Eksorsisme Nyata dan Dekat Dengan Kita

Eksorsisme bukan cuma seperti di film yang terlalu didramatisir. Gereja pun melakukannya demi membebaskan umat dari kuasa jahat, tapi dengan peraturan ketat.

|
Sep 2 2017, 6:25pagi

Ilustrasi oleh Dini Lestari

Pintu kamar Pastor Budi* diketuk petugas keamanan. Sekelompok mahasiswa mendatangi tempatnya tinggal lewat tengah malam. Ada satu kawan mereka kerasukan. "Waktu itu ada dua perempuan dan tiga laki-laki, yang perempuan yang kerasukan," ujarnya. Keempat kawan lain berusaha memegangi perempuan itu, namun korban kerasukan meronta kuat sekali. Saat Budi menemui mereka, atas inisiatif pribadi bukan resmi mewakili gereja, mahasiswi itu masih meronta.

Mahasiswi yang menjadi korban roh jahat itu tiba-tiba memiliki tenaga tidak manusiawi. Dia mampu melemparkan orang-orang yang memeganginya. "Dalam pelayanan saya sebagai imam dan berkaitan dengan dunia roh, itu paling kuat, paling nyata," kata Pastor Budi.

Eksorsisme, alias pengusiran roh jahat, adalah sebuah ritual Gereja Katolik yang cukup sering diperlihatkan film-film horor produksi Hollywood. Beberapa film yang menampilkan elemen pengusiran setan di antaranya The Excorsist, The Excorsism of Emily Rose, atau The Conjuring. Industri perfilman Hollywood memandang Eksorsisme sebagai komoditas yang menarik banyak penggemar film genre horor.

Kata 'eksorsisme' pada dasarnya adalah stilah Gereja Katolik yang berasal dari bahasa Yunani, exorkizo. Artinya "mengikat dengan sumpah." Dalam kepercayaan Katolik, ritual eksorsisme dicontohkan langsung oleh Yesus Kristus yang sering melakukan pengusiran roh jahat semasa hidupnya. Yesus lantas menisbatkan kekuatan tersebut kepada murid-murid-Nya untuk melakukan ritual serupa.

Siapa sangka, eksorsisme sungguhan masih dijalankan sampai sekarang. Termasuk di Indonesia. Tentu saja, ritual yang dijalankan gereja Katolik mengusir roh jahat jauh berbeda dari penggambaran Hollywood. Ritual eksorsisme yang diperlihatkan di film-film produksi Amerika Serikat itu banyak ditambahi 'bumbu-bumbu penyedap' agar dapat menghibur penonton dan terlalu didramatisir.

Pastor Budi merupakan salah satu dari sekian pemuka agama Katolik di Indonesia yang mempelajari ilmu tersebut secara mendalam. Ketika saya mengutarakan niat menemuinya, beberapa pengurus gereja tampak jatuh iba pada saya. Belum sempat saya menjelaskan lebih lanjut kalau niatnya adalah wawancara. Sebagian frater langsung saja berkesimpulan kalau saya mengalami gangguan mahluk halus.

Untunglah Pastor Budi bersedia menceritakan pelayanannya yang tak banyak orang tahu itu. Dia terpanggil mendalami pengusiran roh berkat pelatihan lebih dari satu dekade lalu. Dia mengikuti seminar dan retret mengenai Eksorsisme oleh Pastor Jose Francisco C. Syquia, eksorsis dari Keuskupan Manila, Filipina, yang sedang melawat ke Indonesia.

"Kebetulan Tuhan menuntun saya mengikuti retret dua kali, pertama diadakan di Lembang, saya sudah merasa terbuka [secara spiritual]," ujarnya. "Beberapa tahun kemudian, diadakan lagi di Jakarta. Saya ikut dua kali. Jadi lebih luas lagi pandangannya, paling tidak secara pemahaman. Dalam praktik sih ternyata berguna juga."

Menurut Pastor Budi eksorsisme kerap disalahpahami gara-gara industri film Hollywood, baik secara konsep dan penerapan. "Ada banyak ketidaktahuan tentang ini, banyak kekaburan tentang konsep, tentang pandangan yang diajarkan Gereja. Kita dibombardir oleh film, tetapi yang bener kita bisa jadi enggak ngerti," ungkapnya.


Baca juga:



Dalam film-film produksi Hollywood, eksorsisme selalu digambarkan sebagai pertempuran antara sang eksorsis dengan roh jahat. Padahal, konsep dasar eksorsisme Gereja Katolik adalah berdoa. Jadi, menurut Pastor Budi tugas seorang eksorsis adalah berdoa kepada Tuhan, memohon agar kuasa-Nya membebaskan sang korban dari roh jahat. Eksorsis tidak terlibat pertempuran spiritual langsung melawan roh jahat. Sebab eksorsis tidak ada 'urusan personal' dengan roh jahat yang mengganggu korban.

Lewat retret dan seminar yang dulu dia ikuti, Pastor Budi menyadari di Indonesia keberadaan eksorsis masih sangat jarang. Yang dilakukan olehnya ini bahkan belum sampai tahap eksorsisme resmi, melainkan ritual doa pembebasan (Deliverance). "Eksorsisme itu yang ditunjuk dan mendapat kuasa dari uskup, tetapi kalau deliverance itu semua imam bisa melakukannya. Nah, orang sering mencampurkan dua itu," ungkapnya.

