Iman Pada Hari Akhir

Bertandang ke Ponpes di Malang yang Percaya Kiamat Sudah Dekat

Reputasi Ponpes Miftahul Falahil Mubtadin​ memburuk akibat eksodus puluhan orang dari Ponorogo, sampai rela jual rumah, demi menghindari kiamat. VICE mampir ke sana untuk mempelajari ajaran tarikat ini.

oleh Reno Surya
31 Juli 2019, 9:28am

Jamaah Ponpes Miftahul Falahil Mubtadin yang disebut mengajarkan doktrin kiamat menjalankan ibadah di masjid. Foto oleh Ivan Darski.

Satu per satu warga Desa Watu Bonang, Kabupaten Ponorogo, angkat kaki dari tanah kelahiran mereka saat pagi buta. Total 52 orang, mayoritas petani, pergi ke satu tujuan akhir di arah timur: Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadin. Eksodus itu membuat pemerintah Ponorogo panik. Apalagi ada satu keluarga nekat menjual semua harta bendanya. "Konon katanya untuk menyelamatkan diri dari kiamat yang akan datang. Itu kan enggak masuk akal, masa ada kiamat lokal?" kata Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni.

Kabar itu pertama kali terendus media setelah seseorang mengunggah informasi di grup Facebook Info Cegatan Wilayah Ponorogo, bahwa sejumlah orang di pelosok wilayah yang terkenal berkat kesenian reog itu menjual rumah. Alasannya demi menyelamatkan diri dari kiamat yang datang sebentar lagi. Setelah wartawan mendatangi desa itu, eksodus warga beserta aksi jual rumah dipastikan benar adanya.

Kepergian mereka dipengaruhi seorang warga Watu Bonang bernama Katimun, yang menebarkan berita kiamat akan terjadi saat Ramadhan 2019. Pria itu mengajarkan doktrin Thoriqoh Musa. Dia mengatakan batu meteor akan menghantam bumi, perang besar segera terjadi, dan manusia binasa. Warga yang percaya memilih meninggalkan desa mereka, menjual segala harta benda menuju lokasi ponpes, di Dusun Pulosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, yang diyakini terbebas dari semua malapetaka tadi.

Katimun sempat pergi dari dusun untuk mengaji di Pesantren Miftahul Falahil Mubtadin. Januari tahun ini, lelaki 48 tahun itu pulang, kemudian berkeliling ke rumah tetangga menyampaikan dogma kiamat sudah dekat. Di rumahnya ia juga mendirikan padepokan. Pengikut Katimun memercayai 7 fatwa. Salah satu isi fatwanya, konon, mengharuskan pengikut membeli pedang dan foto pendiri Pesantren Miftahul Falahil Mubtadin seharga Rp1 juta agar selamat dari kiamat.

Ketika kabarnya tersebar, netizen menertawakannya sebagai paranoia tak masuk akal, sementara polisi curiga ini praktik sekte sesat. VICE mendatangi pesantren di Malang tersebut untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Azan Zuhur sedang berkumandang ketika VICE tiba di area ponpes. Segelintir orang wara-wiri mengitari serambi masjid, sementara dua penjaga melinting tembakau sambil bersila di muka lorong menuju halaman depan ponpes. Penjaga memakai peci tinggi dan berpakaian putih dilapis rompi cokelat bertuliskan identitas pesantren.

Keduanya sigap mengadang, menginterogasi seputar apa keperluan saya datang ke pondok. Tidak sembarang orang bebas wara-wiri di area ponpes, kata mereka. Setelah basa-basi sejenak, satu penjaga berperawakan gemuk melunak. Dia mengantar saya masuk, diarahkan duduk di samping serambi masjid. Belakangan dia memperkenalkan diri sebagai Yasin.

Seperti kebanyakan jamaah lain, Yasin meninggalkan kediamannya demi mengikuti Thoriqah Musa, sebuah ritus triwulanan menjelang datangnya ramadhan yang dijalankan ponpes Miftahul Falahil Mubtadin satu dekade belakangan. Yasin tak merasa orang-orang sepertinya layak disebut pengungsi atau berniat eksodus seperti kehebohan di Ponorogo. "Kata jemaah lebih cocok, karena kita ke sini bukan karena ramalan bencana apapun. Jadi tidak tepat lah jika dikatakan pengungsi," kata Yasin kepada VICE.

