Iklan
hiv/aids

Aturan Pemerintah Membuat Anak Muda Filipina Sulit Ikut Tes HIV

Pemuda yang ingin tes harus ada izin orang tua. Dampaknya Filipina menjadi negara di Asia Tenggara dengan tingkat pertumbuhan pengidap HIV tertinggi.

oleh Purple Romero
04 September 2017, 12:03pm

Sumber Foto: LGBT Free Media Collective/Wikimedia Commons

Kahel Jay Sta. Maria sebetulnya bukan konsultan percintaan, tapi hari itu, mau tak mau dia terpaksa menanggung peran sebagai konsultan asmara dadakan. Semua ini gara-gara dia harus menengahi dua remaja 16 tahun dari Filipina yang hubungannya sedang gonjang-ganjing. Dia harus terlibat guna menyelamatkan salah satu dari mereka.

Satu pemuda itu positif mengidap HIV, sementara pacarnya belum mengikuti tes. Ketika putus, si pemuda yang positif HIV berhenti minum obat, bahkan menghancurkan semua tablet dan pil yang dia miliki. Kahel adalah motivator dari LoveYourself clinic, sebuah fasilitas deteksi dan penanganan HIV di Ibu Kota Manila, Filipina. Dia sadar harus segera turun tangan. Orang tua pemuda malang itu tak tahu anaknya terjangkit HIV. Kahel, kini berusia 31, adalah satu-satu orang dewasa yang memandu pemuda di kliniknya itu berjibaku melawan virus mematikan yang menggerogoti tubuh.

"Aku tak pernah meminta atau memaksanya minum obat. Sebaliknya, aku berusaha memahami tujuannya minum obat, atau kenapa dia menghancurkan pil-pilnya. Itu satu-satunya cara aku bisa mendekati anak ini," ujarnya.

Kahel bertindak sebagai malaikat penjaga, teman dan pembimbing bagi orang dengan HIV dan Aids (OHIDA). Sampai saat ini, dia telah mendamping sekitar 1.000 pengidap HIV aktif, kebanyak dari mereka masih di bawah umur yang tak berani memberitahu orang tua mereka. Langkah yang pertama yang biasanya diambil Kahel adalah memberikan layakan pre-counselling. Tujuannya menghilangkan rasa jeri anak-anak untuk menjalani tes HIV. Bila anak-anak ini tak bisa mendapatkan persetujuan orang tuanya, para pekerja sosial akan bertindak sebagai penanggung jawab. Jika hasil tesnya positif, Kahel akan mendampingi mereka mendapatkan penanganan dan memastikan mereka konsisten menjalaninya.

Masalah asmara? Yang itu bisa menunggu.

Minim Akses Tes Membuat Epidemi HIV Meningkat di Filipina

Pekerja sosial seperti Kahel punya andil besar mengisi lubang demi menanggulangi naiknya jumlah kasus HIV positif di Filipina. Lonjakan penularan virus ini tercipta karena undang-undang di Filipina melarang penduduk di bawah 18 tahun menjalani tes HIV, kecuali mendapat restu dari orang tuanya. Aturan macam ini menyebabkan kematian dan menghalangi anak dibawah umur mendapatkan perawatan yang memadai, menurut beberapa aktivis pembela hak-hak kesehatan.

Ilustrasi klinik uji HIV LoveYourself di Manila oleh Diedra Cavina

"Aku harap aturan ini bisa direvisi karena membuat kesusahan merawat penderita HIV di bawah umur. Di umur 14 sampai 16 tahun, mereka sudah melakukan ngeseks. Mulai umur 16 tahun, ada selang dua tahun sampai mereka tahu status mereka. Begitu mereka akhirnya bisa mengambil tes HIV, tubuh mereka sudah mengalami perubahan drastis. Kesehatan mereka malah mungkin sudah memburuk," ujar Kahel.

