Pandemi Corona

Kumpulan Foto Ini Merekam Senyapnya Bali yang Kini Kehilangan Turis

Pandemi corona menghantam bisnis pariwisata Tanah Air amat parah. "Saya cuma sanggup dua-tiga bulan saja kayak gini. Lama-lama toko bisa tutup kalau begini terus," kata warga di Denpasar.
01 April 2020, 6:10am
Bali Senyap Tak Ada Turis Akibat Virus Corona
Mal Discovery di Bali tutup. Semua foto oleh penulis.

Pulau Dewata adalah destinasi wisata favorit saat liburan. Setidaknya ada enam juta wisatawan asing dan 10 juta wisatawan domestik yang berkunjung ke sana setiap tahunnya.

Bali mulai dikenal dunia saat kapal pesiar berlabuh pada 1930-an, dan semakin diakui ketika bandar udara internasional pertama dibuka di Kuta 30 tahun kemudian. Seiring berjalannya waktu, pembangunan tak terkendali mengubah desa nelayan yang tenang dan bersih menjadi pusat hiburan malam yang kotor dan berisik.

Bali kini kembali sepi akibat penyebaran virus corona meluas tanpa henti. Pada pertengahan Maret, ketika industri pariwisata Indonesia mulai mandek, saya jalan-jalan di sekitar Kuta untuk mengabadikan momen langka ini. Saya juga menanyakan warga setempat bagaimana pandemi coronavirus memengaruhi hidup mereka.

Berikut pengakuan mereka:

Mr. Pearl jualan perhiasan murah sebagai sumber pemasukan. Dia sudah 30 tahun menggeluti profesi ini. Mr. Pearl tak putus asa berjualan meski Bali kini sepi pengunjung. “Saya Mr. Pearl. Jangan lupa kasih tahu teman-temanmu tentangku.”

“Menurutmu, berapa lama ini akan berlangsung? Kapan turis bisa balik lagi ke sini?” tanya pemilik toko di Kuta Selatan. “Saya cuma sanggup dua-tiga bulan saja. Lama-lama toko bisa tutup kalau begini terus.” Lelaki itu menggelengkan kepala pasrah saat saya memberitahunya bisa sampai tahun depan. “Saya enggak bisa menunggu selama itu,” ujarnya.

Mal Discovery di Boardwalk Kuta sudah tutup. “Putriku kerja di Bali, jadi saya dan suami meninggalkan Jakarta cuma untuk memastikan dia baik-baik saja,” tutur perempuan dalam foto. “Dia lagi sibuk sekarang, makanya kami jalan-jalan saja. Baru ini tempatnya sepi banget."

Sekelompok orang Bali bersembahyang di persimpangan Kuta yang biasanya ramai. Foto ini diambil pada 25 Maret, bertepatan dengan hari kedua Melasti (ritual penyucian diri). Satpam “Pecalang” mengatakan enggak ada salahnya melanggar social distancing untuk mendoakan keselamatan Bali. “Bali bisa mati kalau kita enggak berdoa,” katanya.

Perahu sampan biasanya digunakan untuk menangkap ikan, yang nantinya dikirim ke pasar, hotel, resor, dan restoran di seluruh pulau Bali. Berhubung tempat wisata banyak yang ditutup, permintaan makanan laut terjun bebas. Pada akhirnya, sampan-sampan ini terbengkalai di tepi pantai Kuta.

Panti pijat tersebar di seantero Bali, menyediakan lapangan pekerjaan bagi ribuan perempuan. Hampir semua panti pijat tutup akhir Maret ini. Eta, tukang pijat di sebelah kiri, merantau dari Lombok untuk kerja di Bali sejak 2,5 tahun lalu. Panti pijat mereka memberi diskon 50% supaya bisnis tetap jalan.

Seorang turis berjalan sendirian melewati Azul Beach Club di dekat Kuta. “Pagi, kawan,” sapanya ketika dia berpapasan denganku. Seperti klub tepi pantai lainnya, Azul Beach Club masih buka hingga akhir Maret. Hampir tak ada pengunjung yang mampir.

Seorang wisatawan asing berdiri di depan gerbang masuk pantai Kuta.

Seorang warga tiduran di atas dipan kayu di sebelah perahu sampan. Foto diambil di Boardwalk Kuta.

Gerai ATM yang sepi di dekat Mal Discovery, Kuta.

Pantai Kuta mulai dibanjiri wisatawan pada 1970-an. Ini pertama kalinya pantai, yang biasanya padat pengunjung, kosong melompong. Foto diambil pada 19 Maret 2020.

Deretan payung pantai tertutup di Pantai Legian, Kuta utara.

Ian Neubauer adalah jurnalis lepas, menulis untuk VICE Australia

Iklan