Jiwa-Jiwa Menggali Warisan Berharga Album Disko dan Boogie Indonesia Masa Lalu

'Awesome Tapes From Africa' berhasil mengumpulkan kaset unik dari Benua Afrika. Rilisan itu menginspirasi Michiel Sekan melakukan hal yang sama, menggali album disco, funk, and boogie yang terpendam di seantero nusantara.

|
Des 31 2016, 1:42pagi

Artikel ini pertama kali tayang di THUMP Netherlands

Michiel Sekan memburu 'emas' yang tertimbun di Indonesia. Dia meluncurkan label  Jiwa Jiwa, yang fokus merilis ulang kaset-kaset lama dari genre disko, funk, dan boogie dari negara ini di masa lalu. Pecinta musik asal Belanda itu telah bekerja sama dengan Egon (Now Again Records) serta Roger Bong (Aloha Got Soul) untuk memuluskan niatnya. Antal (Rush Hour) bersedia menjadi distributor untuk proyek ini. 

Khusus untuk THUMP, Michiel membagikan mixtape berdurasi dua jam, memerkan sebagian hasil perburuannya sejauh ini, yang bisa kalian dengar dari tautan soundcloud di bawah. Mixtape ini penuh bebunyian khas funk, disko psikedelik, serta melodi-melodi yang melenakan. Setelah mendengarkannya dua jam penuh, kalian akan segera bertanya, mengapa harta karun berharga ini tak pernah dijamah orang? Saya menemui Michiel, memintanya menjelaskan seluk-beluk di balik proyek luar biasa yang sedang dia kerjakan.

THUMP: Halo Michiel! Apakah kamu memang sejak awal lebih akrab dengan musik boogie Indonesia dibanding Belanda? 
Michiel Sekan: 
Memang demikian. Saya malah tidak pernah mengulik boogie produksi Belanda, walau saya akrab dengan karya-karya Jan Akkerman. Saya punya alasan khusus, karena saya ini indo. Saya punya darah Indonesia. Ayah saya berasal dari Medan. Dia tinggal di sana selama 10 tahun. Alhasil, saya pun mewarisi banyak hal dari budaya Indonesia. Kakek-nenek saya yang asli Indonesia sampai sekarang pun masih hidup. Keduanya sekarang berusia 94 dan 90 tahun. Mereka tinggal di Zwijndrecht. Saya membelikan kakek dan nenek iPhone, sehingga saya bisa menghubungi mereka melalui Facetime saat sedang di Indonesia. Selama perjalanan di Indonesia, selain musik, saya berhasil menemukan kediaman ayah saya dulu. Proyek reissue album-album lama sedang ramai dilakukan di Indonesia. Tapi saya tidak sekadar ikut tren. Mengumpulkan album-album dari genre spesifik ini adalah proyek pribadi. Saya melakukannya atas kecintaan pada musik sekaligus menghormati akar leluhur keluarga. Belum lama ini, saya mengikuti reuni keluarga besar ayah yang berasal dari Indonesia di Belanda. Salah satu teman kakek bilang kalau dia dulu pemain band di Indonesia. Saya bertanya padanya soal Bob Tutupoli. Ternyata mereka teman sekelas.

Apakah sulit mencari kaset-kaset dari genre yang kamu incar?
Lumayan sulit. Saya memulai perburuan di Bali. Sementara pulau itu sangat luas. Tidak banyak album juga yang saya peroleh. Pencarian lebih berhasil di Jawa, terutama di sekitar Bandung dan jakarta. Nyaris semua musisi tinggal di dua kota itu. Radio juga masih mudah diakses. Dua kota ini memiliki akses yang sangat memadai untuk tetap berhubungan dengan dunia luar.


Apakah budaya klub di Indonesia tumbuh subur menurutmu? 
Soal ini sebetulnya perlu diceritakan tersendiri. Tentu saja ada banyak tempat kacrut yang menampilkan EDM yang sama menyedihkannya di kota-kota besar Indonesia. Ada tempat yang bagus, tapi harga minumannya mahal. Saya lebih menyukai budaya klub kecil, seperti bar dan kafe, di Indonesia. Komunitas house dan techno di negara ini bermunculan beberapa waktu belakangan. Sayangnya budaya clubbing sedang dalam tekanan. Pemerintah Indonesia membatasi peredaran alkohol. Harus diakui agama masih sangat berperan di negara ini.

