seksisme

Google Translate Mengungkap Seksisme yang Hidup dalam Budaya Kita

Apakah ini salah google? Atau sebenarnya salah kita-kita?
05 Desember 2017, 11:05am
ilustrasi oleh Dini Lestari

Sebuah cuplikan (screenshot) terjemahan google translate yang diunggah oleh Dini Utami ke Facebook beberapa hari lalu jadi viral. Cuplikan itu memuat kata-kata dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Kata-kata yang dalam bahasa Indonesia semula gender netral, menjadi bias gender begitu diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris.

Beberapa kalimat sederhana dalam Bahasa Indonesia yang dimasukkan Dina ke dalam kotak penerjemahan Google seperti: dia seorang presiden; dia seorang perawat; atau dia seorang penari Kalimat-kalimat tersebut diterjemahkan oleh Google Translate ke dalam bahasa Inggris masing-masing dengan hasil: He’s a president; she’s a nurse; she’s a dancer, dll. Google translate seolah juga seksis, layaknya manusia, bisa menyimpulkan bahwa kata ‘menangis’ lebih lekat dengan perempuan, atau profesi dokter lebih dekat dengan laki-laki.

Ditanyakan soal hasil terjemahan Google, pemilik akun Dina Utami mengaku tak terkejut. “Saya enggak terlalu kaget dengan hasil Google Translate yang bias,” kata Dina yang merupakan kandidat doktor bidang Ilmu Komputer di Northeastern University, Boston, Amerika Serikat, kepada VICE Indonesia. “Seksisme itu masih ada, cuma penjelmaannya saja yang berubah,” katanya.

Bahasa Indonesia dalam hal ini seolah terselamatkan dari tuduhan seksis karena tak mengasosiakan suatu profesi atau kegiatan tertentu dengan gender apapun. Beda dengan bahasa Inggris yang menyesuaikan kata ganti orang berdasarkan jenis kelamin.

Bahasa Indonesia tidak punya pronomina, kata kepemilikan, dan objek berbasis gender seperti “she” dan “he”; “her” dan “his”; dan “her” dan “him” seperti dalam bahasa Inggris. Bahasa Indonesia pun tidak punya kata benda yang memiliki konsep “feminim” dan “maskulin” pada kata benda seperti yang dimiliki bahasa-bahasa di Eropa (Perancis dan Jerman). Sehingga, pola yang terlihat dalam terjemahan disebut warganet menunjukkan adanya bias gender dalam teknologi penerjemahan.

Sementara dalam bahasa-bahasa negara-negara Eropa seperti Inggris, Perancis, dan Jerman, gender masuk ke dalam perhitungan utama struktur gramatikal. Para feminis di barat berupaya untuk memodifikasi bahasa agar struktur yang digunakan sebagai standar bukan hanya struktur maskulin. Penggunaan struktur gramatikal maskulin masih menjadi acuan standar, dianggap berefek buruk pada pandangan pengguna bahasa apalagi jika dikaitkan dengan peran gender (gender role).

Dosen ilmu budaya dan kajian poskolonial Universitas Sanata Dharma Katrin Bandel dalam bukunya Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas, menyebut bahwa politik bahasa feminisme dianggap penting di negara-negara barat sebagai bentuk reaksi terhadap seksisme dalam bahasa. Tapi mencapai titik netral bukan perkara gampang. “Dalam bahasa-bahasa Eropa, kalau orang mau bicara dengan cara yang netral gender, itu hampir tidak mungkin. Sangat repot untuk memodifikasi bahasa agar tidak bias. Hal itu tidak berlaku untuk bahasa Indonesia,” jelas Katrin kepada VICE Indonesia.

Lalu, apakah ini salah google? Apa benar google bisa berlagak seperti manusia yang suka seksis?

Google Translate sendiri tidak merilis bagaimana algoritmanya bekerja. Namun selama ini diketahui sistemnya menggunakan jenis algoritma Statistical Machine Translation (SMT). Menurut Carlos Alberto Gomez Grajales -ahli matematika terapan, analisis, dan statistik- Google Translate tidak terkait dengan penerjemah ataupun ahli bahasa tertentu dalam pengaturan gramatikalnya. Dalam hal ini berarti, Google Translate tidak paham apapun soal bahasa. Cara kerja Google Transalate adalah dengan mengumpulkan database dari jutaan dokumen hasil terjemahan orang.

