Kisah Inspiratif

Orang-Orang Memanggilnya Pendeta Jalanan dari Semarang

Agus Sutikno, sosok pendeta bertato, menyebarkan kasih kepada semua umat lintas agama di sudut-sudut kumuh dan terabaikan, yang tak didatangi siapapun.

oleh Adi Renaldi
06 Desember 2016, 8:43am

Semua foto oleh Iyas Lawrence

Julukannya bermacam-macam, tapi di jejaring sosial ada satu paling kesohor: "Street Preacher". Sang pendeta jalanan. Julukan ini paling menggambarkan sosok Agus Sutikno. Pendeta Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) ini mengabdikan dirinya keluar masuk kampung-kampung kumuh seputaran Kota Semarang, Jawa Tengah. Di ibu kota provinsi dipadati 1,5 juta penduduk itu, Agus menawarkan bantuan kepada orang-orang terpinggirkan sekaligus terabaikan. Pekerja seks, anak jalanan, transperempuan, hingga pecandu narkoba.

Agus lama hidup di jalanan. Dia kabur dari rumah, di Kota Probolinggo, Jawa Timur, setelah berkelahi melawan sang ayah yang sering menyiksa. Agus dulu akrab dengan alkohol, bermacam kekerasan, berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain. Sampai akhirnya, dia terpanggil melayani Tuhan sesudah tersadar dari mabuk. Saat iman itu datang, dia sedang menggelandang dua hari di terminal bus Magelang, Jawa Tengah. Tanpa uang sepeser pun, tanpa keluarga. Nasib lantas mengantarkannya memasuki Sekolah Alkitab di kota yang sama.

Tato memenuhi sekujur tubuh Agus, termasuk di wajah. Rajah-rajah yang didapatkan selama hidup di jalanan dulu, sangat kontras dibandingkan kemeja putih bersih yang dia kenakan saat menemui kami. "Buat apa wawancara?" kata pria berambut panjang dikuncir itu, bertanya pada saya dengan nada datar.

Sang pendeta bertato ini dikelilingi enam anak-anak, kebanyakan masih balita. "Kak Agus...", beberapa anak memanggilnya demikian. Anak-anak itu adalah binaan sang pria bertato. Satu transperempuan, dijuluki Kak Bon, ikut menemani kami.

Saat saya memasuki ruangan 3X4 meter tersebut, anak-anak bebas bermain. Mereka semua anak terlantar karena orang tuanya adalah pekerja seks di Tanggul Indah, kawasan timur Semarang. Dindingnya dihiasi buku-buku pelajaran sekolah. Di satu sudut, saya melihat foto Agus bersama Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

"Saya tak terlalu suka diekspos," kata Agus menjelaskan sambutan kurang ramah saat pertama bertemu. "Sudah banyak stasiun TV mengundang saya tampil. Tapi buat apa?"

Secara fisik Agus tidak tampak seperti pendeta kebanyakan. Tentu karena tubuh dan wajahnya dipenuhi tato. Dandanannya sehari-hari meliputi kaos hitam, celana hitam, rantai, serta sepatu boots selutut. Ada dua pasang boots favoritnya, warna merah dan hitam. Seperti para penyuka hardcore punk. Saya memandangi tato di sekujur tangannya. Saya tertarik menanyakan sejarah masing-masing rajah. "Ini dulu jaman-jaman jahiliyah. Saya sendiri sudah lupa kapan pertama kali ditato," katanya. "Lebih baik engga usah bicara soal masa lalu."

Agus cukup rajin mengkritik praktik gereja-gereja di Indonesia lewat jejaring sosial Facebook. Banyak pendeta, menurutnya, lebih sibuk mendirikan bangunan megah, berebut umat, tapi abai pada kaum papa.

Awalnya agak sulit menemukan Agus. Saya menghubungi empat gereja, dan semuanya tak membuahkan hasil. Tak ada yang mengenali Agus.

Rupanya Agus jarang sekali beraktivitas di gereja. Setelah berkeliling kota Semarang sepagian itu, saya memperoleh informasi Agus lebih sering melayani warga di daerah dekat Banjir Kanal Timur Semarang, yang terkenal sebagai lokasi pelacuran kelas bawah.

Di Tanggul Indah, Agus mendirikan Yayasan Hati Bagi Bangsa, bertempat di sebuah rumah petak mungil. Sudah dua tahun yayasan tersebut beroperasi berkat bantuan banyak donatur.

"Sebenarnya yayasan ini cuma untuk legalitas saja. Sekalian menyediakan tempat untuk anak-anak. Dulu saya belajar dan bermain dengan mereka di pinggir kali," ujarnya. Gaya bicaranya tegas, tak suka basa-basi.

