Iklan
Overdosis Susu

Di Beberapa Negara, Muncul Tren Orang Dewasa Minum ASI Demi Kesehatan

Untuk memahami motivasi di balik tren itu, kami merangkum segala fakta yang bikin kalian penasaran soal komersialisasi serta kebiasaan minum ASI oleh orang dewasa.

oleh Alexis Ferenczi; Diterjemahkan oleh Nicola Rose
23 Januari 2018, 11:44am

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES Prancis

Pada 2015, dunia mengetahui keberadaan the Bonyu Bar. Lokasinya sedikit tersembunyi di tengah-tengan Kabukicho yang dianggap sedikit “aneh” oleh Guide du Routard, panduan backpacker Prancis. Di dalam toko yang menjual ASI untuk dikonsumsi orang umum, kita bisa memesan segelas ASI seharga 15 dollar. Dan kita bahkan bisa mengonsumsinya langsung dari payudara salah satu dari tiga “mama” di sana.

Orang-orang yang memiliki fetish susu, tenang dulu: kamu mungkin tidak akan mendapati Bonyu Bar dibuka di kawasan tempat kita tinggal. Konsumsi ASI—yang mana alami bagi bayi namun patut dipertanyakan bagi orang dewasa—menimbulkan beberapa pertanyaan dan kekhawatiran dalam hal ekonomi dan etika, dan di banyak negara (termasuk Prancis), bisnis ASI dilarang oleh hukum. Meski demikian, ada banyak kisah di mana atlet menganggap ASI memiliki khasiat topcer dan berusaha keras mendapatkannya. Kami ngobrol-ngobrol dengan Mathilde Cohen—profesor hukum di University of Connecticut, pakar hukum internasional mengenai ASI, dan penulis buku Human Milk: A Food Like Any Other?—soal segala hal yang terpikirkan oleh kami soal pasar ASI.

MUNCHIES: Halo, Mathilde. Apa yang membuatmu tertarik mendalami tren komersialisasi ASI?
Mathilde Cohen: Saat anak perempuan saya lahir pada 2013, saya sedang tinggal di Brooklyn. Saya berlangganan segala jenis newsletter dan forum untuk orangtua di komplek saya. Di antara iklan-iklan yang saya dapatkan setiap hari, saya terkaget-kaget dengan iklan berisi ibu-ibu muda yang menjual ASI mereka, atau bahkan menawarkannya secara cuma-cuma. Mereka semua menekankan bahwa mereka memiliki “stok berlebih.”

Saya kagum saja dengan iklan-iklan dari keluarga yang mencoba mendapatkan ASI—bisa jadi karena kedua orang tuanya adalah laki-laki, atau orang tua adopsi, atau ibu-ibu yang tidak memproduksi ASI karena kontraindikasi medis, atau mereka yang bisa memproduksi ASI namun tidak cukup. Saya jadi penasaran, dan langsung meneliti status hukum transaksi seperti itu di Amerika dan di Prancis. Saya juga mulai mewawancarai donatur susu, penerima sus, dan perinatal personnel, supaya bisa memahami alasan-alasan ini dengan lebih baik.

Bagaimana hukum di negaramu, Prancis, mengatur konsumsi ASI?
Hukum Prancis tidak mengurus banyak kalau ASI dikonsumsi orang dewasa. Paling aturan yang ada hanya untuk mengatur lactariums [banyak penyimpanan ASI]. Oleh karena itu, kami bisa menganggap penjualan dan pemberian ASI yang sifatnya “orang-ke-orang” dilarang secara implisit jika kita menganggap bahwa susu tersebut adalah produk dari tubuh, sebagaimana darah, organ, sperma, telur, dan lain-lain. Memang, pada Pasal 16-1 di Hukum Perdata [Prancis], dinyatakan bahwa “Tubuh manusia, bagian-bagian dan produknya, tidak bisa dikenakan hukum properti,” yang dapat mengindikasi bahwa ASI tidak bisa dijual atau diberikan dari satu orang ke orang lain tanpa melewati lactarium. Sepengetahuan saya, pada saat ini tidak ada yurisdiksi yang membantah interpretasi ini.

Jadi seperti apa pasar konsumsi ASI di Prancis saat ini?
Saat ini ada dua pasar (sebagaimana di AS). Yang satu bersifat resmi dan legal—yaitu pasar lactarium. Yang satu lagi di bawah tangan dan berpotensi ilegal—yaitu pasar dari orang-ke-orang. Nyatanya, pasar yang pertama merupakan monopoli pemerintah. Sejak 1948, ada badan-badan publik yang bisnisnya berpusat pada mengumpulkan susu dari perempuan yang menyusui. Perempuan-perempuan ini dipilih lewat sebuah kuesioner kesehatan yang cermat dan tes serologis. Lactarium ini kemudian memproses susunya (dengan menggabungkan susu dari beberapa donor, mempastirnya, melakukan tes bakteriologi, dan mengemasnya dalam botol, etc.), lalu mendestribusikannya pada departmen-departemen neonatolog di rumah sakit Prancis.