Ritus Thoriqoh Musa berdurasi panjang. Jamaah yang berkomitmen mengikuti agenda ini harus meluangkan waktu minimal tiga bulan. Sebagian datang bersama keluarganya lengkap, sampai ada yang mengontrak rumah-rumah warga sekitaran pondok. Sementara jemaah yang datang seorang diri seperti Yasin bisa tinggal di masjid, membantu pengelolaan pondok.

1564560427204-DSC06990
Spanduk ini terpasang di jalan menuju ponpes saat Ramadan 2019. Foto oleh Muhammad Ishomuddin.

Tabuhan beduk menandai salat segera dimulai. Masjid perlahan disesaki santri dan jamaah berpakaian serbaputih. Yasin meninggalkan saya untuk beribadah dulu. Dia berjanji akan mengantar saya kepada Gus Romli, pemimpin Pesantren Miftahul Falahil Mubtadin, seusai salat berjamaah.

Janji itu ditepati, tetapi pertemuan urung terjadi karena Gus Romli sibuk. "Maaf ya, dia enggak bisa karena ada urusan lain. Mungkin lain waktu saja. Harap maklum ya. Sibuk orangnya," ujar Yasin. Ini penolakan kedua setelah kedatangan pertama kami Ramadan lalu. Pengurus pondok mengatakan kepada saya mereka ingin menjalankan ibadah dengan tenang tanpa gangguan dari, salah satunya, wartawan.

Yasin kemudian menemani mengobrol dan mengenalkan saya kepada jamaah lain. Ada seribu orang lain tinggal di sini. Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, jamaah seperti Yasin harus mandiri. Pihak ponpes tidak memungut biaya tinggal, namun jamaah yang akan tinggal sampai satu tahun diwajibkan menyetor 300 kilogram beras atau diganti uang Rp3 juta. Lauk-pauk sehari-hari disediakan pondok.

Sembari mengaji, Yasin sesekali tetap bekerja. Ia membuat kerupuk yang diolah dari ikan asin. "Tapi, saya enggak begitu ngurusin soal duit. Niat saya di sini ibadah," katanya. "Saya sudah tua, apa lagi yang saya cari selain bekal untuk di akhirat nanti? Lagian di sini saya kerasan kok. Cuman rutinitasnya memang berat, orang normal akan kewalahan. Sama seperti saya dulu."

Rutinitas berat yang dimaksud Yasin adalah kewajiban santri dan jamaah bangun sebelum pukul 4 pagi salat Tahajud, disusul salat Subuh. Tanpa diberi jeda mereka lanjut mengikuti pengajian dan doa bersama hingga pukul 10, yang tak lama kemudian disambung salat Zuhur. Jadwal padat merayap baru benar-benar selesai pukul 21.00. Hari Jumat agenda lebih padat lagi karena setelah salat Jumat ada acara wajib berziarah ke makam pendiri pesantren yang berpulang beberapa bulan lalu.

Sekalipun Yasin mengklaim hanya ingin lebih khusyuk beribadah, dia tak menampik bila nubuat kiamat yang segera datang mulai terlihat tanda-tandanya.

"Menurut saya, sebagai jamaah di sini harus kuat fisik dan mental. Kita beribadah itu hampir setiap waktu karena, menurut saya, kita dapat menemui kiamat kapan saja. Apalagi dengan tanda-tanda yang dituliskan Al-Quran sudah jelas dan, saya merasa, satu per satu mulai terurai," terang Yasin.


Tonton dokumenter VICE soal sekte yang berikrar membebaskan anggota dari utang di Cirebon:


Obrolan kami terhenti saat seorang santri mendatangi Yasin. Dia mengatakan kepala pondok memanggil dirinya. Yasin berjalan terburu-buru tanpa alas kaki menuju salah satu rumah di area pesantren. Tak lama berselang, Yasin kembali menjemput VICE, membawa kabar baik. Pengelola pondok pesantren akhirnya bersedia diwawancarai.

Saya diantar menuju sebuah rumah berlantai marmer biru tua yang membuatnya tampak mencolok dibanding bangunan lain. Itu kediaman Abi Khoiron, ketua pondok pesantren, adik kandung Gus Romli, sang pemimpin pondok.

