Musik

Dua Dekade Future 10 Menggawangi Kancah Elektronik Jakarta

VICE mewawancarai Hogi Wirjono, salah satu anggota kolektif legendaris yang membidani kelahiran kancah musik elektronik dengan mengusung party di klub Parkit.
23 Desember 2017, 10:00am
Foto perayaan 22 tahun Future 10 oleh Moses Sihombing.

Future 10, kolektif besutan Anton Wirjono dan Hogi Wirjono, merayakan ulang tahun ke-22 dengan membuat dua pesta perayaan sekaligus. Pertama tanggal 2 Desember memakai tajuk Turn On Plastic dan yang kedua tanggal 9 Desember 2017 (Back In The Days). Saya mengirimkan pesan berisi ajakan untuk mewawancarai Hogi. Bagaimana tidak? Ada teks yang sangat menarik pada flyer acara mereka: Celebrating 22 years of dedication to the scene.

Untuk ukuran seorang pionir musik elektronik nasional dengan pengaruh signifikan terhadap budaya populer di Indonesia, Hogi sangat santai dan informatif menanggapi pertanyaan. Ketika ditanya mengenai apa yang sedang sering Ia pikirkan belakangan ini, Ia mengaku sering memikirkan bagaimana musik 10 (sepuluh) tahun lagi. “Belum bisa membayangkan akan seperti apa”, tambahnya. Hal tersebut sudah menjadi introspeksinya selama 2 (dua) tahun belakangan karena perubahan rutinitasnya dalam mendengarkan musik. “Ini terjadi karena sudah tidak dikendalikan oleh kegiatan beli rilisan fisik di toko musik.”

Sekira 22 tahun yang lalu, Anton Wirjono—kakak kandung Hogi—baru saja kembali dari studinya di San Fransisco, Amerika Serikat. Kala itu Hogi masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Mereka sepakat memulai bisnis toko musik dengan modal satu kartu kredit dan koneksi yang baik dengan distributor vinyl di San Fransisco. Toko itu terletak di bilangan Wijaya (Jakarta Selatan). Circa tahun 1995, Anton belum mempunyai kesempatan untuk bermain sebagai pemandu cakram padat atau disc jockey (DJ) di banyak venue di Jakarta karena dianggap memainkan musik yang dianggap asing. “Gerbang Future masuk ke scene justru adalah lewat menjual piringan hitam sebenarnya,” kenang Hogi.

Toko musik independen itu kemudian menjadi penyedia piringan hitam untuk banyak tempat. Anton dan Hogi bahkan perlu kulo nuwun dengan beberapa toko piringan hitam di daerah Kota (Jakarta Pusat) karena mereka menjual piringan hitam dengan harga lebih murah sekaligus koleksi musik yang lebih terkurasi.

Sampai akhirnya, Ian (Hamnur) datang untuk belanja di toko itu. Ian menilai kurasi piringan hitam di toko mereka keren. Ia lantas mengajak Anton dan Hogi untuk mampir ke tempatnya bekerja sebagai resident DJ sekaligus music director di sebuah klab malam bernama Parkit yang berlokasi di bilangan Sabang, Jakarta Pusat.

Ketika Anton dan Hogi pertama kali datang ke Parkit untuk bertemu dengan Ian, tempat itu masih belum populer dan sepi pengunjung. Saat itu, Parkit baru direnovasi. Walaupun piranti sistem audionya turbosound mumpuni pada masanya, tetap saja Parkit belum banyak diminati. Anton dan Hogi memutuskan membuat party pertama mereka yang diberi nama Future. Setiap kali membuat party di Parkit, Future selalu membawa sound system tambahan, sampai mengurus sendiri materi visual dan dekorasi pelengkap acara. “Party pertama di Parkit itu meledak parah jadi kami dikasih slot setiap minggu di Parkit."

