Musik

Pertaruhan Rute Baru Efek Rumah Kaca

ERK berusaha menawarkan kemasan berbeda dari ciri khas mereka yang tajam, reflektif, dan penuh kritik sosial lewat EP 'Jalan Enam Tiga'.

oleh Yudhistira Agato
03 Februari 2020, 4:54am

ERK memainkan lagu baru di momen konser peluncuran EP Jalan Enam Tiga di M Bloc Space, Jakarta Selatan. Foto oleh Satrio Bagus P.

Band indie rock Efek Rumah Kaca baru saja merilis EP baru bertajuk Jalan Enam Tiga, di mana mereka mengambil risiko menawarkan warna musik sedikit berbeda dari materi mereka sebelumnya.

Efek Rumah Kaca (ERK) mungkin adalah salah satu band indie rock Indonesia terbaik dan tersukses dalam dua dekade terakhir. Dikenal dengan musiknya yang moody nan sinematik dan lirik yang tajam, reflektif penuh kritik sosial, ERK telah menjadi corong suara bagi generasi muda yang kerap tidak puas dengan keadaan dan menginginkan perubahan. Dua rilisan pertama mereka, Efek Rumah Kaca (2007) dan Kamar Gelap (2008) sudah selayaknya masuk daftar rekaman musik terbaik tanah air sepanjang masa.

Namun harga yang harus dibayar kesuksesan adalah ekspektasi yang tinggi dari pendengar. Ketika Sinestesia (2015) album penuh ketiga mereka dirilis, tidak sedikit yang mempertanyakan arahan musik ERK yang menukar formula sukses lagu 3-5 menit mereka dengan nomor-nomor panjang (lagu terpendek 7 menit 46 detik), dengan balutan berbagai instrumen dan vokal latar yang ramai dan berlapis-lapis. Seiring waktu, komposisi-komposisi panjang ini semakin diterima dan beberapa menjadi bagian dari kanon klasik Efek Rumah Kaca.

Lima tahun kemudian, akhirnya ERK kembali menghasilkan karya baru: sebuah EP yang diberi judul Jalan Enam Tiga, mengacu pada 63rd Street, sebuah jalan di persimpangan jalan utama di Manhattan, New York—yang mulai Mei 2019 diganti menjadi Sesame Street, sebagai penghargaan terhadap program televisi anak-anak berjudul sama. Vokalis Cholil mengatakan bahwa "Jalan Enam Tiga merupakan salah satu penanda kota New York yang memiliki semangat dan nilai-nilai yang baik."

Kota New York memang telah menjadi rumah kedua Cholil dalam lima tahun terakhir, seiring dia dan sang istri Irma melanjutkan studi. Sebelum pulang dan kembali menetap di Indonesia Juli 2019 lalu, Cholil merasa perlu mengabadikan sebuah karya di kota tersebut.

Poppie (bass) dan Akbar (drum) terbang ke New York dan menghabiskan tiga minggu bersama Cholil untuk mengerjakan materi yang hendak direkam. Hasilnya adalah sebuah respons terhadap wilayah dan lingkungan yang mereka tinggali saat itu.

Lagu “Jalan Enam Tiga” bercerita tentang kebebasan berekspresi penduduk New York, tentang pluralisme dan kekayaan berbagai budaya yang bisa ditemukan di sana. "Jalan enam tiga, semua merdeka," begitu senandung Cholil. "Palung Mariana" menyuarakan kepedihan hati yang mendalam dan bagaimana rasa sakit itu tidak akan pernah sepenuhnya pulih. Kedua lagu ini merupakan sumbangsih karya pertama dari Poppie Airil semenjak bergabung dengan ERK di tahun 2017.

Single “Normal Yang Baru,” yang sudah dirilis ke publik semenjak beberapa bulan yang lalu merupakan bentuk kegelisahan Cholil akan sikap tidak acuh kita terhadap hal-hal yang dianggap melenceng, membiarkan hal-hal tersebut menjadi sebuah sesuatu yang dianggap normal dalam masyarakat.

