ring of fire

Penelitian: Satu Letusan Gunung Skala Besar Akan Serius Merusak Lapisan Ozon

Masih ingat CFC? Ternyata adanya bahan kimia itu di ozon bisa memperparah dampak letusan gunung berapi. Lebih seramnya lagi, Indonesia berpotensi jadi lokasi erupsi skala besar sebagai wilayah cincin api.

oleh Katyusha Methanisa
22 Agustus 2017, 4:30am

Letusan Gunung Bromo. Foto oleh Darren Whiteside/Reuters

Mirip seperti skenario film bencana, letusan gunung berapi berskala besar—misalnya letusan Gunung Pinantubo di Filipina pada 1991—bisa memicu reaksi berantai yang bakal secara drastis menipiskan lapisan ozon—bahkan sampai 25 persen. Hal ini terungkap dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh sekelompok ilmuwan dari Harvard University dan University of Maryland.

Hasil penelitian ini menjelaskan konsekuensi berbahaya dari sesuatu yang selama ini mengancam keberadaan lapisan ozon Bumi: efek dari CFC—senyawa kimia yang berfungsi untuk membuat kulkas lebih dingin dan hairspray lebih mudah disemprotkan. CFC tak lagi digunakan sejak beberapa dekade lalu. Sayang, sisa-sisanya masih berkeliaran di lapisan Ozon. kini para ilmuwan yakin bahwa keberadaan senyawa CFC bisa membuat letusan gunung lebih merusak lingkungan dari yang sebelumnya diduga.

"Jika jumlah halogen vulkanik, yang tersedia melimpah dalam setiap letusan gunung, melonjak di lapisan stratosfer—dalam skenario emisi gas rumah kaca mana pun di masa depan, potensi kerusakan lapisan stratosfer semakin beras," ujar Eric Klobas, peneliti utama riset ini.

Lalu apa efeknya bagi Bumi?

Gampangnya, jika ini terjadi, Bumi bakal butuh waktu yang lebih lama untuk bisa pulih dari kerusakan akibat CFC. letusan gunung api raksasa jarang terjadi. Namun, sekali terjadi, seluruh dunia bakal merasakan efeknya.

Letusan Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat, dua abad lalu tercatat sebagai salah satu letusan gunung berapi terdahsyat sepanjang sejarah, mengubah iklim Bumi selama bertahun-tahun lamanya. Sekitar 70.000 orang tewas lantaran letusan Gunung Tambora. Namun, jumlah itu masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan ratusan ribu orang lainnya yang meregang nyawa lantaran efek letusan terhadap atmosfer Bumi. Temperatur yang turun drastis akibat debu letusan mengakibatkan kelaparan, revolusi dan kepanikan sipil di berbagai belahan dunia. Penduduk Irlandia, ambil contoh, terpaksa mengungsi ke Amerika Serikat gara-gara letusan di Hindia Belanda itu. Tak heran jika letusan Tambora dianggap sebagai salah satu kejadian paling berpengaruh dalam sejarah manusia.

Tentunya, kita tak harus mengalami ledakan sebesar Tambora untuk mengamati perubahan iklim dunia. Gunung berapi sebenarnya punya dua fungsi bagi planet ini. Letusan gunung berapi bisa menipiskan lapisan ozon dengan senyawa-senyawa penipis yang dilontarkan ke udara atau sebaliknya, letusan gunung berapi justru bisa menebalkan lapisan ozon.

Sebenarnya, saat ini kita tengah berada dalam periode penipisan ozon. Setidaknya para ilmuwan memerkirakan Bumi baru memasuki fase penebalan ozon antara kurun 2015-2040. Sayangnya, temuan penelitian di atas menyimpulkan proses penebalan ozon akan berlangsung lebih lambat dari perkiraan sebelumnya. Parahnya lagi, akan terjadi beberapa penipisan ekstrem lapisan ozon sampai sekitar tahun 2070 kelak, seperti yang tertera dalam laporan penelitian itu.

"Model kami menemukan kerentanan lapisan ozon terhadap ledakan vulkanik akan terus ada sampai paruh akhir abad 21, jauh lebih lambat dari perkiraan sebelumnya," jelas David Wilmouth, salah satu peneliti utama riset ini.

Pertanyaaan selanjutnya, apa imbas dari lapisan ozon yang menipis? Fungsi lapisan adalah melindungi kita dari efek buruk radiasi sinar ultraviolet B Matahari. Radiasi ini bisa menyebabkan kanker kulit, katarak, serta menganggu perkembangan phytoplankton—rantai paling bawah dalam siklus rantai makanan di lautan.

Lantas, kenapa prediksi tentang fase penebalan ozon ilmuwan sebelumnya jauh lebih cepat dari revisi terbaru ini? Ternyata ada faktor yang tak mereka perhitungan. Prediksi sebelumnya lupa memperhitungkan gas halogen dari plankton dan ganggang mikro, kata Klobas. Temuan terbaru menunjukkan bahwa gas-gas ini berperan penting dalam menentukan apakah ledakan gunung berapi bakal menipiskan lapisan ozon atau malah sebaliknya.

"Kami menemukan bahwa konsentrasi gas brom dari senyawa organik alami berumur pendek memainkan peran yang penting," ungkap Klobas. "Sekecil apapun perubahan jumlah gas brom, misalnya cuma beberapa part-per-trillion saja, dari sumber ini bakal menentukan apakah letusan gunung berapi bakal menipiskan atau menebalkan lapisan ozon."

Bagi kita yang tinggal di kawasan Asia Tenggara, temuan ini tak bisa dianggap enteng. Indonesia terletak di daerah Cincin Api—daerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Mayorias erupsi vulkanik yang terjadi 11.700 tahun ke belakang terjadi di daerah ini.

Indonesia memiliki lusinan gunung berapi—sebagian besar masih aktif sampai saat ini. Gunung Sinabung kembali meletus beberapa pekan lalu. Jika kelak ada ledakan gunung berapi berskala besar, kemungkinan besar lokasinya terletak di daerah Cincin Api seperti negara kita.

Dugaan ini bisa saja salah. Memperkirakan ledakan gunung api raksasa tak semudah membalik telapak tangan. Beberapa penelitian menyebutkan erupsi raksasa semacam ini bisa terjadi lebih dari sekali dalam kurun satu milenium. Malah, ada satu penelitian yang menduga ada peluang 1 banding 10 ledakan sedahsyat Tambora 50 tahun ke depan, seperti yang dilansir surat kabar the Guardian.

Jadi, apakah ledakan semasif Tambora bakal terjadi di Indonesia? Belum tentu. Yang jelas, kalaupun benar-benar terjadi, penyebabnya bukan gunung-gunung berapi yang kini aktif. Justru, yang wajib diwaspadai adalah gunung-gunung yang terlihat adem ayem saja. Di gunung seperti inilah, kaldera magma besar yang dibentuk selama beberapa abad tengah membangun tekanan sangat besar.

Tetap saja, semua ini cuma dugaan. Yang jelas kita ketahui dengan pasti cuma satu: isi-isi hairspray yang dipakai ortu, paman, atau bibi kita di tahun 70-an dan 80-an bakal menghantui kita bertahun-tahun lamanya.