"Tak ada gaji bulanan di sini. Tak ada uang transport. Cuma totalitas saja yang dibutuhkan," kata Agus. "Hampir 14 tahun saya keluar masuk tempat-tempat seperti ini. Tapi saya tidak pernah meminta bantuan apalagi mengajukan proposal. Semua datang dari kesadaran masyarakat. Bahkan gereja pun tidak membantu." Hasilnya Agus bisa menyekolahkan anak-anak asuhnya, anak-anak pekerja seks itu, sampai jenjang pendidikan tingkat atas.

"Sesekali kalau ada uang lebih saya sering mengajak mereka rekreasi. Mereka suka kalau diajak berenang. Akhir tahun ini saya ingin mengajak semua anak di Tanggul Indah berwisata," ujarnya.

Perbedaan Agus dari pendeta lain tak hanya soal penampilan. Wilayah pengabdiannya sangat khas. Daerah operasi Agus bukan cuma dari satu mimbar ke mimbar lain, tapi permukiman kumuh dan pelacuran sekitar kota Semarang. Di kawasan kumuh itu dia memberi pendampingan bagi para pekerja seks, transgender, dan orang-orang pengidap HIV/AIDS. Ketika masuk pertama kali ke Tanggul Indah, nyaris tidak ada lembaga sosial dan aktivis lain bersedia memberi pendampingan. Tingkat kriminalitas di Tanggul Indah sangat tinggi, sehingga membuat gentar orang luar yang hendak masuk. Transperempuan menderita akibat suntik silikon, seperti Kak Bon, termasuk yang pertama kali didampingi Agus.

Dan yang paling membutuhkan uluran tangan adalah para pekerja seks Tanggul Indah yang terjangkit HIV. Semarang adalah penyumbang terbesar angka pengidap HIV/AIDS di Jawa Tengah pada laporan 2015. Tahun ini, kata Agus, ada enam orang meninggal akibat HIV/AIDS di Tanggul Indah, dari total 18 orang yang terinfeksi di kawasan itu.

"Orang-orang ini luput dari perhatian negara karena kebanyakan tak memiliki kartu identitas. Mereka tidak mendapat akses. Saya semua yang mengurus jika harus ke rumah sakit atau mengurus pemakaman," ujarnya.

Sebagai orang yang ditempa kerasnya kehidupan jalanan bertahun-tahun, Agus merasa wajar jika tergerak membantu sesama orang pinggiran. "Ini soal memanusiakan manusia," katanya. "Anak-anak di Tanggul Indah kerap mendapat stigma. Sudah ada label. Cap-cap seperti anak haram lah, anak PSK lah. Saya ingin mengentaskan mereka. Gimana caranya anak-anak ini tidak boleh putus sekolah," ujarnya. Total ada sekitar 100-an anak yang diasuh oleh Agus. Itu belum termasuk para pekerja seks dan transgender yang terus dia dampingi.

Upaya Agus awalnya tak berjalan mulus ketika menginjakkan kaki di Tanggul Indah pertama kali pada 2005. Warga menaruh curiga terhadap niat Agus, seorang pendeta antah berantah yang tiba-tiba mendampingi para pekerja seks dan anak-anak mereka. Tak ada yang dukungan apapun dari warga pada waktu itu. Tudingan sebagai misionaris, di balik upaya Kristenisasi, mudah terlontar begitu seorang pendeta datang mengulurkan tangan. Lambat laun, warga menerima Agus.

"Mayoritas warga di sini muslim. Saya tak membawa niat terselubung. Semua saya lakukan atas dasar kemanusiaan, tanpa melihat agamamu apa, sukumu apa, statusmu apa," tutur Agus dengan logat Jawa Timuran yang kental. Tidak ada anak asuhnya yang dipaksa pindah agama.

Pria kelahiran 17 Agustus 1975 itu sempat ingin menyerah menjalankan tugasnya. Nurani semata yang membuat pria memiliki satu putri ini bertahan di Tanggul Indah. Bersama sang istri, Agus mengajak anak-anak bermain, memberi hadiah-hadiah, serta ikut memberi pelajaran tambahan pada mereka. Mulai dari matematika, IPA, IPS, ataupun kesenian. Pemberian kecil yang sulit didapatkan anak-anak itu dalam hidup sehari-hari

Sikap Agus yang tanpa kompromi, lebih banyak menyentil sesama penganut Kristen. Melalui status-status Facebook-nya, Agus kerap mengkritik kebijakan gereja yang cenderung kaku dan menurutnya tak menyentuh masyarakat bawah. Namun Agus mengaku tidak bermaksud melawan sistem gerejawi yang sudah mapan. Dia tidak pula sepenuhnya anti dengan gemerlap mimbar gereja.

"Di gereja banyak yang bilang saya ini pendeta nyeleneh," Agus menjelaskan pada saya tentang status-status Facebook-nya yang kritis. "Tapi inilah medan pertempuran saya bersama mereka yang terpinggir. Buat apa gembar-gembor soal agama dan nama Tuhan jika kamu tidak mengasihi sesamamu?"