Realness

Pertemanan Jadi Energi Utama di Balik Karya-Karya Orisinal Studio Batu

Perkumpulan seniman Yogyakarta ini menggebrak lewat film pendek yang menang Cannes pada 2016. Studio Batu kini melebarkan sayap: menggarap instalasi seni hingga kolaborasi dengan desainer busana.
24 September 2018, 4:06am
Kru Studio Batu sedang menggelar pameran seni kontemporer di Studio Cemeti Yogyakarta. Foto dari arsip instagram pribadi.

Mereka menyebut satu sama lain sebagai teman, bahkan keluarga. Sama sekali tidak ada tendensi bahwa proyek yang mereka kerjakan dalam bendera Studio Batu terkait dengan seni apapun. Nyatanya memang demikian. Punggawa Studio Batu—sebuah perkumpulan seniman yang bermarkas di Yogyakarta—sangat tidak nyaman menjuluki dirinya kolektif seni, lebih-lebih 'production house'. Apapun dalihnya, fakta membuktikan Studio Batu adalah kolektif yang kini perlahan membangun orisinalitas dan sangat menjanjikan dalam kancah seni, khususnya seni visual dan sinema, di Indonesia.

Studio Batu masih berusia sangat muda. Berawal dari kos-kosan sejak tiap anggotanya sama-sama sekolah di SMA yang sama, anggota Studio Batu selanjutnya menempati ruangan di lantai dua rumah toko (ruko) kecil di Jalan Sosrowijayan, belakang jalan legendaris Malioboro, Kota Yogyakarta. Pencapaian artistik Studio Batu sudah menjangkau benua lain dari ruko tersebut. Contohnya adalah keberhasilan mereka memenangkan penghargaan film pendek terbaik di Festival Film Cannes, Prancis, pada 2016 lalu—ini menjadi catatan sejarah sebagai film Indonesia pertama yang bisa meraih prestasi macam itu.

Karya debut yang membuat reputasi mereka meroket berjudul Prenjak: in the Year of Monkey disutradarai Wregas Bhanuteja, salah satu anggota inti Studio Batu. Jika kita menonton Prenjak, tema yang diangkat memang sangat orisinal. Film itu dalam durasi singkat bisa menuturkan banyak hal mengenai perempuan yang terpaksa mempertontonkan alat vitalnya, dengan bantuan korek kayu, demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Studio Batu tidak mau berhenti. Kini mereka terus memproduksi film-film pendek, seni visual, serta kolaborasi bersama Didiet Maulana, sosok di balik proyek IKAT Indonesia yang ingin menghidupkan lagi keragaman budaya tenun di Tanah Air.

VICE, bersama JD.ID, menilai Studio Batu adalah bakat menjanjikan dalam kancah seni visual Indonesia. Maka, untuk mencari tahu soal proses kelahiran hingga proyek apa yang akan dilakukan kolektif seni ini di masa mendatang, maka kami ngobrol bersama Yohanes Yodi.

Dia salah satu anggota aktif Studio Batu, yang turut membintangi Prenjak. Dari Yodi, kita bisa memperoleh banyak jawaban mengapa prinsip yang tidak biasa dalam proses kerja Studio Batu berujung pada karya-karya sinema maupun bentuk seni lainnya yang mengedepankan orisinalitas.

VICE: Halo Yodi. Apa sih sebetulnya Studio Batu, dan terdiri oleh siapa saja?
Yohanes Yodi: Studio Batu itu komunitas perkumpulan seni. Orang-orang di Studio Batu itu anak-anak muda yang berasal dari disiplin yang berbeda-beda, tapi kumpul bareng untuk menghasilkan karya seni. Bentuknya beda-beda, sih. Kadang dalam bentuk film, kadang performance, kadang seni rupa. Enggak cuma production house tok. Wulang (Pendiri Studio-red) yang kasih nama Studio Batu. Dulu nama kita bukan Studio Batu. Nama kita 'Boim', Bocah imut. Terus diganti Studio Batu biar apa ya? Aku juga lupa. Tapi kayaknya biar lebih keras aja. Lebih garang, hehehe.

Kalau soal urusan produksi, sebenernya apa yang jadi ciri khas karya dari Studio Batu?
Ciri khas kita adalah karya yang dibuat bersama-sama dengan pertemanan dan kekeluargaan yang erat. Wah, ini agak klise sih. Tapi akhirnya karena itu setiap karya yang kami buat sudah disepakati sebagai karya yang tulus. Kalau soal teknis, seperti gaya film_, e_nggak ada yang satu sih. Itu tergantung genre. Pokoknya karyanya harus tulus.

