Laptop Lebih Tipis dan Ringan Belum Tentu Lebih Bagus

Laptop yang lebih ringan dan tipis, sebuah tren yang dimulai Apple, cenderung mengabaikan kinerja.

|
Jul 25 2018, 12:01siang

Foto: Apple

Selama beberapa hari terakhir, ada protes terhadap MacBook Pro terbaru keluaran Apple, yang menawarkan pilihan prosesor top-end i9, bahwa kinerja laptop tersebut lemah sampai-sampai memanas seiring waktu.

Dimulai oleh sebuah video YouTube Dave Lee, yang mendemonstrasikan bahwa satu-satunya cara untuk mempertahankan kinerja MacBook Pro adalah dengan menyimpannya di dalam kulkas, protes yang bermunculan brutal.

Ribuan komentar pada video tersebut berbunyi, “Wah, kalau laptop ini gak bisa mempertahankan stock speed ya percuma juga,” dan “Apple seharusnya ngasih kulkas sepaket dengan Macbook i9,” tapi realitanya adalah: hal ini umum ditemukan pada laptop, kita hanya mulai lebih sering melihatnya.

Seiring berubahnya ekspektasi kita soal bagaimana kita bekerja dengan komputer, kini semakin populer untuk mencoba melakukan pekerjaan-pekerjaan paling menuntut—seperti me-render video, mengembangkan software, dan main game high-end di laptop. Ini adalah perubahan yang menyenangkan, dan hal-hal yang bisa kita lakukan dengan laptop kini sangat beragam: VR di jalan, me-render video di atas kereta, tapi untuk kegiatan sehari-hari, perubahan ini merusak persepsi kita soal makna ‘kinerja.’

Komputer desktop sudah tak terlalu diminati selama satu dekade terakhir, tapi banyak tugas yang kita lakukan di laptop kita pada dasarnya tidak bisa dibandingkan dengan kemampuan desktop. Masalahnya, hampir selalu, adalah soal panas: laptop kita mudah panas, dan kita tak tahu cara mengatasinya.

Perubahan dari desktop ke laptop boleh jadi salah para perusahaan, dan gerakan ‘kerja dengan alatmu sendiri’ yang dirancang untuk mengirit uang. Alih-alih menyediakan komputer untuk setiap pegawai, para majikan bisa menggunakan laptop yang bisa digunakan di mana-mana—atau bahkan meminta pegawai untuk menggunakan laptopnya sendiri. Di VICE Media, misalnya, sebagian besar pegawai diberikan laptop Apple.

Perusahaan bisa menghemat uang, meja kita tak terlalu penuh, dan kamu merasa senang menggunakan alat itu. Tapi, ini bukan tanpa konsekuensi. Bahkan laptop paling canggih sekalipun tidak bisa memiliki kinerja yang sama dengan komputer desktop.

Upaya untuk membuat laptop yang lebih ringan dan tipis, tren yang dimulai Apple, dan mengganti desktop menjadi laptop sebagai alat utama kita berarti kita mengorbankan kinerja. Dan ini tidak akan berubah dalam waktu dekat.

Ada apa sih?

Thermal throttling tak semata-mata masalah Apple: setiap laptop akan kepanasan pada suatu waktu, tapi apakah panas tersebut dapat dirasakan dengan jelas, tergantung pada sejumlah variabel beragam termasuk faktor bentuk dan kapasitas untuk mendinginkan mesin.

Saat kamu berbelanja laptop, kamu mungkin menyadari bahwa produsen-produsen seperti Apple menggunakan frasa seperti “Turbo Boost” dan “Up to 4.8 GHz” tanpa benar-benar menjelaskan apa artinya. Prosesor 4.8 GHz, yang dikutip Apple untuk Macbook Pro 15 inci, adalah kecepatan prosesor ‘terbaik’ yang hanya bisa dicapai secara singkat saat komputermu memintanya, dengan sejumlah syarat tertentu.

Jadi, kalau kamu memainkan game seperti Fortnite, misalnya, game ini akan meminta prosesor laptop untuk menyediakan kinerja yang lebih cepat, dan prosesor ini akan berupaya untuk meningkatkan frekuensi operasional secara berkala untuk mencapai kinerja maksimum dalam thermal envelope mesin laptop.

Kinerja maksimum itu dibatasi oleh batasan thermal dan daya, dan di sinilah kita menghadapi masalah: laptop-laptop cenderung panas karena mereka lebih tipis, dengan ruang lebih sedikit untuk mengalirkan panas tersebut dengan menggunakan kipas atau heatsinks.