Filipina adalah negara yang memiliki tingkat perkembangan penderita HIV paling tinggi di kawasan Asia Pasifik. Terakhir, penderita HIV di sana jumlahnya naik sampai 140 persen. Pada 2016, 10.500 penduduk Filipina dinyatakan positif mengidap HIV, nai 4.300 kasus dari yang tercatat pada 2010. Dan sejak 2015, 30 persen penderita HIV baru berusia antara 15 sampai 24 tahun. Sebuah laporan yang diterbitkan bulan Juli tahun ini memproyeksikan angka ini akan melonjak lagi di akhir 2017. National Youth Commission mendeklarasikan fenomena ini sebagai "Epidemik Para Pemuda" pada 2016 ketika 29 penduduk Filipina terinfeski HIV dalam sehari. 19 di antaranya berada di rentang umur 15 hingga 24 tahun.

Pada 2015, Senator Miriam Defensor Santiago memulai inisiatif mengamandemen aturan tentang tes HIV. Dalihnya: tes HIV di negara tetangga Filipina lebih mudah diakses penderita di bawah umum. Misalnya, di Laos, umur terendah untuk seseorang bisa mengakses tes HIV tanpa persetujuan orang tua adalah 14 tahun. Beleid yang diusulkan akan mengizinkan penduduk berusia 15 menjalani tes HIV di bawah kondisi tertentu seperti kehamilan atai ketika tak bisa menghubungi orang tua atau pendamping mereka.

Januari lalu, Senator Risa Hontiveros mengajukan rancangan undang-undang untuk menghilangan batasan umur bagi penderita 15 atau 17 tahun untuk menjalani tes HIV. izin orang tua hanya diperlukan bagi mereka yang berusia di bawah 15 tahun atau yang mengalami keterbelakangan mental. Jika tak ada orang tua atau pendamping, izin bisa diberikan oleh pekerja sosial yang memiliki lisensi.

Departemen Kesehatan (DOH) Filipina telah mendukung usulan amandemen ini sejak 2015. Sayangnya, beleid yang menghapus syarat izin orang tua belum banyak menerima dukungan. DOH mendesak penggunaan "izin proxy" yang mengizinkan pekerja sosial, pembimbing bahkan guru memberikan izin yang diperlukan untuk mengambil tes HIV. proses ini biasanya dilakukan dengan community-based screening.

"Tapi karena peraturannya bilang begitu, kami tak bisa apa-apa," ujar Asisten Sekretaris Eric Tayag "Kami punya beberapa dokter yang berusaha mencari cara untuk menyakinkan orang tua penderita untuk mengizinkan anaknya menjalani tes."

Perjuangan Pegiat Jemput Bola Tes HIV

Guna menangani lebih banyak penderita HIV di bawah umur, Pinoy Plus, sebuah support grup OHIDA dan pusat penanganan HIV, telah membawa izin proxy dan pemindaian berdasar komunitas ke level yang lebih tinggi.

"Kami berusaha bekerja dengan "klan" atau grup yang dibentuk oleh anak muda," kata Owie Franco, Presiden Yayasan Pinoy Plus.

Juli lalu, Pinoy Plus menyewa sebuah bar untuk sebuah klan di Cubao, kawasan pelacuran di Quezon. Bar ini digunakan sebagai tempat pertemuan. Di dalam bar itu, selain tong bir dan lampu-lampu yag berkilatan, perwakilan dari DHO memberikan penyuluhan tentang HIC, pentingnya seks bertangggung jawab dan tes HIV. Pinoy Plus juga mendirikan Booth tempat muda-mudi melakoni tes HIV dengan berbekal izin dari pekerja sosial.

Franco mengatakan bahwa mereka berencana tingkat pelaksanaan test HIV di kalangan penduduk di bawah umur dan menyebarkan seks aman dari satu klan ke klan lainnya.

