Iklan
Musik Baru

Rayuan Maut Agar Kita Pesimis Menyambut 2018 Dari Kuartet Hardcore Pasuruan

Video musik “Abandon The Truth” dari Deathwords adalah materi split bareng unit groove metal Singapura. Deathwords, asal Pandaan, merupakan unit dark hardcore lokal yang patut kita awasi kiprahnya.

oleh Abdul Manan Rasudi
15 Januari 2018, 8:43am

Foto dari akun instagram Deathwords. Diunggah seizin band.

Deathwords—kuartet dark hardcore Pandaan, Pasuruan, walau lama bermukim di Kota Malang—bukan sekumpulan musisi biasa. Ketika manusia biasa menumpuk sejumlah resolusi tahun baru di bulan Januari, empat pemuda ini secara sadar menyingkirkan optimisme awal tahun dengan merilis video klip untuk single “Abandon The Truth” pada 3 Januari lalu.

Sejatinya, “Abandon The Truth” bukan materi baru. Single ini diambil dari kaset split mereka bareng unit groove metal Singapura, Dante’s Theory, yang dirilis Confuse Records di gelaran Malang Cassette Store Day tahun lalu. Single ini juga menandai pergeseran genre yang dimainkan Deathwords, dari hardcore gelap yang ngebut menuju hardcore gelap lamban, ditambah elemen doom kelewat kental.

Seperti biasa, mendengarkan lagu gelap bernuansa doom—kecuali doom klasik yang nyerempet heavy metal—semacam latihan bersabar. Anda-anda bakal disuguhkan chord sama berulang-ulang, sampai kepala kalian tanpa sadar ikut bergoyang. Pengulangan ini rupanya menjadi konsep utama video “Abandon The Truth.”

Video tersebut mengulang-ulang rekaman sisi-sisi kota Malang—dalam tone hitam putih pekat—dari Perempatan kayutangan (Houtenhand, CBGB-nya Malang cuma selemparan kolor dari sini), Pasar Besar hingga Alun-alun Kota Malang.

Lantas maknanya? "Untuk menggambarkan kejenuhan para personel Deathwords dari hari ke hari," kata Ricky, gitaris Deathwords saat dihubungi VICE.

Bila kalian jeli, rasa-rasanya pengulangan juga bisa ditemukan dalam lirik “Abandon The Truth.” Di satu bagian lagu ini, vokalis Deathwords, Iqbal, berteriak “ego-consuming yourself in tranquility/all poison to eliminate the essence of a fact."

Ini cuma dugaan saya sih. Tapi bila ditaruh dalam konteks lebih luas (mengingat bakal berlangsung ajang pilkada serentak tahun ini), Iqbal rasanya bisa saja mengeluh tentang membanjirnya hoax, sampah yang muncul berulang-ulang, dan berkisar tentang hal yang itu-itu saja dari tahun ke tahun. Indonesia masih tidak akan baik-baik saja, buzzer politik masih menguasai linimasa kalian, dan isu agama masih akan diperdebatkan orang lewat medsos. Jadi, untuk apa kita berusaha optimis menyambut tahun baru?

Simak video di “Abandon The Truth” di awal artikel ini.