Iklan
Sepakbola

Ditinggal Arsène Wenger, Suporter Fanatik Arsenal Mencari Makna Hidup Baru

Bagi pendukung Arsenal, Arsène Wenger mustahil terpisahkan dari The Gunners. Aku tumbuh besar melihatnya melatih klub favoritku. Masa depan klub setelah dia mundur mencemaskanku.

oleh Kev Kharas
23 April 2018, 9:46am

Arsene Wenger di salah satu pertandingan Liga Champions. Foto oleh WENN UK / Alamy Stock Photo.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK

Sangat sulit menentukan apa yang harus saya tulis soal sosok sebesar Arsène Wenger, yang baru saja memutuskan mundur dari posisi manajer Arsenal di akhir musim 2017/2018. Apakah saya perlu menyoroti betapa lama dia mengabdikan hidup di Arsenal, kecintaan sang 'Profesor'—julukan populer Wenger—terhadap klub asal London Utara itu, atau tentang sisi personal Wenger selama hidup di Bumi yang tak banyak diketahui orang. Titik awal yang bisa dipilih terlampau banyak. Wenger ada di mana-mana, di dalam ingatan setiap pecinta sepakbola.

Buat Generasi X maupun millenials, sosok Wenger sudah melekat jauh sebelum ingatan kita dibajak Facebook. Pelatih sepakbola asal Prancis sudah ada dalam memori kolektif pecandu sepakbola seluruh dunia, sebelum insiden serangan teror 11 September 2001. Sebagian pendukung Arsenal masih ingat jelas momen Wenger berjabat tangan dengan Dodi Al-Fayed, kekasih Putri Diana yang ikut tewas dalam kecelakaan tragis dulu. Wenger juga pernah terekam televisi sedang menari mengikuti irama lagi Spice Girls. Sikap kikuknya kala menari itu menghapus segala ketakutan kita terhadap isu kacaunya komputer sedunia gara-gara datangnya tahun 2000 alias millenium bug.

Wenger bahkan mungkin orang yang sempat menonton konsernya Oasis saat masih bagus-bagusnya, sambil melatih Arsenal. Singkatnya, Wenger adalah manajer dari era pager dan koneksi dial-up yang terus relevan hingga zaman serat fiber seperti sekarang.

Selama 22 tahun, Wenger telah mengarahkan biduk bernama Arsenal melewati persaingan sengit kasta teratas Liga Inggris. Dia sanggup mendobrak monopoli yang digagas Alex Ferguson sang nahkoda Manchester United. Dia sudah melewati onak duri, mulai dari kegagalan ambisinya mengandalkan pemain muda, sampai masa-masa slogan “Wenger Out” diteriakkan suporter fanatik Arsenal. Bahkan dia terus bertahan walaupun di Internet mudah ditemukan meme-meme yang mengejek betapa kejayaan Arsenal itu sudah hampir sama jauhnya dengan masa pre-sejarah.

Sebagai pecinta sepakbola, rasanya tak ada yang lebih aneh daripada menjadi pendukung Arsenal di masa sekarang. Selama 22 tahun, Wenger adalah figur yang sangat dominan, di sebuah klub yang berhasil menanamkan citra global (walau kering prestasi) lewat cabang olahraga paling populer di Planet Bumi.

Wenger adalah anomali terbesar dari sejarah panjang Arsenal. Kehadirannya membangkitkan segala macam emosi bagi suporter yang kadung apatis karena rezimnya seakan-akan bakal bertahan selamanya. Wenger memang memberi kebanggaan bagi suporter. Namun dia jugalah yang membuat Stadion Emirates bak diselimuti suasana kering emosi selama tiga musim belakangan. Toh suporter tetap datang dan memberi dukungan walau mereka semua keki pada Wenger. Sampai akhirnya kabar itu datang pekan lalu. Wenger yang memulai semua ini, dan dia sendirilah yang memastikan semua persoalan harus berakhir.

