Wawancara Musisi

Kamasi Washington Meyakini Video Game dan Jazz Bisa Sama-Sama Spiritual

Ikon jazz kontemporer ini nongkrong bersama VICE sebelum konser di Bali, sembari menyaksikan pertunjukan gamelan. Dia membahas album baru dan rencananya di masa mendatang.

oleh Yudhistira Agato
01 September 2018, 6:00am

Semua foto Kamasi Washington oleh VICE Staff.

Tak semua orang punya kenekatan untuk menulis lagu jazz tentang video game kecuali Kamasi Washington. Lagu itu, “Street Fighter Mas”, adalah salah satu track dari opusnya Heaven and Earth, sebuah album yang memantapkan status Kamasi sebagai wajah dari jazz modern.

Pekan lalu, kami beruntung bisa menonton Kamasi dan bandnya manggung dalam panggung kolaborasi VICE x Potato Head Bali. Dengan berbekal amunisi dari debutnya The Epic, EP Harmony of Difference dan tentu saja Heaven and Earth, Kamasi dan tujuh anggota bandnya memukau penonton. Penonton dihibur jamming demi jamming, hingga solo individu dari setiap anggota bandnya. Puncaknya, Kamasi mengundang ayah sekaligus mentornya, Rickey Washington, ke panggung memainkan dua lagu bersama.

Terpaut beberapa jam saja dari pentas malam itu, VICE berkesempatan ngobrol bareng Kamasi di hotel yang ia tempati. Berperawakan setinggi 2,13 meter, Kamasi adalah sosok yang sangat mencolok. Uniknya, di balik penampilannya yang bak raksasa, Kamasi orang paling santai yang pernah saya wawancarai. Kami akhirnya ngobrol tentang video game, spiritual jazz, dan tentu saja gamelan, yang kebetulan dimainkan sekelompok musisi Bali dari kamar ruang sebelah.

VICE: Kalau lihat videoklip “Street Fighter Mas” sih, kayaknya kamu suka banget memainkan Blanka di Street Fighter
Kamasi: Blanka itu cuma salah satu karakter favorit saya. Karakter yang paling sering saya mainkan sebenarnya Ryu. Tapi, saya memang suka Blanka kok.

Dulu sering main game arcade?
Ya, dulu waktu kecil, kegiatan saya ya cuma main Street Fighther dan Tekken. Zaman segitu, toko minuman atau sevel biasanya punya mesin dingdong. Jadi, kami sering ke sana demi bisa main dingdong seharian.

Heaven and Earth punya track berjudul “Fists of Fury” dan “Street Fighter Mas”. Gimana sih bisanya kamu milih judul? Kamu ngasih judul sebelum atau sesudah lagunya beres ditulis?
Bisa dua-duanya. Kadang saya punya ide dan saya kemudian menulis lagu berdasarkan ide ini. Jadi, judul atau ide lagunya bakal jadi bagaimana sudah ada duluan. Lain waktu, saya cuma punya ide musikal yang murni dan selama saya menulisnya menjadi sebuah lagu, komposisi itu akan memunculkan karakternya sendiri. Baru dari situ, saya kasih judul lagunya. Tapi kadang prosesnya campuran keduanya. Misalnya, saya dapat ide kecil dan langsung memikirkan konsepnya. Nanti di satu titik, saya akan tahu ke mana jalannya komposisi itu, baru deh saya kasih judul. Ya kira-kira begitulah.

