Iklan
Dilema Ternak

Pemerintah Musnahkan 7 Juta Telur dan Anak Ayam tiap Minggu Dengan Alasan Jaga Harga

Cara sadis ini dipilih untuk mengatasi kelebihan pasokan ayam di pasaran yang bikin harga kembali anjlok. Kata peternak lokal, ini semua gara-gara pemerintah membuka impor.

oleh Ikhwan Hastanto
03 Desember 2019, 7:54am

Ilustrasi ternak ayam dan telur di Indonesia. Foto oleh Ahmad Zamroni/AFP

Sudah memaksa para ayam memproduksi telur lewat cara-cara tidak normal, kini setelah kelebihan kuota, jutaan ayam akan dibunuh begitu saja atas nama kontrol harga. Keputusan ini diambil Kementerian Pertanian (Kementan) pada 27 November lalu. Anjloknya harga ayam karena kelebihan suplai membuat 7 juta bibit ayam akan dimusnahkan setiap minggu sejak Desember 2019.

“Berdasarkan rapat koordinasi perunggasan tanggal 19 November 2019, diputuskan untuk melakukan pengurangan HE (telur tertunas) umur 19 hari sebanyak 7 juta per minggu berlaku mulai 1 Desember 2019. Sehingga target total pengurangan HE pada Desember 2019 sebanyak 28 juta butir,” ujar Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan Sugiono kepada Detik. Sugiono menambahkan praktek pemusnahan bibit ayam akan berpengaruh pada peningkatan harga ayam di level peternak.

Sebelumnya, para peternak yang menamai diri mereka Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) berunjuk rasa di depan kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag). Mereka menuntut pertanggungjawaban kebijakan impor 670 ribu indukan ayam oleh pemerintah pada 2017 lalu yang kini mengakibatkan stok ayam hidup terlalu melimpah. Turunnya harga ayam karena stok berlebih membuat para peternak mengaku rugi hingga Rp2 triliun.

“Masih di angka Rp2 triliun dari kerugian seluruh peternak nasional. Karena memang saya sendiri pun sudah miliaran rugi dan saya sendiri termasuk yang paling kecil di antara teman-teman lain. Teman-teman saya ratusan miliar merugi,” keluh perwakilan peternak Parjuni. Kerugian terjadi karena harga ayam hidup di tingkat peternak hanya Rp16-17 ribu, di bawah harga yang ditentukan Permendag no. 96/2018 sebesar Rp18 ribu.

Pemusnahan untuk memulihkan harga ayam hidup jadi pilihan karena memang sudah terbukti berhasil. September lalu, harga daging ayam langsung stabil di angka Rp33.500 per kg akibat program pemusnahan bibit ayam di bulan yang sama. Bahkan, pada 16 Oktober, harga menyentuh Rp33.800 per kg, tertinggi sejak lebaran. Saham pelaku usaha unggas pun kena dampaknya. Harga saham perusahaan industri unggas seperti PT Malindo Feedmill Tbk. naik 6,19 persen, PT Charoend Pokphand Indonesia Tbk. naik 4,74 persen, dan PT Japfa Comfeed Tbk. naik 1,89 persen.

“Ayam yang dimusnahkan adalah DOC atau ayam yang baru berumur sehari dan yang akan menetas. Ini sebagai upaya agar harga ayam di tingkat peternak yang saat ini rendah kembali normal. Harga ayam yang jatuh di tingkat peternak saat ini disebabkan produksinya yang melimpah di pasaran. Jadi dengan pemusnahan ini diharapkan bisa mengurangi produksi sehingga harga bisa kembali normal,” jelas Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Toto Subandriyo kepada Tagar.

Pencinta binatang pasti bergidik membayangkan jutaan anak ayam umur sehari yang lagi imut-imutnya bakal dimusnahkan dengan cara sesadis apa. Halo PETA?

Di masa mendatang, masalah yang dihadapi industri unggas Indonesia akan semakin kompleks karena Indonesia resmi kalah dalam sengketa impor ayam dengan Brasil di sidang Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Hasil dari sidang yang sudah digelar sejak 2017 lalu itu membuat Indonesia wajib menerima impor unggas dari Brasil. Meski proses impor masih panjang, namun kelebihan produksi yang saat ini sudah terjadi bisa semakin rumit ketika ayam Brasil mulai masuk. Apalagi ayam Brasil disinyalir lebih jago bermain sepak bola.

Tagged:
News
indonesia
The VICE Guide to Right Now
Berita
Kementerian Pertanian
Telur
Pemusnahan Unggas
Kemandirian Pangan
Produksi Pangan