Iklan
Fashion

Perjalanan Seorang Fotografer Memotret Produk Bajakan Burberry di Seluruh Dunia

"Berberry" adalah buku kumpulan foto yang sangat unik. Tak ada merk fesyen yang lebih sering dibajak daripada Burberry. Produk tiruan Burberry bisa ditemukan di Thailand, New York, hingga pedesaan Inggris.

oleh Maya Oppenheim
17 September 2018, 9:48am

Semua foto oleh Toby Leigh, diunggah seizin fotografer.

Sejak belia, saya memang lemah terhadap barang-barang Burberry. Syal yang luwes, ikat rambut berpola nova-check sampai tas tangan ukuran anak, semua pernah menghiasi hari-hari. Cuma semua barang itu palsu, bukan asli Burberry.

Saya bukan satu-satunya orang yang pakai barang burberry bajakan. Pasalnya, produk-produk Burberry—dengan motif garis-garisnya—adalah salah satu merek fashion yang paling banyak dipalsukan di planet ini. Produk-produk memakai motif garis krem, hitam, merah dan putih ribuan kali dibajak dan dipalsukan di seluruh penjuru dunia. Tentu saja kondisi ini bikin manajemen Burberry jengkel setengah mati. Alhasil, gengsi produk-produk Burberry bergeser, dari simbol fesyen dan kemewahan kelas atas, menjadi emblem bagi "Chav Couture" dan kultur hooligan sepakbola.

Mulanya, brand yang didirikan oleh Thomas Burberry pada 1856 menjadi simbol bagi keluarga ningrat Inggris. Item Burberry pernah dipakai oleh manusia pertama yang berhasil sampai di kutub selatan dan serdadu Inggris yang ditugaskan di parit-parit (trench) medan Perang Dunia II (dari sinilah istilah “trench coat” berasal). Hemat kata, nyaris sepanjang sejarahnya, imej Burberry lebih dekat dengan kaum gedongan Inggris daripada suporter sepakbola kere.

Lucunya, imej Burberrry mengalami pergeseran drastis. Kini, Burberry identik dengan kultur barang mewah aspal dan kelas pekerja. Serupa dengan nasib brand mewah Italia macam Moschino dan Prada yang “direbut” oleh skena Jungle dan Gagare di London pada dekade ‘90an atau Polo Ralph Lauren yang dibajak oleh geng-geng kelas bawah di Brooklyn, tempat Burberry dalam sejarah fesyen global mengalami apropriasi ulang lantaran versi bajakan brand ini bertebaran di sana-sini.


Burberry mulai diasosiasikan dengan kaum "chavs"—label yang lebih dekat dengan mereka yang memakai barang Burberry daripada kalangan kelas pekerja urban Inggris. Imbasnya, nama Burberry nongol di tempat-tempat yang tak lagi bisa dikaitkan sama kehidupan keluarga ningrat Inggris—seperti sampul ponsel hingga tatakan gelas bir. Anjloknya citra Burberry baru “secara resmi” terjadi saat aktris opera sabun EastEnders Daniella Westbrook tampil dengan mengenakan barang-barang Burberry—dari kepala hingga ujung kaki—plus baju anak dan stroller burberry yang digunakan anaknya.

Tak lama kemudian, merk fesyen garis-garis ini mulai dirongrong oleh barang-barang bajakannya. Dan, sudah bisa diduga, seiring menjamurnya barang-barang Burberry bajakan, penjualan Burberry terjun bebas.

Parahnya lagi, Burberry juga diklaim secara sepihak sebagai salah satu simbol hooligan sepakbola. Akibatnya, produk garis-garis Burberry kerap terlihat di bangku penonton sepakbola. Saking lekatnya imej Burberry dengan hooligan sepakbola, sebuah geng hooligan menamai dirinya "The Burberry Boys". Sudah barang tentu, keputusan untuk mengadopsi Burberry adalah salah bentuk budaya kasual hooligan yang mewajibkan seorang hooligan mengganti jersey klub kesayangannya dengan sportwear mahal dan baju-baju desainer terkemuka. Di sisi lainnya, keputusan ini punya fungsi praktis.

