Kisah Seorang Ibu dan Balita Korban Pemisahan Paksa Aparat Imigrasi AS

Waktu tak serta-merta membuat trauma pada anak hilang

|
Jun 25 2018, 9:15pagi

Sara, seorang imigran berumur 23 tahun asal El Salvador, mengaku menghabiskan 20 hari pertamanya di rumah tahanan imigrasi dan bea cukai Amerika Serikat (Immigration and Customs Enforcement, ICE), memohon-mohon diberi informasi tentang keberadaan dan keadaan anak perempuannya yang berumur enam tahun. Putri Sara diambil oleh pihak imigrasi Amerika Serikat saat mereka melintasi perbatasan AS-Meksiko guna mencari suaka di Negeri Paman Sam.

Saat akhirnya Sara diberi kesempatan berbicara lewat telepon selama 15 menit dengan putrinya, yang masih ditahan oleh Office of Refugee Resettlement, Sara merasa suara anaknya berubah. Sang putri yang biasanya bicara penuh semangat terdengar malu-malu dan menjaga jarak.

“Dia cuma menjawab ‘ya,’” kata Sara. “Aku tanya apakah dia diberi makan, dia jawab ‘ya.’ Aku tanya apakah kondisinya baik-baik saja, dia jawab ‘ya.’ Lalu, aku bilang kalau kami akan berkumpul kembali dalam waktu dekat, dia kembali menjawab ‘Ya.’”

Sara dan putrinya, yang namanya harus kami rahasiakan karena kasus permintaan suakanya yang masih terkatung-katung, dipisahkan dari sang Ibu selama dua bulan pada 2016 saat Sara ditahan ICE.

Trauma akibat pemisahan Sara dan putrinya ini adalah gambaran apa yang akan dihadapi 2.400 anak yang dipisahkan dari orang tuanya oleh pihak imigrasi AS tahun ini sebagai pengejawantahan kebijakan imigrasi tak pandang bulu yang diberlakukan pemerintahan Presiden Donald Trump. Di bawah kebijakan ini, setiap imigran yang masuk ke AS selain lewat titik masuk resmi bisa dipidanakan, termasuk para pencari suaka dan anak-anak mereka.

Imigran dewasa—seperti Sara—ditahan oleh ICE sementara anak-anak mereka diserahkan pada Kantor Pemindahan Pengungsi (Office of Refugee Resettlement). Rabu 20 Juni lalu Presiden Donald Trump meneken sebuah dektret yang mewajibkan semua keluarga imigran ilegal ditahan di satu tempat. Sayang, pihak berwenang di AS belum merinci langkah yang akan mereka ambil guna menyatukan keluarga imigran yang kadung terpisah—kadang sampai ribuan kilometer jauhnya.

Namun, sejatinya, pemisahan keluarga para pelintas perbatasan AS ini bukan baru-baru ini saja terjadi. Sebelum kebijakan imigrasi “yang tak pandang bulu” resmi diterapkan, Sara meninggalkan El Salvador bersama putrinya yang waktu itu baru berusia enam tahun pada 2016 demi menghindari kekerasan seksual yang kerap dilakukan anggota gang di kampung halamannya—menurut keterangan pengacara Sara, Ashley Harrington yang juga bertindak sebagai jaksa pengatur di Rocky Mountain Immigrant Advocacy Network.

“Waktu aku memutuskan angkat kaki (dari El Salvador), aku membayangkan kami akan terus bersama,” ujar Sara. “Begitu sampai di AS, kami malah dipisahkan. Ini terlampau berat bagiku.”

Sara dan putrinya ditahan saat sampai di Port Isabel, di perbatasan Texas pada April 2016. Petugas imigrasi federal memisahkan ibu dan anak ini setelah menemukan perintah deportasi Sara, ujar Harrington.

“Aku bilang pada para petugas itu mereka tak bisa melakukan hal ini,” kata Sara. “Mereka bilang kami berdua akan dideportasi waktu itu juga. Mereka merampas putriku dan mereka tak bilang akan dibawa ke mana putriku. Mereka tak bilang apa-apa.”

