NASA Temukan Tujuh Planet Mirip Bumi, Harusnya Sih Ada Aliennya
Planet Baru

NASA Temukan Tujuh Planet Mirip Bumi, Harusnya Sih Ada Aliennya

Sebuah sistem tata surya berjarak 39 tahun cahaya dari Bumi ini barangkali kesempatan terbesar kita menemukan kehidupan di luar angkasa.
23 Februari 2017, 6:58am

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Sebuah bintang kecil terletak 39 tahun cahaya dari Bumi, cuma sepelemparan batu dalam skala kosmik, memiliki tujuh planet sebesar bumi. Kesimpulan itu datang dari penelitianyang dipublikasikan di Jurnal Ilmiah Nature. Enam planet di antaranya terlihat memiliki lapisan batu dan cukup dingin. Beberapa planet diprediksi mempunya lapisan air di permukaannya. Kesimpulannya, beberapa dari tujuh planet ini punya elemen yang menunjang kehidupan.

"Ini pertama kali kami menemukan tujuh planet yang bertipe mirip yang mengelilingi satu buah bintang," ujar peneliti utama Michaël Gillon, seorang astronom di Université de Liège, yang bicara pada para jurnalis sebelum pengumuman resmi penelitian ini diumumkan kepada publik selasa lalu. "Dalam pencarian kita terhadap bentuk kehidupan lain di luar bumi, barangkali inilah kesempatan terbesar kita sampai saat ini," ujar Brice-Olivier Demor, peneliti lainnya dari University of Bern dalam sebuah pernyataan yang menyertai pengumuman publik tersebut.

Sebuah infografis yang menunjukkan perbandingan antara tujuh planet di sistem TRAPPIST-1 dengan planet berbatu di tata surya kta. Sumber gambar: NASA

Ada perbedaan mendasar antara tata surya baru dan tata surya yang ditempati Bumi. Bintang dalam tata surya tersebut, TRAPPIST-1, ialah bintang yang kerap disebut sebagai bintang Kate Merah "super dingin." TRAPIST-1 hanya memiliki 8 persen massa matahari sementara radiusnya hanya mencapai 11 persen radius matahari. Ketujuh planet yang mengelinginya memiliki lingkaran orbit yang sangat dekat. Jika dibandingkan dengan tata surya yang kita tempati, jarak TRAPPIST ke tiap planet setara dengan jarak matahari ke Merkurius.

Mayoritas planet terkunci secara tidal. Artinya, satu bagian planet akan selalu menghadap TRAPPIST-1, sementara sisi lainnya mengalami malam yang tak berkesudahan. (para peneliti membandingkannya dengan satelit Gallean planet Jupiter yang juga terkunci secara tidal pada Jupiter).

Tiap kali ilmuwan menemukan planet baru dan mengukur kemungkinan munculnya kehidupan di sana, mereka akan mencari beberapa kualitas. Beberapa di antaranya ialah output energi dari bintang yang dikelilinginya dan jarak orbit. Kedua faktor ini membantu ilmuwan menentukan bahwa suhu permukaannya stabil di antara 0 samai 100 derajat celsius. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa air bisa ditemukan di planet tersebut.

Ilustrasi TRAPPIST-1 buatan seorang seniman. Gambar: NASA.

Menurut Gillon, sistem tata surya yang baru ditemukan ini memiliki kandidat kuat planet yang bisa ditinggali manusia. Meski terletak sangat dekat dengan bintang, TRAPPIST adalah sebuah bintang "yang sangat  kecil dan dingin hingga suhu di planet lumayan bersahabat. Artinya, mungkin ada air di sana," kata Gillon.

Pengukuran massa planet—meski masih sangat dini—mengindikasikan potensi planet-planet tersebut berbatu, salah satu penanda kehidupan bisa tumbuh di suatu planet. (Sejauh ini, tak ada mahluk hidup yang ditemukan di planet gas macam Jupiter).  Para ilmuwan juga menduga bahwa TRAPPIST-1 adalah bintang yang tak begitu aktif. Solar flare sangat jarang terlihat di TRAPPIST-1. Ini, lagi-lagi, menunjukkan ketujuh planet ini sangat bersahabat dengan kehidupan.