Sembari menggunakan barang-barang Burberry, seorang hooligan bisa selamat dari incaran polisi dan mudah menyusup ke pub geng suporter garis keras lawannya. Sayangnya, pemilik pub segera merespons kecenderungan dengan bekerja sama dengan polisi. Imbasnya, brand besar semacam Stone Island, Lacoste, Aquascutum, Burberry dan Henri Lloyd, secara resmi dilarang masuk beberapa pub di Inggris.

Burberry tak tinggal diam. Mereka segera memutuskan untuk menghentikan produksi barang-barangnya yang berpola garis-garis hitam dan krem. Sudah barang tentu, kebijakan ini tak bisa mengenyahkan produk-produk burberry aspal yang masih banyak beredar di pasaran.

Saking tingginya jumlah dan variasi burberry bajakan ini, seorang seniman bernama Toby Leigh menghabiskan satu dekade terakhir ini memotret berbagai barang-barang bajakan Burberry. Mulai dari kursi roda, kue ulang tahun, tato, troli belanja, tuas mobil hingga satu apartemen yang dicat pola Burberry. Foto-foto jepretan Leigh ini dirangkum buku berjudul Berberry yang berisi 100 foto dan dirilis oleh Ditto Press beberapa waktu lalu.


Tonton wawancara VICE bersama Didiet Maulana yang berusaha memberi sentuhan modern pada kain tenun nusantara:


"Kira-kira sepuluh tahun lalu, saya mulai menemukan pola-pola Burberry di tempat-tempat yang enggak umum," katanya. "Dampaknya besar sekali pada imej Burberry. Barang-barang merk ini tak identik dengan London Barat. Tiba-tiba, semua orang punya barang Burberry dan kita enggak tahu mana yang palsu dan mana yang asli. Kalau dipikir-pikir, barang-barang Burberry aspal ini meruntuhkan batas kelas sosial sih."

Untuk berburu produk Burberry bajakan, Leigh sampai harus melancong ke Thailand, Thailand, New York, San Francisco, Marrakech dan kawasan pinggiran London. "Produk bajakan ini ada di mana-mana," katanya sambil tergelak. "Tiap kali orang di luar Inggris memproduksi produk berpola Burberry, mereka mengasosiasikannya dengan warisan kebudayaan Inggris ketika kondisi negara ini jauh lebih baik."

Sayangnya, Leigh kini kesulitan menambah koleksi fotonya. "Pasokan barang Burberry palsu mulai menurun. Kamu enggak bisa beli lewat internet atau toko penjual baju karena razia gencar yang dilakukan oleh polisi rahasia Burberry. Mereka mengancam akan menyeret para pedagang ini ke pengadilan jika terus menjual produk aspal Burberry."

Pelaku bisnis fesyen kelas atas memang bernafsu mengenyahkan produk-produk aspal yang banyak diburu masyarakat kelas bawah. Tentu saja, tak ada rumah busana lain yang sengotot Burberry. Perusahaan asal Inggris ini bahkan menempuh langkah "rebranding" yang ekstrem. Demi ingin menghapus imej sebagai brand yang paling sering dibajak, Burberry rela meng-endorse model-model dari kalangan ningrat Inggris, seperti Kate Middleton dan Stella Tennant. Berkat foto-foto hitam putih Mario Testino, iklan-iklan yang dibintangi Kate Moss dan Keira Knightley, imej Burberry kini sudah pulih. Kini, kalau kalian masuk satu toko Burberry, kamu tak akan menemukan barang yang dilengkapi nova-check lagi.

Kendati begitu, pola klasik Burberry klasik kembali digemari—layaknya siklus fesyen lainnya. Lantaran page Facebook asal Inggris Wavey Garms, baju desainer vintage berlogo merk ternama ini kembali ngetren. Belakangan produk nova-check Burberry, produk berlogo orisinil Dior—hingga barang-barang Fendi yang bernuansa monokrom—kembali muncul di pasaran.

Singkatnya, sejarah Burberry mungkin pernah coreng, namun sejarah yang penuh warna itu adalahlambang jujur bagi identitas kelas pekerja Inggris. Dan yang paling penting, saat kelas pekerja ini melakukan apropriasi ulang pada merk fesyen terkemuka ini, mereka secara tak langsung mendepak dan mengalahkan para tastemaker di kancah fesyen kelas atas.

Artikel ini pertama kali tayang di i-D