The Creators Project

Seniman Jepang Tiga Tahun Lebih Melukis Tsunami Secara Detail

Setelah tiga tahun, tiga bulan, 12 hari, karya Manabu Ikeda bertajuk 'Rebirth' yang berukuran besar ini harus diakui sebagai mahakarya.
08 Januari 2017, 4:25am

Artikel ini pertama kali tayang di The Creators Project.

Lukisan itu tingginya mencapai tiga meter, dengan lebar empat meter. Sebuah gelombang besar dari laut menghantam pohon ceri yang bunga-bunya sedang mekar. Lukisan epik dibuat menggunakan gabungan tinta bolpoin dan cat ini adalah hasil kerja keras seniman Jepang Manabu Ikeda. Judul lukisannya "Rebirth" alias kelahiran kembali. Ikeda sejak lama dikenal sebagai seniman yang bisa menggambarkan satu momen secara detail untuk mengusung simbolisme tertentu. Kali ini, buat menghasilkan "Rebirth", Ikeda butuh waktu lama. Tepatnya tiga tahun, tiga bulan, 12 hari. Karya ini adalah upayanya merespon bencana tsunami yang memicu kebocoran reaktor nuklir di Fukushima pada 2011.

"Yang luar biasa dari Rebirth adalah ukuran dan waktu yang seakan membeku di dalam lukisan itu," kata Kirstin Pires, selaku Direktur Seni Museum Chazen. Museum di Wisconsin, AS, ini menampung Ikeda sebagai seniman residensi selama nyaris empat tahun terakhir. Selama 9.520 jam yang dia habiskan buat melukis, Ikeda sudah merusak 400 bolpoin, menghabiskan 20 botol tinta, dan memenuhi kanvas seluas 12 meter dengan warna.

"Hasil karya Ikeda sebelumnya punya elemen-elemen otobiografis. Sementara untuk lukisan raksasa ini, dia seakan benar-benar menghabiskan energi untuk menceritakan hidupnya selama tiga tahun di sini," kata Pires.

Ikeda, seniman yang punya dua anak perempuan di Jepang, selama menggarap Rebirth mengalami cedera bahu. Cedera yang terjadi akibat jatuh saat main ski pada Januari 2016 itu sempat berpengaruh besar pada gagasan yang muncul di kanvas lukisan raksasanya. Saat dihubungi The Creators Project tahun lalu, Ikeda menceritakan dampak cedera bahunya saat melukis Rebirth. "Tiga bulan pertama setelah saya mengalami cedera, saya tidak bisa menggunakan tangan kanan untuk melukis. Jadi saya bekerja menggunakan tangan kiri. Saya sekarang bisa menggunakan kedua tangan seperti biasa, tapi tangan kanan masih lebih lemah dan sering harus berhenti melukis setelah satu jam. Saya sempat memaksakan diri, karena ketika mengalami cedera itu saya hanya punya tenggat empat bulan untuk menyelesaikan lukisan ini," ujarnya.

Karya Ikeda yang dibuat pada 2008, judulnya Foretoken, terasa seperti peringatan aka terjadi tsunami tiga tahun sesudahnya. Sementara Rebirth memiliki nuansa perenungan setelah bencana itu benar-benar meluluhlantakkan Jepang. Sekilas, yang terlihat dari kanvasnya adalah kekacauan, kereta hancur, puing-puing di kejauhan, serta pengungsi berjubel di tenda-tenda. Namun, jika disimak lebih jauh, ada harapan di sana. Pohon Ceri yang dihantam gelombang itu ukurannya lebih besar dan lebih kokoh, dibanding tsunami. Lukisan ini menjadi cara Ikeda, sebagai seorang ayah, mewariskan optimisme kepada anak-anaknya. Dunia ini, sebagian isinya memang mengerikan. Namun ketika digabung menjadi satu, dunia itu sesungguhnya indah.