"Resident DJ Future saat itu adalah Anton, gue, dan Alan Llewllyn," imbuh Hogi. Saking banyaknya, Parkit tak muat lagi menampung pengunjung. Harga tiket masuk parkit saat itu Rp30 ribu. Anton dan Hogi lantas mengatur kerja sama dengan Parkit secara lebih rinci dan sepakat untuk menggelar acara rutin menggunakan skema profit sharing, skema yang kemudian membantu acara terus berkesinambungan. Pada era 90’an, sebagian besar kelab malam di Jakarta memiliki standar beats per minute (BPM) dan genre yang harus diikuti pada setiap acara. Pembagian ruangan menjadi policy yang diambil memastikan crowd memiliki opsi atas suguhan musik yang akan dinikmati.

Begitu pula dengan Parkit yang terbagi menjadi dua ruangan, yaitu main room dan chill room. Seiring waktu, personil Future akhirnya bertambah dengan masuknya Downey Ariando dan Heru Kartowisastro. “Downey itu dulu selalu datang ke acara yang kami bikin dan menonton dari dekat speaker di samping DJ booth. Sedangkan Heru baru pulang dari Denver setelah Future sudah berjalan beberapa tahun”. Downey dan Heru diajak masuk ke Future karena persoalan chemistry, bukan sebatas pertimbangan musik saja.

Seingat Hogi, di tahun 1995 sebetulnya belum ada scene beneran. "Saat kita mulai, ada semacam semangat dari beberapa pihak yang akhirnya membentuk scene yang berangkat dari underground. Ketika kita memulai Future, DJ yang mau bermain di kelab malam harus menjadi resident DJ atau semi-resident DJ," ungkapnya.

Pada masa itu r__esident DJ di Jakarta umumnya bermain menggunakan koleksi vinyl kelab dia bekerja. Jarang yang memutar plat milik pribadi. Future akhirnya berusaha mengubah pola tersebut. Hogi dan kakaknya ingin DJ wajib memiliki koleksi vinyl sendiri agar mereka bisa mengembakan karir secara personal. Sealain Future, yang menggasa ide serupa adalah Naro dan Romy yang juga beberapa kali ikut meramaikan gig Future. Belakangan, keduanya mengembangkan konsep musik elektroniknya masing-masing. "Romy akhirnya membuat 1945 Music Factory sedangkan Naro membentuk Original Naro.”

Dalam perjalanannya sebagai party thrower merangkap kolektif DJ, Future dikenal tidak pernah mengotak-ngotakkan musik. Acara mereka bisa dibilang multi genre. “Dalam hal ini, house yang kami mainkan satu sama lain itu beda, begitupula ketika main disco tetap berbeda satu sama lain. Bahkan, party drum & bass pertama di Jakarta saja kami yang bikin. Walaupun Future dapat dikatakan tidak takut untuk keep up dengan perkembangan zaman, kami tidak pernah meninggalkan acid house dan rave yang merupakan roots kami.”

Akhir 90’an, ketika Future tengah menjadi sorotan banyak kalangan, Anton Wirjono menghentikan program di Parkit dan mulai mengerjakan Bengkel Nightpark yang terletak di Sudirman. Hogi bercerita bahwa saat itu situasinya sangat intens, dia sempat stres setelah zaman Parkit karena orang-orang di sekitarnya banyak yang terkena narkoba. Dia juga merasa masih terlalu muda untuk menanggung tanggung jawab besar akibat pertumbuhan crowd Future yang pesat sekali. Pada kurun waktu yang sama, Hogi melanjutkan studi perfilman ke Amerika Serikat. Di sana karir musiknya semakin berkembang.

Foto oleh Moses Sihombing.

Era Baru Future 10

Di tengah percakapan, Hogi meminta wawancara dilanjutkan lagi setelah party pertama perayaan 22 tahun Future 10 selesai digelar di Jenja; sebuah chain club yang buka di bilangan Cilandak. Saya hadir, untuk meliput tentu saja. Malam itu tanggal 2 Desember 2017, berdiri lima orang di DJ booth Jenja yang tergolong megah, mirip mimbar di gereja. Mereka—Anton, Hogi, Downey, Heru, Dipha Kresna Aditya Barus (Dipha Barus), dan Dimas Arief (AP)—bermain dengan setelan back to back sepanjang acara yang selesai sekitar pukul 5 pagi. “Bubaran party paling seru," ungkap Hogi mengenai apa yang dialaminya pada party itu.

