Iklan
Budaya Pop

Begini Daftar 'Musisi Dekade Ini' di Indonesia Kalau Streaming Beneran Dihitung dari 2009

Daftar dari Spotify memang menarik, tapi layanan streaming itu baru masuk Indonesia tiga tahun lalu. Kalau betulan merangkum satu dekade, artis populer stafaband, 4shared, dan warnet harus masuk juga.

oleh Ikhwan Hastanto
09 Desember 2019, 9:01am

Kolase oleh VICE. Screenshot recap musisi paling banyak di-streaming satu dekade dari Spotify; Screenshot tampilan Winamp via Wikimedia Commons/lisensi CC 3.0

Akhir tahun adalah waktunya pengguna Spotify menerima laporan pertanggungjawaban bernama Spotify Wrapped. Laporan ini berisi rekap unik untuk setiap pengguna layanan streaming tersebut, tentang informasi aktivitas mendengarkan musik dan podcast setahun terakhir. Tak cuma itu, data tentang selera para pendengar juga ikut dirangkum. Karena memang sangat personal, beberapa hari terakhir orang-orang berbondong-bondong mengunggahnya LPJ tersebut di Insta Story dan Twitter masing-masing.

Data itu lalu diakumulasikan untuk menggambarkan selera orang satu negara dan seluruh dunia. Berhubung 2019 merupakan tahun pergantian dekade, perusahaan streaming musik Swedia ini juga membuat daftar lagu, musisi, playlist, dan podcast paling banyak disimak sepanjang 2009-2019 (Spotify bisa bikin daftar ini karena sudah berdiri sejak 2008).

Secara global, Drake menempati peringkat satu sebagai artis paling banyak didengar lagunya 10 tahun terakhir. Peringkatnya diikuti Ed Sheeran, Post Malone, Ariana Grande, dan Eminem. Meski secara total Drake masih menang dari Ed, namun lagu “One Dance” milik Drake yang diputar 1,7 miliar kali masih kalah dari lagu “Shape of You” Ed yang menjadi lagu paling populer di Spotify dengan 2,4 miliar kali pemutaran.

Di Indonesia, tahun ini Tulus didaulat sebagai penyanyi penyedot kuota internet terbanyak di Indonesia. Posisi kedua ditempat akang Fiersa Besari, diikuti Sheila on 7, Andmesh, dan Glenn Fredly. Untuk lagu yang paling banyak diputar di Indonesia, “I Love You 3000” milik Stephanie Poetri, “Cinta Luar Biasa” milik Andmesh, dan “Waktu yang Salah” milik Fiersa Besari jadi tiga lagu Indonesia paling banyak diputar di negeri sendiri.

Di tengah hiruk pikuk ini, ada satu hal yang membuat saya geregetan. Spotify kan baru masuk Indonesia pada 2016, kok berani-beraninya membuat daftar artist of the decade untuk penggunanya di Indonesia? Ini jelas enggak adil dong buat band-band yang sudah hadir di hidup saya sejak 2009. Band-band ini soalnya baru masukin lagu-lagunya di Spotify saat "masa keemasan" genre musik mereka sudah lewat.

Saya jadi berandai-andai. Katakanlah Spotify sudah masuk Indonesia sejak 10 tahun lalu. Katakanlah penentuan musisi terbaik satu dekade beneran ditarik 10 tahun ke belakang.

Setelah manasin mesin waktu untuk pergi pulang ke 2009-2019, saya menyimpulkan ada dua kandidat musisi paling paling berjaya di peralihan era SBY ke Jokowi tersebut:

#1 Armada

Saya harus bilang “Mau Dibawa Kemana” (2009) adalah lagu pop Melayu terbaik yang pernah ada. Bertemakan cinta, nada mendayu, dan genjrengan gitar khas pinggir jalan, lagu ini cetak biru buat siapa pun yang bercita-cita membuat lagu bernuansa pop Melayu. Kebesaran karya ini bisa dilihat dari eksistensinya dalam merajai pelantang angkot di seluruh Indonesia.

Selesai dari “Mau Dibawa Kemana”, berturut-turut “Pergi Pagi Pulang Pagi”, “Asal Kau Bahagia” (sudah 29 juta kali diputar di Spotify), dan hit-hit lainnya menjadikan Armada penantang serius musisi terbaik dekade versi Spotify saat ini.

Sayang, pendengar Armada terlihat belum berani meninggalkan unduh gratis Stafaband dan MP3Buzz dalam memutar lagu-lagu Armada. Kalau saja pendengar Armada serius melakukan mobilisasi ke Spotify, saya yakin Tulus akan tergeser dengan mudah.

#2 – Avenged Sevenfold

Kalau dihitung dari 2009, kebesaran lagu “Dear God” di seantero warnet-warnet se-Indonesia jelas menjadikan band ini calon terkuat musisi sedekade versi Spotify Wrapped. Bayangkan, bersama wallpaper billing lumba-lumba, “Dear God” sempat bertahun-tahun menjadi ikon warnet.

Konon, barang siapa tidak memutar lagu ini di usahanya, warnet tersebut akan sepi. Lagu ini akan terus diputar beratus-ratus kali di setiap warnet yang beroperasi 24 jam. Kalau saja para warnet bisa dituntut disiplin menggunakan Spotify sebagai jalur pemutaran lagu, jangankan di Indonesia, menantang Drake dan Ed Sheeran pun band pasti tak akan gentar.

Dan enggak perlu banyak lagu. Untuk merajai posisi, Avenged Sevenfold cuma perlu “Dear God” dan persatuan warnet se-Indonesia.

Serta, patut disebut dalam kategori honorable mention karena terlampau sering diputar di warnet kota-kota besar Indonesia (serta bisa diperoleh lewat situs berbagi file macam Stafaband dan 4Shared), adalah lagu-lagu berikut:

  • Last Child - "Diary Depresiku"
  • Killing Me Inside - "Biarlah"
  • Bondan & Fade 2 Black - "Ya Sudahlah"
  • Hoobastank - "The Reason"
  • Keane - "Everybody's Changing"
  • Linkin Park - "In The End"
  • Steven & Coconut Trees - "Bebas Merdeka"
  • Superman is Dead - "Sunset di Tanah Anarki"
  • Jason Mraz - "I'm yours"

Menjadi pemenang sejarah kadang memang cuma perkara waktu. Warnet pergi terlalu cepat dan Spotify datang terlalu lambat. Daftar di atas enggak akan pernah terealisasi sebab warnet sudah di senjakala, pelan-pelan tergantikan Indomaret dalam membentuk selera musikal orang Indonesia hari ini.

* Now playing – “Cinta Luar Biasa”*

Tagged:
indonesia
Musik
Spotify
Views My Own
Musik Indonesia
Opini
Nostalgia Musik
Playlist Warnet
Decade Wrapped