Iklan
meramal masa depan

Robot-Robot Taipan Super Tajir Segera Mengganyang Pekerjaan kita

Ketimpangan ekonomi memang makin serem. Sekarang, 85 manusia super tajir menguasai kekayaan yang serta harta setengah penduduk dunia lainnya. Dan kekayaan mereka bakal makin menggunung lantaran proses otomatisasi pekerjaaan.

oleh Brian Merchant
07 Februari 2018, 4:04am

via Wikimedia commons

Baru-baru ini muncul dua angka statistik tentang lapangan kerja di masa depan. Percayalah dua angka statistik ini bakal bikin kamu eneg memikirkan masa depan.

1. 85 orang super tajir di dunia menguasai kekayaan seta kekayaan hampir setengah penduduk bumi.

2. 47 persen dari lapangan pekerjaan yang saat ini tersedia akan diotomatisasi dalam dua dekade ke depan.

Jika digabungkan, dua data statistik di atas bakal jadi indikasi masa depan yang muram. Dengan semakin banyaknya mesin otomatis (gampangnya robot) mengambil alih pekerjaan manusia demi alasan efesiensi, banyak pekerjaan akan menghilang dan pendapatan mereka yang nangkring di puncak korporasi bakal terus naik. Ketimpangan bakal makin lebar seiring makin langkanya pekerja lantaran sektor jasa tak bisa menampung seluruh pekerja yang terkena otomatisasi dan proses ini tak hanya menyasar buruh pabrik tapi pekerja kerah putih seperti akuntan, telemarketer hingga agen real estate.

Dugaan ini mengacu pada penelitian Oxford pada 2013, yang baru-baru ini dikupas dalam tajuk utama The Economist. Penelitian tersebut sejatinya dilakukan untuk mencatat segala macam pekerjaan yang rentan diambil alih robot. Ternyata, jumlahnya sangat besar. Pekerjaan kreatif dan yang membutuhkan skill khusus—seperti editor, dokter gigi atau bahkan pastur—cenderung aman dari otomatisasi. Namun, segala macam pekerjaan yang bersifat mekanis seperti tukang bengkel, tukang tik, hingga pekerjaan di ranah ritel bakal hilang.

Dan, seperti yang tercatat dalam sejarah, para pemegang modal yang akan diuntungkan dalam skenario ini seperti yang dijabarkan oleh The Economist sebagai berikut:

Kemakmuran yang tercipta akibat revolusi digital mayoritas hanya dinikmati oleh pemilik modal dan pekerja dengan skill tinggi. Sepanjang tiga dekade lalu, output pekerja secara global menurun dari 64 persen menjadi 59 persen. Sementara itu, pendapatan yang dikantongi oleh kaum 1 persen naik dari 9 persen di tahun ‘70-an menjadi 22 persen pada saat ini. Angka penganguran juga sudah sangat mengkhawatirkan bahkan di beberapa negara kaya dan itu terjadi bukan lantaran situs pekerjaan semata. Pada tahun 2000, 65 persen penduduk Amerika Serikat di usia produktif memiliki pekerjaan; sejak saat ini proporsinya terus turun. Sekarang jumlahnya hanya tinggal 59 persen.

Parahnya tren tersebut tak hanya terjadi di AS. Data statistik nomor dua yang dipacak di awal artikel ini dinukil dari Laporan Oxfam berjudul Working for the Few , yang baru keluar minggu ini. Laporan itu dirilis bersaam dengan pembukaan World Economic Forum di Davos. Tujuannya agar orang-orang super tajir yang menghadiri pertemuan itu mau mikir barang sebentar tentang dampak kekayaan mereka yang makin menggunung. Laporan tersebut mengungkap fakta bahwa “jumlah kekayaan 85 orang kaya di seluruh dunia mencapai £1 triliun, setara dengan total kekayaan 3,5 miliar penduduk dunia lainnya.” Artinya, 85 manusia super tajir itu memiliki total harta sebantak $1,64 triliun atau sama dengan jumlah uang yang dimiliki oleh 3,5 miliar penduduk dunia lainnya.

Ketimpangan terjadi tak hanya antara 85 taipan raksasa dan 3,5 miliar orang lainnya di muka bumi. “Kekayaan dari 1% persen orang terkaya di Bumi mencapai angka $110 triliun, atau 65 kali lebih besar dari kekayaan setengah penduduk dunia.” celakanya, mereka ini dan perusahaan yang mereka miliki tengah membangun robot pekerja. Pada akhirnya, keberadaan robot pekerja ini akan memastikan bahwa kekayaan umat manusia bakal terus berputar di tangan mereka.

Seperti yang ditulis dalam artikel The Economist, biasa memang muncul siklus disruptif saat teknologi baru menggantikan teknologi serta mengganti lapangan pekerjaan lama dengan jenis pekerjaan baru. Bedanya, kali ini, siklus ini berat sebelah—sejauh ini, jenis pekerjaan yang diciptakan di ekonomi baru berbasis informasi jauh lebih sedikit ketimbang pekerjaan di era manufaktur. Buktinya, tahun lalu, total nilai valusasi Google, Apple, Amazon dan Facebook mencapai $1 triliun, namun perusahaan-perusahaan raksasa ini hanya mempekerjakan 150.000 karyawan.

Semua fakta ini mengarah pada satu prediksi masa depan yang kurang mengenakkan: Di dunia kita yang makin mengglobal, maju secara teknologi dan penuh dengan ketimpangan, kita bakal cuma jadi tukang kebun (atau lebih parah lagi, gelandangan) di lahan feudal sekelompok orang kaya pemilik mesin. Oxfam memprediksi perjuangan kelas yang sengit dan pergolakan sosial bakal tumbuh subur. Dan tak sulit menerka kenapa amatan macam itu bisa muncul.

Untuk memastikan 99% penduduk Bumi masih menikmati keuntungan kemajuan teknologi, kita harus memperjuangkan perubahan kebijakan supaya kita bisa beradaptasi di dunia makin mekanis ini. Redistribusi pendapatan radikal atau setidaknya konsep pendapatan minimum global adalah dua hal yang harus diperjuangkan. Sayang, tentu saja, dua konsep ini sepertinya bakal tak enak mendarat di kuping para pemilik modal dan sekelompok taipan super tajir.

Sejatinya, kita sudah memiliki teknologi pertanian, energi dan konsumen untuk mengakomodasi rekalibrasi skema pendapatan dunia dan distribusi sumber daya agar bisa dinikmati dengan adil. Jadi sementara kaum 1% tengah menghabisis pekerjaan kita dengan robot-robot buatan mereka, kita harus bergegas mempersenjatai diri dengan inovasi sosial—bukan hanya kemajuan teknologi—untuk menyelamatkan masa depan manusia.

Tagged:
robot
robotik
Kiamat
Mesin
Masa Depan
Ketimpangan Sosial
Futuristik
ramal