Kalau saya enggak salah tebak Heaven and Earth itu tentang konsep dualitas ya. Tapi kalau boleh tahu, album ini sebenarnya tentang apa sih?
Heaven and Earth adalah sebuah metafora tentang dua persepsi atas realitas yang saling bertolak belakang, seperti bagaimana kamu membayangkan sesuatu versus bagaimana kamu mengalaminya. Misalnya sekarang nih pas kita ngobrol. Kita sedang menjalani satu pengalaman. Tapi, sebelum kita ngobro, saya punya bayangan kira-kira seperti apa pertemuan kita ini. Lalu sesudahnya, saya akan punya kenangan tentang apa yang kita obrolkan dalam wawancara sini. Pendeknya, bagi saya, itu adalah realitas yang diciptakan oleh pikiran kita dan biasanya kita melihatnya dalam konteks bahwa realitas bisa memengaruhi cara kita berpikir. Saya sebaliknya percaya sebaliknya juga bisa terjadi. Apa yang kamu pikirkan, bagaimana kamu membayangkan wawancara ini bagaimana berjalan seperti apa dan bagaimana kamu akan mengenangnya memengaruhi apa yang terjadi saat ini. Nah, ini dualitas yang saya bahas dalam Heaven and Earth. Dualitas dalam hal ini erat hubungannya dengan pemahaman akan bagaimana kita berpikir, berimajinasi, atau bagaimana kita mempercayai sesuatu berpengaruh dan mengontrol apa yang yang sebenarnya terjadi. Kira-kira seperti itulah ide dasar album ini.

Musikmu sering dicap sebagai Spiritual Jazz. Kamu sendiri memahami spiritual jazz seperti apa? Dan apakah kamu nyaman dengan dianggap musisi spiritual jazz?
Spiritual jazz punya asal-usul yang sama seperti nama genre lainnya. Awalnya penyuka musik mendengarkan satu estetika, sound, atau pendekatan unik dalam sebuah komposisi dan memberinya nama. Saya sih suka semua musisi yang dikelompokkan dalam satu genre dengan saya. Tapi saya enggak merasa pas dengan terma spiritual jazz. Lagipula, kita sebenarnya tidak bisa merangkum semua musik yang dihasilkan John Coltrane dengan sebutan spiritual jazz. Bagi saya, musik Coltrane ya musik Coltrane. Musik yang digubah Coltrane punya kedekatan dengan musik Pharoah Sanders atau Sun Ra, tapi tetap saja, masing-masing punya cirinya tersendiri. Jangan lupa, musik pada akhirnya adalah ekspresi individual. Lewat musik, seseorang bisa menyampai jati dirinya. Jadi memang di satu sisi, dikelompokkan sebagai musisi spiritual jazz itu keren. Saya enggak keberatan ditempatkan dalam satu genre dengan Coltrane, Sanders dan Sun Ra. Tapi, balik lagi, itu semua tergantung bagaimana orang mengartikan spiritual jazz, kalau spiritual jazz membolehkan lagi tentang video game, saya sih ayuk saja.

Ayahmu kan guru musik, apakah kamu langsung suka jazz setelah diperkenalkan beliau? Kapan kamu sadar jazz adalah genre musik yang kamu pilih?
Seperti anak-anak pada umumnya, selera musik saya waktu kecil enggak selalu sama dengan selera orang tua saya. Dulu waktu masih kecil banget, saya enggak pernah ngebenci jazz tapi saya lebih tertarik pada hip-hop, rap dan semacamnya. Lalu pas umur 11 tahun, saya mulai mendalami jazz. Saat itu saya sadar jazz bukan cuma musik kedoyanan ayah, tapi musik yang saya suka. Saya punya sepupu yang umurnya lebih tua. Dia dekat dengan kakak lelaki saya. Sepupu saya ini bisa main terompet. Saya awalnya main drum lalu piano, tapi jiwa saya enggak di situ. Saya kemudian mencoba bermain klarinet dan jadi lumayan mahir. Di luar dugaan, saya ternyata bisa membaca not balok dengan baik. Saya punya buku — saya namai “the real book.” Isinya semua lagu jazz yang penting dipelajari. Sepupu saya, meski piawai memainkan terompet, tak bisa baca not balok. Makanya, dia sering minta saya datang ke rumahnya untuk menunjukkan bagaimana lagu-lagu tertentu dimainkan.

Bagi saya ini keren sih. Saya kan masih anak kecil. Umumnya, saudara-saudara yang sudah duluan besar, jarang mau ngumpul dengan anak kecil macam saya. Sepupu saya itu kemudian menghadiahi saya mixtape lagu-lagu Art Blakey. Dia juga minta saya untuk mengecek koleksi piringan hitam ayah, barangkali di sana ada album Art Blakey yang lagunya belum masuk mixtape buatannya. Gara-gara itulah, saya mulai mendengarkan koleksi piringan hitam ayah. Mulai dari situlah, jazz jadi musik kesukaan saya.