Sebagai penggemar Arsenal, saya merasa seperti rakyat Korea Utara. Kami tidak punya bayangan bakal memiliki pelatih selain Wenger. Bahkan saya selalu berpikir hari Arsène Wenger mengumumkan dirinya pensiun dari Arsenal, akan terasa seperti hari ketika Kim Jong-Il meninggal.

Kalaupun perumpaan itu benar, bahwa Wenger adalah seorang diktator, menurut saya dia adalah diktator yang anggun dan berhati lembut. Dengan demikian, segala kecaman dan ngambeknya para pendukung Arsenal yang kencang disuarakan lewat Arsenal Fans TV beberapa tahun belakangan harusnya tak perlu dianggap serius oleh sang profesor.

Arsenal memang bukan Korut, sebuah negara yang berdaulat walaupun menutup diri dari pergaulan internasional. Makanya rasa kehilangan yang dirasakan rakya Korut dan suporter dampaknya berbeda. Saya pernah membayangkan ketika Wenger akhirnya memutuskan turun tahta, akan ada semacam banjir air mata atau kesedihan massal atau semacam rasa kehilangan besar lantaran sosok yang biasanya mewarnai hidupmu menghilang begitu saja. Hal melankolis macam itu ternyata tidak terjadi—kami justru merasakan suka cita.

Arsene Wenger berdikusi di pinggir lapangan bareng Marc Overmars pada musim 1998. Foto oleh Allstar Picture Library / Alamy Stock Photo.

Saya tak berusaha melebih-lebihkan kalau bilang Arsène Wenger telah mendominasi kesadaran saya selama 22 tahun terakhir. Saya baru masuk SD, saat dia ditunjuk sebagai manajer The Gunners. Jujur, sepanjang kehidupan saya sebagai manusia dewasa, saya selalu mengobrolkan Arsène Wenger, meragukan Arsène Wenger, sampai tergila-gila pada sosok Arsène Wenger. Tentu saja, selama karirnya di Arsenal, tak ada sosok di ranah publik yang menuntut perhatian saya seperti Arsene Wenger.

Mengingat betapa merakyatnya sepakbola, pengalaman serupa mungkin dialami banyak generasi saya, tak peduli mereka suporter Arsenal atau bukan. Betapa mencengangkan sebenarnya, kalau kita ingat Wenger yang di awal kedatangannya dianggap orang asing—orang Prancis lebih tepatnya—pada akhirnya menjadi salah satu figur paling sering mewarnai jurnalisme sepakbola modern di Inggris.

Lalu, kalau memang Wenger seagung itu, kenapa kemarin para pendukung Arsenal, termasuk saya, menuntut adanya perubahan? Terus terang saja, kami punya banyak alasan. Salah satunya adalah kenyataan bahwa sepakbola tak cuma sebuah permainan. Sepakbola adalah industri yang tak berhenti bergerak. Sepakbola memadatkan semua pancaindera kita dan di muka bumi ini hanya sepakbola bisa melakukannya. Dalam iklim sepakbola serba gegas di Abad 21, sikap kalem yang inheren dalam diri seorang Wenger akan selalu memicu kegelisahan setiap gooners. Jika Wenger bertahan, kami khawatir kondisi akan begini-begini saja. Menduga-duga apakah Wenger tersinggung oleh komen-komen pedas para gooners di Arsenal Fan TV sama mubazirnya dengan bertanya-tanya apakah Chuck Norris kesal dengan meme-meme tentang dirinya di Internet.

Namun, menurut saya ada satu alasan lain kenapa “Wenger Out” menyita perhatian media, suporter klub lain, sampai memantik rasa ingin tahu pengamat dari luar Inggris, bahkan mereka yang bukan penggemar sepakbola. Alasan itu adalah karena sampai hari ini, Wenger masih menolak kelihatan luyu dan tua. Dia menolak tunduk di hadapan ambisi industri sepakbola modern yang menuntut perubahan ajeg. Dalam industri sepakbola, Wenger adalah perlambang loyalitas dan keuletan.

