Evolusi

Kisah Burung Beracun di Papua Nugini Membantu Kita Memahami Evolusi Manusia

Mereka mengeluarkan batrachotoxin, racun paling mematikan di dunia, melalui bulunya.

oleh Julian Morgans
12 Februari 2019, 11:41am

Burung pitohui beracun ini jadi satwa legendaris Papua Nugini. Semua foto oleh Jack Dumbacher.

Sianida adalah racun paling terkenal di dunia. Kamar gas Nazi, pil bunuh diri, dan Kool-Aid menggunakan sianida. Dibutuhkan sekitar 500 mg sianida untuk membunuh orang dewasa yang beratnya 70 kilogram. Zat ini sangat beracun, tetapi belum ada apa-apanya dibanding batrachotoxin.

Racun ini dapat ditemukan pada kelenjar kulit katak panah di Amerika Selatan. Batrachotoxin adalah racun paling mematikan. Setiap 0,1 miligramnya (atau setara dengan dua butir garam meja) bisa berakibat fatal. Racunnya akan membuka saluran ion dalam sistem saraf korban dan membuat otot kejang-kejang. 10 menit kemudian, jantung dan paru-paru menjadi rentan.

Selain mematikan, batrachotoxin juga menyadarkan kita betapa sedikitnya pemahaman kita tentang evolusi.

these-birds-from-papua-new-guinea-secrete-one-of-the-worlds-most-deadly-poisons-body-image-1470193631-size_1000

Katak merah beracun di Panama. Gambar via.


Pada 1963, John W Daly adalah apoteker 30 tahun yang bekerja di National Institute of Health (NIH), Amerika Serikat. Layaknya lembaga kesehatan kebanyakan pada masa ini, NIH tertarik pada potensi Amerika Selatan sebagai sumber alkaloid baru. Daly ditugaskan ke Kolombia Barat untuk meneliti katak pohon.

Selama pengamatannya, dia harus menekan katak dan menjilat jarinya untuk menentukan mana yang beracun dan tidak. Lewat cara ini, dia berhasil mengisolasi sebuah racun dan menamakannya batrachotoxin. Istilah ini diambil dari bahasa latin batrachos yang berarti katak.

Daly tidak paham kenapa katak ini bisa beracun. Racun katak Amerika Selatan sangat terkenal sampai-sampai suku asli mengoleskannya ke panah sebelum pergi berburu. Anehnya, katak ini tidak menghasilkan racun sama sekali ketika berada di penangkaran.

Daly berharap bisa memecahkan misterinya dengan mengisolasi zat kimia tersebut. Namun, dia gagal. Butuh 30 tahun bagi orang lain untuk melakukan terobosan. Siapa dia? Seorang spesialis burung yang melakukan observasi dari hutan di belahan dunia lain.

these-birds-from-papua-new-guinea-secrete-one-of-the-worlds-most-deadly-poisons-body-image-1470193698-size_1000

Jack Dumbacher mempelajari pitohui.

Pada 1989, mahasiswa S2 University of Chicago yang bernama Jack Dumbacher sedang mengamati burung cenderawasih di Papua Nugini. Dia berusaha menangkapnya pakai jaring, tapi yang tertangkap selalu burung lain. Burung itu bernama pitohui. “Ada dua atau tiga burung di jaringku. Mereka menggores tanganku ketika saya mengeluarkannya dari jaring,” kenangnya melalui panggilan telepon. “Saya menjilat lukanya dan lidah rasanya langsung tergelitik dan terbakar. Saya berpikir ‘ Duh kenapa saya jilat ya tadi lukanya?

Jack menceritakan insiden ini ke rekan peneliti yang juga pernah mengalami hal serupa. Mereka pun memutuskan untuk melakukan pengujian lebih lanjut. Metode yang mereka gunakan sama seperti Daly. “Kami menangkap seekor, mencabut bulunya dan mengecapnya. Mulutku mulai terasa terbakar,” kata Jack kepadaku. “Dari situ, kami tahu kalau burungnya beracun.”

Kedengarannya memang seperti penemuan penting, tapi faktanya Dumbacher kesulitan mengangkat topiknya ke khalayak umum. Pada tahun berikutnya, ada mahasiswa lain di Chicago yang mencicipi salah satu bulu yang ditemukan Dumbacher. Dia menyerahkannya kepada mentornya, Dr. John Daly, karena terkesan dengan sensasi yang dia rasakan.


