Iklan
Covering Climate Now

Berita Bikin Serba Salah: Jerapah Niger Batal Punah, Tapi Sekarang Jadi Hama Petani

Setidaknya, banyak negara bisa berkaca pada Niger. Negara termiskin ketiga dunia berhasil menyelamatkan jerapah dari kepunahan berkat usaha konservasi serius.

oleh Cassandra Vinograd, Seb Walker, Dan Angad Singh
19 Februari 2019, 8:58am

Jerapah di Niger batal punah berkat usaha konservasi serius

Sepanjang tiga dekade terakhir, 40 persen populasi jerapah di dunia musnah. Di luar dugaan, Niger, negara paling miskin nomor tiga di dunia, berhasil membalik tren negatif ini dan menyelamatkan salah satu subspesies jerapah paling langka di Benua Afrika.

Berkat usaha konservasi di Niger, jerapah-jerapah tak hanya naik populasinya, tapi mulai merepotkan sejumlah petani setempat.

Mulanya, jerapah Afrika Barat pernah menjadi hewan endemik di kawasan yang membentang dari pantai di Senegal hingga Danau Chad pedalaman Afrika Utara. Pada 1996, populasinya menurun drastis hingga menyisakan kurang dari 50 ekor saja. Penyebabnya adalah kekeringan, perburuan liar, dan berkurangnya habitat karena jumlah manusia serta ternak yang berkembang dengan cepat. Jerapah-jerapah yang selamat lalu mendiami kawasan di selatan Niger.

Banyak lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional lantas mendesak Niger untuk menyelamatkan kawanan jerapah tersebut. Menanggapi tekanan ini, Niger mulai mengadopsi sebuah strategi konservasi, menerapkan peraturan ketat untuk menjaga habitat jerapah dan menghukum pelaku perburuan liar dengan denda yang berat. Aturan-aturan baru ini membantu menjaga populasi jerapah dengan pesat (faktor lain yang memungkinkan jerapah-jerapah ini berkembang biak dengan nyaman adalah nihilnya predator di selatan Niger). Saat ini, terdapat lebih dari 600 ekor jerapah di Niger.

Namun, upaya konservasi yang gemilang ini juga mendatangkan sejumlah tantangan baru. Para petani di dekat Ibu Kota Kouré, gusar karena jerapah sering mengacak-acak lahan mereka. Perilaku agresif jerapah disinyalir karena cagar alam tak bisa lagi menampung populasi jerapah yang tumbuh cepat.

Alhasil, para pemandu ekoturisme yang ikut mengelola cagar alam jerapah, seperti Adamou Djogo, menggelar pertemuan dengan penduduk desa setidaknya sebulan sekali. Djogo mendengarkan kekhawatiran para penduduk desa dan di saat yang sama menjelaskan mengapa jerapah begitu penting dalam perkembangan Niger dalam jangka waktu panjang.

"Orang gampang sekali menuding, jerapah itu begitu atau begitu. Yang mereka pikirkan cuma masalah yang diakibatkan hewan itu, bukan nilai lebihnya," kata Djogo saat dihubungi VICE News. "Kami sadar betul jerapah adalah warisan nasional Niger—bahkan warisan bagi masyarakat global."

Bulan Desember 2018, Giraffe Conservation Foundation, bersama pemerintah Niger, memindahkan delapan jerapah ke Cagar Aalama Gadabedji. Pemerintah Niger berharap bisa menciptakan habitat baru jerapah tempat hewan-hewan tersebut bisa berkembang biak tanpa gangguan.

Tonton dokumenter VICE yang menyorot cerita soal jerapah Niger di tautan awal artikel ini.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News

Tagged:
Niger
Vice News Tonight
Berita
Lingkungan
Kepunahan
Satwa Langka
Benua Afrika
Jerapah
Konservasi Binatang