Pinoy Plus juga telah berhasil menembus aplikasi kencan online bagi kaum gay seperti Grindr, Hornet dan Blued untuk menghapus stigma di sekitar HIV dan mengundang penggunanya untuk mengambil tes. "Ada saja pengguna yang enggan pergi ke klink kesehatan karena mereka takut. Ada stigma yang menempel pada mereka yang melukan tes HIV, meski hasil tesnya negatif. Orang otomatis mikir mereka positif HIV cuma gara-gara mereka pergi ke klinik," ujar Franco.

"Banyak anak muda berhubungan seks penuh risiko hanya karena alasan sepele. Ada pemuda di Manila berumur 16 tahun yang jadi pekerja seks agar bisa main DOTA."

Klinik LoveYourself ikut menyebar undangan tes HIV di beberapa aplikasi kencan online. Ini adalah cara yang relevan karena generasi muda Filipina menggunakan aplikasi atau media sosial untuk mencari teman kencan dan menikmati seks satu malam.

"Teknologi membuat muda-mudi Filipina bisa dengan gampang berhubungan seksual. Di usia 14 atau 15, mereka sudah mulai mengeksplorasi seks. Kalau kamu buka appsnya, meski ada aturan umur, mereka tinggal bohong dan jadi pengguna," ungkap Kahel.

Perubahan Aturan Dibutuhkan Anak Muda

Kendati izin proxy membantu generasi muda Filipina, pembela hak kesehatan masih menginginkan aturan yang meringankan aturan tes HIV bagi anak di bawah umur serta mengakui izin proxy sebagai mekanisme legal untuk mengakses tes HIV.

"Kami butuh undang-undang karena tanpanya, kita bisa diberhentikan kapan saja. Sebagai pekerja sosial, kami bisa dilarang membantu anak di bawah umur mengambil tes dan mendapatkan perawatan," ujar Kahel.

Sementara usulan undang-udang masih mandek di senat Filipina, DOH tengah berusaha mendorong keluarnya sebuah keputusan presiden. Di saat yang sama, Philippine National Aids Council, sebuah lembaga penasehat pemerintah Filipina, telah mendesak Rodrigo Duterte mengeluarkan keputusan presiden yang memungkinkan anak di bawah umur ikut tes HIV

Usaha mereka tak hanya sampai di situ. Setelah anak di bawah umur diperkenankan mengakses tes HIV, pemerintah harus juga mengubah paket dan layanan kesehatan agar layanan penanganan HIV bisa oleh OHIDA di bawah umur. Saat ini, penduduk di bawah 18 tahunt tak bisa menjadi anggota Philhealth atau Philippine Health Insurance Corporation. Akibat, OHIDA di bawah umur tak bisa menerima paket layanan rawat jalan HIV/AIDS, yang mencakup perawatan anti-retroviral guna menghambat pertumbuhan virus, tes lab dan santunan sebesar 30.000 peso (setara Rp7,8 juta) untuk membayar biaya mengakses klinik dan obat-obatan.

"Ada usulan agar pemerintah mengubah paket kesehatan ini agar bisa mengakomodasi anak di bawah umur. Salah satunya, jika pendamping atau orang tuamu memiliki keanggotaan Phillhealt, kamu punya hak menggunakan Philhealth untuk mengakses layanan rumah sakit," terang Franco.

Menurut Franco, baik orang tua dan anak di bawah umur perlu menyadari pentingnya pencegahan dan mengikuti tes HIV.

"Banyak anak-anak di bawah umur hubungans seks berisiko hanya karena alasan sepele. Ada seorang pemuda berumur 16 tahun yang jadi pekerja seks cuma agar bisa main DOTA, sebuah game online populer. Dia sendiri sudah ikut tes. Untunglah Ibunya tak memberi izin." kata Franco. "Tapi bagaimana dengan anak di bawah umur lainnya? Kalau mereka tak tahu status kesehatannya, mereka terus akan menjalani seks berisiko. Ketidakpedulian macam ini akhirnya menjadi biang keladi epidemi HIV di generasi muda Filipina."

Tagged:
HIV
στίγμα
Manila
Filipina
Asia Tenggara
Pemerintah Filipina
HIV di Filipina