Cholil menjelaskan dalam konferensi pers bahwa ide dari “Normal Yang Baru” muncul dari kebangkitan “white privilege” atau supremasi kulit putih yang muncul di era pemerintahan Donald Trump dan bagaimana banyak kaum minoritas menjadi target pelecehan oleh karenanya. Namun ketika mendengar Cholil memperingatkan, "Kebohongan yang kita diamkan / Bakal jadi pegangan / Karena kita biarkan / Menjadi normal yang baru." Sulit rasanya untuk tidak merasa bahwa lirik tersebut sangat relevan dengan situasi yang tengah menimpa Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi musik pun, Efek Rumah Kaca melakukan beberapa perubahan untuk merespons lingkungan tempat mereka merekam Jalan Enam Tiga. Cholil mengatakan bahwa proses rekaman yang dilakukan di musim panas membuat mood lagu-lagunya menjadi lebih riang dan ceria. “Musiknya lebih terang dan beat-beatnya upbeat," kata Cholil, "Semangat musim panasnya itu yang kerasa di EP ini."

Ini sangat jelas terdengar di “Tiba-Tiba Batu”, sebuah nomor fun dengan riff gitar yang menggelitik dan cocok membuat penonton bergoyang di sebuah festival musik musim panas, dua hal yang biasanya tidak saya asosiasikan dengan musik Efek Rumah Kaca.

Elemen-elemen baru datang dengan penyesuaian dan juga kecemasan. Setelah hasil rekaman selesai, Efek Rumah Kaca sadar mereka masuk ke ranah baru, dan sempat khawatir dengan pilihan musik yang mereka ambil. Cholil mengaku harus beradaptasi dengan identitas baru karena dibanding karya-karya ERK sebelumnya, EP Jalan Enam Tiga “terlalu easy-listening kali ya.” Dia menambahkan, "Duh kok notenya gini ya, kayak pernah denger di mana, kok nadanya catchy-catchy familiar, takutnya pernah dimainin orang."

Dibanding Sinestesia yang padat dan ambisius, Jalan Enam Tiga terkesan simpel dan minimalis, biarpun yang kedua lebih disebabkan karena keterbatasan budget. Lagi-lagi, ERK harus beradaptasi di sini. “Setelah Sinestesia yang bertumpuk-bertumpuk, [Jalan Enam Tiga] cemen banget, isinya cuman drum sama bass aja,” jelas Cholil, “Jadi itu yang kemaren-kemaren kita gak berani, takut terlihat kosong, sekarang belajar melakukan itu.”

Di malam peluncuran Jalan Enam Tiga, Efek Rumah Kaca membawakan 4 lagu baru dari EP tersebut untuk pertama kalinya. Dijepit di antara 2 set berbeda yang berisikan lagu-lagu lama yang sudah akrab dengan penonton, set Jalan Enam Tiga menyuguhkan energi dan sisi band yang lebih kontemporer.

Pasca manggung, Cholil mengatakan dia menikmati pengalaman perdananya membawakan nomor-nomor baru tersebut. "Gue suka, satu hal yang udah lama kita gak lakukan itu rekaman live, jadi mainnya udah beres," ujarnya, "Kalo Sinestesia bikinnya di studio, jadi repot eksekusinya."

Di mana Jalan Enam Tiga duduk dalam katalog besar Efek Rumah Kaca, hanya waktu yang bisa menjawab. Namun fakta bahwa band ini masih bisa menyuguhkan sesuatu yang berbeda setelah bermusik selama hampir dua dekade, bukanlah hal yang mudah. Dan jika mengacu pada pernyataan Cholil, tampaknya mereka tidak akan berhenti melakukan itu.

"Selama kita terus eksperimen, dan orang tetep suka, ya kita eksperimen terus. Jadi selama ini, kita masih merasa eksperimen kita direspons positif," ujar Cholil, "Biarpun yang kecewa ya pasti ada juga, tapi [kita] enggak bisa menyenangkan semua orang."

Tagged:
indie rock
indonesia
Erk
Budaya
Musik Independen
Musik Indonesia
Wawancara Musisi
Efek Rumah Kaca
Cholil Mahmud
Jalan Enam Tiga