Kami duduk di ruang tamu yang tembok-temboknya dikelilingi foto pendiri pesantren. Abi Khoiron mengaku kecewa terhadap pemberitaan media tentang pesantrennya. Dia bilang, seharusnya media mau tabayyun alias mengklarifikasi kebenaran kabar dengan berkunjung langsung.

1564560451508-_MG_9447
Abi Khoiron, Ketua Pengurus Ponpes Miftahul Falahil Mubtadin. Foto oleh Ivan Darski.

Dia menjabarkan kepada saya alasan pesantren ini meyakini akhir zaman segera tiba. Salah satu tanda ialah kematian Nabi Muhammad saw., 1.400 tahun lalu. "Ada beberapa tanda menuju kiamat. Misalnya, perempuan sudah tidak punya malu lagi kan sekarang? Kondisi perpolitikan seluruh dunia semakin memburuk kan?" kata Abi Khoiron. "Manusia menjadikan yang buruk sebagai tuntunan dan yang baik menjadi tontonan, [itu] tanda-tanda kiamat kecil. Jadi, apa salahnya jika kita mulai mempersiapkan [diri menghadapi kiamat besar] mulai hari ini?"

Abi Khoiron membenarkan bila Katimun adalah jamaah yang kerap tinggal dan mengikuti program Thoriqoh Musa. Namun, ia membantah ada kewajiban membeli foto pendiri pesantren. Jamaah dan santri sukarela melakukannya. Menurut Khoiron, santri membeli foto kiai yang ia panuti merupakan hal wajar.

"Sama seperti kalian mengidolakan band gitu, kan juga pasti pengin punya posternya besar-besar dan menaruhnya di ruang tamu atau kamar. Tapi tidak Rp1 juta, Rp250 ribu saja. Itu pun cuman ongkos ganti cetak dan pigura. Sisanya kami masukan saldo ponpes untuk menambal kebutuhan hidup," ujar Abi Khoiron. "Kita ini rela menjual [mobil] Pajero untuk menutupi biaya santri yang tidak mampu membayar. Kok bisa-bisanya dituduh mengambil untung dari jemaah?"

Ia juga menampik kabar pesantrennya menjual pedang seharga Rp1 juta. Menurutnya, kabar bahwa pesantrennya menyebarkan ajaran sesat muncul karena dipicu kecemburuan pesantren lain di sekitar. Thoriqoh Musa, ujarnya, hanya ajaran Islam biasa dan telah dijalankan selama lebih dari satu dekade.

Thoriqoh Musa, sebutan populer Thoriqoh Akmaliyah As-Sholihiyah yang dikembangkan di Pesantren Miftahul Falahil Mubtadin, ternyata sebuah akronim. "'MUSA AS' itu ada singkatannya, yaitu ‘Mulyo Sugih Ampuh Asal Sendiko Dawuh’. Kalau thoriqohnya [bernama] Akmaliyah as-Sholihiyah. Saya di sini mursyidnya [guru], mereka ingin mengikuti guru menyongsong jatuhnya meteor sebagai bagian tanda kiamat," kata Romli Rofa’ilalloh atau biasa disapa Gus Romli. Kalimat Jawa mulyo sugih ampuh asal sendiko dawuh berarti ‘mulia, kaya, dan kuat sepanjang menurut kepada guru’.

Tarikat adalah hal umum di dunia Islam dan jumlahnya di Indonesia sangat banyak, dari yang besar sampai yang santrinya hanya bisa dihitung jari. Thoriqoh Musa masuk dalam kelompok tarikat akmaliyah. Kata as-sholihiyah dalam nama Thoriqoh Akmaliyah as-Sholihiyah diambil dari nama pengembangnya, Kiai Sholeh Syaifuddin, yang mendirikan Pesantren Miftahul Falahil Mubtadin pada 1979. Romli Rofa’ilalloh yang kini menjadi pemimpin pesantren adalah putranya.

Bukan cuma orang-orang Ponorogo yang berbondong-bondong menjual harta untuk pindah ke Malang. Di Jember, delapan keluarga yang terdiri dari 15 orang melakukan hal sama, merujuk laporan Detik. Modusnya sama, keyakinan akan datangnya kiamat tak lama lagi. "Kebetulan ada saudara saya ikut aliran itu dan menjual tanah miliknya karena tidak berguna lagi jika kiamat," kata Fauzi, Kepala Desa Umbulsari, Kecamatan Umbulsari, Jember.