Apakah menurutmu toko musik di Indonesia menawarkan koleksi yang berwarna?
Toko menjual kaset atau plat yang mumpuni berada di bawah basement mal (Blok M Square-red). Berburu rilisan lawas membutuhkan persiapan yang berbeda di Indonesia. Awalnya sulit bagi para penjual melepas koleksinya pada orang asing seperti saya. Barulah, ketika mereka tahu saya bisa sedikit berbicara Bahasa Indonesia serta menunjukkan kecintaan pada musik, para penjual itu bisa lebih terbuka pada saya.

Apa fokusmu saat digging album-album lawas Indonesia?
Saya memeriksa daftar perusahaan rekaman serta musisi di bawah naungan label masing-masing. Untuk genre boogie atau disko, nama-nama berikut terhitung besar: D Stanza, henkie, Harry van Houven. Indonesia adalah negara yang rilisan lawasnya didominasi kaset dibanding plat. Kebanyakan piringan hitam yang saya peroleh adalah kopi khusus untuk stasiun radio. Plat promo sangat langka, saking langkanya sebagian besar tidak mempunyai cover album.


Aku membayangkan perjuanganmu mendapat izin rilis ulang pasti sulit?
Tentu saja. Persoalan hak cipta di negara ini sangat tidak tertata, seperti lazimnya di banyak negara lain. Sangat sulit bagi orang luar untuk mencari tahu siapa yang memegang hak cipta sebuah album atau lagu. Industri musik Indonesia jarang sekali berorientasi mengekspor lagunya. Hasilnya, tentu saja konsep hak cipta dan royalti yang tidak terpetakan jelas. Untunglah saya dibantu oleh David Tarigan, dedengkot pengarsip musik Indonesia. Dia sudah meluncurkan situs Irama Nusantara, yang memuat koleksi musik Tanah Air dari periode 1920-an hingga 2000-an. Pengetahuan musik David banyak menolong saya dalam menjalankan proyek Jiwa Jiwa. Pemilik Label Irama Nusantara mengizinkan saya merilis ulang beberapa album yang sesuai minat, asal membeli hak edarnya. Tak masalah. Yang lebih penting, saya diizinkan menggali berdasarkan arsip yang dimiliki Irama Nusantara.

Kamu pasti sudah mendengarkan ratusan album sekarang. Bisakah kamu ceritakan apa karakter khas genre boogie dan funk di Indonesia?
Penduduk Indonesia sejak sebelum merdeka punya pengalaman panjang melawan penguasa. Musik rock di negara ini menjadi sarana perlawanan. Pengaruh yang sama merembet kepada para pelaku musik lainnya, termasuk disko. Album disko Indonesia selalu memiliki unsur bunyi gitar, solo-solo berisik, serta nuansa psikedelik yang kaya. Mutu suaranya memang kadang tidak bagus, karena di masa itu mencari studio yang layak sangat sulit di Indonesia. Saya malah menyukai ketidaksempurnaanya. Ketatnya kontrol Orde Baru sempat membuat genre boogie atau funk tertinggal dibanding genre lain. Baru pada 1983 atau 1984 synthesizers banyak digunakan oleh musisi Indonesia.

Apakah kamu mewawancarai musisi Indonesia dari masa-masa itu?  
Tentu saja. Contohnya, saya mewawancarai basis band AKA yang legendaris (Peter Wass-red). Dia sekarang berprofesi sebagai pendeta. Banyak musisi Indonesia seperti itu, terutama di Jakarta kalau saya perhatikan. Mereka menjadi religius di usia senja.

Apa tanggapan para musisi Indonesia saat kamu, seorang 'bule gila' tiba-tiba hendak membeli hak edar dan hak cipta lagu-lagu mereka?
Banyak orang sulit memahami kenapa saya terkesan tidak mengharapkan kesuksesan. David Tarigan, yang masih berusia muda, justru lebih punya pengetahuan, melampaui generasi di atasnya saat menakar proyekku ini. David bilang, "apa yang kalian lakukan itu keren banget. Pecinta musik dunia harus mendengarkan album-album ini." 

More VICE
Vice Channels