Lukisan 'Trois femmes au bord de la mer' karya Paul Gauguin (1899) menggambarkan aktivitas ibu.

Pasar yang kedua adalah pasar gelap yang isinya perempuan-perempuan menawarkan susu mereka untuk dijual dan keluarga-keluarga mendapatkan ASI langsung dari donor tanpa perantara lactarium. Pasar ini tidak diregulasi dan beroperasi pada umumnya lewat Internet. Terkadang hal ini juga bisa beroperasi dalam sebuah keluarga (misalnya, dua saudara perempuan sama-sama sedang menyusui; terkadang yang satu memberikan yang lainnya stok susu berlebih miliknya)—atau di kalangan kawan, atau lingkaran sosial yang lebih besar.

Meski tidak diregulasi, pasar ini memiliki regulasinya sendiri. Para donor rela memberikan informasi soal kesehatan mereka (bahkan beberapa di antaranya bersedia menawarkan hasil tes darah mereka, misalnya) dan kebersihan pribadi mereka dan keluarga-keluarga yang mendapatkan ASI dari donor, mempastirnya untuk meminimalisir potensi kontaminasi atau bakteri.

Apakah keberadaan pasar gelap seperti ini menandakan pasokan ASI tidak cukup?
Lactarium di Prancis bekerja dengan sangat baik. Malah bisa dibilang berhasil—dari yang saya ketahui—mempertemukan kebutuhan bayi-bayi prematur dan yang berada di rumah sakit. Mereka bahkan bisa disebut model dalam hal praktik baik dan kemanjuran internasional. Masalahnya—kalaupun ada—adalah kebutuhan ASI lebih dari sekadar untuk bayi-bayi yang masuk rumah sakit. Seperti yang sudah didiskusikan sebelumnya, dalam situasi apapun, keluarga ingin ASI untuk anak-anak mereka.

"Ada permintaan ASI dari konsumen dewasa. Misalnya oleh pasien kanker, atlet, dan orang-orang yang memiliki fetish tertentu."

Tentu ada pula permintaan dari konsumen dewasa. Ada grup yang terdiri dari pasien kanker (dan katanya kandungan imun dalam ASI dianggap bagus untuk melawan efek sekunder kemoterapi dan bahkan memfasilitasi penyembuhan), atlet (ASI dianggap sebagai “minuman pemulihan” yang membantu membangun otot), dan orang-orang dengan fetish (yang menganggap susu sebagai objek erotis).

Oleh karena itu, laktarium tidak meladeni logika semacam itu. Misi mereka adalah untuk mendukung bayi-bayi di rumah sakit, titik. Jadi, pertanyaannya adalah: haruskah kita mereformasi lactarium supaya bisa menyanggupi kebutuhan publik yang lebih besar? Atau, apakah kita perlu menciptakan tim untuk lactarium berbeda untuk menyanggupi permintaan ini? Apakah pasar orang-ke-orang tidak bekerja cukup baik untuk menyerap segala kebutuhan yang berbeda?

Mungkinkah di masa depan ASI bakal diperjualbelikan layaknya produk biasa di toko swalayan?
Situasi sekarang masih jauh dari premis macam itu yang terasa kayak plot fiksi ilmiah. Di AS (tak seperti Prancis), dan beberapa negara lainnya, kamu sudah bisa ke binsis spesifik tertentu untuk membeli ASI. ASI-nya sudah disterilkan, dan dijual dalam kemasan yang mirip dengan kemasan susu sapi. Sekurang-kuragnya empat perusahaat Amerika menjual ASI di situsweb mereka: Prolacta, Medolac, Ambrosia, dan International Milk Bank.

Bisnis seputar ASI tidak pernah transparan mencantumkan harga lewat pasar online, namun menurut beberapa orang, Prolacta misalnya, menjual ASI seharga US$338 per liter. Mengingat bayi di bawah enam bulan mengonsumsi sekitar 650 sampai 900 ml ASI per hari, kita bisa hitung sendiri berapa biaya yang diperlukan untuk beli ASI di pasaran.

Mathilde Cohen mengajar di University of Connecticut School of Law. Dia telah merilis sejumlah artikel soal “Regulating Milk: Women and Cows in France and the United States,” yang bisa kamu baca di sini.

Tagged:
Munchies
lactose
WTF
Así
Sejarah
Menyusui
Susu Ibu
Tren Aneh