Tonton dokumenter VICE mengikuti kegiatan suporter yang menyembah Diego Maradona sebagai Tuhan (beneran nih):


Daly segera mengenali racun burung itu sebagai batrachotoxin, sama seperti yang ada di katak Kolombia. Meskipun kejadiannya aneh, fakta ini juga memvalidasi teori yang telah dia perjuangkan selama bertahun-tahun. Bagaimana bisa dua spesies berbeda yang ada di tempat berbeda bisa memproduksi racun yang sama? Ada kemungkinan bahwa bukan mereka yang membuatnya. Bisa saja mereka mendapatkannya dari hal lain.

Sangat aneh apabila ada spesies yang bisa bertahan hidup setelah memakan sesuatu yang mengandung batrachotoxin, tetapi bukan berarti sama sekali tak mungkin. Mengetahui ada spesies yang bisa memakannya dan menggunakan racun untuk kebutuhan pribadi jelas melampaui logika evolusi.

Hewan biasanya belajar untuk tidak memakan racun. Itulah sebabnya spesies lain memproduksinya. Maka dari itu, tampak sangat mustahil apabila ada burung dan katak yang terus mengonsumsi daun atau jamur yang membunuh induknya untuk waktu yang sangat lama sampai akhirnya mereka bisa menggunakan racun itu.

these-birds-from-papua-new-guinea-secrete-one-of-the-worlds-most-deadly-poisons-body-image-1470194010-size_1000

Avit Wako

Untuk mendapatkan jawabannya, Dumbacher—yang sudah mendapat gelar doktor—melaksanakan beberapa ekspedisi untuk mencari sumber racun. Pada 1995, dia meninggalkan setumpuk peralatan ilmiah di sebuah desa terpencil di Papua Nugini. Tanpa sepengetahuannya, seorang warga bernama Avit Wako terus menggunakan peralatannya setelah dia pergi.

“Saya mengirim mahasiswa magang ke desa itu beberapa tahun kemudian. Avit bilang, ‘ Mantap! Saya sudah menemukan asal racunnya.’” Avit mengiriminya sampel dan spektrometer massa mengonfirmasinya. Seorang penduduk desa yang hanya lulusan SD berhasil menemukan bahwa kumbang adalah sumber batrachotoxin yang terkandung dalam burung.

these-birds-from-papua-new-guinea-secrete-one-of-the-worlds-most-deadly-poisons-body-image-1470194202-size_1000

Racun serangga ini turut diteliti

Kumbang kecil ini berasal dari genus Choresine yang hidup di serangga lain. Namun, menemukan sumber batrachotoxin tetap tidak memberikan mereka jawaban. Seperti yang dijelaskan Dumbacher, semakin banyak pertanyaan yang muncul karenanya.

Pengujian yang dilakukan pada lima jenis burung pitohui beracun di pulau tersebut malah memunculkan satu misteri. “Kami langsung menyadari kalau burung yang lain bukan pitohui,” katanya. “Pada kenyataannya, burung-burung ini telah salah diklasifikasi karena mereka mirip dengan pitohui.”

Tapi, kenapa ada lima varietas burung beracun yang terlihat identik di PNG? Satu-satunya teori yang mereka punya yaitu bahwa beberapa burung telah berevolusi untuk memakan kumbang batrachotoxin, dan dalam prosesnya mereka berevolusi agar terlihat mirip. Namun, tidak ada yang tahu alasannya.

Pada akhirnya, mengejar burung dan katak di hutan tidak membawa ketenaran atau keuntungan bagi Dumbacher. Namun, penemuannya lumayan hebat. Dia menggambarkan rantai makanan di mana kumbang mengisolasi batrachotoxin dari makhluk yang lebih kecil darinya, tungau misalnya, lalu menyalurkannya ke burung dan katak, yang menggunakan toksin tersebut untuk membela diri dari ancaman seperti manusia. Lalu batrachotoxin dikumpulkan manusia dari katak demi memburu makhluk lain. "Ini merupakan kisah kehidupan luar biasa," ujarnya. "Mulai dari racun hingga burung-burung yang indah, semuanya ada."

Ikuti Julian di Twitter.