan dadakan dari Avonturir Climbing Club menceritakan filosofinya soal batu. "Batu yang diam aja pas kita panjat tebing itu jadi membuat kita seperti sedang melawan diri sendiri, fokus," ujarnya.

Di hari pertama yang bertepatan dengan Hari Gunung Internasional itu, mereka membuka kelas panjat tebing untuk warga. Kelompoknya sejak 2018 telah rutin menjadikan Gunung Tilu tempat latihan mingguan. Ia sendiri mendukung acara kawin batu sebagai usaha konservasi alam. "Supaya ngerti kalau situs ini milik bersama, dinikmati bersama, juga harus dijaga bersama-sama."

Festival Budaya Kawin Batu sudah berlangsung tiga kali. Tersebab judulnya yang nyeleneh, tahun lalu Baron sempat dilaporkan ke polisi oleh ormas lokal karena dugaan ajaran sesat. Meski ia hanya tertawa-tawa saja merespons insiden itu, Baron menyadari bahwa kegiatan pemberdayaan masyarakat seperti ini menantang dan harus dilakukan dalam jangka panjang. Ia bersyukur di tahun ini, pemerintah daerah telah mendukung acara mereka.

Menutup malam pertama, tampil kelompok sintren tarling dari Sanggar Gema Parachiyangan pimpinan Abah Geri. Sintren merupakan hiburan rakyat kuno Majalengka yang terancam punah. Atraksi ini melibatkan seorang perempuan yang diikat dan dikurung lalu berubah wujud jadi Nyai Sintren Widadari ketika keluar. Jika penyanyi dangdut akan memperdahsyat goyangnya ketika disawer, penari sintren akan rubuh pingsan tiap kali badannya tersentuh benda duniawi seperti uang atau selendang.

1578479362757-Sintren-tengah-melangsungkan-atraksi-menyalakan-kertas-koran
Sintren melakoni atraksi di tengah rangkaian festival kawin batu.

Di bawah sinar purnama terakhir di tahun 2019 itu, kesan angker dan purba gunung ini tiba-tiba muncul kembali. Saya sempat mengomentari tekstur tebing batu yang terlihat sangat artistik secara alami, sampai kemudian Baron menimpali dengan fakta menyedihkan. "Tebingnya jadi kayak gitu karena kurun 1992-1993 dulu ditambang pakai dinamit, jadi rusak. Sayang kan batu sebagus ini kalo habis jadi bahan bangun rumah doang," ujarnya kesal.

Situs Gunung Tilu yang dipenuhi bongkahan-bongkahan batu andesit raksasa sendiri merupakan monumen kolektif serta identitas warga Girimukti. Namun, kian hari kepedulian warga terhadap situs ini makin minim. Selain kondang sebagai tempat mencari pesugihan, paling-paling saat ini Gunung Tilu hanya jadi lokasi remaja pacaran. Sejak 2017, Padepokan Kirik Nguyuh telah memberdayakan anak muda di Girimukti menggarap potensi mereka sendiri.

Warga wajib khawatir. Berhembus kabar bahwa kawasan Ciayumajakuning akan jadi poros pembangunan baru di Jawa Barat. Baron tak ingin warga gagap atas perubahan yang akan terjadi itu. "Bukannya gue nggak mau Gunung Tilu jadi kawasan wisata. Tapi yang lebih penting, warga paham identitas mereka dulu, supaya siap.Karena turisme dan pembangunan itu kan akan bawa budaya yang beda yah," tandasnya.

Jika suguhan hari pertama didominasi seni tradisi dan pertunjukan yang ‘kalem’, hari kedua venue jadi gegap gempita. Ratusan anak muda berkumpul di sekitar tebing sejak siang. Band-band dari luar Majalengka tampil. Lair, band asal Jatiwangi yang memainkan instrumen dari tanah dengan sisipan tarling rancak mencuri perhatian. Ika Nasution, sang vokalis yang berdandan ala sintren mengawali perubahan arena leyeh-leyeh di depan panggung jadi ruang joget bersama-sama.

1578479277534-Substreet-menggoyang-muda-mudi-Majalengka
Substreet menghibur peserta festival kawin batu.

"Festival Kawin Batu berhasil ‘mengawinkan’ apa yang tadinya terpecah-belah dan yang terlanjur asyik dalam kalangannya sendiri-sendiri. Dari festival ini kita bisa merasakan Majalengka itu kota yang baik untuk berkomunitas, yang bisa aja beda-beda tujuan tapi jalan bersama," kata Ika Nasution.

Tampilnya Lair sekaligus juga merupakan bentuk dukungan Jatiwangi Art Factory terhadap Padepokan Kirik Nguyuh. Festival Budaya Kawin Batu merupakan rangkaian arisan komunitas se-Ciayumajakuning. Beberapa tahun terakhir ini, puluhan komunitas mandiri berkembang secara swadaya dan sporadis di Majalengka. Hampir setahun penuh terdapat festival-festival kecil yang dibuat dengan sistem saling dukung antar komunitas. Geliat ini juga yang akhirnya menjadikan Majalengka terpilih jadi salah satu Kota Kreatif bidang seni pertunjukan oleh Badan Ekonomi Kreatif awal 2019 lalu.

Gelaran ini dipungkasi secara gegap gempita oleh penampilan Radioska dan Substreet yang mampu menggiring ratusan fans remajanya naik ke puncak gunung dan berjoget bersama. Rambut warna oranye, rambut mohawk, baju dalam warna-warna mencolok, serta arak murahan jadi starter-pack mereka.

Dalam alunan musik ska, ratusan penonton merangsek memadati tanah lapang di puncak gunung itu. Tanpa boleh absen, bendera Slank berkibar di antara penonton yang berjoget sebelum ditutup secara klise tapi manjur oleh lagu “Sepanjang Jalan Kenangan” yang diremiks jadi ska oleh Substreet.

Batu yang kerap dicitrakan sebagai material keras, festival ini justru membalik kesan itu. Sebelum tampil, Simon Berz sempat berkata pada saya, "Ajaibnya, justru dengan material sekeras batu saya bisa membuka hati orang-orang."