Salah seorang istri dari keluarga yang eksodus dari Jember ini jengkel dengan keputusan suaminya. Rini, sang istri, mengatakan, "Saya pasrah dunia habis [harta benda], pokok suami dan anak pulang. Tapi, kalau terus bertahan [di pesantren] saya minta cerai."

Motif menyelamatkan diri dari kiamat juga terpantau di Mojokerto. "Kata dia, ini sebentar lagi kiamat, kurang dua bulan entah bagaimana. Uang tak laku. Saya heran, uang kok tak laku," kata Ninik Suwarni yang anak perempuannya pindah bersama sang suami ke Pesantren Miftahul Falahil Mubtadin.

1564560568254-_MG_9442
Foto Kiai Agus inilah yang sempat disebut harus ditebus mahar Rp1 juta. Info itu ditepis pengurus ponpes. Foto oleh Ivan Darski.

Kekhawatiran bahwa ini sekte sesat membuat polisi Malang datang ke pesantren itu. "Saat datang ke pondok, kami juga bertemu dengan warga Ponorogo, termasuk Pak Katimun. Kami melakukan wawancara soal kedatangan mereka beserta alasannya," kata Kapolres Batu AKBP Budi Hermanto saat dihubungi Detik, Maret lalu. Polisi menyimpulkan sejauh ini tak ada pelanggaran hukum.

"Di sini masih layak sebagai pondok pesantren, bahkan pengasuh membantu para jemaah yang kurang mampu dengan menyediakan bahan pokok atau makanan," kata Budi Hermanto

Pemberitaan miring terhadap Miftahul Falahil Mubtadin, menurut Abi, membuat banyak orang tua santri ingin menarik anaknya keluar. Mereka khawatir anak mereka terpapar ideologi radikal. Warga desa juga menjadi sinis dan menaruh curiga kepada pesantren. Menurutnya kehadiran program ini berhasil mendongkrak perekonomian warga di sekitar pondok. Pasalnya, rumah warga disewa dengan harga berkali lipat lebih tinggi oleh jamaah Miftahul Falahil Mubtadin.

Pernyataan itu berkebalikan dengan pengakuan warga bernama Aunur*. Kepada VICE, Aunur menyatakan jamaah Miftahul Falahil Mubtadin cukup tertutup. Mereka jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitar. "Warga pun juga jarang dilibatkan di kegiatan-kegiatan pondok," katanya. Kediaman Aunur berjarak satu kilometer dari lokasi ponpes.

Abi Khoiron yakin serangan ke Miftahul Falahil Mubtadin adalah cobaan yang akan menguatkan pesantren. "Jika [ibaratnya] kami adalah tumbuhan, kami berangapan bahwa saat ini kami sedang dirabuk [dipupuk-red]. Kau tahu, tahi dan kotoran daun akan membuat tanah lebih subur. Setelah kami berhasil melewat fase terberat ini, kami yakin musim panen akan segera tiba. Hanya mereka yang memiliki iman akan terselamatkan," tutur Abi Khoiron.

Intervensi pemerintah Ponorogo kepada mereka yang eksodus, termasuk lewat rayuan Dinas Sosial, berbuah hasil. Sebagian jamaah berjanji pulang setelah menuntaskan pengajian tiga bulanan. Namun tidak begitu terang apakah warga yang terlanjur menjual rumah bakal kembali ke kampungnya.

Yasin, saat kami berpamitan, tetap mengimani bahwa dunia sekarang sudah terlalu tua dan akan berakhir segera. Dia tidak kapok kembali ke pondok mengikuti program triwulanan. "Karena lebih baik dipersiapkan sebelum semuanya terlambat. Kami tidak peduli dengan berita-berita yang menyudutkan," ujarnya. "Mungkin yang tidak percaya adalah mereka yang tidak beriman. Sebagai muslim, kita harus percaya hari akhir."


*Sebagian narasumber namanya disamarkan untuk melindungi privasinya.

Reno Surya adalah jurnalis sekaligus pegiat kancah musik di Kota Surabaya. Follow dia di Instagram