Steretotipe Etnis

Mengulik Penyebab Munculnya Istilah Peyoratif Jamet, Kuproy, dan Pembantu Jawa

Peran sinema televisi dan layar lebar membuat stereotip suku Jawa sebagai pekerja informal semakin luas. Media sosial alih-alih melawan, justru melanggengkannya.
29 Mei 2020, 9:15am
arti istilah jamet, kuproy, pembantu jawa berasal dari stima negatif
Lukisan kehidupan perempuan Jawa di Hindia Belanda pada Abad 19 [kiri] via Tropen Museum/Wikimedia Commons/lisensi CC 3.0; screenshot TikTok Madura via akun @Saiiyank

TikTok berhasil membangkitkan istilah lama yang pernah subur di tahun 2010-an: jamet, akronim "Jawa metal" yang dulu pernah dipakai sejajar dengan "alay" untuk menyebut lelaki dewasa (yang disangka) etnis Jawa dan berdandan tidak matching (di mata kelas menengah-atas urban). Namun, istilah yang mengganggu ini jadi semakin mengganggu ketika sekarang disematkan dengan akronim lain: kuproy alias kuli proyek.

Istilah "jamet kuproy" belakangan populer setelah muncul serangkaian video TikTok yang menampilkan pria-pria muda, konon orang Madura, yang berjoget dengan tarian khas memakai iringan lagu Minang “Dindin Badindin”. Lagu ini populer di masyarakat Melayu Sumatra beserta diasporanya untuk mengiringi tari Indang.

Bagaimana cara mengidentifikasi seorang jamet kuproy tak jauh berbeda dengan cara mengenali anak alay tahun 2010-an. Rambut dengan “poni lempar” (yang kadang diwarnai dengan cat terang), baju kedodoran, dan celana pensil.

Bedanya, jamet kuproy yang sekarang bukan cuma harus berambut gondrong, tapi bagian atas rambut itu mesti ditata seperti piramida serta rambut samping diset menutupi kuping. Perbedaan kecil lainnya, seseorang akan dianggap sah menjadi jamet kuproy jika sudah membuat video jogetan seperti di kompilasi berikut.

Kemiripan ini, mau enggak mau, membuat kita ngeh bahwa jamet kuproy cuma lanjutan dari hinaan lawas kepada penganut gaya emo dan Harajuku. Apalagi kami menemukan kesamaan ciri jamet kuproy dengan ciri anak alay yang dirangkum Merdeka pada 2012.

Serupa dengan parsel sekarang jadi hampers, barang seken jadi preloved, di dunia hina-menghina, istilah alay telah diperbarui jamet kuproy. Empat hal menjadi kunci identifikasinya: gaya rambut, gaya pakaian, tempat nongkrong, dan selera musik.

Istilah jamet yang membawa-bawa suku sudah cukup bermasalah, tapi kami masih penasaran, mengapa sekarang ada kuproynya segala? Konon, seorang jamet menjadi jamet kuproy jika kelakuannya seperti kuli proyek. Tapi apa yang dimaksud “seperti kuli proyek ini”?

Video laki-laki berambut “pyramid” di kanan adalah salah satu video jamet kuproy paling ikonik. Sayang, kami enggak berhasil menemukan akun aslinya.

Tampaknya ini karena sejumlah pria yang menarikan “Dindin Badindin” di TikTok adalah kuli proyek atau tukang bangunan beneran. Cirinya, jeans belel yang lusuh serta sweater kebesaran yang memang sering dipakai pekerja bangunan untuk meredam terik matahari.

Misalnya pada akun TikTok Kacong Sakera yang kami temukan dari kompilasi jamet kuproy di YouTube. Dandanan, jogetan, latar-latar videonya di lokasi konstruksi (yang memancing tebakan dia memang bekerja di proyek konstruksi), serta nama se-Madura itu, menggenapi deskripsi kelas menengah di medsos tentang siapa sosok jamet kuproy.

Pelekatan stereotip suku Jawa pada kerja informal bukan baru muncul kemarin-kemarin. Di televisi dan layar lebar, selama puluhan tahun pembantu kerap diperankan oleh sosok Jawa, ditandai dengan medhok dipaksakan yang bikin orang yang betulan Jawa bisa kesal sendiri.