Meski demikian, dalam iklim sepakbola yang cepat berganti, sentimen “Wenger Out” bersemi dan bahkan disulut oleh suporter radikal Arsenal. Sebagian besar penggemar Arsenal—jika tidak seluruhnya—percaya musim ini adalah saat yang tepat bagi Wenger untuk turun tahta. Akan tetapi, akar emosi dari sentimen tersebut bukanlah rasa benci, apalagi dengki. Mayoritas gooners cuma ingin Wenger pensiun atas dasar cinta, tepatnya cinta mereka pada Wenger dan memori indah yang telah dia tinggalkan.

Para suporter fanatik Arsenal kini bersiap merayakan kepergian Wenger dengan suka cita. Dengan mundurnya sang profesor, memori tentang era Wenger di Arsenal bisa diabadikan secara manis, masuk katalog penting sejarah panjang Arsenal. Momen-momen yang disepakati sebagai momen-momen emas Arsenal —kehebatan Tony Adams sepanjang musim 1998, tajamnya Sylvain Wiltord pada tahun 2002, serta gocekan maut Thierry Henry di White Heart Lane yang bisa menghancurkan bek Tottenham Hotspurs—akan terus abadi.

Masalahnya, perpisahan tternyata tak semudah itu. Menjalani hidup kadang terasa ganjil seperti yang saya dan semua orang yang tak tahu apa itu hidup tanpa Wenger, alami sesudah mendengar dia betul-betul mundur.

Saya kehilangan kata-kata ketika diminta merangkum emosi terkait mundurnya Wenger—campuran rasa gentar, rasa sedih, harapan, rasa senang, sekaligus rasa bersalah. Entahlah, mungkin ada istilah dalam bahasa Perancis yang hanya diketahui Wenger untuk menyebut kondisi macam ini. Kata itu mungkin menari-menari di otak Wenger saat memutar kembali kenangan kejadian keren bersama Arsenal selama 22 tahun ke belakang. Sembari memikirkan adakah sebutan untuk perasaan campur aduk ini, saya akhirnya benar-benar berhenti meragukan Wenger. Untuk pertama kali, saya merasa mengalami apa yang Wenger alami selama periode caci maki kemarin.

Terselip di antara ucapan terimakasih yang membanjir dari segala macam tingakatan pendukung Arsenal—mulai dari gooners yang tak bosan-bosan mengoceh tentang Arsenal di Twitter, orang-orang yang rela begadang demi nonton berita olahraga tentang Arsenal, mereka yang rajin datang ke laga tandang maupun kandang Arsenal, hingga pendukung obsesif di ruang-ruang di dunia maya—kita bisa merasakan hal yang hangat sekaligus haru, dalam momen perpisahan sang profesor dan keluarga besar klub meriam London Utara.

Setidaknya, dari respons kawan-kawan saya sesama penggemar fanatik Arsenal, rasa sakit yang kami alami selama beberapa tahun terakhir melihat stagnasi Arsenal mulai sembuh. Hanya saja, kami semua percaya rasa sakit lainnya akibat perpisahan dengan Wenger bakal sering kambuh, sampai kelak kompetisi sepakbola teratas di Inggris maupun Eropa yang diarungi Arsenal kembali membajak semua indera kami, dan membuat kami lupa waktu.

Sampai saatnya tiba, ketika saya bisa sepenuhnya menerima berakhirnya era Wenger, saya cuma mau bilang satu hal saja: Terimakasih Banyak, Arsène, atas semua yang kamu lakukan untuk klub ini.

Follow penulis artikel ini lewat akun Twitter @kevkharas

Tagged:
premier league
arsenal
Arsene Wenger
suporter
Kenangan
Liga Inggris
Prancis
Pelatih
Pelatih Legendaris