Tata surya ini "sangat dekat" dengan bumi. Alhasil para ilmuwan sudah bisa mengintip komposisi atmostfer planet-planet di dekat bintang TRAPPIST-1. Penelitian lebih lanjut pada akhirnya hanya akan menguatkan dugaan bahwa planet-planet bisa dihuni manusia.

Yang luar biasa, planet-planet ini bakal jadi bahan penelitian, ujar para ilmuwan pada para reporter. karena bintang dalam tata surya tersebut memancarkan sinar inframerah, James Webb Space Telescope—yang memang dirancang untuk melakukan observasi dalam spektrum infra merah—bakal jadi perangkat yang sempurna untuk mengungkap detail-detail tujuh planet yang baru ditemukan tersebut.

"jadi memang benar, bintang dalam tata surya ini memendarkan cahaya optik yang temaram, tapi memang ini yang kami cari, kalian bisa menemukannya dalam spektrum infra merah," ujar Gillon.

Perkiraan Pemandangan TRAPPIST-1 dari salah satu planet yang mengitarinya. Gambar: ESO/M. Kornmesser/spaceengine.org

Para ilmuwan optimis bahwa beberapa misi di masa depan (termasuk JWST) akan bisa mendeteksi ozon di salah satu planet ini. Penemuan ini akan menjadi pertanda adanya aktivitas biologis di planet-planet tersebut.

Nama TRAPPIST-1 diambil dari nama teleskop robotik yang menemukan letak bintang katai merah ini. TRAPPIST (singkatan dari TRansiting Planets and PlanetesImals Small Telescope) mengunakan transit photometry untuk mendeteksi planet di sistem tata surya di seluruh jagat raya. Ini artinya, TRAPPIST menemukan planet dengan menganalisa kedipan cahaya ketika sebuah planet mengorbit di depan bintang.

TRAPPIST dikendalikan oleh beberapa staf di Belgia, tahap pertama pembangunan teleskop ini dilakukan di pegunungan di Chili, tepatnya di La Silla Observatory. Belakangan, TRAPPIST  mendapatkan tambahan perangkat keras di Maroko. Alhasil, cakupan observasi TRAPPIST makin luas. "Kami bisa mengakses seluruh wilayah langit, dari utara sampai selatan, untuk bisa mencari planet-planet di luar sana," tutur Emmanuël Jehin, salah satu peneliti yang menemukan TRAPPITS-1.

Penelitian tim TRAPPIST sepenuhnya didukung oleh European Southern Observatory's Very Large Telescope dan observatorium di Afrika Selatan dan Kepulauan Kanaria.

Sistem tata surya TRAPPIST-1 sudah ramai dibicarakan di media massa ketika penemuan tiga exoplanet yang mengitarinya. Namun penelitian lanjut menemukan adanya triple transit yang mengisyaratkan bahwa ada dunia lain di samping tiga exoplanet itu.

Perbandigan matahari dengan TRAPPIST-1, yang lebih kecil dan jauh lebih merah. Gambar: ESO

Menyoal kemungkinan manusia mengunjungi  tujuh planet di sistem TRAPPIST-1, dalam waktu dekat, hal ini masih mustahil dilakukan (meski sebenarnya sistem ini bakal jadi target menarik bagi Project Starshot, sebuah inisiatif untuk merintis penjelajahan antar bintang). Kalau pun ada akhirnya manusia bisa sampai ke sana, menurut salah seorang peniliti Amaury Triaud, para penjelajah angkasa akan melihat langit berwana merah tua di sana.

"Pemandangan yang akan kita jumpai bakal luar biasa indah, karena setiap saat anda bisa melihat planet lain, dua kali lebih besar dari bulan, tergantung di planet mana anda berpijak dan kemana anda memandang," ujar Triaud.