Katanya, tiap anggota Studio Batu itu semua dari disiplin seni yang berbeda. Boleh diceritakan lebih detail bagaimana cara kolaborasinya?
Jadi misalnya saya, aslinya saya dari jurusan arsitektur. Tapi ada juga lainnya yang sarjana seni, dari Institut Kesenian Jakarta seperti Wregas. Wulang, sarjana seni juga, tapi jurusan Desain Komunikasi Visual. Kemudian ada teman kami yang jurusannya sosiologi, ada yang sastra. Pada akhirnya kita melebur jadi satu dan belajar dari satu sama lain, biar ada ide-ide yang dapat mendongkrak karya kesenian kami. Kami jadi dapat saling membangun.

Biasanya kayak gimana metode Studio Batu mencari ide untuk film atau proyek seni?
Seringnya sih, biasanya ada satu individu yang punya ide. Lalu ide itu bakal dirapatkan, supaya kemudian apa yang bakal jadi dari ide itu adalah hasil diskusi kita-kita semua. Tapi kadang kita juga punya ide yang hasil bareng-bareng, bukan idenya satu orang. Kita bikin forum, lalu ngobrol 'kita bikin apa nih?'


Tonton dokumenter VICE mewawancarai Didiet Maulana, sosok pembaharu fashion Indonesia yang memberi sentuhan modern buat produk tenun ikat:


Ide-ide yang kita angkat juga enggak harus ngikutin peraturan, atau tema-tema yang keren. Kadang kita cuma milih cerita yang kita suka, dan berusaha tidak terbawa arus. Walaupun ya kita juga harus melihat pasar, tapi bukan berarti harus ikut arus. Yang membuat kita orisinal ya tadi, kekeluargaan yang erat dan karya-karya yang tulus dari hati. Kata ‘tulus’ tuh sekilas klise banget, tapi beneran, sih. Itu hal penting untuk kami.

Omong-omong, karya penting bagi karir Studio Batu adalah Prenjak: In the Year of Monkey yang menang Cannes pada 2016 untuk kategori film pendek terbaik. Apa sih yang membuat karya kalian itu spesial di antara nominasi-nominasi film pendek lainnya?
Sejujurnya, narasi film itu udah lumayan biasa di Indonesia. Kalau di screening di Yogyakarta, misalnya, pasti orang udah tahu tentang prostitusi gadis korek api. Tapi, cerita yang sangat Indonesia itu, ketika kami angkat ke luar negeri maka pasti ada nilai orisinalitas yang nggak dimiliki film-film lainnya. Kami membahas prostitusi dan tema-tema lainnya yang juga sering dibahas, tapi dengan koteks yang sangat Indonesia. Fenomena yang sangat lokal ini akhirnya menjadi sesuatu yang menarik di mata penonton asing. Film itu menang karena orisinalitas tersebut, walaupun ide itu bukan sepenuhnya asli dari kami. Studio Batu hanya membantu mengangkat isu-isu sosial yang terkait dengan cerita tersebut.

Biasanya ada tema-tema tertentu nggak sih yang Studio Batu selalu ingin bahas?
Tema tema tertentu enggak, sih. Tergantung mood aja. Seperti film Prenjak, itu ide yang tiba-tiba, dan lalu akhirnya kami buat. Yang membuat film juga merasakan bahwa yang kekeluargaan yang erat di Studio Batu itu adalah hal terpenting yang membuat film itu sukses. Kami enggak terlalu memusingkan tema, atau apapun. Yang penting bagi kami itu ya tadi, kekeluargaan dan ketulusan. Nanti pun setelah karya itu selesai akan ada daya tarik tersendiri.

Gimana sih cara Studio Batu menjaga orisinalitas dan identitasnya di tengah begitu banyak kolektif seni lainnya?
Kita lebih fokus gimana caranya kita menjaga pertemanan ini. Selama itu dapat kami jaga, ide-ide orisinal akan selalu keluar dari mulut kami, untuk kami rapatkan bersama agar dapat dipentaskan atau dibuat film. Pada akhirnya, karya itu akan menjadi orisinal dalam caranya sendiri, menurut kami bersama juga. Itu lebih penting untuk kami, memastikan bahwa pertemanan kami utuh dan karya-karya yang jadi itu juga unik menurut kami.

Apakah rekan Studio Batu sudah punya proyek seni yang segera digarap dalam waktu dekat?
Hem, untuk sekarang sih belum ada yang cukup mateng untuk kami sharing. Udah ada beberapa, tapi masih dalam tahap planning.


*Wawancara ini telah disunting agar lebih ringkas

Realness adalah seri video dan wawancara, kolaborasi VICE X JD.ID, untuk mencari sosok asal Indonesia yang berani mengedepankan nilai orisinalitas di bidang profesionalnya masing-masing.