Algoritmanya dirancang untuk melihat pola dari koleksi hasil terjemahan yang sudah ada, untuk menemukan terjemahan paling sesuai dengan kata yang pengguna masukan. Asumsinya adalah, bisa jadi kata atau kalimat yang kita inginkan pernah diterjemahkan sebelumnya dalam jutaan dokumen hasil terjemahan yang dikelola oleh Google. Jadi, bisa dibayangkan ada berapa hasil terjemahan yang menyebut “bersih-bersih” sebagai pekerjaan perempuan, dan insinyur yang disebut dan sebagai profesi laki-laki?

“Memang Google pakai Machine Learning dan algoritmanya belajar bias dari masyarakat,” kata Dina. “Jadi data yang dipakai oleh Google lah yang bias.”


Baca artikel VICE lain yang membahas soal seksisme

Dalam hal membuat uji gender bias dalam Google translate, Dina mengaku terinspirasi eksperimen yang dilakukan oleh penulis dan akademisi Iran-Amerika, Alexander Shams. Shams melakukan eksperimen dengan menggunakan bahasa Turki yang juga gender netral. Hasilnya, tidak jauh beda dengan Indonesia punya. Dalam unggahannya di Facebook, Shams menyebut percobaan terjemahan tersebut sebagai contoh kecil bahwa teknologi jauh dari netral.

“Google translate mengungkap bias gender yang hidup di tengah budaya kita; seperti akses pada lapangan pekerja yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan; atau konstruksi sosial yang membuat perempuan kerap diasosiasikan dengan hal-hal berkonotasi negarif seperti tidak bahagia, malas, dan selalu mencari suami meski tampak seperti tak ada harapan sekalipun,” kata Sham lewat unggahannya.

Editor sekaligus penerjemah Ninus Andarnuswari yang punya fasih Bahasa Indonesia, Inggris, dan Perancis mengaku berhati-hati dalam menerjemahkan suatu bahasa agar konteksnya tidak bias gender. Terutama ketika menerjemahkan bahasa Indonesia yang gender netral ke dalam bahasa lain yang punya konsep gender secara gramatikal. “Proses penerjemahan itu kan selalu alih budaya, menurut saya sih yang terjadi adalah karena budaya kita didominasi oleh patriarki, sehingga di Google translate pun hasilnya begitu,” kata Ninus Andarnuswari.

Ninus mengaku tiap kali Ia menerjemahkan teks dari bahasa Indonesia ke Inggris, Ia betul-betul memastikan pronomina mana yang akan ia gunakan. Jika tidak ada keterangan gendernya dalam bahasa Indonesia, Ninus memilih untuk menggunakan kedua pronomina gender dalam terjemahan bahasa Inggrisnya. Terkait dengan terjemahan Google Translate, Ninus berpendapat bahwa bias gender yang ada tidak hanya bergantung pada pencipta teknologi tapi juga pada pengguna.

Sebagai orang yang lahir dengan bahasa ibu yang tidak bergender, strategi orang Indonesia semestinya lebih mudah untuk menghapus pandangan bias gender. Kita tidak perlu susah-susah atau capek-capek memperjuangkan penggunaan bahasa secara gramatikal. Lantas, apakah dengan begitu apakah sudah pasti lepas dari seksisme?

“Tentu itu bukan berarti bahwa orang yang memakai bahasa Indonesia serta-merta tidak seksis. Mau bahasanya senetral apa pun, kalau konten yang disampaikan sifatnya seksis, ya tetap seksis jadinya,” jelas Katrin kepada VICE Indonesia. “Jadi yang perlu dikritik itu masalah gender yang ada dalam masyarakat, bukan secara khusus dalam bahasa.”

Duh, tantangannya bahasa Indonesia yang sudah gender netral ternyata lebih sulit ya. Harus diakui memang bahwa seksisme itu berakar dari pola pikir. Semoga semua selepas ini bisa menunaikan apa yang pernah disampaikan oleh penulis Pram, bahwa kita harus adil sejak dalam pikiran.