Temperatur tersebut membatasi, dan saat panas tersebut menjalar ke chipsets, Intel menyebutnya “TCC Activation Temperature.” Pengaturan-pengaturan ini tidak bisa diubah dan disembunyikan dari pengguna untuk alasan yang bagus: mereka membingungkan, dan angka-angka yang ditampilkan Turbo Boost terdengar lebih baik kalau kita mengabaikannya. Spesifikasi merinci di ARK, yang mencakup semuanya dari ukuran CPU sampai temperatur maksimum, secara sengaja mengesampingkan metriks ini.

Tergantung tipe laptop yang kamu punya, metriks ini bisa berbeda. Dengan alat-alat seperti HWInfo for Windows, kamu bisa melihat kapan TCC Activation terjadi: pada sebagian besar laptop, ini adalah 80-90 derajat Celsius pada jangka waktu lama. Temperaturnya bisa lebih rendah, yang berarti bahwa mesin laptopmu bekerja lebih lambat saat mulai kepanasan.

Pemilik MacBook Pro bisa menggunakan alat gratis untuk memonitor dan mengurangi, disebut Intel Power Gadget. Linus Tech Tips menggunakan alat ini untuk menemukan alat-alat yang memanas sampai 90 derajat, hanya 20 menit setelah dibuka dari boksnya. Ini mungkin tidak akan terjadi saat kamu browsing, tapi kalau kamu menempatkan mesin ini di bawah tekanan besar bahkan sebentar saja, laptop akan tetap memanas.

Thermal throttling adalah hal lumrah dalam industri laptop, tapi sulit untuk dipahami karena pemasaran Intel yang menyembunyikan angka kecepatan sebuah prosesor di balik “turbo boost” atau “quad core.” 4.2GHz terdengar cepat, dan jelas lebih baik daripada 4.0GHz, tapi saat laptopmu panas terus, itu gak bermakna apa-apa. Apalagi fakta bahwa prosesor hanya “mengupayakan” kecepatan maksimum saat diminta saja.

Dari perspektif pengguna, throttling biasanya terasa seperti ini: pada awalnya, mesinmu akan berjalan dengan sangat cepat, tapi semakin lama kamu melakukan pekerjaan dengan laptopmu, temperaturnya semakin panas. Saat mesin sudah mencapai temperatur yang melewati TCASE, laptop akan mulai throttling dan games semakin sulit dimainkan dengan kinerja yang sama, atau me-render video akan memakan waktu lebih lama.

Ini adalah alasan laptop untuk main game terlihat sangat besar: mereka besar supaya ada ruang untuk hardware yang membantu proses pendinginan. Bahkan laptop untuk main game yang ringan dan tipis tidak masuk akal, karena hardware yang fokus pada kinerja membutuhkan aliran udara sebanyak mungkin.

Kebelet pengin tetep tipis

Nafsu Apple untuk bikin piranti yang tipis—bisa dilihat jejaknya di iPhone dan Macbook, sepertinya sudah jadi senjata makan tuan. Hardware baru keluaran Apple memang produk terkuat mereka, namun desain bentuknyalah yang menghalangi piranti tersebut mencapai kinerja maksimalnya. Gampangnya, desain Apple yang dipuja-puja itu justru jadi biang keladi masalah kelebihan panas pada laptop.

Pembedahan yang dilakukan oleh IFixit terhadap MacBook Pro keluaran 2018 memperjelas apa yang salah pada produk Apple satu ini: setiap jengkal rangka Macbook Pro dijejali dengan hardware. Celakanya, hardware-hardware ini hanya didinginkan dengan sejumlah kipas dan heatsink makin ke sini makin mungil saja bentuknya. Memang, sistem pendingin yang dimiliki Macbook Pro cukup menjaga laptop tetap dingin saat menjalankan fungsi-fungsi dan program standarnya. Sayangnya, begitu pengguna menjalankan program berat macam Blender 3D dan Xcode, mesin laptop cenderung cepat memanas dan kinerjanya menurun.

Kecuali membuat Macbook lebih tebal—opsi yang seperti tak mungkin dilirik Apple—nyaris tak ada opsi lain untuk membereskan masalah panas ini. Lagipula, ini pertama kali Apple bikin gawai yang gampang panas. Setelah tutup mulut selama bertahun-tahun, akhirnya pada 2017, Apple mengakui bahwa perkembangan Mac Pro kelas atas stagnan, “karena kami mendesainnya menjadi piranti yang gampang panas, kira-kira begitulah..”

Pada laptop dengan berat dan kelas kinerja yang sama dengan MacBook 2018, seperti Dell XPS 15, pelepasan panas berlangsung dengan lebih baik karena tersedianya ruang dalam chasis—meski ujung-ujungnya mesinnya mengalami masalah panas yang sama.

Karena MacBook baru didesain setipis mungkin, tak ada ruang untuk mengalirkan panas. Selain itu, kipas bawaan yang disediakan Apple juga tak banyak membantu proses pelepasan panas. Imbasnya, temperatur laptop melonjak dengan cepat karena panas tak bisa didorong ke luar.

