Quantcast
Pakan Hewan

Apa Jadinya Bila Manusia Keseringan Ngemil Pakan Hewan Peliharaan?

Akui sajalah, pasti ada dari kalian yang pernah ngemil makanan anjing/kucing. Adakah dampak buruknya bagi kesehatan tubuh?

Denny Watkins

Sumber foto: Yellow Dog Productions/Getty Images.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Begini skenarionya: makanan hewan peliharaan kalian kayaknya enak. Lihat saja merk-merk yang menawarkan variasi rasa snack anjing/kucing seperti "kaldu daging sapi," "ayam saus cokelat dengan nasi dan bayam," atau "seafood bakar." Humanisasi makanan hewan peliharaan bukan tren yang mengejutkan, karena pada akhirnya manusialah yang memilih dan membayar makanan itu di toko. Lagipula, anjing-anjing didomestikasi dengan memakan sisa makanan manusia selama ribuan tahun, jadi engga heran jika kita mikir boleh mengonsumsi makanan mereka. Kamu mungkin sering bertanya-tanya: hal buruk apa sih yang bisa didapatkan kalau kita mencuil sedikit makanan si Spike?

Fakta ini yang perlu kalian tahu: makanan kucing dan anjing bisa mengandung daging dari perternakan-perternakan yang sama yang memproduksi ayam dan daging untuk kita makan sehari-hari. Potongan stik sempurna dari New York kemungkinannya kecil terkandung dalam makanan anjing, yang biasanya mengandung otot dan jeroan. Tapi kalau kamu aja doyan dengan jeroan, ya sebetulnya engga ada yang perlu dikhawatirkan dari makanan hewan peliharaan.

"Saya engga bisa bilang semuanya seperti itu, tapi beberapa standar di makanan hewan peliharaan melampaui apa yang saya lihat dalam pembuatan makanan manusia," ujar Kathryn Michel, ahli gizi yang mengajar di University of Pennsylvania. Meski makanan hewan peliharaan juga dibuat dengan standar kebersihan dan kemanan tertentu, standar itu berbeda dari yang diterapkan pada potongan-potongan daging sapi atau keripik kentang di supermarket. Jadi, akan sulit menempuh jalur hukum kalau kamu sakit gara-gara kebanyakan ngemil makanan hewan peliharaan.

Dari sudut pandang hukum, kebanyakan makanan hewan "tidak cocok dikonsumsi manusia." Meski makanan hewan peliharaan yang dijual di Amerika Serikat diawasi oleh Food and Drug Administration, sebagian besar peraturannya diurus oleh masing-masing negara bagian. Negara bagian umumnya mengikuti aturan yang dibuat Association of American Feed Control Officials, organisasi yang memayungi seluruh badan-badan pemerintah pembuat kebijakan.

Risiko terburuk yang bisa terjadi: Jika sekantung atau seboks makanan hewan peliharaan kering robek dan isinya berceceran, misalnya, di pojokan kotor dekat wastafel, butiran itu bisa terkena E.coli atau patogen berbahaya lainnya, jadi ya jangan dimakan. (Dan mestinya sih kamu juga engga ngasih makan hewan peliharaan dengan makanan yang udah tercecer di lantai.) Atas alasan itu, ya sebaiknya kamu mencuci tangan sebelum dan sesudah ngasih makan hewan peliharaah—seperti sebelum dan sesudah kamu makan. "Kita engga punya kebiasaan mencuci tangan yang baik saat ngasih makan hewan, berbeda dari saat kita sendiri yang akan makan," ujar Beth Ann Diktoff, dosen biologi di Sarah lawrence College dan penulis buku Why Don't Your Eyelashes Grow?

Makanan hewan kalengan, mestinya sih steril karena proses pengalengan. Dari waktu ke waktu, kaleng-kaleng tersebut terkontaminasi selama proses pembuatan. Salah satu kasus terbesar soal itu terjadi di 2007, ketika makanan anjing dan kucing terdiri dari 150 merk berbeda harus ditarik dari pasaran. Seorang pengusaha ekspor gandum perekat dan protein nasi mencoba curang saat pengujian konten protein dalam produk mereka, dengan menambahkan melamin, tipe plastik yang umumnya ditemukan pada piring makan. Racun tersebut menyebabkan 14 kematian hewan peliharaan di Amerika Serikat. Jenis penipuan tersebut tidak lagi legal di Cina maupun negara-negara Barat, tentunya. Setahun kemudian, susu formula di Cina ditemukan mengandung konteminasi melamin yang sama, menyebabkan 300,000 bayi sakit dan menewaskan belasan bayi. Dua eksekutif perusaahan tersebut terbukti bersalah dan menghadapi hukuman mati dan dieksekusi atas dasar hukum Cina.

Intinya, kamu lebih mungkin memakan makanan manusia yang terkontaminasi, namun mungkin aja sih kamu tertimpa sial dan pengalamanmu mengonsumsi makanan non-manusia berujung salmonella—atau makanan anjing yang terkontaminasi listeria.

Kemungkinan yang akan terjadi: Kamu akan mengonsumsi daging dan sayuran yang—meski terlihat engga enak—setara dengan santapan kecil. "Tidak ada yang tidak bisa dicerna dari bahan-bahan di makanan hewan peliharaan," kata Michel. Anjing dan kucing membutuhkan proporsi protein lebih tinggi dibandingkan manusia. Makanan kucing khususnya mengandung karbohidrat lebih sedikit, meski beberapa merk mengandung serat bernutrisi. Tapi kalau kamu terus-terusan makan makanan hewan peliharaan, kamu akan kekurangan gizi dalam jangka panjang. "Anjing-anjing dan kucing-kucing engga butuh vitamin C dalam pola makan mereka karena mereka memproduksi vitamin C sendiri," ujar Michel. Ini nih yang wajib kalian ingat: makanan hewan peliharaan tidak selalu mengandung vitamin C yang dibutuhkan manusia.

Kesimpulannya: Kalau kamu perlu memenangkan taruhan atau bertahan hidup selama beberapa hari di saat makanan langka, kamu bisa saja membuka kotak makanan kucing atau anjing peliharaan kalian. Makan saja, tidak perlu khawatir. Masalahnya, kamu sebaiknya selalu mencuci tangan sebelum dan setelah makan. Tentu saja, jangan lupa selalu simpan makanan itu di tempat kedap udara yang bersih.