Kancah Musik

Menyambangi Panggung XT Square, Barometer Kancah Dangdut Yogyakarta

Nyaris setiap hari tanpa libur panggung XT Square mementaskan dangdut. Tempat ini adalah ajang bagi para penyanyi dangdut untuk naik level dan jadi lebih bergengsi. Penampil maupun pengelola percaya dangdut tak selalu lekat dengan penampilan seronok.

oleh Titah AW; foto oleh Umar Wicaksono
11 Mei 2018, 7:14am

Pedangdut Sasha Andezka bernyanyi dan bergoyang mengikuti irama yang dilantukan Orkes Melayu Zarima, di XT Square, Yogyakarta. Semua foto oleh Umar Wicaksono.

Asap bunga es tipis membumbung di panggung. Lampu warna-warni menyorot tubuh sintal seorang perempuan. Memakai mini dress berwarna hitam, ia berdendang dan bergoyang, kadang menghentak kecil mengikuti irama gendang. Sesekali ia maju menuruti ajakan bersalaman dari penonton. Kerlingan dan senyum ia tebar, mencoba peruntungan menambah jumlah saweran.

Di depannya beberapa puluh laki-laki menengadah pasrah, menyerahkan tubuhnya pada irama rancak menggoda. Beberapa lainnya masih mengisi bahan bakar berupa anggur merah atau bir bintang di meja-meja bar sebelum akhirnya bergabung dengan kawan di barisan depan.

Saat itu adalah Selasa malam,grup yang sedang tampil adalah Zarima yang membawakan musik Jandut alias Jathilan (Jaranan) Dangdut. Untuk masuk ke venue indoor tersebut , perempuan tak perlu membayar tiket, hanya laki-laki yang harus beli tiket seharga Rp15 ribu. Tapi sebagai gantinya saya jadi golongan minoritas yang kadang jadi sasaran lirikan ganjil penonton laki-laki.

Dari pukul 9-12 malam, saya menyaksikan 14 penyanyi dangdut beraksi berganti-gantian diiringi satu Orkes Melayu (OM) yang tampil dengan instrumen lengkap standar dangdutan. Penampilan mereka cukup jauh dari ekspektasi saya, tak ada goyangan binal atau seruan seronok yang provokatif. Semuanya bersenang-senang dalam batas yang masih sangat wajar dibanding gelaran dangdut tipikal yang kita kenal. Tak terlalu riuh, cenderung sopan, namun yang pasti, tetap bergelora.

Suasana panggung dangdutan di XT Square. Di hari-hari biasa, lantai tempat bergoyang umumnya lengang. Meski demikian pentas tetap diadakan setiap malam.

Saat ini, gedung Basiyo di XT Square ini jadi rujukan ketika orang mencari pertunjukan dangdut reguler di Yogyakarta. Selama seminggu penuh, grup-grup dangdut bergiliran mengisi panggung. Uniknya, tiap grup menyajikan musik dangdut dengan genre yang berbeda. “Konsepnya di sini itu kayak warung, kita jualan banyak menu," kata Iwan ‘Gilas’, pemilik Republik Iklhas Management (RIM) yang mengelola panggung reguler ini.

Popularitas XT Square sebagai venue dangdut reguler di Yogyakarta muncul sejak Taman Hiburan Rakyat (THR) Purawisata ditutup tahun 2015. Beberapa pegiat memutuskan membuat kancah baru di XT Square. Kemeriahan kancah dangdut di XT Square berhasil dibangun sampai tahun 2017 sebelum akhirnya vakum karena dinyatakan bangkrut. Pertunjukan reguler dangdut baru kembali hidup pada 2 April 2018 lalu. Iwan ‘Gilas’ adalah sosok yang menghidupkan kembali kancah dangdut disini. Saat ini, lewat RIM ia membawahi enam grup musik dangdut, salah satunya adalah Gilas OBB yang merupakan orkes musik dangdut tertua di Yogya.

Sementara itu, suara tawa renyah dan wangi parfum membumbung di ruang rias yang berada di samping panggung. Di ruangan berukuran 3x6 meter yang dilengkapi cermin di sepanjang dinding tersebut, beberapa perempuan muda terlihat bergerombol. Mereka sibuk mencatok rambut, melukis alis, atau memoles gincu, sambil riuh melontarkan guyonan yang kadang seronok. Sesekali, terdengar curhat urusan rumah tangga, atau kasak kusuk soal filler hidung, suntik pemutih kulit, dan perawatan tubuh model terbaru yang cukup ekstrem lain.

Rindy Antika, berbaju hitam, bersiap-siap di ruang rias bersama dengan penyanyi-penyanyi lainnya

“Eh warna stokingmu bedo kui hlo karo gulu, kurang coklat sithik.. (eh warna stokingmu berbeda sama warna kulit lehermu, kurang coklat sedikit...”