Kamu lebih mendengarkan hip-hop sebagai bentuk pemberontakan ke ayahmu? Ayahmu suka hip-hop enggak sih?
Kayaknya ayah enggak benci hip-hop deh. Dia cuma kurang ngeh sama genre yang satu ini. Hip-hop kan musik generasi saya, pendeknya itu musik yang saya dan teman-teman dengarkan. Jadi, saya enggak bisa dibilang memberontak, buktinya saya enggak benar-benar ngebenci Jazz. saya tahu jazz, tapi itukan musik ayah, begitu pikir saya. Salah satu lagu yang dimasukkan sepupu saya dalam mixtapenya adalah “A Chant For Bu.” lagu ini disample oleh A Tribe Called Quest (di lagu Excursions). Saya pun jadi sadar hubungan antara jazz dan hip-hop. Sejak itu, saya mulai menyimak Joe Henderson dan sejumlah musisi sejenisnya. Ini, bagi saya, waktu keren sekali. Jazz—musik ayah saya—tenyata jadi fondasi hip-hop musik yang saya sukai. Ini. Jadi, ya sekali lagi, pilihan mendengarkan hip-hop itu bukan sebuah pemberontakan tapi pencarian musik yang saya sukai.

Sebelum kamu jadi session player untuk Snoop Dogg dan beberapa musisi besar lainnya, kamu penah punya pekerja serabutan enggak?
Asal kamu tahu, saya engak pernah punya pekerjaan tetap. Saya sibuk ngegig, main musik dan nyari uang sejak umur 14, 15 tahun. Dulu waktu masih belasan, saya cari uang dengan memotong rumput pekarangan orang atau nyuci mobil. Tapi, saya enggak pernah punya majikan, kecuali musik.

Kamu sudah banyak melakukan kolaborasi, baik dengan bandmu atau dengan artis lainnya. Kamu merasa selalu bisa belajar hal yang baru tiap kali berkolaborasi enggak?
Saya penginnya enggak berhenti belajar sih. Kayaknya bakal ngebosenin kalau saya sudah paham semua tentang musik? Jadi, saya memang selalu belajar hal baru. Oh ya, kami nonton pertunjukan gamelan kemarin. Instruktur ensemble gamelan itu lantas mengajari kami lagu yang ditulis anaknya. Jadi, ngerti kan, selalu ada hal baru yang bisa dipelajari di planet ini.

Ngomong-ngomog soal gamelan, saya ingat nonton video What’s In My Bag di mana kamu ngomong tentang ketertarikanmu pada gamelan. Kira-kira gamelan bakal masuk albummu di masa depan enggak sih?
Saya mengenal gamelan sejak jadi mahasiswa etnomusikologi. Saya membuka diri untuk memasukan instrumen gamelan dalam album saya. Tapi, sebenarnya, saya sudah mengadaptasi tangga nada, konsep irama hingga gayanya dalam komposisi saya.

Ada banyak pengaruh yang saya temukan dalam musikmu, dari mana sih datangnya semua pengaruh itu? Kamu ngoleksi plat? Atau itu karena kamu banyak berkolaborasi dengan musisi lainnya.
Jelas, saya seorang kolektor plat. Salah satu hal yang paling saya sukai adalah menemukan album baru. Saya pecandu musik. Saya menyerap pengaruh dari kolaborasi saya dengan orang lain. Tiap kali saya bermain dengan orang lain, saya mencoba menduga-duga bagaimana proses berkarya mereka. Saya benar-benar ingin menyerap pengaruh dari mereka.

Bersantai sambil mendengarkan musik adalah kegiatan yang menyenangkan, sama kayak jalan-jalan. Di Bali, kami enggak sempat berburu vinyl. Kami malah belanja kain. Biasanya saya selalu mencari toko plat karena selalu ada musik keren di seluruh penjuru dunia. Kalian kan sudah mendengrkan John Coltrane, Michael Jackson dan James Brown. Cuma asal tahu saja, musisi yang keren itu justru berasal dari sini. Kita sama-sama tahu, mendengarkan musik—dan dibuat terpana olehnya—adalah pengalaman luar biasa.