Kata jamet udah ada sejak 2011 ketika orang ini masih ngetwit pakai (((Twitter SMS))).

Soal orang Jawa identik jadi pembantu, penelusuran kami mendapati fakta unik. Emang banyak orang merasa suku Jawa jagonya urusan mengurus rumah tangga. Misalnya dari pengakuan Ruminah, penyalur jasa pekerja ART infal (pengganti) di Jakarta Selatan bernama Yayasan Ibu Gito, bahwa para pengguna jasanya emang lebih menyukai pekerja asal Jawa Tengah dan Jawa Timur dibanding dari daerah lain. Kepada Antaranews, Ruminah sampai kewalahan memenuhi permintaan klien yang pengin “impor” ART dari Jawa. Sayang, ia tidak menjelaskan mengapa kliennya lebih senang sama orang Jawa.

Fenomena ini juga terjadi di Bandung. Di sana, penyalur jasa ART Yayasan Sosial Mekar Cahaya mengakui hal sama. Mereka paling sering mendatangkan ART dari Cilacap, Kebumen, dan Gombong. Sama juga seperti kompetitornya di Jakarta, Mekar Cahaya sampai kelimpungan memenuhi banyaknya permintaan klien.

Ada kemungkinan orang Jawa identik dengan pembantu karena kultur ngenger. Menurut Pengurus Serikat Pekerja Nasional (SPN) Tiasri Wiandani dalam esainya di Konde, ngenger adalah kebiasaan di masyarakat miskin Jawa untuk menitipkan anak kepada kerabat, keluarga besar, atau keluarga lain yang tidak punya ikatan keluarga namun memiliki komitmen membantu anak tersebut.

Ngenger terjadi agar sang anak dari keluarga tak mampu bisa mendapatkan penghidupan dan pendidikan yang layak. Sebagai gantinya, anak tersebut akan bekerja membantu berbagai pekerjaan rumah tangga di tempat ia dititipkan.

Faktor lainnya adalah pergeseran sektor pekerjaan. Sarjana Indonesia sudah lama mengkaji bagaimana desakan industrialisasi ke pedesaan membuat para petani yang kehilangan tanah, atau pekerjaan jika ia seorang buruh, beralih dari sektor agraris ke sektor informal. Jika ia seorang lelaki, umumnya ia akan menjadi pesuruh atau… pekerja bangunan (contohnya bisa dibaca di berita ini). Apabila ia perempuan, ia akan masuk ke sektor informal-domestik di perkotaan Indonesia maupun luar negeri dengan menjadi asisten rumah tangga atau pengasuh anak.

Fenomena ini tidak khas Jawa, melainkan bisa ditemukan di wilayah mana saja tempat pertanian kalah dari industri.

Kalau hendak direnungkan, sebenarnya saling ejek antara orang non-Jawa dan orang Jawa tentang stereotip pekerjaan informal yang identik dengan kemiskinan ini sarat ironi. Kekalahan petani yang membuat mereka harus beralih ke pekerjaan kasar berupah rendah bisa dan telah dialami suku mana pun di Indonesia, termasuk suku “pendatang” seperti Tionghoa, Arab, dan Indo-Eropa.

Tapi sebelum dianggap jadi moralis dan sok politically correct, kami mau bilang bahwa menjadi kekalahan itu sebagai candaan semacam jamet kuproy bisa saja dianggap sebagai mekanisme pertahanan. Ketika orang sudah putus asa, yang bahkan buat orang Jawa pun, meski presiden dan nyaris semua orang paling berkuasa di negeri ini dari masa ke masa didominasi suku Jawa, jurang kelas sosial-ekonomi itu tetap enggak sirna.

Jadi meski sama-sama orang Jawa, ya tetap terjadi orang Jawa pembantu melayani orang Jawa priyayi. Dan apa yang paling mudah dilakukan orang putus asa? Tak lain adalah menertawakan kemalangan dirinya dan nenek moyangnya sendiri. Persis yang dilakukan Willy the Kid. Persis yang dilakukan orang Indonesia Timur dengan mop-mop mereka.

Kecuali untuk jenis orang yang memakai jamet kuproy dan segala varian ejekan merendahkan lainnya untuk menyetop perdebatan.

Orang yang ngomong “Diem lu jamet” sudah pasti brengsek sih di dunia nyata. Enggak ada tafsir lain.