Iklan
Politik Internasional

Warga Gaza Geram pada Hamas dan Fatah yang Tak Kompak Dorong Gencatan Senjata

Hamas tak kunjung bersepekat dengan Otoritas Palestina dari Faksi Fatah mengupayakan gencatan senjata dengan Israel.

oleh Sebastian Walker, Sean Stephens, Dan Amel Guettatfi
09 November 2018, 7:02am

Suasana penuh kemarahan menyelimuti pemakaman seorang warga Gaza yang terbunuh dalam sebuah aksi protes di perbatasan Israel baru-baru ini. Tetapi kemarahan ini tidak diarahkan kepada Israel, tapi justru ke pemimpin Palestina.

“Semoga Allah mengutuk presiden dan pemimpin mereka, dan Presiden Abu Mazen, dan semua yang menyatakan dirinya sebagai pemimpin,” ujar Mohammed Abu Lebda, kakak dari Ahmed yang terbunuh di aksi protes pada Oktober. “Ini semua salah mereka.”

Palestina dan Israel tampaknya sudah mendekati gencatan senjata, dan dialog bilateral masih berlangsung. Mesir pun telah menengahi persetujuan untuk menghentikan konflik beberapa bulan lalu pada Agustus.

Tapi di lokasi konflik, perdamaian tak kunjung datang.

Ini sebagian disebabkan kepemimpinan Palestina, yang selama bertahun-tahun tidak solider dan kini sudah mulai runtuh. Kini ada dua partai politik besar: Pihak Palestina, yang dipimpin Presiden Mahmoud Abbas di Tepi Barat, dan Hamas, grup Islamis yang mengendalikan Jalur Gaza. Kedua fraksi tersebut bertarung untuk mewakili suara otoritatif warga Palestina ketika bernegosiasi dengan Israel dan Amerika Serikat.

Sampai tahun ini, Pihak Palestina dianggap sebagai satu-satunya fraksi yang dapat mendukung perdamaian. Tetapi setelah administrasi Trump memutuskan untuk memindahkan kedutaan AS ke Yerusalem, yang tentunya dikecam oleh Palestina, Presiden Abbas memutuskan hubungan dengan AS. Ini memberi kesempatan kepada Hamas untuk menjadi fraksi perdamaian di mata Israel dan AS.

Dalam sebuah pidato di sesi khusus Parlemen di Tepi Barat minggu lalu, Presiden Mahmoud Abbas menyatakan, “Periode yang kita sedang kita alami merupakan yang paling berbahaya bagi kehidupan warga Palestina.”

Kini Hamas melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya: bernegosiasi langsung dengan Israel dengan dukungan Washington — yang tentunya membuat Presiden Abbas murka.

Sebaliknya, Pihak Palestina meyakini bahwa mereka telah dipaksa mundur dari percakapan dengan AS akibat upaya administrasi Trump seperti membekukan lebih dari 200 juta dolar AS bantuan dana PBB yang ditujukan untuk pengungsi Palestina.

“Masalahnya adalah Pihak Palestina, yang tidak tertarik dengan gencatan senjata,” ucap Ghazi Hamad, perunding Hamas, kepada VICE News. “Mereka ingin memblokir upaya ini.”

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News