“Yo bene, eneke iki kok. Rapopolah ra ketok-ketok banget to? (Ya biarin, adanya ini kok. Nggak apa-apalah, nggak terlalu kelihatan banget."

Si perempuan yang dikomentari warna stokingnya itu adalah Rindy Antika. Salah satu penyanyi dangdut yang saat ini sedang naik daun. Ia bahkan sudah punya fanbase bernama Antikaku (yang bisa diartikan dengan bermain spasi: Antika-ku atau Anti-kaku) yang tersebar di banyak daerah. Seperti penyanyi dangdut XT Square lain, ia bekerja secara freelance pada Republik Iklhas Management. Ia mengaku, dalam seminggu biasanya tampil dua sampai tiga kali di XT Square. Selain itu, ia bebas menerima job manggung di manapun.

Selain bekerja sebagai penyanyi dangdut, perempuan kelahiran 1996 yang bernama asli Rindy Weningsari ini kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan seni drama, tari, dan musik. Saat kami menemuinya di kampus, penampilannya sempat membuat pangling. Jika di panggung ia tak sungkan memakai rok atau gaun mini, di kampus ia mengenakan jilbab tertutup.

“Kalau aku sih supaya rapi aja sih, kalau dibilang ‘di kampus ditutup, di luar dibuka-buka’ ya terserah,” ujarnya. Ia sempat mengeluhkan sulitnya membagi waktu antara panggung dan kuliah. “Aku nyanyi buat kuliah, makanya kalau sampai kuliahnya nggak jalan kan sayang juga. Kalau liburan aku bisa nyanyi tiap hari, kalau lagi ujian kayak gini, kadang aku bingung nolak job-nya gimana,” keluhnya.

Pedangdut Rindy Antika di kampus ISI. Sehari-hari ia mengenakan hijab.

Rindy mengaku, penampilan memang jadi salah satu modal utama sebagai penyanyi dangdut selain kualitas suara, teknik vokal, dan koleksi lagu. Ia sendiri sempat mengalami masa-masa tampil seronok untuk menggaet massa, tapi sekarang ia mengaku sudah mencoba lebih elegan.

“Kayak tahap gitu sih, biasanya penyanyi dangdut baru-baru itu, karena teknik vokalnya belum terlalu bagus makanya mengandalkan goyangan seksi atau baju kebuka-buka biar cepat melejit. Di Yogya ini lagi banyak tuh penyanyi kayak gitu, waton iso (asal bisa) nyanyi dua lagu, goyang seksi, pasti laris,” ceritanya.

Pernyataan ini diamini oleh Sasha Anezka, penyanyi dangdut XT Square lainnya. “Aku dulu kalau nyanyi vulgar gitu, tapi kalau yang nonton makin banyak aku harus membatasi dirilah. Sekarang udah agak mendingan walau belum sopan-sopan banget.” Sasha Anezka juga sudah punya MSMA (My Sasha My Anezka), fanbase yang menurutnya loyal dan royal kepadanya. Keberadaan fanbase penyanyi ini secara tak langsung jadi legitimasi bahwa namanya sudah dikenal publik.

“Jadi sopan itu risikonya kehilangan job lho. Eh say, kamu tampil sopan job-mu berkurang nggak?” ujarnya sambil mencolek Ratna Yolanda, penyanyi yang sedang sibuk menguncir rambut di sebelahnya, Ratna mengangguk setuju. “Penonton laki-laki itu, yang pikirannya positif sama yang rese’ banyak yang rese’. Secara penyanyi dangdut, kami ini mau gimana-gimana tetep dipandang penyanyi dangdut,” lanjut Sasha. Ia sendiri mengakui stereotip negatif pada penyanyi dangdut, namun ia dan kawan-kawannya sepakat bahwa hal itu kembali ke masing-masing orangnya.

“Tergantung orangnya aja sih, ada yang kalau disawer di sini (menunjuk belahan dadanya) malah menikmati, kalau aku sih emoh (nggak mau),” ujar Ratna menimpali. Ratna bercerita bahwa tipe penikmat dangdut yang ia kenal ada dua, mereka yang tahu kualitas vokal penyanyinya, dan gondes-gondes (sebutan untuk penonton alay) yang hanya memburu penampilan seksi penyanyi.

Iwan ‘Gilas’ memang membatasi penampilan para penyanyi yang bekerja pada RIM di XT Square. Konsep yang ingin ia wujudkan adalah mengembalikan pandangan nasional yang berpikir bahwa dangdutnya Yogya itu seronok. “Idealisme nggak mutu saya mengatakan, nggak apa-apa agak sepi, yang penting bisa tampil di sini lima tahun, jadi mereka punya lahan sawah di sini. Daripada buka-bukaan seronok tiba-tiba dikeroyok ormas, malah ngopo...

