Untuk Urusan Jumlah Orang Rela Mati Demi Selfie, India Jadi Juaranya

India menduduki posisi teratas secara global dalam hal kematian akibat swafoto di lokasi berbahaya.

|
28 Maret 2019, 7:31am

Foto ilustrasi selfie ngawur oleh Akiko Nuru/Shutterstock. 

Sejak tiga tahun terakhir, Mahesh* (19) dan teman-temannya yang tinggal di Mumbai, India selalu naik kereta api setiap pulang dari kampus. Perjalanannya penuh adrenalin dan menantang maut. Selama perjalanan setengah jam dari Mumbai selatan ke Chembur, keempat sekawan ini akan bergelantungan di tiang pegangan dekat pintu kereta.

"Kami melakukannya untuk seru-seruan saja, dan berlomba mengalahkan satu sama lain. Kami bakalan menyentuh benda-benda yang lewat di sekitar kami, seperti tiang listrik misalnya. Kami bakalan memanjat ke kaca dari luar kereta, atau terkadang naik ke atap gerbong padahal keretanya sedang jalan (Penumpang tidak diizinkan melakukan ini, dan bisa menyebabkan kematian karena kesetrum)."

Awal bulan ini, salah satu teman Mahesh bernasib sial. Dia jatuh dari kereta. "Dia berswafoto sambil gelayutan di depan pintu kereta. Dia menyeret satu kakinya pada peron kayak sedang nge-skate. Pegangannya terlepas dan dia jatuh." Untung saja temannya terempas ke peron stasiun. Korban dalam insiden itu adalah ponselnya yang terlindas roda kereta berjalan, sedangkan teman Mahesh hanya mengalami memar di lutut dan pergelangan tangannya terkilir.

Namun, tak semuanya seberuntung dia. Sepanjang 2011-2017, lebih dari 250 orang di seluruh dunia tewas akibat cari tempat yang bagus untuk selfie. Fenomena ini disebut ‘selficide’ dan ‘killfies’. Berdasarkan penelitian dari All India Institute of Medical Sciences (AIIMS), lebih dari setengahnya adalah orang India.

Zaman sekarang, kalian bisa terbunuh dengan cara paling konyol: sibuk main Pokémon Go, rambut nyangkut di roda go-kart, atau bahkan memakan siput hidup. Akan tetapi, kematian akibat selfie sering dikaitkan pada generasi millennial dan Gen-Z dengan teknologi dan narsisme. Dua hal ini dapat menimbulkan bahaya yang sulit diabaikan jika digabungkan, meskipun statistik kematian akibat selfie hanya menduduki sebagian kecil jika dibandingkan dengan populasi yang punya ponsel (dua pertiga populasi dunia atau sekitar 5 miliar pengguna ponsel di seluruh dunia).

“India mungkin berada di urutan teratas karena setengah dari populasinya berusia di bawah 25,” ujar psikolog Raghu Shankar. “Berswafoto sangat populer di kalangan remaja dan orang baru dewasa karena sense of self mereka masih berkembang. Mereka akan merasa percaya diri kalau orang ‘menyukai’ foto-fotonya.” Menurut penelitian di atas, “Ciri-ciri unik ini dapat dikaitkan dengan alasan kenapa tren grup selfie lebih banyak terjadi di India dibandingkan dengan negara lain.”

Survei tersebut membeberkan bahwa negara lain yang memiliki tingkat kematian tertinggi akibat selfie termasuk Rusia, Amerika Serikat dan Pakistan. Lebih dari 85 persen korbannya berusia antara 10 hingga 30. Peneliti menemukan bahwa penyebab utama kematian mereka adalah tenggelam atau kecelakaan kendaraan. Penyebab lainnya termasuk ‘terjatuh’ dan ‘terbakar’.

Selfie telah menewaskan sejumlah orang sepanjang 2019 ini. Pada 4 Januari, seorang mahasiswa asal India meninggal dunia setelah jatuh dari tebing di Irlandia saat berswafoto. Kemudian pada Februari, seorang lelaki tewas tersengat listrik dan bocah laki-laki terbakar gara-gara nekat selfie di atap gerbong kereta di Jamshedpur, India. Seorang siswi sekolah di Orenburg, Rusia, tertabrak kereta barang Selasa kemarin saat berpose di rel kereta. Pada 9 Maret, seorang perempuan diserang jaguar di Arizona, AS, karena masuk ke kandang kebun binatang untuk berswafoto. Beruntungnya, dia masih selamat setelah kena cakar.

Untuk memperbaiki reputasi buruknya, India berencana membuat ‘zona tanpa selfie’ di tempat-tempat wisata. Rencana ini sudah dilakukan sejak lama, tetapi belum ada berita baru sampai sekarang. India juga memiliki aplikasi Saftie, yang menjelaskan tempat-tempat selfie yang berpotensi bahaya.

"Kami perlu menerapkan batasan dan larangan untuk menyelamatkan orang dari mati konyol. Larangannya diharapkan bisa memperingatkan orang akan bahaya yang mereka hadapi," kata Shankar.

"Akan tetapi, kami juga mesti mempertimbangkan kenapa manusia suka foto-foto. Apa tujuannya dari berswafoto? Masalahnya lebih besar dari sekadar tindakan mengeluarkan kamera untuk berfoto. Kita, sebagai anggota masyarakat, wajib memahami alasan mengapa generasi muda nekat mengambil risiko demi Story Instagram."

Jangan lupa follow Dhvani Solani di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE India