Iklan
Kerusakan Lingkungan

Pulau Jawa Diprediksi Akan Kehabisan Air Bersih pada 2040

Prediksi yang dilaporkan pertama kali oleh BBC Indonesia ini menunjukkan air di Jawa makin susut. Pemicunya kombinasi perubahan iklim, manusia terlalu banyak, dan kerusakan lingkungan.

oleh VICE Staff Dan Ikhwan Hastanto
06 Agustus 2019, 3:32am

Kekeringan parah di Desa Sirnagalih, dekat Jakarta. Foto oleh Supri/Reuters.

*Artikel ini diperbarui pada Kamis (8/8) pukul 00.45 WIB, untuk mempertegas bahwa laporan tentang krisis air Pulau jawa ini pertama kali dilansir oleh jurnalis BBC Indonesia, lalu dikemas ulang awak redaksi VICE.

Buat penduduk Pulau Jawa yang masih suka buang-buangin air pas mandi, kayaknya mulai sekarang harus mulai berpikir sepuluh kali deh kalau masih mau boros. Pasalnya, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memprediksi sumber air di seluruh Jawa akan kering pada 2040, demikian merujuk laporan BBC Indonesia, Senin (5/8) yang ditulis Abraham Utama dan Anindita Pradana Gunita. Ini ancaman di level yang berbeda ketimbang kehabisan air karena mati listrik. Air di Jawa bakal habis.

Menurut data Puslitbang Sumber Daya Air Kementerian PUPR di tahun 2012, yang dikutip BBC, persediaan air bagi setiap orang di Jawa adalah sebanyak 1.169 meter kubik per tahun. Dalam Kajian Lingkungan Hidup Strategis RPJMN Bappenas 2019, tahun 2040 nanti persediaan air di Jawa bersisa 476 meter kubik saja untuk tiap orang per tahun saja. Laporan itu sudah melabeli situasi demikian sebagai “kelangkaan total”.

Cadangan air di Jawa adalah yang terendah di antara Bali, NTT, NTB, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Ancaman kehabisan air ini menjadi salah satu motivasi pemerintah untuk memindahkan ibu kota negara ke Pulau Kalimantan, yang menurut data Kementerian PUPR, menyimpan cadangan air sebanyak 80.167 meter kubik per orang per tahun.

LIPI menyebut ada tiga faktor pemicu krisis air di Jawa, yakni perubahan iklim, pertambahan penduduk, dan alih fungsi lahan. Untuk mengatasi ancaman kelangakaan air, pemerintah berencana membangun bendungan dan merevitalisasi waduk sertadanau. Tapi, upaya ini menurut peneliti tidaklah cukup mengatasi ancaman. Kalau emang perubahan iklim agak susah diselesaikan di Indonesia karena banyak orang Indonesia nggak percaya perubahan iklim itu riil, seenggaknya pemerintah bisa harus fokus mengendalikan pertambahan penduduk. Sebab, jumlah penduduk di Pulau Jawa nyatanya terus tumbuh tak terkendali. Pulau ini berpeluang dihuni setengah dari total penduduk Indonesia pada 2035.

Kementerian PUPR telah mengalokasikan anggaran sumber daya air sebesar Rp39,7 triliun yang sebagian besar akan dipakai membangun 65 bendungan (target 2022) dan 1.053 embung (target 2019). Menteri Basuki Hadimuljono menganggap bendungan diperlukan sebagai tempat penampungan air saat musim kemarau tiba. Sementara Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menyalahkan kenapa masyarakat yang mengebor sumur untuk mengambil air tanah, padahal mereka melakukan itu karena tidak terlayani PDAM. Terus warga disuruh pasrah aja gitu kalau nggak ada air?

“Selain merusak air tanah, itu (sumur bor) juga mengurangi ketersediaan air karena pengambilan yang tidak terkendali,” ujar Bambang, masih dari BBC Indonesia.

Jawa Timur adalah wilayah di Jawa yang paling merasakan dampak kekeringa yang sudah terjadi sejak tahun ini. BNPB Jawa Timur menyebut,kekeringan masih akan dirasakan sampai September mendatang. Di Desa Klepu, Pacitan, warga sudah sampai harus mengambil air di gua vertikal demi memenuhi kebutuhan 85 rumah tangga yang tidak terjangkau PDAM.

Kelangkaan air 21 tahun lagi juga dipicu alih fungsi daerah resapan. Dari data Walhi, kawasan tambang di Jawa Timur selama 2012-2016 meningkat hampir dua kali lipat dari 80 ribu menjadi 151 ribu hektare. Mayoritas lahan tambang baru disinyalir berada di kawasan hutan. Direktur Walhi Jawa Timur Rere Christanto mengklaim, alih fungsi lahan di Kota Batu, Malang, Jawa Timur selama 2001-2015 telah membabat setengah sumber mata air di wilayah tersebut hingga hanya tersisa 51 mata air saja.

Data-data tadi bikin saya mikir bahwa imajinasi lama tentang kiamat yang dibayangkan berupa hujan meteor atau letusan gunung berapi supermasif kayaknya perlu direvisi. Sangat mungkin lho bencana kayak stok air sepulau habis atau udara beracun dihirup orang satu provinsi sebenarnya adalah tanda-tanda kiamat yang paling riil.