Rindy Antika di atas panggung

Ia mengaku, walau memperkerjakan penyanyi secara freelance ia tak menjadikan penampilan jadi syarat utama. “Kalau kami yang penting seksi boleh tapi nggak usah pornoaksi. Pornoaksi itu penyakit penyanyi dangdut, karena ada semacam ketakutan kalau nggak kayak gitu nggak laku. Tapi emang ada tuh yang kayak pingin nunjuk-nunjukin, nyoooh.. orang nggak usah kayak bisa tetap laku kok, heran aku,” ujarnya menggebu.

Iwan juga kadang mengaku geli melihat persaingan penyanyi karena maraknya sistem freelance ini. Tak jarang mereka melakukan permak tubuh secara ekstrem. “Parahnya persaingan mereka itu bisa main dukun segala, pasang susuk sana-sini supaya laris,” ceritanya.

Sebulan setelah kancah XT Square dibuka kembali, rata-rata ada 50-150 orang berkunjung setiap hari. Angka yang cukup sedikit dibanding kejayaan Purawisata atau XT Square tahun-tahun lalu. Menurut Iwan, ini karena pertunjukannya belum ada sebulan berjalan lagi dan ia yakin angkanya akan terus naik. Untuk mendongkrak jumlah penonton, sesekali mereka mengundang grup yang sudah populer seperti OM Sagita, OM Sera, atau OM Palapa.

Banyaknya jumlah penonton ini tentu berdampak pada pendapatan penyanyi dangdut. Menurut Iwan, fee penyanyi di XT Square memang sepenuhnya diambil dari uang tiket penonton. Rindy Antika misalnya, untuk sekali tampil di XT Square mengaku hanya mendapat fee antara 25-100 ribu rupiah, “Tapi kan masih dapat tambahan dari saweran atau uang saku dari penggemar,” tambahnya.

Untuk saweran, Iwan ‘Gilas’ selaku koordinator menerapkan sistem bagi hasil 50:50. Jadi misalnya di panggung Rindy dapat saweran 300 ribu, maka ia berhak atas 150 ribu, dan sisa separuhnya dibagi untuk seluruh pemain musik yang jumlahnya rata-rata 8 orang. Sistem ini termasuk menguntungkan penyanyi, “Kalau di OM-OM luar, semua uang sawerannya dibagi rata jadi dapatnya dikit. Kalau di sini, tiap penyanyi bisa dapet banyak,” jelasnya.

Suasana panggung dangdutan di XT Square. Di hari-hari biasa, lantai tempat bergoyang umumnya lengang. Meski demikian pentas tetap diadakan setiap malam.

Tak jauh dari nasib penyanyi, grup pemain musik dangdut yang tampil di XT Square pun kerap harus merugi. “Untuk bayar penyanyi, sekarang ini grup pasti nombok,” ujar Iwan, “Tapi misal ada grup dangdut harus bayar satu juta untuk main di sini, pasti mereka mau. Bener itu, saya nggak bohong.”
Pernyataan Iwan barusan memang tak main-main.

Panggung dangdut XT Square memang diamini sebagai barometer kancah dangdut di Yogyakarta. Barangsiapa sudah pernah beraksi di XT Square, ia mendapat legitimasi sebagai penyanyi atau grup musik yang berkualitas. Niscaya kariernya melonjak di panggung-panggung luar. “Tampil di XT Square itu bukan cuma perkara duit, tapi lebih ke soal gengsi sih. Abis main di sini, penyanyi-penyanyi itu bisa mematok fee lebih tinggi di job luar,” jawab Angga, koordinator grup Zarima yang saya temui di belakang panggung. Rindy Antika, yang rela dibayar tak seberapa di XT Square saat ini berani mematok harga 300-400 ribu untuk sekali bernyanyi di panggung lain. Harga yang cukup tinggi untuk penyanyi dangdut lokal.

Iwan sendiri bercerita bahwa basis massa penonton dangdut di XT Square sudah terbentuk. Tak hanya Rindy yang punya Antikaku atau Sasha dengan MSMA-nya, grup musiknya pun juga punya fanbase sendiri. Zarima misalnya, punya Zarimataram (Zarimania Jl Mataram), Zarimawon (Zarimania Sewon Bantul), Zarimapan (Zarimania Banguntapan Bantul), Zarimabuk (Zarimania Bantul Kota), Zarimata (Zarimania Jakarta), Kaisar (KAI-Zarimania: anggotanya pegawai PT. KAI) dan beberapa lainnya yang cukup solid.

Meski tak terlalu terlihat masif, geliat kancah dangdut lokal di XT Square ini terus berdenyut. Saat ini, meski belum teroganisir dengan baik, para pegiatnya sudah mulai rajin menggunakan sosial media untuk mengunggah poster maupun foto-foto terbaru. Seperti kancah musik lain, Iwan ‘Gilas’ dan kawanannya sedang mencoba memancing regenerasi dan menggandeng para pegiat dan penonton dangdut generasi muda.

“Pokoknya sekarang itu aku pingin bikin XT Square ini sebagai one-stop entertaiment dangdut,” ujar Iwan menjelaskan ambisinya.