Beberapa pemilik laptop memanfaatkan aplikasi seperti ThrottleStop untuk menurunkan voltase CPU, mengurangi panas dan menggenjot kinerja dari laptop-laptop ini. Masalahnya, bukan itu perkaranya. Pengguna awam tak punya waktu untuk melakukannya. Masalah batasan panas ini seharusnya sudah kita ketahui sebelum memutuskan membeli laptop.

Masalahnya bukan thermal throttling

Meski pelaku pemasaran industri laptop harus buka kartu tentang masalah ini, thermal throttling sebenarnya bukan masalah sesungguhnya. Yang jadi masalah ekspektasi para pengguna laptop pro. Mulai dari para developer hingga videografer, kita semua memaksa laptop yang kian hari kian tipis untuk mengimbangi workflow yang makin menggila. Padahal, workflow tersebut lebih bisa diakomodasi oleh komputer desktop. Perkaranya, pengguna pro jumlahnya sedikit tapi suaranya lantang. Kebutuhan mereka sangat spesifik dan sepertinya, sampai kiamat, mereka tak akan puas.

Komputer desktop sudah ketinggalan zaman begitu konsumer beralih ke tablet dan ponsel pintar. Alhasil, kita makin merasa kurang nyaman jika punya banyak gawai untuk di-sync. Pun, punya CPU segede gaban di bawah meja juga terasa absurd lantaran kita punya komputer super yang bisa dengan mudah kita kantongi, jadi kenapa laptop tak dibuat setipis dan sepraktis ponsel pintar dalam saku kantong kita? Bagi pengguna Windows dan Linux, membangun komputer yang kuat bisa dilakukan dengan merakit sendiri komponennya. Biayanya biasanya bisa ditekan. Keistimewaan macam ini tak bisa dinikmati pengguna Mac. mereka cuma bisa pasrah pada spesifikasi keluaran Apple.

Sekarang Apple tak lagi membikin laptop untuk kalangan pro belaka. Laptop Apple kini adalah paket all-in-one yang dijual untuk pengguna umum, bukan kalangan pro. Imbasnya, kita menggunakan piranti Apple adalah efek samping dari kesuksesan Apple memasarkan produknya. Padahal, pada kenyataannya, laptop Apple bukan lagi mesin terbaik untuk melakukan pekerjaan tertentu.

Pergeseran ini merugikan konsumen Apple yang paling banyak menuntut karena mereka tak diberi banyak opsi dengan makin sedikitnya produk Mac Desktop. Lantas, karena tak ada perombakan berarti pada Mac Pro, satu-satunya solusi high end yang tak akan terganggu oleh masalah thermal throttling adalah iMac Pro, yang dibanderol dengan harga selangit.

Kalau boleh jujur, sejatinya ada cara lain untuk mengakali masalah panas ini: bikin laptop yang lebih besar.

Jika pengguna pro benar-benar jadi target utamanya, Apple sebenarnya bisa mendesain ulang laptop-laptopnya memakai badan MacBook pro 2015 yang lebih tebal. Makin tebal badan laptop, makin banyak pula ruang yang tersedia. Ini, diiringi perbaikan desain processor, bisa jadi pemecahan masalah panas dan salah satu cara untuk meningkatkan kinerja laptop—sayangnya, ini tak pernah terjadi, Bagi Apple, mengeluarkan kembali laptop-laptop yang lebih tebal sama saja seperti mengakui kegagalan.

Laptop yang lebih ringan dan tipis memang keren dan jujur saja itu daya tarik utama laptop masa kini. Yang menyebalkan adalah mereka yang menggantungkan diri pada laptop untuk bekerja harus bersedia menelan pil pahit bahwa laptop-laptop keren tak cukup kuat menjadi piranti kerja. Bagi pengguna, laptop yang tipis dan ringan itu boleh saja selama kemampuan hardwarenya bisa mencapai potensi maksimalnya tanpa dipengaruhi panas yang berlebihan. Apple sendiri keukeuh mengatakan bahwa MacBooks baru mereka didesain untuk pengguna pro. Klaim ini memang bukan pepesan kosong. Laptop-laptop baru Apple punya desain hardware terbaik di kelasnya. Yang jadi masalah adalah laptop-laptop baru Apple tak bisa diajak kerja keras bagai kuda.

Intinya, MacBook Pro anyar bukan didesain untuk pengguna pro. Kalau ditilik dari cara-cara marketingnya yang kinclong sih, target utama Apple saat ini adalah para “prosumer” tajir yang tak sadar apalagi peduli penurunan kinerja laptop Apple.

Kecenderungan sudah terbaca sejak pengenalan Touch Bar dan hilangnya SD slot dari produk Apple. Meski dengan “cacat-cacat itu” produk Apple toh tetep habis diborong.

More VICE
VICE Channels