Selama dua bulan penuh, Sara tak bisa menemui putri semata wayangnya. Di fasilitas pertama tempat dirinya ditahan, dia mengaku terus menerus dibentak-bentak petugas yang menjaganya. Ditambah lagi, Sara cuma diperkenankan keluar ruang tahannya paling banter satu jam dalam sehari.

“Tempat itu sangat mengerikan,” katanya.” Kami diperlakukan seenaknya. Kami dibangunkan jam lima pagi dengan dibentak-bentak. Kami harus mandi dalam lima menit. Jika tidak, kami tak diberi sarapan.”

Sara akhirnya dipindahkan ke fasilitas lain di mana dirinya mendapat perlakuan yang lebih baik, ungkap Sara. Di tempat inilah, dia akhirnya diperkenankan menelepon putrinya, meski cuma 15 menit.

Adapun, putri Sara ditempatkan selama sebulan di fasilitas ORR sebelum akhirnya dibebaskan dan dikirim ke kakek serta neneknya yang hidup di Colorado pada Mei 2016. Totalnya, Sara hidup terpisah dari sang putri selama satu bulan. Imbasnya, perilaku putri Sara berubah drastis. Dia masih seperti orang asing setahun setelah dibebaskan.

“Dia sangat berubah,” kata Sara tentang putrinya. “Seingatku putriku adalah anak yang supel. Dia banyak ngomong. Kini dia sangat pemalu. Dia hanya bicara jika ada yang bertanya.”

Putri Sara masih kerap bersedih di siang hari—yang selalu mengingatkannya pada saat-saat dirinya ditahan oleh pihak imigrasi federal AS. Di fasilitas ORR, Sara mengatakan bahwa anak-anak imigran diajak jalan-jalan ke Burger King atau taman. Namun, pada sore hari, mereka tak diperkenankan beristirahat.

“Dia ingat kesedihan yang dia rasakan di siang itu, karena dia tidak bisa bertemu dengan keluarganya,” ujar Sara.

Semua perubahan ini terdengar seperti gejala-gejala yang Julie Linton, salah satu petinggi American Academy of Pediatrics Immigrant Health Special Interest Group, antisipasi menimpa anak-anak yang telah melalui trauma ditahan berkepanjangan dan perpisahan dengan orangtua mereka.

“Ada respon ‘fight or flight’ yang dibicarakan orang-orang, yang dirancang untuk orang-orang yang sedang merespon keadaan darurat,” ujar Linton. “Tubuh kita tidak dirancang untuk berada dalam kondisi tersebut 24/7. Jadi, saat hal itu terjadi, hormon stres seperti kortisol melonjak, yang bisa menyebabkan kerusakan parah terhadap otak dan tubuh.”

Tingkat stres setinggi itu, yang disebut Linton “stres beracun,” dapat meningkatkan risiko anak-anak terkena gangguan depresi, penyakit diabetes, dan bahkan penyakit jantung.

Sementara Sara dan anaknya menunggu keputusan soal klaim suaka mereka, mereka tinggal dengan ayah Sara, yang merupakan sponsor resmi anaknya. Sara bilang sehari-harinya dia bekerja sebagai staf kebersihan di sebuah hotel, dan anak perempuannya sedang libur sekolah.

Tapi Sara dan anak perempuannya masih menatap masa depan yang tak pasti. Kebijakan Trump lainnya boleh jadi memengaruhi kemampuan Sara tinggal di AS untuk jangka panjang. Awal bulan ini Jaksa Agung Jeff Sessions mengeluarkan keputusan bahwa kekerasan dalam rumah tangga dan dalam geng tidak lagi dianggap basis untuk meminta suaka. Imigran-imigran seperti Sara, yang melarikan diri dari kampung halamannya, akan terkena dampak kebijakan ini.

“Kalau saya kembali, mereka akan membunuh saya dan anak perempuan saya,” ujarnya.

Carter Sherman berkontribusi dalam pelaporan ini.

More VICE
Vice Channels