Dua nama yang disebut terakhir, Dipha dan AP, sebetulnya merupakan bagian dari Future 10 yang merupakan babak baru kolektif Future yang pada tahun 2005 merayakan anniversary ke-10 dan menambahkan angka “10” pada nama “Future”. Saat itu, mereka memasuki era millennium dan internet mulai banyak digunakan. Perihal ini berkaitan erat dengan keputusan untuk menambahkan “10” karena pembelian nama domain future.com sangat mahal jika dibandingkan dengan nama domain future10.com.

Di saat bersamaan, Hogi dan Anton sekalian membentuk Agrikulture yang awalnya ada karena mereka sering diundang membuat remix untuk keperluan live show unit musik besar seperti Slank, Shanty, dan Indra Lesmana. Lama-kelamaan, mereka terdorong untuk membuat materi lagu sendiri yang berlanjut kepada ide untuk merilisnya dalam sebuah kompilasi. Kompilasi tersebut akhirnya sukses dikerjakan, namanya adalah Jakarta Movement ’05.

Permulaannya, Jakarta Movement dibuat dalam format dance music festival yang berasal dari inisiatif Hogi Wirjono dan telah digelar sebanyak dua kali, pertama di 2003 dan kedua di 2005. Meningkatnya eksposur dan kapabilitas Future 10, membawa berbagai kesempatan baru bagi entitas itu sehingga muncul pembaruan yang teridentifikasi pada era baru Future 10 di 2000’an. Pertama, mulai aktifnya beberapa personil baru di Future 10. Mereka adalah Matthew Mayo Ronald, Dipha Barus, Ditto, dan AP. “Ditto sempat berhenti karena fokus dengan karirnya sebagai pilot.

"Dipha awalnya kami ajak bermain bass di Agrikulture dan berlanjut kami tawarkan untuk mengembangkan karir di dunia musik dengan jadi DJ di Future. Mayo kita lihat berpotensi dan cocok dengan visi Future 10 jadi kami ajak dia untuk masuk Future. AP sudah sering ikut bekerja dengan Future di bidang produksi dan organize acara sebelum akhirnya dia siap untuk mulai jadi DJ.”

Nama-nama tersebut juga punya andil dalam pembentukan scene musik dance dan/atau electronic di Indonesia. Kedua, Future 10 menjadi serius di bidang event organizer dengan mendatangkan musisi mancanegara, membuat event berskala besar yang tidak lagi terbatas pada konsep party, hingga organize festival. “Kemungkinan, festival dengan konsep multi stage—multi genre yang pertama dibikin di Indonesia adalah festival Jakarta Movement yang kami bikin di Ancol. Gue juga baru mikir begitu setelah ngobrol dengan Peter F. Gontha.” Ini juga yang jadi cikal bakal adanya Brightspot Market dan Goods Dept.

Setelah percakapan bergulir sambung-menyambung selama hampir dua minggu, Hogi meminta wawancara dilanjutkan kembali setelah

party

kedua perayaan 22 tahun Future 10, kali ini mereka merayakannya dengan Anton dan Hogi sepanjang malam di atas

deck

Dragonfly dalam program Back In The Days yang secara rutin telah berjalan sejak awal 2000’an.

Hogi kemudian menguraikan bahwa kondisi

nightlife

era 90’an justru lebih bebas dibandingkan sekarang. “Jakarta sempat bisa dibilang sangat mencuat

nightlife

-nya hingga banyak turis dari negara-negara tetangga yang datang khusus untuk

party

karena tempat

afterhours

-nya banyak dan lebih mudah mendaptkan

substance

. Misalnya, Parkit setahu gue cuma pernah sekali digrebek, itupun gosipnya ada yang mengirimkan karena kita sedang ramai-ramainya. Tapi ya

all good things don’t last

. Gue rasa, Future sudah membantu membangun fondasi untuk masa depan dan karena itu sebenarnya nama Future kita gunakan."