Pastor Budi mengatakan perbedaan terbesar antara eksorsisme dan doa pembebasan terletak pada kuasa yang menyertai pastor saat melawan roh jahat. Kuasa yang menyertai eksorsis berasal dari keuskupan tempat pastor tersebut berkarya. Karena formal, pastor harus mengenakan jubah pastoralnya beserta seluruh simbol-simbol Gereja Katolik ketika melakukan eksorsisme. Sedangkan dalam Doa Pembebasan, kuasa yang menyertai seorang pastor adalah pribadinya sendiri, sehingga dalam penerapannya seorang pastor boleh saja tidak mengenakan jubah pastoralnya, hanya mengenakan pakaian seperti biasa.

Mengenai doa-doa dan tata cara pelaksanaannya, Pastor Budi mengatakan antara Eksorsisme dan Doa Pembebasan tidak ada perbedaan signifikan. Dia mengatakan bahasa yang paling efektif digunakan selama ritual berlangsung adalah bahasa Latin. Bukan karena kesaktian dan kekuatan yang ada dalam perbendaharaan kata atau tata bahasanya. Status Bahasa Latin sebagai bahasa kuno bisa memberikan tanda yang cukup menyakinkan, apakah korban benar-benar dirasuki roh jahat atau tidak.

"Kalau saya pakai bahasa Indonesia, kamu bisa pura-pura paham. Kalau saya pakai bahasa Inggris, kan kamu masih bisa ngerti. Tapi kalau pakai bahasa Latin, hampir tidak mungkin orang ngerti. Itu bahasa kuno dan mati, jadi lebih efektif dalam arti seperti itu," kata Pastor Budi.

Ada juga anda-tanda lain yang menguatkan indikasi seseorang terpengaruh roh jahat. Misalnya perubahan suara, meningkatnya kekuatan fisik, bola mata yang terbalik, mengetahui masa lalu seseorang tanpa mengenal orang tersebut, hingga dapat berbicara bahasa kuno (bahasa Latin atau bahasa Aramaik) dengan lancar dengan tata bahasa benar.

Ada alasan eksorsisme tak banyak dilakukan. Sebab Gereja Katolik memang menetapkan aturan-aturan sangat ketat mengenai untuk ritual ini, meliputi aturan untuk memilih seorang eksorsis hingga tata cara pelaksanaannya. Dalam hal memilih seorang eksorsis, sebenarnya secara teknis semua orang yang telah ditahbiskan menjadi pastor dapat melakukan eksorsisme. Namun, karena pastor pun memiliki kekurangan duniawi, maka penunjukan seorang eksorsis hanya boleh dilakukan oleh seorang uskup. Itupun sang uskup harus yakin bahwa pastor yang ditunjuknya benar-benar memiliki kualitas pribadi dan spiritual yang baik.

Biasanya seorang eksorsis tidak bekerja sendirian dalam melakukan ritual eksorsisme. Dia harus bekerja bersama sebuah tim. Lazimnya satu tim eksorsisme terdiri dari eksorsis, seorang psikolog, seorang psikiater, satu dokter umum, dan satu pastor lain. Seorang psikolog dibutuhkan untuk menangani kondisi kejiwaan korban, psikiater dibutuhkan untuk menangani kondisi syaraf (neurologis) korban, dokter umum dibutuhkan bila korban mengalami manifestasi fisik dari roh jahat dan membutuhkan penanganan medis, serta pastor satu lagi dibutuhkan untuk mendukung eksorsisme lewat doa.

Dalam prosedur ritual eksorsisme, Gereja Katolik juga menetapkan peraturan ketat. Gereja tidak mau eksorsisme digunakan secara sembarangan. Seorang eksorsis sebagai pelaku dan seorang uskup sebagai pemberi izin harus yakin bahwa korban yang bermasalah memang dikuasai roh jahat, bukan karena masalah-masalah medis atau kejiwaan.

Prosedur awal seorang eksorsis menyimpulkan seseorang memang dikuasai oleh roh jahat atau tidak, sebenarnya mirip prosedur yang dilakukan dokter. "Seperti dokter mendiagnosis seseorang sakit apa, baru setelah ada kesimpulannya dokter tuh juga nyoba obatnya dikasih dulu. Reaksinya bagaimana, kan gitu. Itu persis seperti cara kerja dokter sebenarnya, diperiksa dulu, lalu dites dengan obat tertentu," ujarnya.

Seorang eksorsis pun akan memperhatikan opening dari orang yang mengaku mendapat gangguan roh jahat. Jiwa manusia ibaratnya adalah benteng. Namun benteng itu berlubang setiap kali manusia melakukan kejahatan. Semakin banyak kita melakukan kejahatan, kuasa jahat semakin mudah menyerang kita.

Sangat mungkin, muncul opening karena kita terikat dengan praktik klenik atau okultisme. Perdukunan membuat roh jahat lebih mudah masuk tubuh. Faktor lainnya kalau orangtua atau leluhur kita terikat pada perjanjian dengan kuasa-kuasa jahat.

"Karena kuasa jahat juga menyerang orang-orang terdekat. Kalau keluargamu ada yang seperti itu, kamu akan lebih rentan kena. Nah, seperti itu yang disebut opening."

Dari bermacam pertemuannya dengan roh yang merasuki tubuh, Pastor Budi mengatakan pengalaman membantu para mahasiswa pada dini hari sekian tahun lalu yang selalu terkenang. Proses pembebasannya memang sangat melelahkan.

Pastor mengajak keempat mahasiswa berdoa dalam posisi bersila, untuk ikut membebaskan kawannya yang kerasukan. Proses doa ini berjalan lama sekali. Sejak tiba tengah malam, barulah setelah hampir subuh si mahasiswi yang mereka doakan kembali sadar seperti sedia kala.

"Dia akhirnya betul-betul terbebaskan."

*Nama narasumber telah diubah atas alasan privasi

More VICE
Vice Channels